Bagaimana SD Australia mengajarkan literasi?

Rabu pagi 9 Agustus 2015 tak hanya menjadi hari yang menyenangkan untuk anak-anak prep di Moreland Primary School. Tapi, juga saya. Ada hal yang menarik dan mengesankan untuk diceritakan. Prep atau preparation, seperti yang pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, setara dengan TK B. Namun, secara administratif pengelolaannya ada di tingkat primary school atau SD.

Apa yang terjadi hari itu? Ya, hari itu anak-anak prep belajar tentang ‘Tahu Isi’. Saya sendiri sekedar membantu mendokumentasikan kegiatan yang didukung dua orang tua murid dari Indonesia, mbak Windy Triana dan mbak Ratna Andini.

Begitu musik terdengar, jam 9.00, preppies segera masuk keruangan dan duduk bersila dengan teratur. Mereka terlihat begitau bersemangat melihat apa yang ada di hadapan mereka. Beberapa alat masak, seperti baskom, penggorengan, container berisi sayuran, tepung, dan tahu ada di atas meja.

Guru pun memberitahukan bahwa mereka akan belajar bagaimana membuat tahu isi. Mereka kemudian mencoba melafalkan ‘tahu isi’. Kegiatan hari itu adalah bagian dari tema pelajaran term 3 ini tentang Indonesia. Salah satunya melalui makanan khas Indonesia.

Untuk mempersingkat proses, mbak Windy dan mbak Ratna sudah mempersiapkan bahan untuk isiannya. Yaitu, kol dan wortel yang sudah dipotong-potong halus. Untuk tahu juga sudah disiapkan, tinggal dipotong menjadi dua.

Segera saja, proses memasak langsung dimulai. Pertama, penggorengan di panaskan dan minyak goreng untuk menumis dituang. Kemudian bawang bombay. Hingga akhirnya, kol dan wortel pun di masukkan hingga aroma sedap pun menyebar. Setiap langkah disampaikan oleh mbak Windy dan teacher. Anak-anak juga diajak untuk menebak bahan-bahannya. Termasuk ketika tepung beras diaduk sebagai bahan untuk mencelupkan tahu, guru sempat menanyakan tepung apa yang digunakan. Anak-anak pun berlomba untuk menjawab.

Begitu isi sudah siap, satu per satu anak-anak di persilakan untuk mencoba meletakkannya di atas tahu yang sudah di potong menjadi dua. Terlihat jelas bagaimana mereka sangat ingin mencoba proses memasak tersebut. Di saat yang sama sebagian tahu sudah digoreng. Begitulah, hingga akhirnya semua anak mendapat kesempatan.

Sekilas kegiatan tersebut biasa-biasa saja. Bahkan, di sekolah anak saya dulu juga pernah dilakukan. Atau, jaman saya SD pada pertengahan tahun 80an sempat juga mendapat pengalaman memasak disekolah. Masih teringat begitu bersemangatnya kala itu.

Tapi, ada yang menarik untuk dicermati. Saat menunggu tahu masak, sang guru mengajak anak-anak mengingat kembali proses memasak tahu isi dari awal. Yaitu, saat minyak di tuangkan. Kemudian, bawang bombay dimasukkan, ditambahkan kol dan wortel, hingga tahu isi siap dimakan.

Keseluruhan proses tersebut ditulis di whiteboard. Di sinilah literasi mengejawantah. Guru tidak sekedar menulis. Tapi, memancing anak untuk memilih kata yang tepat untuk setiap proses. Misalnya, dip, pour, add, make dan stuffed. Untuk mendapatkan kata ‘pour’ guru memancing dengan mengatakan “what can we do with the oil when you put it in?” Termasuk nama-nama bahannya, seperti oil, cabbage, carrot, tofu, onion, dan flour.

Untuk setiap kata yang mereka sampaikan, anak-anak diminta untuk spelling. Perlu diingat bahwa spelling untuk bahasa inggris lumayan gampang-gampang susah. Atau memang susah. Yang jelas, Ayla sendiri masih belum bisa menulis ‘nakal’ dengan benar. Seharusnya naughty ditulis noti, atau friend ditulis fren.

Begitulah, hingga sebagian besar anak kebagian untuk spelling hingga sampai pada prosedur terakhir. “Eat the tahu isi”.

Usai menuliskan semua prosedur memasak tahu isi, anak-anak kembali dibagi menurut groupnya. Dari keseluruhan 57 anak dibagi kedalam tiga group, wombat, platypus dan cookaboora. Ups….saya jug tidak yakin spelling saya benar.

Di masing-masing group ini mereka dibagikan tahu isi dan disantaplah makanan khas Indonesia ini.

Lagi-lagi saya dibuat terpesona saat saya lihat layar monitor. Rupanya di group ini sang guru menampilkan kembali foto-foto yang sempat diambilnya dengan HP saat tahu isi dimasak. Anak-anak pun kembali diminta untuk menebak dan mengingat kembali proses memasak tersebut. Guru kemudian mengajak anak-anak melihat kembali langkah-langkah tersebut di whiteboard. Kemudian, anak-anak diminta untuk mengidentifikasi ingredient atau bahan tahu isi sesuai yang tertulis di whiteboard. Setelah itu, guru menghapus kalimat dalam whiteboard dan menyisakan kata benda seperti oil, carrot, dan cabbage.

Sampai di sini, saya yakin anda bisa menebak apa yang kemudian dilakukan anak-anak tersebut. Yup, mereka dibagikan kertas dan diminta untuk menulis kata benda yang ada dalam whiteboard tersebut.

Mungkin pola pembelajaran seperti ini pula yang diharapkan dari kurikulum 2013. Dengan model pembelajaran integratif anak belajar tentang bahan makanan, budaya (dalam hal ini Indonesia), bahasa, dan tentang rasa.

Jadi?

Proses belajar baca tulis di Australia sudah dimulai sejak anak usia 5 tahun atau setara dengan TK B. Kalau kemudian banyak orang tua murid di Indonesia yang mempertanyaka tentang test membaca sejak masuk SD, mungkin yang perlu diperdebatkan bukan sejak kapan anak diajar membaca. Tapi, lebih kepada bagaimana membuat baca tulis menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s