Social capital dan pendidikan anak

Setiap kali membuat tulisan tentang social capital, saya cenderung mengutip pendapat Robert Putnam. Mungkin karena selama ini saya lebih sering mengaitkannya dengan kebijakan publik sehingga gagasan Putnam terasa sangat pas. Atau, bisa jadi karena saya belum mendalami ide Bourdieu dan Coleman secara mendalam. Dan sepertinya, alasan kedua lah yang paling tepat.

Faktanya, setelah diperkenalkan kembali oleh mbak Pratiwi Retnaningdyah saya begitu tertarik dengan ide-ide Bourdieu tentang Field Theory atau teori arena. Padahal, delapan tahun lalu dosen saya juga sempat menyebut nama pemikir asal Perancis itu. Demikian halnya dengan Coleman. Baru setelah saya mulai berminat dengan literasi, pemikiran Coleman wajib dipahami.

Kali ini saya belum bisa membahas Bourdieu. Masih butuh bacaan yang lebih lengkap untuk memahami gagasannya.

Untuk Coleman sendiri terus terang baru satu artikelnya yang saya baca. Sekian tahun lalu di bangku kuliah sempat sayup-sayup dosen menyebut namanya dan mengaitkan dengan social capital untuk meningkatkan kemampuan siswa. Baru beberapa bulan lalu saya benar-benar membaca artikelnya secara serius. Daaan…ada satu hal yang membuat ‘mak jlueeebb’.

Artike tersebut berjudul Social Capital in the Creation of Human Capital. Diterbitkan oleh American Journal of Sociologi volume 94. Ups…ternyata sudah terbit sejak tahun 1988 saat saya masih memakai seragam biru putih. Hm…telat. Tapi masih relevan kok.

Coleman mendefinisikan social capital sebagai ‘a resource for action’ yang mewujud dalam bentuk ‘obligation and expectation, information channels, and social norms. Tidak jauh beda dengan Robert Putnam yang menyebut: trust, norms, network.

Sedikit saya sampaikan untuk rekan-rekan yang masih awam, sebagaimana dengan bentuk physical-financial-natural capital, social capital juga memberikan hasil jika dimanfaatkan dengan baik. Perbedaanya, kalau bentuk capital atau modal yang lain lain semakin menurun semakin dimanfaatkan, stock social capital justru semakin membesar semakin dimanfaatkan. Sebaliknya, akan terkikis habis jika tidak dimanfaatkan.

Robert Putnam lebih menekankan social capital dalam relasinya dengan hubungan kemasyarakatan. Bukankah norm, trust, dan network memang tumbuhnya ya dalam kehidupan bersosial. Contoh riil social capital diantaranya adalah PKK, grup arisan, club-clup olah raga, dll. Makanya, implikasi kebijakan yang ditawarkan secara umum efeknya lebih luas. PNPM dan Bank Sampah adalah contoh bagaimana pemerintah bisa melakukan intervensi  kebijakan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kebersihan.

Dalam hal ini Coleman sendiri juga menyebutkan bahwa dalam kajian social capital ada dua mainstream, yang satu ditinjau dari sudut pandang para sosiolog, yang satu lagi dari sisi econom. Hahai, tak heran dalam banyak hal world bank sering melirik konsep social capital ini, melalui pemberdayaan masyarakat, dalam merekomendasikan kebijakan ekonominya.

Pendekatan Coleman menurut saya cukup menarik juga karena justru menyentuh area yang lebih mikro, yaitu keluarga. Cakupan social capital yang dia teliti dalam artikel tersebut diatas adalah: within the family and in the community outside the family.

Terus terang saya baru ‘ngeh bahwa hubungan antara orang tua dan anak juga menjadi bagian dari social capital within family. Social Capital in the Creation of Human Capital menyorot efek rendahnya social capital terhadap angka drop out siswa sekolah lanjutan. Tentu saja, social capital yang dimaksud disini adalah dalam keluarga dan dalam masyarakat diluar keluarga.

Dalam artikelnya, Coleman menjelaskan bagaimana ketiga capital – physical, human, dan social – beruba, meningkat atau menurun. Akumulasi physical capital seiring peningkatan faktor-faktor produksi. Demikian halnya dengan human capital, sangat tergantung bagaimana seseorang mengembangkan skill dan kemampuannya.Stok atau ‘jumlah ‘ social capital dapat berubah tergantung pada hubungan antar manusia yang memungkinkan terjadinya suatu aksi. Hmm..susah menterjemahkannya dengan bahasa yang pas. Aslinya begini: “…through changes in the relations among persons that facilitate action”.  Intinya, social capital “exist in the relations among persons”.

Value, atau nilai dari social capital sangat tergantung pada fungsinya. Sama halnya dengan kursi yang berfungsi sebagai tempat duduk, social capital akan memberikan nilai jika ia dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Dalam kaitannya dengan tulisan Coleman, yaitu bagaimana social capital dapat digunakan untuk membangun human capital. Sejauh mana relasi yang terjadi dapat berpengaruh terhadap human capital.

Pada prinsipnya, artikel yang sekaligus merupakan hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa social capital baik dalam lingkup keluarga maupun dalam suatu komunitas di luar keluarga sangat berpengaruh terhadap pembangunan manusia di masa depan. Katanya: Both social capital in the family and social capital in the community play roles in the creation of human capital in the rising generation.

Langsung saja, dalam risetnya, Coleman menetapkan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap capaian siswa di sekolah. Ia tetapkan: financial capital, human capital, dan social capital. Financial capital diukur dari pendapatan keluarga yang memungkinkan mendapatkan sumberdaya untuk mendukung prestasi anak. Contohnya, rumah dan peralatan sekolah. Human capital diukur dari tingkat pendidikan orang tua yang, setidaknya, menciptakan lingkungan kognitif dalam keluarga. Nah, social capital berbeda dengan kedua capital tersebut sebelumnya.

Sebelum menjelaskan tentang alat ukur social capital dalam keluarga, Coleman memberikan contoh pola asuh John Stuart Mill. Karena saya hanya sayup-sayup mendengar nama si John ini, baiklah saya kutipkan dulu sejenak dari wikipidia: John Stuart Mill (20 May 1806 – 8 May 1873) was an English philosopher, political economist, feminist, and civil servant. He was an influential contributor to social theory, political theory and political economy. He has been called “the most influential English-speaking philosopher of the nineteenth century”.

Masih menurut Coleman, pada usia pra sekolah, John Stuart Mill diajarkan bahasa Latin dan Yunani oleh Ayahnya, James Mill. Dimasa kanak-kanaknya, ia sering mendiskusikan manuskrip sang ayah bersama Jeremy Bentham. Mengutip lagi dari wikipidia untuk lebih detilnya: …the eldest son of the Scottish philosopher, historian and economist James Mill, and Harriet Burrow. John Stuart was educated by his father, with the advice and assistance of Jeremy Bentham and Francis Place. He was given an extremely rigorous upbringing, and was deliberately shielded from association with children his own age other than his siblings. His father, a follower of Bentham and an adherent of associationism, had as his explicit aim to create a genius intellect that would carry on the cause of utilitarianism and its implementation after he and Bentham had died…(Wow… ).

Coleman mengatakan bahwa proses pembelajaran yang sugguh-sungguh dari sang ayah lah yang membedakannya dari anak lain di masanya. Perbedaan pokoknya ada pada waktu dan kesungguhan yang dicurahkan sang ayah untuk anak dalam hal membangun intelektualitasnya. Dan jika anda cermati kutipan dari wikipidia di atas sungguh membuat ‘merinding’. Sang ayah memang telah mempersiapkan si John untuk melanjutkan gagasan utilitarianisme kelak jika dia dan Bentham meninggal dunia.

Dalam contoh berikutnya, Coleman memaparkan bagaimana keluarga imigran asal Asia yang membeli dua kopi textbook di suatu public school di Amerika. Rupanya, hasil investigasi menunjukkan bahwa buku yang satu digunakan oleh sang ibu untuk membangu anak agar dapat memahami pelajaran dengan baik.

Kesimpulan yang dapat diambil tentulah bahwa social capital within family sangat berpengaruh terhadap pengembangan intelektualitas anak. Pernyataannya yang paling menarik:

“it is of course true that children are strongly affected by the huan capital possessed by their parents. But this huan capital may be irrelevant to outcomes for children if parents are not an important part of their lives”.

Apalagi yang ini sangat-sangat membuat saya tersinggung dan tertampar: …….may be irrelevant…., if their human capital is employed exclusively at work or elsewhere outside home”.  Di akhir paragraph Coleman mengatakan: …if the human capital possessed by parent is not complemented by social capital embodied by family relations, it is irrelevant to the child’s educational growth that the parent has agreat deal, or a small amount, of human capital”.

Artinya, seberapa hebat, seberapa cerdas, seberapa tinggi orang tua memiliki kapasitas intelektual, selama human capitalnya hanya digunakan di tempat kerja atau di tempat lain maka pewarisan human capital tidak terjadi. Artinya lagi, proses pewarisan human capital hanya muncul jika orang tua mengeksekusinya dalam keluarga.

Lanjut Coleman lagi, social capital dalam keluarga sangat tergantung pada the kehadiran mereka secara fisik dan perhatian yang mereka berikan kepada sang anak.  Tegasnya lagi: even if adults are physically present, there is a lack of social capital in the family if there are not strong relations between children and parents. Ini sangat menyindir dan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Meski orang tua secara fisik mendampingi anak, kalau ia sibuk ber-media sosial ya, ya social capitalnya tetap rendah. Ia menekankan juga tentang hal ini, the lack of social capital bisa jadi disebabkan karena sang anak yang sibuk dengan teman sebayanya, atau sebaliknya, orang tua yang sibuk dengan rekan sebayanya sehingga cross generation social capital mereka tidak terbangun.

Hasil penelitian Coleman ini pada prinsipnya sejalan dengan pendapat Malcolm Gladwell dalam buku Outlier yang juga menjelaskan kenapa orang kaya akan melahirkan orang kaya baru, dan bagaimana orang miskin juga akan melahirkan orang miskin baru. Kuncinya ada pada proses pewarisan yang mutlak terjadi dalam internal keluarga. Jika tidak, yang terjadi orang kaya yang justru melahirkan orang miskin. Atau sebaliknya, dengan kesungguhan dan pemahamannya akan proses pewarisan nilai, si miskin malah mampu melahirkan generasi-generasi hebat.

Wallahu a’lam

Setiap kali membuat tulisan tentang social capital, saya cenderung mengutip pendapat Robert Putnam. Mungkin karena selama ini saya lebih sering mengaitkannya dengan kebijakan publik sehingga gagasan Putnam terasa sangat pas. Atau, bisa jadi karena saya belum mendalami ide Bourdieu dan Coleman secara mendalam. Dan sepertinya, alasan kedua lah yang paling tepat.

Faktanya, setelah diperkenalkan kembali oleh mbak Pratiwi Retnaningdyah saya begitu tertarik dengan ide-ide Bourdieu tentang Field Theory atau teori arena. Padahal, delapan tahun lalu dosen saya juga sempat menyebut nama pemikir asal Perancis itu. Demikian halnya dengan Coleman. Baru setelah saya mulai berminat dengan literasi, pemikiran Coleman wajib dipahami.

Kali ini saya belum bisa membahas Bourdieu. Masih butuh bacaan yang lebih lengkap untuk memahami gagasannya.

Untuk Coleman sendiri terus terang baru satu artikelnya yang saya baca. Sekian tahun lalu di bangku kuliah sempat sayup-sayup dosen menyebut namanya dan mengaitkan dengan social capital untuk meningkatkan kemampuan siswa. Baru beberapa bulan lalu saya benar-benar membaca artikelnya secara serius. Daaan…ada satu hal yang membuat ‘mak jlueeebb’.

Artike tersebut berjudul Social Capital in the Creation of Human Capital. Diterbitkan oleh American Journal of Sociologi volume 94. Ups…ternyata sudah terbit sejak tahun 1988 saat saya masih memakai seragam biru putih. Hm…telat. Tapi masih relevan kok.

Coleman mendefinisikan social capital sebagai ‘a resource for action’ yang mewujud dalam bentuk ‘obligation and expectation, information channels, and social norms. Tidak jauh beda dengan Robert Putnam yang menyebut: trust, norms, network.

Sedikit saya sampaikan untuk rekan-rekan yang masih awam, sebagaimana dengan bentuk physical-financial-natural capital, social capital juga memberikan hasil jika dimanfaatkan dengan baik. Perbedaanya, kalau bentuk capital atau modal yang lain lain semakin menurun semakin dimanfaatkan, stock social capital justru semakin membesar semakin dimanfaatkan. Sebaliknya, akan terkikis habis jika tidak dimanfaatkan.

Robert Putnam lebih menekankan social capital dalam relasinya dengan hubungan kemasyarakatan. Bukankah norm, trust, dan network memang tumbuhnya ya dalam kehidupan bersosial. Contoh riil social capital diantaranya adalah PKK, grup arisan, club-clup olah raga, dll. Makanya, implikasi kebijakan yang ditawarkan secara umum efeknya lebih luas. PNPM dan Bank Sampah adalah contoh bagaimana pemerintah bisa melakukan intervensi kebijakan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kebersihan.

Dalam hal ini Coleman sendiri juga menyebutkan bahwa dalam kajian social capital ada dua mainstream, yang satu ditinjau dari sudut pandang para sosiolog, yang satu lagi dari sisi econom. Hahai, tak heran dalam banyak hal world bank sering melirik konsep social capital ini, melalui pemberdayaan masyarakat, dalam merekomendasikan kebijakan ekonominya.

Pendekatan Coleman menurut saya cukup menarik juga karena justru menyentuh area yang lebih mikro, yaitu keluarga. Cakupan social capital yang dia teliti dalam artikel tersebut diatas adalah: within the family and in the community outside the family.

Terus terang saya baru ‘ngeh bahwa hubungan antara orang tua dan anak juga menjadi bagian dari social capital within family. Social Capital in the Creation of Human Capital menyorot efek rendahnya social capital terhadap angka drop out siswa sekolah lanjutan. Tentu saja, social capital yang dimaksud disini adalah dalam keluarga dan dalam masyarakat diluar keluarga.

Dalam artikelnya, Coleman menjelaskan bagaimana ketiga capital – physical, human, dan social – beruba, meningkat atau menurun. Akumulasi physical capital seiring peningkatan faktor-faktor produksi. Demikian halnya dengan human capital, sangat tergantung bagaimana seseorang mengembangkan skill dan kemampuannya.Stok atau ‘jumlah ‘ social capital dapat berubah tergantung pada hubungan antar manusia yang memungkinkan terjadinya suatu aksi. Hmm..susah menterjemahkannya dengan bahasa yang pas. Aslinya begini: “…through changes in the relations among persons that facilitate action”. Intinya, social capital “exist in the relations among persons”.

Value, atau nilai dari social capital sangat tergantung pada fungsinya. Sama halnya dengan kursi yang berfungsi sebagai tempat duduk, social capital akan memberikan nilai jika ia dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Dalam kaitannya dengan tulisan Coleman, yaitu bagaimana social capital dapat digunakan untuk membangun human capital. Sejauh mana relasi yang terjadi dapat berpengaruh terhadap human capital.

Pada prinsipnya, artikel yang sekaligus merupakan hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa social capital baik dalam lingkup keluarga maupun dalam suatu komunitas di luar keluarga sangat berpengaruh terhadap pembangunan manusia di masa depan. Katanya: Both social capital in the family and social capital in the community play roles in the creation of human capital in the rising generation.

Langsung saja, dalam risetnya, Coleman menetapkan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap capaian siswa di sekolah. Ia tetapkan: financial capital, human capital, dan social capital. Financial capital diukur dari pendapatan keluarga yang memungkinkan mendapatkan sumberdaya untuk mendukung prestasi anak. Contohnya, rumah dan peralatan sekolah. Human capital diukur dari tingkat pendidikan orang tua yang, setidaknya, menciptakan lingkungan kognitif dalam keluarga. Nah, social capital berbeda dengan kedua capital tersebut sebelumnya.

Sebelum menjelaskan tentang alat ukur social capital dalam keluarga, Coleman memberikan contoh pola asuh John Stuart Mill. Karena saya hanya sayup-sayup mendengar nama si John ini, baiklah saya kutipkan dulu sejenak dari wikipidia: John Stuart Mill (20 May 1806 – 8 May 1873) was an English philosopher, political economist, feminist, and civil servant. He was an influential contributor to social theory, political theory and political economy. He has been called “the most influential English-speaking philosopher of the nineteenth century”.

Masih menurut Coleman, pada usia pra sekolah, John Stuart Mill diajarkan bahasa Latin dan Yunani oleh Ayahnya, James Mill. Dimasa kanak-kanaknya, ia sering mendiskusikan manuskrip sang ayah bersama Jeremy Bentham. Mengutip lagi dari wikipidia untuk lebih detilnya: …the eldest son of the Scottish philosopher, historian and economist James Mill, and Harriet Burrow. John Stuart was educated by his father, with the advice and assistance of Jeremy Bentham and Francis Place. He was given an extremely rigorous upbringing, and was deliberately shielded from association with children his own age other than his siblings. His father, a follower of Bentham and an adherent of associationism, had as his explicit aim to create a genius intellect that would carry on the cause of utilitarianism and its implementation after he and Bentham had died…(Wow… ).

Coleman mengatakan bahwa kegigihan sang ayah – filosof, sejarawan, dan ekonom-  dalam melakukan proses pembelajaran yang membedakannya dari anak lain di masanya. Perbedaan pokoknya ada pada waktu dan kesungguhan yang dicurahkan sang ayah untuk anak dalam hal membangun intelektualitasnya. Dan jika anda cermati kutipan dari wikipidia di atas sungguh membuat ‘merinding’. Sang ayah memang telah mempersiapkan si John untuk melanjutkan gagasan utilitarianisme kelak jika dia dan Bentham – philosopher, jurist, social reformer – meninggal dunia. Sangat-sangat visioner dan futuristik sekali.

Dalam contoh berikutnya, Coleman memaparkan bagaimana keluarga imigran asal Asia yang membeli dua kopi textbook di suatu public school di Amerika. Rupanya, hasil investigasi menunjukkan bahwa buku yang satu digunakan oleh sang ibu untuk membangu anak agar dapat memahami pelajaran dengan baik.

Kesimpulan yang dapat diambil tentulah bahwa social capital within family sangat berpengaruh terhadap pengembangan intelektualitas anak. Pernyataannya yang paling menarik:

“it is of course true that children are strongly affected by the huan capital possessed by their parents. But this huan capital may be irrelevant to outcomes for children if parents are not an important part of their lives”.

Apalagi yang ini sangat-sangat membuat saya tersinggung dan tertampar: …….may be irrelevant…., if their human capital is employed exclusively at work or elsewhere outside home”. Di akhir paragraph Coleman mengatakan: …if the human capital possessed by parent is not complemented by social capital embodied by family relations, it is irrelevant to the child’s educational growth that the parent has agreat deal, or a small amount, of human capital”.

Artinya, seberapa hebat, seberapa cerdas, seberapa tinggi orang tua memiliki kapasitas intelektual, selama human capitalnya hanya digunakan di tempat kerja atau di tempat lain maka pewarisan human capital tidak terjadi. Artinya lagi, proses pewarisan human capital hanya muncul jika orang tua mengeksekusinya dalam keluarga.

Lanjut Coleman lagi, social capital dalam keluarga sangat tergantung pada the kehadiran mereka secara fisik dan perhatian yang mereka berikan kepada sang anak. Tegasnya lagi: even if adults are physically present, there is a lack of social capital in the family if there are not strong relations between children and parents. Ini sangat menyindir dan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Meski orang tua secara fisik mendampingi anak, kalau ia sibuk ber-media sosial ya, ya social capitalnya tetap rendah. Ia menekankan juga tentang hal ini, the lack of social capital bisa jadi disebabkan karena sang anak yang sibuk dengan teman sebayanya, atau sebaliknya, orang tua yang sibuk dengan rekan sebayanya sehingga cross generation social capital mereka tidak terbangun.

Hasil penelitian Coleman ini pada prinsipnya sejalan dengan pendapat Malcolm Gladwell dalam buku Outlier yang juga menjelaskan kenapa orang kaya akan melahirkan orang kaya baru, dan bagaimana orang miskin juga akan melahirkan orang miskin baru. Kuncinya ada pada proses pewarisan yang mutlak terjadi dalam internal keluarga. Jika tidak, yang terjadi orang kaya yang justru melahirkan orang miskin. Atau sebaliknya, dengan kesungguhan dan pemahamannya akan proses pewarisan nilai, si miskin malah mampu melahirkan generasi-generasi hebat.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s