Tentang Sepatu Biru

Terhitung sejak dibangun tahun2008, sudah empat kali saya mengubah nama blog ini. Pertama saya namakan ‘Menggenggam tanah menjadi emas’. Kata ini saya dapatkan dari buku Surat Kepada Kanjeng Nabi yang ditulis Emha Ainun Nadjib. Saya memang termasuk fans berat beliau. Secara eksplisit artinya cukup jelas. Dibanding emas harga 1 gram tanah jauh lebih murah dari emas. Nah, ibarat sulap. Bagaimana kita menggenggam tanah tersebut dan menyulapnya menjadi emas. Sederhananya, bagaimana melihat hal-hal sederhana di sekitar kita menjadi sesuatu hal bermakna. Alhasil tulisan saya kala itu pun mencoba memotret hal-hal ecek2 yang saya jumpai sehari-hari yang terkadang luput dari perhatian.

Fase kedua, saya menggantinya dengan ‘Karena Hidup Adalah Petualangan’. Lagi-lagi saya diledek teman sekamar saya. Kalau yang pertama mungkin terlihat janggal, yang kedua ini memang mirip iklan susu formula kala itu. Saya akui itu. Namun sepertinya saya terlanjur suka dengan nama tersebut. Nama tersebut saya dapatkan setelah saya mendapat penugasan dari kantor yang mengharuskan saya blusukan di sekolah-sekolah terpencil. Saat itu saya temukan guru hebat yang merelakan rapelan seetifikasinya untuk membeli LCD agar anak didiknya tertarik dan antusias belajar. Saat itu saoya juga menemukan sorot2 mata tajam anak2 sekolah yang penuh semangat menatap masa depan saat saya diminta salah seorang kepala sekolah yang saya kunjungi untuk sekedar memberikan motivasi. Dihari saya harus kembali ke tempat kerja saya menemukan lurah berprestasi tingkat nasional yang bekerja karena dedikasi, bukan sekedar tupoksi.

Dari ppengalaman-pengalaman itulah saya fikir cukup menarik dan pas kalau saya kemas blog saya dengan membawa filosofi petualangan. Sembari mencari sisi-sisi lain dibalik setiap penugasan. Petualangan yang saya maksud sebenarnya bukan hanya sekedar secara fisik. Tapi, juga petualangan pemikiran yang menjerumuskan saya bulusukan di berbagai situs untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Setelah beberapa bulan menapak di kota ini terfikir untuk mengubahnya. Nama yg saya sematkan adalah ‘Cah nDeso’. Terus terang agak janggal juga saya mendengarnya. Tapi lagi2 sepertinya pas sekali untuk menggambarka diri saya sebagai bocah ndeso yang meginjak Melbourne.

Kalau kemudian saya memutuskan untuk mengubahnya menjadi ‘Sepatu Biru’, itu karena kebih eye catching. Bukan hanya itu sebenarnya. Tapi lebih kepada, lagi-lagi, petualangan saya berasama si seoatu biru.

Dari keempat nama yang saya sematkan semua membawa pesan yang sama. Yaitu, bagaimana kita bisa mensyukuri setiap jengkal waktu yang dianugerahkan Sang Pencipta dalam kondisi apapun. Tentu tidak bermakna kepasrahan. Hanya bagaimana kita mengelola setiap masalah, kesedihan, kesusahan, kegelisahan dan ketidakpuasan menjadi sesuatu yang produktif.

Baiklah. Kali ini saya akan bercerita tentang sepatu biru yang kini menjadi nama blog saya. Saya menemukannya di salah satu secondhand shop seminggu setelah saya tiba di kota ini. Awalnya saya tidak punya niat membeli sepatu karena dari Indonesia saya sudah membawa sepatu kets juga. Hanya saja waktu itu teman2 sekelas mengajak jalan2 dan menunjukkan toko yang harus saya kunjungi. Sebenarnya saya hanya ingin window shoping sj. Ups…rupanya saya menemukan sepasang sepatu biru itu. Kondisinya masih bagus dan merknya teterkenal. Hmmm..enak juga dipakai. Apalagi saat itu telapak kaki saya lecet. Mungkin karena sepatu baru yang saya pakai. Hihihi….dasar bocah ndeso. Jadi klop lah. Tidak ada alasan lagi untuk tidak membawanya pulang.

Akhirnya saya beli sepatu biru yang harga barunya bisa mencapai 60 dollar lebih itu dengan hanya mengeluarkan 10 dollar. Sejak itulah, sepatu biru selalu menemani saya kemana2 dan dalam segala situasi. Sebagai pejalan kaki sepatu kets memang teman yang paling setia.

Baiklah, giliran saya memperkenalkan diri. Saya lahir di Klaten Jawa Tengah. Menjalani masa kanak-kanak di Sukoharjo sebelum akhirnya pindah ke Salatiga saat usia 8 tahun. Sempat menikmati kuliah di Akademi Gizi Depkes Semarang selama satu tahun hingga akhirnya memutuskan mengejar impian di STAN.

Setiap keputusan selalu ada konsekwensi. Begitulah…akhirnya saya pun di tempatkan di Kota Makassar, kala itu masih bernama Ujung Pandang. Di kota inilah saya dipertemukan dengan sekelompok para pembelajar sejati yang mengajarkan saya banyak hal. Kalau anda sempat ke Makassar, mampirlah ke Masjid AlMarkaz Al Islami. Anda akan mendapati anak-anak muda yang tergabung dalam Al Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES) sedang berdiskusi setiap selasa, kamis, dan sabtu sore. Mereka pulalah yang telah menorehkan mimpi sekolah di negara maju hingga akhirnya mengantarkan saya mengambil program Master of Public Administration di Australian National University (ANU).

Saat ini saya kembali ada di negeri yang sama. Motivasi saya tak lain dan tak bukan adalah menebus ‘hutang-hutang’ yang dulu belum sempat saya bayar. Hutang-hutang itu adalah hutang pengalaman, pengetahuan dan ilmu yang belum sempat saya jelajahi beberapa tahun lalu.

Selamat datang di blog ini. Smoga bermanfaat. Jika anda tertarik dengan tema tata kelola pemerintahan daerah, dari pengelolaan keuanga, perencanaan pembangunan hingga kebiijakan publila silakan nikmati juga blog komunitas yg dibangun bersama rekan2 pemerhati masalah pemda http://www.warungkopipemda.com.

Salam hangat,

Nur Ana Sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s