Bagaimana membangun city image?

Baru saja berhasil mengeluarkannya dari pintu masuk, keraguan pun muncul. Apa mungkin kami bisa mengangkatnya sampai ke tempat tinggal yang baru. Tak terlalu jauh sebenarnya. Mungkin hanya sekitar 300 meter. Hanya saja rak seberat sekitar 30kg itu serasa membuat jarak menjadi begitu jauh. Beberapa kali kami mencoba berganti posisi. Amira bergerak maju dan saya yang mundur. Atau, kami mencoba menyamping. Tetap saja. Hanya beberapa langkah yang bisa ditempuh, satu dua langkah kemudian kami harus berhenti sejenak. Menarik nafas dan mentertawakan apa yang kami lakukan.

Namun, kurva belajar sepertinya bekerja dengan sempurna. Lama kelamaan kami bisa melangkah tiga, empat, lima hingga delapan sebelum akhirnya berhenti sejenak. Tiba di perempatan jalan saya seberangkan Ayla terlebih dahulu sembari rak saya tinggal ditepian bersama Amira. Saya pastikan tidak ada mobil yang akan lewat saat hendak mengangkat rak kembali untuk menyeberang.

Tiba saat yang tepat saya pun berhasil mengangkatnya hingga di pertengahan jalan. Disaat yang sama meluncur sebuah mobil perlahan. Sang pengendara sempat mengatakan sesuatu sambil menatap kami. Jujur, saya tidak tau persis apa yang dia katakan. Hanya saja secara refleks saya katakan ‘it’s close’ sembari telunjuk saya menunjuk building ke dua dari sudut jalan. Tiba di seberang jalan Amira yang kebetulan melihat sisi belakang saya mengatakan ‘Bunda, orangnya berhenti’. Beberapa detik kemudian, dia pun sudah ada di hadapan saya dan siap mengangkat rak dan menanyakan tempat tinggal kami. Setelah saya tunjuk tempat tinggal saya, akhirnya, justru dia sendiri yang mengangkat rak tersebut hingga di depan unit tempat kami tinggal. Alhamdulillah. Tak lupa saya katakan, thank you very much.

Beberapa saat kami terdiam, Amira mengatakan: Baik sekali orang itu, Bunda. Bagaimana tidak. Dia relakan untuk menghentikan mobil dan membantu mengangkatkan rak untuk orang yang tidak dikenalnya.

Boleh dikata saya sering mendapatkan uluran tangan dari orang-orang baik di sini. Setahun lalu saat hendak menaiki tangga di Flinders station seseorang menawarkan bantuan untuk mengangkat stroler yang diduduki Ayla. Saat itu saya katakan, ‘no thanks’ karena kebetulan saya sendiri sudah berniat melipat stroler dan mengajak Ayla berjalan menaiki tangga. Pemandangan yang sangat biasa juga dijumpai di tram. Siapa pun tak perlu khawatir saat hendak naik atau turun ketika harus membawa stroller atau barang bawaan berat karena akan ada orang yang dengan sigap siap membantu. Bahkan, bukan hanya orang dewasa. Pernah suatu ketika saya dapati anak usia belasan yang dengan sigap membantu menurunkan trolly belanja seorang wanita. Atau sebaliknya, pernah suatu ketika saya merasa sangat malu karena tidak memperhatikan kalau ada seorang ibu yang turun membawa stroller anaknya akhirnya orang yang duduk lebih jauh lah yang membantunya.

Apa yang ingin saya bahas disini? Image…ya..city image.  Pertolongan-pertolongan ‘kecil’ seperti itu lah yang akan membangun image suatu kota. Kalau ada orang yang menanyakan ke saya gimana melbourne? Saya tentu akan menjawab: orangnya baik-baik.  Image ini akan terus melekat meski hanya beberapa kali saya mendapatkan uluran pertolongan dari mereka.  Kebaikan tersebut tentu menyiratkan adanya faktor keamanan kota. Apalagi bagi saya yang berjilbab. Sekalipun media memberitakan beberapa peristiwa efek dari Islamophobia, toh saya masih merasa baik-baik saja berada di sini. Image yang terpatri dalam fikiran saya adalah bahwa hanya sebagian kecil orang yang memiliki kebencian, selebihnya Melbournians baik-baik.

Kabar atau cerita tentang kebaikan ini tentu secara refleks saat saya ditanya bagaimana melbourne, saya akan menjawab seperti jawaban di atas. Belum lagi, tata arsitektur kota yang menawan yang menjadi pemikat utama para pelancong ke sini sudah melekat menjadi satu image kota Melbourne. Klop lah sudah. Kota yang dijuluki the most liveable city selama empat tahun berturut-turut makin kondusif untuk mendatangkan wisatawan dan para pelajar seperti saya. Efek jangka panjang untuk kota dalam hal ini pemerintah serta masyarakatnya adalah dampak ekonomi berupa masuknya devisa. Jadi, gimana tidak tambah makmur negaranya.

Dalam hal ini saya teringat diskusi saya dengan seorang kawan. Katanya: Pariwisata itu masalah image. Bagaimana kita membangun image sehingga wisatawan mau datang. Image ini tentu dipengaruhi oleh banyak hal. Mengandalkan pemerintah untuk membangun image suatu kota tentu butuh waktu yang panjang dan biaya yang besar. Makassar saja contohnya, sekuat dan sebaik apapun destinasi wisata yang dibangun selama image tentang kota tidak dibangun maka akan sulit mendatangkan wisatawan. Isu santer tentang gang motor jelas akan berdampak pada keengganan calon wisatawan untuk datang.

Atau, beberapa tahun lalu, saat saya mudik atau bertemu dengan kawan di Jawa, saya ditanya: gimana? Makassar aman? Pertanyaan itu didasarkan pada pemberitaan yang masif di media mainstream tentang kejahatan yang biasa ditayangkan setiap jam makan siang. Saya sendiri juga ngeri setiap kali melihat tayangan tersebut. Tapi, saya pun selalu menjawab, nggak tuh. Baik-baik saja. Saya sendiri tidak pernah secara langsung mendapati peristiwa kekerasan kecuali dari pemberitaan media. Selebihnya, ya itu tadi baik-baik saja. Saya sebagai pendatang juga diperlakukan dengan baik.

Sama dengan kawan saya tersebut. Dia sering ditanya tentang Makassar yang terkenal dengan demo anarkisnya. Sering ia menjawab: oya, ada demo ya? Maksudnya, memang ada demo di beberapa titik, tapi tidak di seluruh tempat. Hanya wilayah-wilayah tertentu. Lagi-lagi pemberitaan  yang cenderung membesar-besarkan membuat kota ini dikenal dengan image yang negatif.

Membangun image sebuah kota, pada dasarnya tidak hanya menjadi tugas pemerintah. Meski, saya tidak bisa mengingkari bahwa pemerintah lah yang seharusnya bisa mengendalikan dan mengarahkan agar suatu kota memiliki image yang baik. Maksud saya begini, pemerintah idealnya memang harus bisa menyatukan persepsi seluruh pihak terkait untuk membangun kota. Ini yang menjadi tugas utama pemerintah sebagai penggerak. Termasuk bagaimana pemerintah harus mampu memberi pengertian kepada media dan masyarakat bahwa membangun image kota adalah tugas bersama. Dalam jangka panjang jika image yang positif sudah terbangun, tentu manfaat yang akan memetik juga masyarakat sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s