Bagaimana Australia mendorong anak menulis buku?

Sehari setelah posting tentang gerakan penerjemahan di masa the golden age of Islam, saya mendapatkan ‘oleh-oleh’ dari Ayla. Sore itu  saya menjemputnya pulang sekolah. Begitu ia melihat saya masuk kelasnya, ia langsung menghampiri dan menyodorkan tasnya. Dalam sekejap, ia pun menghilang setelah ia mengatakan ‘play at the playground’. Selain tas, ia menyodorkan beberapa lembar kertas ukuran sepertiga kwarto yang di strapler.

Mata saya langsung berbinar menatap kertas tersebut. Aha…rupanya tadi di sekolah dia diajarkan menulis ‘buku’. Sekilas sembari menyusul ke playground saya buka-buka. Lumayan. Selain beberapa kalimat yang ia buat, buku itu dilengkapi dengan ilustrasi gambar coretan ala anak enam tahun. Meski hanya sekedar coretan, tapi cukup jelas untuk menggambarkan maksud yang ingin dia sampaikan. Tak lupa ia pun menuliskan angka sebagai penanda halaman di setiap lembar kertas.

Di halaman pertama ia tulis begini: one day thar was a little grie she has a pat and her name is klora snd the baby name is gora”. Di halaman itu pula ia menggambar seorang gadis dan dua ekor binatang berwarna coklat. Saya tidak bisa mengidentifikasikannya hingga ia katakan bahwa binatang tersebut adalah kangguru.

Di halaman kedua ia tuliskan: “and than she see rapunzel and rapunzel is sad”. Tak lupa ia gambar gadis yang sama dan sebuah istana yang mirip menara dan didalamnya ada seorang gadis berambut sangat panjang. Gadis itulah yan ia sebut rapunzel.

Di halaman ketiga ia tulis: and than she see a mermaid and a fish. Ia pun menggambar mermaid dan tiga ekor ikan.

Sampai di halaman terakhir ia tuliskan: the end. And i howp you like my book and hav a great rideng my book bae….

Ayla memang beruntung. Ia sempat menikmati kindergarten dan prep (kelas 0) di sini. Pada level ini lah yang menurut saya sangat krusial dalam membentuk kteativitas, minat, rasa ingin tahu, dan karakter anak.

Semua berjalan begitu saja tanpa saya banyak campur tangan untuk terus memintanya belajar baca tulis. Kecuali, sekedar mengingatkan saat dia sudah terlalu lama

Pulang sekolah sering dia terlihat sibuk ‘making something’. Aksi cut and paste sering membuat saya kebingungan mencari gunting dapur karena lupa ia kembalikan lagi ditempatnya. Akibat lainnya, harus siap beberes potongan-potongan kertas dan alat tulis yang tercecer.

Satu hal yang sering membuat saya terharu adalah ketika Ayla sering membuat sesuatu untuk sahabat-sahabatnya. Sebaliknya, ia juga sering mendapatkan ‘something’ dari teman-temannya. Beberapa hari lalu, BFF (best friend forever) memberikannya cincin yang terbuat dari kertas dihiasi bola-bola kecil berwarna pingk terbuat dari kapas atau yang bisa disebut pompom. Kali lain, ia mendaptkan gulungan kertas bergambar little pony yang diwarnai dengan pensil warna. Kali lain lagi, temannya memberikannya kartu yang dihiasinya sendiri dan dimasukkan kedalam amplop kecil.

Tadi malam, ia katakan, I wanna make something for Miss Jenna. Ya, wanita tersebut adalah guru Ayla. Beberapa menit kemudian jadilah gelang hasil menempel beberapa kertas warna yang dipotong tipis. Ia pun sempat meminta tolong untuk mengikatkan dengan benang wool potongan kertas kecil dengan tulisan dan gambar yang digulung.

Saya sendiri belum sempat bertanya kepada guru bagaimana proses pembelajaran di kelas. Dalam hal belajar baca tulis sering kali saya dibuat takjub oleh kata-katanya.

Misalnya, saat kami berdua menggambar kuda-kuda cantik little pony dibawah bimbingan youtube, ia sempat berkomentar: I don’t like mine. But I have tried my best.

Atau kali lain saat ia menulis tentang dinosaurus saya sempat tunjukkan beberapa kesalahan spellingnya. Ia katakan: that’s fine. Don’t worry, mama if you make a mistake. You are still learning.

……..

Hmmm…begitu rupanya cara guru mendorong anak-anak untuk terus menulis tanpa takut untuk membuat kesalahan. Alhasil, anakpun terus bersemangat mencoba dan mencoba.

Terkait dengan buku yang ditulis, itu juga tidak lepas dari program sekolah yang sejak awal masuk anak sudah dibekali dengan reading bag. Tas tersebut berisi dua buku. Satu buku adalah buku kontrol. Buku yang lain adalah buku bacaan yang setiap hari bisa diganti. Hingga hari ini tercatat ayla sudah membaca 67 buku. Banyak bukan?

Tapi, jangan bayangkan bukunya tebal-tebal. Jangan pula bayangkan bukunya banyak tulisannya. Sebaliknya, buku bacaan yang selalu dibawanya pulang sangat tipis. Jumlah halaman antara 10-16. Dalam satu halaman, jumlah kata tidak lebih dari lima belas.

Satu hal yang perlu dicatat juga penerapan sistem levelling bacaan. Jadi, buku-buku dikategorisasikan berdasarkan level. Saya tidak tau berapa level akhir. Yang jelas, untuk tahap belajar membaca dimulai dari level satu.

Di level satu ini suku kata yang digunakan sangat sederhana. Biasanya tiga atau empat suku kata, seperti put, hat, sit. Di level ini kata semacam school tidak ditemukan karena konsonannya tiga huruf ‘sch’.  Dari satu halaman ke halaman lain banyak pengulangan kata-katanya. Hanya saja, memang tetap berbentuk kalimat yang utuh. Ada subject ada verb.

Saat ini ayla sudah di level 9. Mulai dari level 1, loncat level 6, dan kini sejak sebulan lalu di level 9. Semakin meningkat levelnya, jumlah suku kata dan huruf semakin banyak. Tapi, gambar masih tetap dominan.

Masing-masing anak, meski sama-sama di grade prep, memiliki level yang berbeda. Tergantung kemampuan masing-masing.

Buku yang ditulis Ayla tersebut merupakan buku level 1. Kata subject dan kata kerjanya diulang- ulang.

Kebiasaan membaca buku cerita ini lah yang mungkin menjadi jawaban akan pertanyaan mengapa pada proses belajar baca tulis ayla sudah bisa menyusun kalimat. Sebaliknya, saat amira seusianya ia lebih banyak menulis kata-kata terpisah.

Jadi?

Perhatian pemerintah Australia dalam membangun budaya baca tulis ini sesungguhnya sejalan dengan gerakan penerjemahan pada masa the golden age of Islam. Dalam tulisan yang lalu, saya sebutkan bahwa tradisi akademik yang meliputi, penerjemahan, pengkajian, dan penulisan manuskript merupakan bagian penting yang membawa kekhalifahan Abbasiyah pada masa kejayaan.

Artinya, kalau tradisi baca tulis ini mendapat perhatian yang sangat besar di negara-negara maju, maka sesungguhnya Islam pun membawa pesan yang sama. Bukankah, ayat yang pertama turun adalah: Iqra’ atau bacalah? Dan bukankah juga seperti yang saya kutip sebelumnya bahwa: “”the ink of the scholar is more sacred than the blood of the martyr” atau “Midaadul ‘Ulama Khoirun min Dimaa’i asy-Syuhada“ atau “Tinta Ulama lebih utama dari darah para syuhada“. Ba

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s