Belajar dari krisis Amerika

Usianya mungkin sudah menginjak 70an. Seperti lansia lain di negara ini, ia masih terlihat enerjik dan bersemangat. Pastilah itu karena pola hidup sehat yang ia jalani sejak kecil. Beberapa kali saya berpapasan. Seperti biasa ia selalu menyapa: Hi, how are you. Ya, kebetulan cucu wanita tersebut juga di prep (aration) sama dengan Ayla.

Suatu ketika saya mendapatinya sedang membaca buku sembari menunggu sang cucu keluar kelas. Segera saya hampiri. Jujur saja, saya penasaran dengan buku yang ia bawa. Segera saja saya tanyakan hal itu. Rupanya, ia sedang membaca novel yang menurutnya sangat menarik. Saya lupa judulnya apa. Yang jelas novel tersebut berlatar belakang Amerika di masa lampau. Tepatnya saat negara itu dilanda great depression.

Mendengar judul bukunya saya langsung bersemangat. Saya katakan padanya bahwa saya sangat tertarik untuk mengetahui sejarah Amerika. Terutama saat negara adidaya itu mengalami masa-masa suram. Ia katakan, buku itu sangat pas untuk saya baca. Buku itu bercerita tentang sulitnya menjalani hidup di masa itu. Saya sendiri tidak bisa membayangkab seberapa beratkah dampak great depression terhadap hidup masyarakat kala itu.

Usai bercerita tentang buku, sempat saya tanyakan seberap sering ia membaca buku? Berapa lama ia menyelesaikan membaca novel setebal itu? Dan, kapan biasanya ia membaca. Anda pasti bisa menebak jawabannya. Ya, tak jauh dari cerita saya tentang kebiasaan membaca anak primary school. Kebiasaan membaca sebelum tidur yang ditanamkan sejak usia sekolah tetap terpelihara hingga masa tuanya. Makanya, tidak pede sebenarnya menanyakan berapa buku yang sudah dia baca. Pasti ‘ombyokan’.

Kalaulah saat ini saya menuliskan kisah pertemuan saya dengan wanita tersebut, itu karena baru beberapa hari ini mulai menelusur tentang great depression. Sering mendengar. Tahu sekilas. Bahkan kalau tidaki salah pernah disinggung waktu kuliah dulu. Tapi, tidak cukup untuk memahami secara mendalam dan merasuk.

Menarik ternyata..bahkan suangat menarik. Dan, tentu saja masih relavan untuk digunakan memotret masalah kekinian. Katanya, sejarah selalu berulang. Dalam hal ini sekali lagi saya harus berterima kasih kepada youtube dan produser film dokumenter yang memudahkan saa memahami sejarah. Anda dapat melihatnya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=FXNziew6C9A. Jangan khawatir, meski dinarasikan dalam bahasa Inggris, anda bisa atur subtitlenya dalam bahasa Indonesia.

Menurut video tersebut dan setelah digoogle, rupanya dampak depresi yang terjadi pada tahun 1929 tersebut sangat dahsyat terhadap perekonomian Amerika. Bayangkan saja, ribuan pekerja di PHK. Alhasil angka pengangguran mencapai 25%. Di beberapa negara lain bahkan mencapai 33%. Memang, dampak depressi Amerika berimbas pada perekonomian negara lain.

Untuk menggambarkan kejatuhannya, bisa saya kutipkan dari mbah Wiki: “Construction was virtually halted in many countries. Farming communities and rural areas suffered as crop prices fell by approximately 60%. Facing plummeting demand with few alternate source of jobs.”….”..drought persisted in agricultural heartland, business and families dafaulted n record numbers of loans, and more than 5000 banks had faild. Hundreds of thousands of Americans found themselves homeless, and began congregating in shanty towns that began to appear across country”

Dahsyat bukan? Sulit rasanya membayangkan ratusan ribu warga Amerika menjadi gelandangan dan tinggal di gubug-gubug. Hal ini merupakan dampak ikutan PHK yang mengakibatkan para eks pekerja tidak mampu membayar cicilan tempat tinggalnya. Hasilnya bisa diduga. Mereka terpaksa terusir dan tinggal di ‘shanty town’. Belum lagi, saat itu pun orang harus antri berjam-jam untuk mendapatkan semangkuk sup dan sepotong roti Hidup mereka hanya mengandalkan kebaikan hati dari para dermawan yang bersimpati dengan memberikan charity. Meski dan meski harus antri berjam-jam. Pada saat itu Amerika belum menerapkan pemberian jaminan kesejahteraan bagi masyarakat.

Jadinya, ya begitu. Kehilangan pekerjaan langsung menjadi orang miskin.
Menyedihkan memang dampaknya. Bisa jadi mirip dengan dampak krismon tahun 1998 ya. Entahlah, mungkin lebih parah. Saya perlu menelusur soal ini.

Lepas dari itu. Ada hal menarik untuk disimak selama kurun waktu sepuluh tahun sebelum great depression terjadi. Untuk hal ini rupanya google kurang memberikan penjelasan dalam bahasa Indonesia. Terpaksalah agak ‘mumet’ saya terjemahkan gabunga info dari video dan google.

Jadi pada tahun 1920an Amerika mengalami apa yang disebut ‘Roaring Twenties’. Loh kok sama dengan tahun saat Alphonso Mingana mengambil dokumen dari Iraq seperti dalam tulisan saya sebelumnya ya. Ah, kebetulan atau ada hubungannya ya?. Ya, Roaring Twenties. Apa ya kalau diterjemahkan? Auman dua puluhan? Untuk tepatnya silakan di google translate saja.

Menurut mbak wiki: the roaring twenties adalah periode dimana Amerika mengalami tingkat kesejahteraan ekonomi yang sangat stabil. Tak, hanya Amerika ternyata. Canada dan Eropa juga demikian. Era paska perang dunia pertama diikuti dengan meningkatnya tingkat kemakmuran masyarakat. Pada masa ini pula musik jazz tumbuh dan berkembang pesat hingga masa itu dinamai the Jazz Age.

Dalam bidang ekonomi, kemajuan tersebut terlihat dari maraknya masyarakat yang mulai mengendarai mobil, menggunakan telfon dan listrik, serta tumbuhnya industri film. Singkatnya, pada periode itu Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan. Pada masa itu pula perempuan mendapatkan haknya untuk ikut pemilu. Dampaknya, tingginya pertumbuhan ekonomi tersebut secara langsung turut merubah gaya hidup dan budaya Amerika.

Masih menurut mbak wiki, tingginya pertumbuhan ekonomi tersebut tak lepas dari dampak pemulihan ekonomi paska perang, booming industri konstruksi, dan tingginya permintaan pasar atas automobile dan listrik. Hanya saja, beberapa sektor lain justru stagnan, diantaranya pertanian dan pertambangam.

Efek dari kemakmuran tersebut adalah perubahan pola hidup yang membuat masyarakat semakin konsumtif. Penjualan otomotif juga melesat tajam seiring digunakannya sistem roda berjalan dalam mesin produksi mobil ford. Teknik ini secara langsung memangkas ongkos produksi mobil secara signifikan.

Seiring dengan pola perubahan gaya hidup yang semakin konsumtif, dunia saham mulai menggeliat. Pasar saham Wall street mulai menarik minat masyarakat untuk mendapatkan uang lebih cepat.

Masih menurut video tersebut, sejak perang dunia pertama pemerintah Amerika telah menjual surat hutang (Bonds) yang dinamakan Liberty Bonds. Bonds ini dikeluarkan untuk untuk membayar biaya perang. Selebritis seperti Charlie Chaplin and Dauglas Fairbanks ditugaskan untuk mengiming-imingi masyarakat agar turut membeli surat hutang tersebut.

Menurut Richard Sylla dari Stom School Business:” Liberty Bond causes many people to become investors in securities for the first time. For the first time in their lives they got interest payment every six months”. Ya, Liberty bonds telah melahirkan banyak investors. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka mendapatkan pendapatan bunga setiap enam bulan sekali. Lebih lanjut, surat utang ini bisa diperjualbelikan di bursa. Alhasil, jual beli surat hutang menjadi gaya hidup masyarakat umum kala itu.

Maraknya perdagangan surat utang memunculkan ide para pelaku di Wall Street untuk memperdagangkan saham. Sebagaimana diprediksikan, saham pun laris manis. Untuk mendukung bursa saham, dibukalah brokerage (apa bahasa indonesianya ya) di seluruh penjuru Amerika. Tentang hal ini disebutkan:

“This speculative frenzy embraced all kinds of people not just professionals. Ordinary people began participating as well in on crushing and numbers were all accross the country not just new york city but in cities and small towns all across America…from bell boy to shoeshine boy could make easy money on the market on wall street”.

Saham tak hanya menjadi bahan pembicaraan para profesional, tak terkecuali tukang semir sepatu. Tak hanya di New York, tapi juga merambah kota-kota kecil di Amerika.

Di saat yang sama, pemerintah juga mengenakan kebijakan bunga pinjaman yang rendah membuat masyarakat semakin konsumtif. Tak heran kalau kemudian pada masa itu dikenal istilah “buy for margin” alias “buy now pay later”.

Ekspansi kredit inilah yang menurut Charles Person dalam artikelnya yang diterbitkan pada November 1930 menjadi penyebab terjadinya the great depression. Ia katakan: “the existing depression was due essentially to the great wave of credit expansion in the past decade”.

Lanjutnya, “the past decade had witnessed a great volume of credit inflation. Our period of prosperity was based on nothing more substantial than debt expansion”. Memang, masih menurut Pearson, telah terjadi perubahan sosial antara tahun 1900 dan 1920. Menjadi hal yang lumrah pada masa 1920 masyarakat membeli perabot, pakaian, mesin jahit dan mobil secara kredit. Termasuk ketika angka penjualan mobil dan realestate yang meningkat secara signifikan juga dengan cara yang sama.

Hmmm…jadi itu ternyata penyebabnya. Konon, setelah saya telusur sekilas kejadian krisis 2008 tak lain dan tak bukan juga disebabkan kebijakan kredit yang super lunak. Dan setelah saya telusur lebih jauh lagi, Irlandia, juga mengalami krisis dengan penyebab yang sama. Padahal, pertengahan tahun lalu, negeri itu dinobatkan sebagai negara yang paling Islami oleh periset Amerika dalam penelitiannya tentang Islamicity Index. Plus, karena hasil penelitian itulah ia dipuji-puji oleh koran nasional kita. Kok bisa? That’s another story…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s