Bagaimana mengatasi penumpang gelap?

Tanpa sengaja mata saya menangkap iklan layanan masyarakat di sudut halte bis yang akan mengantarkan saya ke kampus. Iklan yang sangat menarik. Hanya saja, karena bangku halte dipenuhi calon penumpang saya urungkan niat untuk mengambil gambar iklan tersebut. Barulah, usai menemui academic skill advisors saya sempatkan untuk memotretnya. Dan, foto di atas lah hasilnya.

Sebagaimana yang pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya dalam buku ‘pacuan gajah’, freeloader alias penumpang gelap masih terus menjadi perhatian pengelola transportasi di state Victoria (Public Transport Victoria atau PTV). Akibat ulah freeloader ini negara telah dirugikan sebesar $51M. Sebagai upaya penertiban tahun lalu diperkenalkanlah on the spot penalty, dimana para freeloader diberikan kesempatan membayar denda lebih rendah, $75 dibanding denda biasa $223, jika dia membayarnya saat itu juga. Inspeksi pun semakin sering dilakukan. Saya sendiri sering mendapati petugas PTV yang sedang melakukan tugas pengecekan kartu Myki atau kartu pas public transport.

Tentang iklan di atas? Ya, petugas PTV kini tak selalu menggunakan seragam. Beralasan memang. Bisa jadi para freeloader masih memiliki waktu untuk langsung turun begitu melihat petugas berseragam hendak menaiki moda transportasi. Lain halnya bila mereka berpakaian layaknya penumpang. Intensifnya inspeksi semacam ini diharapkan dapat menurunkan jumlah kerugian akibat ulah freeloader ini. Jika anda tertarik silakan lihat video ini https://www.youtube.com/watch?v=M-X-xv-FnOA.

Terkait inspeksi saya teringat satu penelitian yang pernah sangat populer. Periode awal penelitian ini dilakukan di Hawthorne Works di Western Electric Illinois dari tahun 1924-1932. Bagi anda yang berlatar belakang pendidikan ekonomi pastilah akrab dengan Hawthorne Effect. Saya sendiri sempat ‘dikenalkan’ oleh dosen sembilan belas tahun lalu. Wuiiih lama sekali ya. Saya sendiri juga sudah lupa bagaimana penelitiannya.

Untunglah ada youtube. Istilah Hawthorne effect ini awalnya diperkenalkan oleh Henry A. Landsberger. Pada prinsipnya, penelitian ini ingin mengetahui pengaruh lampu penerangan terhadap produktivitas buruh. Hipotesisnya, produktivitas akan meningkat jika intensitas lampu dinaikkan.

Untuk membuktikannya, buruh dibagi menjadi dua kelompok. Pada klompok pertama atau disebut eksperimental group, intensitas lampu ruangan tempat mereka bekerja dinaikkan. Sebaliknya, pada kelompok kedua, atai disebut sebagai kontrol grup, intensitas lampu tidak diubah. Hasilnya? Produktivitas kedua kelompok meningkat.

Heran dengan hasil penelitian ini, diturunkanlah intensitas lampu pada grup 1. Sementara intensitas lampu pada grup dua masih tetap sama. Hasilnya? Produktivitas meningkat.

Kesimpulannya, tingkat penerangan tidak berpengaruh terhadap produktivitas buruh. Kalau begitu, apa tebakan anda?

Benar, kesadaran bahwa mereka sedang diamati-lah yang turut berpengaruh terhadap naiknya produktivitas. Kesadaran pada kedua grup bahwa ada pihak lain yang sedang meneliti produktifitas mereka mendorong mereka untuk meningkatkan produktivitasnya, bukan faktor eksternal seperti tingkat penerangan.

Eksperiment Howthorne ini sebenarnya tidak hanya berhenti disitu. Untuk mendapatkan penjelasan lebih spesifik tentang faktor penentu produktifitas, dilanjutkanlah eksperimen Mayo. Fase kedua ini disebut Relay Assembly Room Experiments. Apa terjemahannya ya? Saya kopikan gambarnya saja ya.

Detail percobaannya saya kutipkan saja ya dari buku Management Theory-nya John Sheldane. Jadi begini, percobaan ini dilakukan dengan memilih enam wanita berumur antara 15-28 tahun. Mereka berasal dari latar berlakang etnis yang berbeda, empat orang dari polandia, satu orang dari Bohemian, dan yang tertua dari Norwegia.

Untuk memonitor hasil kerja mereka, ditempatkanlah supervisor Homer Hibanger bersama keenam wanita tersebut dalam ruangan perakitan. Homer tidak hanya mengawasi hasil pekerjaan mereka, tapi juga “to create and maintain a friendly atmosphere in the test room” atau membuat suasana kerja yang nyaman. Para wanita ini pun mengakui bahwa suasana kerja yang nyaman membuat mereka merasa lebih bebas dan tidak seperti di pabrik. Mereka katakan, “we’ve been the best friends since the day we were in the test room”.

Efeknya terhadap produktivitas? Benar, produktifitas meningkat.

Eksperimen Hawthorne ini sepertinya pas untuk menjelaskan alasan kenapa pihak PTV mengencangkan inspeksi. Kalau selama ini kebanyakan kita selalu dibuat terpesona dengan mentalitas masyarakat negara maju, rupanya tanpa pengawasan yang ketatpun meraka tergoda untuk melakukan pelanggaran.

Grafik hasil surve dari pihak PTV di bawah ini dapat menjelaskan bagaimana efek dari intensifnya inspeksi dalam menekan tingkat pelanggaran.

Jumlah kasus pelanggaran telah menurun dari 4,9% pada Mei 2013 menjadi 1,19% Mei 2015.

Eksperimen Hawthorne ini memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap ilmu manajemen. Dalam banyak hal, meski dilakukan berapa puluh tahun silam, masih relevan untuk digunakan saat ini. Tentu saja, banyak hal lain pula yang bisa jadi kurang relevan. Misalnya saja, untuk industri yang mengandalkan pada kreativitas, pengawasan terus menerus terhadap pegawai bisa jadi justru kontra produktif. Pada tipe industri seperti ini, bukan Mayo yang kita gunakan untuk referensi, tapi teori motivasi Mc Gregor yang membedakan manusia menjadi dua kelompok: X dan Y.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s