Hati-hati menetapkan target kinerja

Baru saja saya menerima telepon dari sahabat SMA saya. Terakhir bertemu kurang lebih lima belas tahun yang lalu saat ia mengakikahkan anak pertamanya. Tak terasa sang anak telah duduk di bangku SMA. Si bungsu pun sudah duduk di kelas 6.

Beberapa minggu lalu saya memintanya untuk memberikan komentar untuk buku saya. Saat ia membaca tentang welfare state, ia sempat berfikir, mungkinkah Indonesia memiliki dan menerapkan kebijakan yang diterapkan negara penganut welfare state ini? Keraguan ini, katanya, muncul saat ia mendapati realita bahwa permasalahan negeri ini terlalu kompleks. Bukan sekedar masalah tata kelola pemerintahan. Justru dalam banyak hal masalah ada di level masyarakat bawah.

Keraguan yang wajar. Bagaimana tidak, beberapa kali sang anak mengeluhkan gurunya yang seolah memaksanya untuk memberi contekan pada rekan-rekannya saat ujian berlangsung. Katanya, sang guru beberapa kali mengajak bicara dan berharap pengertian anak kawan saya ini. Alasan sang guru sangat simple: untuk mendongkrak angka rata-rata ujian. Jika langkah ini tidak ditempuh, reputasi sekolah bisa terancam.

Tidak puas dengan cerita sang anak, sahabat saya ini mencoba mengkonfirmasi ke guru dan guru sekolah lainnya. Guru pun membenarkan. Malah, katanya itu sesuatu hal yang wajar. Semua sudah mahfum. Terang saja, sahabat saya sangat shock mendengar realitas ini. Ia yang selalu berusaha menanamkan kejujuran kepada anak-anaknya justru dihadapkan pada fakta dimana guru yang seharusnya mengajarkan kejujuran justru mempertontonkan ketidakjujuran.

Wolak-waliking jaman…barangkali itulah istilah yang tepat. Ya, zaman sudah terbolak balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Orang jujur dianggap aneh. Sebaliknya, tidakjujuran telah menjadi satu kewajaran.

Kejadian ini mengingatkan saya pada artikel yang ditulis oleh  Gwyn Bevan dan Christopher Hood yang berjudul What ’ S Measured Is What Matters: Targets And Gaming In The English Public Health Care System.

Dari judulnya saya yakin anda bisa menebak apa kaitan cerita saya di atas dengan artikel Bevan dan Hood ini. What’s measured is what matters. Tepat sekali, apa yang di ukur, itu yang diperhatikan. Tidak peduli bagaimana proses pencapaian dan efek dari proses pengukuran tersebut.

Bevan dan Hood mengambil contoh praktek pengukuran kinerja di dinas kesehatannya Inggris. Dalam tulisan tersebut sang penulis memaparkan bahwa di tahun 2000an Pemerintahan Tony Blair mengadopsi manajemen kinerja sektor publik. Setiap tahunnya, sejak tahun 2001, Departemen Kesehatan Inggris menerbitkan ‘star ratings’ atau perankingan health care organisations, anggap saja kalau di sini puskesmasnya lah. Perangkingan ini didasarkan pada pencapaian atas 50an target kinerja. Hasil perankingan akan digunakan sebagai media penilaian kinerja kepala puskesmas. Jadi bagi yang kinerjanya rendah atau ‘poor’ bersiaplah hengkang dari jabatan tersebut.

Oya, hasil pengukuran kinerja ini dipublikasikan secara luas. Tak heran kalau kemudian perankingan ini dianggap sebagai alat untuk ‘naming and shaming’ alias mempermalukan mereka yang berkinerja rendah.

Ternyata kebijakan untuk melakukan star rating berdasarkan target-target yang telah ditetapkan mempunyai dampak negatif. Dalam artikel tersebut Bevan dan Hood menyebutkan bahwa target rendahnya angka kematian yang ditetapkan sebagai dasar penilaian kinerja membuat para dokter enggan menangani pasien-pasien beresiko tinggi. Mereka lebih memilih menangani pasien-pasien yang tidak terlalu beresiko, dari pada mereka harus mempertaruhkan kinerja mereka. Mengingat rendahnya angka kematian yang ditetapkan, kematian satu orang saja bisa membuat angka tersebut naik secara signifikan.

Hal serupa juga terjadi untuk penanganan pasien yang diangkut oleh ambulans. Masih menurut Bevan dan Hood, adanya target response time 4 jam atas penanganan pasien yang dibawa ambulan di rumah sakit mendorong paramedis untuk ‘mengakali’ dengan menunda pasien yang diangkut ambulans masuk atau ditangani di hospital Accident and Emergency (A&E) Departments atau UGD-nya lah. Kebijakan tersebut memaksa mereka untuk membiarkan pasien menunggu di ambulance. Mereka akan memastikan terlebih dahulu bahwa mereka akan mampu menangani pasien tersebut di A& E departement selama empat jam. Bisa dibayangkan menderitanya pasien ya.

Kalau di Inggris saja yang katanya pelayanan publiknya sudah mapan, bukankah ini justru membuktikan bahwa penetapan indikator kinerja yang tepat akan berpengaruh terhadap hasil apa yang kita inginkan. Sebagaimana judul artikel Radnor tersebut, What’s measured is what matters, maka benarlah bahwa apa yang diukur sangat menentukan apa yang akan diperhatikan oleh baik oleh organisasi atau penyedia layanan. Bukan pada hasil yang diinginkan oleh masyarakat secara umum. Jadi, penetapan indikator kinerja beserta target harus lah hati-hati.

Bevan dan Hood bahkan sempat mengutip satire Voltaire  dalam novel Candid untuk menggambarkan bagaimana “kejamnya” Inggris menghukum “kegagalan” Admiral John Byng untuk mempertahankan Minorca dalam perang tujuh tahun (Seven Years’ War). Dalam novel ini Voltaire menyatakan ‘ ici on tue de temps entemps un amiral pour encourager les autres ’ yang artinya “in this country, it is good to kill an admiral from time to time, in order to encourage the others”. Dalam konteks hukum pernyataan Voltaire ini sering dikutip sebagai kontra argumen capital punishment atau hukuman mati.

Menurut Mbah Wiki, John Byng dinyatakan bersalah atas kegagalannya melaksanakan “do his utmost” to prevent Minorca falling to the French di tahun 1756. Dia dihukum mati dan ditembak oleh pasukan penembak pada tanggal 14 Maret 1757 atas “kegagalan” mengemban misi mempertahankan Minorca agar tidak jatuh ke tangan Perancis. John Byng (1704-1757) mengawali karier di angkatan laut sejak usia 13 tahun. Di usia 19 dia telah menjadi Letnan, dan di usia 23 telah menjadi Captain of HMS Gibraltar. Setelah tiga belas tahun berkarier di angkatan laut, ia pun mendapatkan promosi untuk menjadi vice-admiral di tahun 1747.

Terkait dengan misi yang diemban untuk mempertahankan Minorca, ada fakta menarik yang menjadi penyebab kegagalannya. Masih menurut Wikipidia, Byng tidak diberikan dana dan waktu yang cukup untuk mempersiapkan ekspedisinya. Alhasil, Byng terpaksa hanya bisa mempersiapkan kapal yang seharusnya tidak layak untuk berlayar.

Literature terkini terkait pemanfaatan informasi kinerja memang mendorong proses learning dari pada sekedar punshment yang justru malah mendorong perlaku yang justru menyimpang. Sah-sah saja, bahkan dalam banyak hal penetapan target kinerja memberikan motivasi dan ‘keadilan’ sebagai dasar pemberian rewards. Hanya saja perlu kiranya untuk mempertimbangkan dan menetapkan indikator kinerja yang tepat.

Kabar terakhir (Koran Tempo, 15 April) Menteri Pendidikan Anies Baswedan merilis 52 Kabupaten atau kota yang selama ini memiliki indeks integritas mencapai 90%. Indeks ini menunjukkan tingkat kejujuran dalam pendidikan. Angka 90 menunjukkan bahwa tingkat kerjasama atau kecurangannya kurang dari 10%. Menurut Anies, indeksi ini bisa dijadikan pertimbangan oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk menerima calon mahasiswa baru. Kebijakan ini juga telah dinyatakan oleh Presiden Jokowi yang menyatakan bahwa tahun 2015 ini mulai diterapkan indeks integritas. Tentu ini perlu disambut baik.

Bagaimana implementasi ke bawah? Kalau presiden sudah menyatakan demikian, idealnya dalam tataran nasional ini seharusnya sudah dijadikan target dalam Rencana Pembangunan Menengah Nasional (RPJMN). Selanjutnya, dalam level pemerintah daerah harus juga mengintegrasikan dalam RPJMD untuk selanjutnya menjadi dasar penyusunan rencana strategis dinas pendidikan dalam menyusun program dan kegiatan pendukung.

Smoga, ini menjadi tapakan awal revolosi mental yang dimulai dari sekolah. Tinggal bagaimana kemudian kita sabagai aparat, sebagai masyarakat memainkan peran untuk mengawal implementasinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s