Bagaimana Australia asah daya kritis anak?

“Critical thinking itu harus dilatih. Ia tidak begitu saja muncul meski seseorang rajin membaca”.

Begitulah kesimpulan yang bisa saya ambil dari diskusi di grup ibu-ibu pelajar di sini. Saya sendiri membenarkannya. Masih teringat saat liburan SD bapak saya sering membawakan buku-buku cerita dari perpustakaan sekolah. Kisah Ken Arok, kisah walisongo, termasuk buku Siti Nurbaya, lima sekawan, serta buku Agatha Christy sempat saya lahap. Plus majalah Bobo dan Ananda yang populer di era 80an.

Faktanya, sampai SMA saya selalu deg-degan kalau ada diskusi. Paling bingung kalau disuruh bertanya. Selalu plegak-pleguk kalau disuruh berdiri di depan kelas

Dalam hal ini saya teringat komentar guru geografi saya waktu itu. Katanya, kelas ini kalau diperas tinggal 7 orang saja. Menurutnya, kami kurang kritis. Nylekit alias menusuk ke ke lubuk hati memang kata-kata beliau. Guru saya ini termasuk sudah sepuh dan idealis.  Saya sering menjadi bulan-bulanan saat beliau mengajar. Pasalnya, saya duduk di meja paling depan dan sering menjadi sasaran pertanyaan-pertanyaannya. Apesnya lagi, saya sering gagal menjawab pertanyaannya dengan baik. Terkadang saya hanya  bisa menunduk terdiam dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.

Rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapat baru muncul sejak saya bergabung di suatu kelompok diskusi dalam bahasa Inggris, Al Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES) di Makassar, saat usia saya 25 tahun. Aktivitas diskusi tiga kali seminggu dan beberapa kali membuat paper sebagai bahan diskusi lumayan lah untuk mengasah daya kritis. Mulailah, sejak kembali lagi ke bangku kuliah saya memiliki keberanian bertanya.

Aktivitas diskusi, berdebat, dan membuat paper ternyata sangat bermanfaat saat melanjutkan kuliah di sini. Meski begitu, saya masih sering kesulitan saat harus menyelesaikan tugas menulis essay. Semester awal range nilai saya antara 55 dan 70. Yang paling jeblog saat saya harus membuat critical review bukunya Joseph Stiglits. Tak hanya saya yang mengeluh soal ini. Beberapa teman dari Asia juga sama. Mereka katakan, penulis ini kan pasti lebih hebat dari kita dan mereka juga ahli di bidangya. Bagaimana kita harus mengkritisi gagasannya?

Begiulah..lambat laun karena dipaksa lama kelamaan  mulai tau tips bagaimana membuat critical review. Bukan hal yang mudah untuk mencari kekuatan dan kelemahan para penulis artikel atau buku. Syarat mutlak ya harus membaca banyak literatur dan membandingkan dengan tulisan-tulisan terkait.

Beberapa hari lalu Amira bercerita. Katanya ia diminta menulis reading respond atas buku yang dibacanya. Ia diminta menjawab 6 dari 9 pertanyaan yang diberikan guru. Kesembilan pertanyaan tersebut ditulis dalam sebuah matriks 3 x 3. Setiap selesai menjawab satu pertanyaan ia dipersilakan membubuhkan tanda x atau o secara bergantian. Kata Amira, sambil bermain tic tac toe. Kalau istilah didaerah saya waktu kecil namanya main tiga jadi. Begitulah hingga enam pertanyaan terjawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

  1. Why did you choose this book?
  2. How would you feel if the same thing that happened to your favorite character, happened to you
  3. What would you have done if you were in the story?
  4. If you are the author of the book, how do you end the story?

Jujur saja, saya dibuat takjub dengan pertanyaan-pertanyaannya.  Sewaktu pelajaran Bahasa Indonesia hingga sma rasanya saya tidak pernah diminta menjawab pertanyaan sampai sejauh itu. Pelajaran bahasa indonesia boleh dibilang lebih menekankan pada tata bahasa dan sastra. Pertanyaan dalam ujian pun kebanyakan pilihan ganda. Jika dibandingkan dengan pelajaran lain, kebanyakan teman-teman saya tidak menganggap pelajaran bahasa Indonesia sepenting Matematika atau IPA.

Usai mendengar cerita Amira, langsunglah saya beburu ke youtube dan google mencari tahu lebih dalam tentang reading response ini. Wow…ternyata banyak petunjuk yang saya peroleh. Lengkap dengan pertanyaan dan jenis aktivitas yang dapat dimainkan, tentu saja tic tac toe-nya. Terfikir untuk memodifikasikannya dengan permainan  ular tangga atau monopoli.

Reading reaponse sendiri ternyata memiliki akar pada sebuah teori yang dinamakan readerrespond theory. Jika ditelusur lebih jauh lagi akarnya adalah teori yang beberapa bulan lalu sempat saya coba dalami tapi masih gagal paham juga, yaitu critical theory. Prinsip dari reader respond theory ini sederhana: setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda atas sesuatu hal karena masing-masing memiliki nilai, belief, dan latar belakang yang berbeda. Dalam hal ini satu buku yang sama bisa menimbulkan respond yang berbeda-beda.

Pengemuka teori ini, menurut Tricia Smith dalam salah satu papernya yang berjudul Reader Respond Methods, adalah Louise Rosenblatt, Stanley Fish dan Wolfgang Iser. Menurut Smith, Reading Respond Theory ini menggunakan pendekatan reader-oriented dalam memahami text. Makna dari teks yang dibaca sangat dipengaruhi oleh pembacanya. Satu pembaca dengan yang lain dapat memberikan makna yang berbeda terhadap teks yang sama.

Yang menarik lagi, Rosenblatt juga mengatakan bahwa manfaat reader-response ini tidak hanya sebatas pada aktivitas di kelas, tapi juga “enhancing the open-mindedness that is the foundation of a democratic society”. Yaitu bahwa reader response ini memiliki peran penting dalam membangun fondasi masyarakat yang berdemokrasi. Wow….

Jika anda cermati, melihat aktivitas dan pertanyaan-pertanyaan dalam reading response ini memang cukup menantang. Tentu saja, tidak semudah menjawab soal pilihan ganda. Dan tentu saja, tidak seringan membaca novel. Meski, tentu saja justru menjadi aktivitas yang menyenangkan jika dikemas secara menarik.

Beberapa pertanyaan dalam aktivitas reading-response di kelas yang menurut saya cukup menalik adalah tentang connection. Yaitu, bagaimana sang pembaca mampu mengaitkan buku yang dibaca dengam pengalaman hidupnya. Hal lain yang tak kalah menarik adalah bagaimana pembaca didorong untuk mencoba mereka-reka sendiri versi cerita mereka dengan pertanyaan, seperti dalam pertanyaan di atas: What would you have done if you were in the story? If you are the author of the book, how do you end the story?

Dari hasil penelusuran di Youtube, saya baru tau bahwa aktivitas reading alias membaca menjadi perhatian yang sangat besar dalam kurikulum pendidikan di negara-negara maju. Sama halnya dengan menulis. Keduanya mendapatkan porsi waktu yang cukup besar dalam seminggu. Di grade 5/6 di sekolah Amira tiga hari, masing-masing selama 1 jam, dalam seminggu siswa mendapatkan pelajaran reading (silakan lihat di foto): senin, selasa (reading-book clubs), dan jum’at (singing/reading). Demikian juga dengan teknik-teknik pembelajaran reading juga banyak dikembangkan. Beraneka aktivitas dan game untuk menarik minat anak membaca dan mengasah daya kritis dapat ditemukan dengan mudah via google.

Kalau kita fikir-fikir, ah apa susahnya membaca. Bukankah anak SD kelas 1 juga bisa membaca.

Bagi anda yang pernah belajar IELTS atau TOEFL, meski dalam banyak kasus nilai reading kebanyakan diatas listening dan speaking, tetap untuk mendapatkan skor yang tinggi perlu latihan. Saya sendiri meski sudah masuk camp di IALF selama 9 bulan di tahun 2004-2005 dan 2 bulan di tahun 2012,  kalau disuruh membaca jurnal masih payah.

Jadi?

Sekedar membaca rupanya tidaklah cukup untuk mengasah daya kritis anak, bahkan termasuk kita yang sudah mahir membaca. Kalau selama ini kita sering mendapati banyaknya orang yang menyebar informasi (smoga kita tidak termasuk didalamnya) tanpa mengkritisi isinya, bisa jadi ada masalah dalam pendidikan membaca kita.

Rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapat baru muncul sejak saya bergabung di suatu kelompok diskusi dalam bahasa Inggris, Al Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES) di Makassar, saat usia saya 25 tahun. Aktivitas diskusi tiga kali seminggu dan beberapa kali membuat paper sebagai bahan diskusi lumayan lah untuk mengasah daya kritis. Mulailah, sejak kembali lagi ke bangku kuliah saya memiliki keberanian bertanya.

Aktivitas diskusi, berdebat, dan membuat paper ternyata sangat bermanfaat saat melanjutkan kuliah di sini. Meski begitu, saya masih sering kesulitan saat harus menyelesaikan tugas menulis essay. Semester awal range nilai saya antara 55 dan 70. Yang paling jeblog saat saya harus membuat critical review bukunya Joseph Stiglits. Tak hanya saya yang mengeluh soal ini. Beberapa teman dari Asia juga sama. Mereka katakan, penulis ini kan pasti lebih hebat dari kita dan mereka juga ahli di bidangya. Bagaimana kita harus mengkritisi gagasannya?

Begitulah..lambat laun karena dipaksa lama kelamaan  mulai tau tips bagaimana membuat critical review. Bukan hal yang mudah untuk mencari kekuatan dan kelemahan para penulis artikel atau buku. Syarat mutlak ya harus membaca banyak literatur dan membandingkan dengan tulisan-tulisan terkait.

Beberapa hari lalu Amira bercerita. Katanya ia diminta menulis reading respond atas buku yang dibacanya. Ia diminta menjawab 6 dari 9 pertanyaan yang diberikan guru. Kesembilan pertanyaan tersebut ditulis dalam sebuah matriks 3 x 3. Setiap selesai menjawab satu pertanyaan ia dipersilakan membubuhkan tanda x atau o secara bergantian. Kata Amira, sambil bermain tic tac toe. Kalau istilah didaerah saya waktu kecil namanya main tiga jadi. Begitulah hingga enam pertanyaan terjawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

  1. Why did you choose this book?
  2. How would you feel if the same thing that happened to your favorite character, happened to you
  3. What would you have done if you were in the story?
  4. If you are the author of the book, how do you end the story?

Jujur saja, saya dibuat takjub dengan pertanyaan-pertanyaannya.  Sewaktu pelajaran Bahasa Indonesia hingga sma rasanya saya tidak pernah diminta menjawab pertanyaan sampai sejauh itu. Pelajaran bahasa indonesia boleh dibilang lebih menekankan pada tata bahasa dan sastra. Pertanyaan dalam ujian pun kebanyakan pilihan ganda. Jika dibandingkan dengan pelajaran lain, kebanyakan teman-teman saya tidak menganggap pelajaran bahasa Indonesia sepenting Matematika atau IPA.

Usai mendengar cerita Amira, langsunglah saya beburu ke youtube dan google mencari tahu lebih dalam tentang reading response ini. Wow…ternyata banyak petunjuk yang saya peroleh. Lengkap dengan pertanyaan dan jenis aktivitas yang dapat dimainkan, tentu saja tic tac toe-nya. Terfikir untuk memodifikasikannya dengan permainan  ular tangga atau monopoli.

Reading reaponse sendiri ternyata memiliki akar pada sebuah teori yang dinamakan reader-respond theory. Jika ditelusur lebih jauh lagi akarnya adalah teori yang beberapa bulan lalu sempat saya coba dalami tapi masih gagal paham juga, yaitu critical theory. Prinsip dari reader respond theory ini sederhana: setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda atas sesuatu hal karena masing-masing memiliki nilai, belief, dan latar belakang yang berbeda. Dalam hal ini satu buku yang sama bisa menimbulkan respond yang berbeda-beda.

Pengemuka teori ini, menurut Tricia Smith dalam salah satu papernya yang berjudul Reader Respond Methods, adalah Louise Rosenblatt, Stanley Fish dan Wolfgang Iser. Menurut Smith, Reading Respond Theory ini menggunakan pendekatan reader-oriented dalam memahami text. Makna dari teks yang dibaca sangat dipengaruhi oleh pembacanya. Satu pembaca dengan yang lain dapat memberikan makna yang berbeda terhadap teks yang sama.

Yang menarik lagi, Rosenblatt juga mengatakan bahwa manfaat reader-response ini tidak hanya sebatas pada aktivitas di kelas, tapi juga “enhancing the open-mindedness that is the foundation of a democratic society”. Yaitu bahwa reader response ini memiliki peran penting dalam membangun fondasi masyarakat yang berdemokrasi. Wow….

Jika anda cermati, melihat aktivitas dan pertanyaan-pertanyaan dalam reading response ini memang cukup menantang. Tentu saja, tidak semudah menjawab soal pilihan ganda. Dan tentu saja, tidak seringan membaca novel. Meski, tentu saja justru menjadi aktivitas yang menyenangkan jika dikemas secara menarik.

Beberapa pertanyaan dalam aktivitas reading-response di kelas yang menurut saya cukup menalik adalah tentang connection. Yaitu, bagaimana sang pembaca mampu mengaitkan buku yang dibaca dengam pengalaman hidupnya. Hal lain yang tak kalah menarik adalah bagaimana pembaca didorong untuk mencoba mereka-reka sendiri versi cerita mereka dengan pertanyaan, seperti dalam pertanyaan di atas: What would you have done if you were in the story? If you are the author of the book, how do you end the story?

Dari hasil penelusuran di Youtube, saya baru tau bahwa aktivitas reading alias membaca menjadi perhatian yang sangat besar dalam kurikulum pendidikan di negara-negara maju. Sama halnya dengan menulis. Keduanya mendapatkan porsi waktu yang cukup besar dalam seminggu. Di grade 5/6 di sekolah Amira tiga hari, masing-masing selama 1 jam, dalam seminggu siswa mendapatkan pelajaran reading (silakan lihat di foto): senin, selasa (reading-book clubs), dan jum’at (singing/reading). Demikian juga dengan teknik-teknik pembelajaran reading juga banyak dikembangkan. Beraneka aktivitas dan game untuk menarik minat anak membaca dan mengasah daya kritis dapat ditemukan dengan mudah via google.

Kalau kita fikir-fikir, ah apa susahnya membaca. Bukankah anak SD kelas 1 juga bisa membaca ya?

Bagi anda yang pernah belajar IELTS atau TOEFL, meski dalam banyak kasus nilai reading kebanyakan diatas listening dan speaking, tetap untuk mendapatkan skor yang tinggi perlu latihan. Saya sendiri meski sudah masuk camp di IALF selama 9 bulan di tahun 2004-2005 dan 2 bulan di tahun 2012,  kalau disuruh membaca jurnal masih payah.

Jadi?

Sekedar membaca rupanya tidaklah cukup untuk mengasah daya kritis anak, mungkin termasuk kita yang sudah mahir membaca. Kalau selama ini kita sering mendapati banyaknya orang yang menyebar informasi (smoga kita tidak termasuk didalamnya) tanpa mengkritisi isinya, bisa jadi ada masalah dalam pendidikan membaca kita.

Saya sendiri membenarkannya. Masih teringat saat liburan SD bapak saya sering membawakan buku-buku cerita dari perpustakaan sekolah. Kisah Ken Arok, kisah walisongo, termasuk buku Siti Nurbaya, lima sekawan, serta buku Agatha Christy sempat saya lahap. Plus majalah Bobo dan Ananda yang populer di era 80an.

Faktanya, sampai SMA saya selalu deg-degan kalau ada diskusi. Paling bingung kalau disuruh bertanya. Selalu plegak-pleguk kalau disuruh berdiri di depan kelas.

Dalam hal ini saya teringat komentar guru geografi saya waktu itu. Katanya, kelas ini kalau diperas tinggal 7 orang saja. Menurutnya, kami kurang kritis. Nylekit alias menusuk ke ke lubuk hati memang kata-kata beliau. Guru saya ini termasuk sudah sepuh dan idealis.  Saya sering menjadi bulan-bulanan saat beliau mengajar. Pasalnya, saya duduk di meja paling depan dan sering menjadi sasaran pertanyaan-pertanyaannya. Apesnya lagi, saya sering gagal menjawab pertanyaannya dengan baik. Terkadang saya hanya  bisa menunduk terdiam dengan pertanyaannya yang tiba-tiba (colek Efilia Saputra, Wafiq Rifati, Atik Haryani, Kusmini Hartoyo, Dessy Suryokusumo, Widyatmoko Wimo, Lukmanul Arsyad, Zulfa Alia, Ali Faiz, Catur Wibowo, Titichay Ilyas, Bagus Sarwanto, Nov Kepon, Bisri Mustofa, Kumala Dewi Dewi, Ferdian Agus Indrianto, Zidni Hudaya, Elsie Soemarno, Dewi Utari)

Rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapat baru muncul sejak saya bergabung di suatu kelompok diskusi dalam bahasa Inggris, Al Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES) di Makassar, saat usia saya 25 tahun. Aktivitas diskusi tiga kali seminggu dan beberapa kali membuat paper sebagai bahan diskusi lumayan lah untuk mengasah daya kritis. Mulailah, sejak kembali lagi ke bangku kuliah saya memiliki keberanian bertanya.

Aktivitas diskusi, berdebat, dan membuat paper ternyata sangat bermanfaat saat melanjutkan kuliah di sini. Meski begitu, saya masih sering kesulitan saat harus menyelesaikan tugas menulis essay. Semester awal range nilai saya antara 55 dan 70. Yang paling jeblog saat saya harus membuat critical review bukunya Joseph Stiglits. Tak hanya saya yang mengeluh soal ini. Beberapa teman dari Asia juga sama. Mereka katakan, penulis ini kan pasti lebih hebat dari kita dan mereka juga ahli di bidangya. Bagaimana kita harus mengkritisi gagasannya?

Begitulah..lambat laun karena dipaksa lama kelamaan  mulai tau tips bagaimana membuat critical review. Bukan hal yang mudah untuk mencari kekuatan dan kelemahan para penulis artikel atau buku. Syarat mutlak ya harus membaca banyak literatur dan membandingkan dengan tulisan-tulisan terkait.

Beberapa hari lalu Amira bercerita. Katanya ia diminta menulis reading respond atas buku yang dibacanya. Ia diminta menjawab 6 dari 9 pertanyaan yang diberikan guru. Kesembilan pertanyaan tersebut ditulis dalam sebuah matriks 3 x 3. Setiap selesai menjawab satu pertanyaan ia dipersilakan membubuhkan tanda x atau o secara bergantian. Kata Amira, sambil bermain tic tac toe. Kalau istilah didaerah saya waktu kecil namanya main tiga jadi. Begitulah hingga enam pertanyaan terjawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

  1. Why did you choose this book?
  2. How would you feel if the same thing that happened to your favorite character, happened to you
  3. What would you have done if you were in the story?
  4. If you are the author of the book, how do you end the story?

Jujur saja, saya dibuat takjub dengan pertanyaan-pertanyaannya.  Sewaktu pelajaran Bahasa Indonesia hingga sma rasanya saya tidak pernah diminta menjawab pertanyaan sampai sejauh itu. Pelajaran bahasa indonesia boleh dibilang lebih menekankan pada tata bahasa dan sastra. Pertanyaan dalam ujian pun kebanyakan pilihan ganda. Jika dibandingkan dengan pelajaran lain, kebanyakan teman-teman saya tidak menganggap pelajaran bahasa Indonesia sepenting Matematika atau IPA.

Usai mendengar cerita Amira, langsunglah saya beburu ke youtube dan google mencari tahu lebih dalam tentang reading response ini. Wow…ternyata banyak petunjuk yang saya peroleh. Lengkap dengan pertanyaan dan jenis aktivitas yang dapat dimainkan, tentu saja tic tac toe-nya. Terfikir untuk memodifikasikannya dengan permainan  ular tangga atau monopoli.

Reading reaponse sendiri ternyata memiliki akar pada sebuah teori yang dinamakan reader-respond theory. Jika ditelusur lebih jauh lagi akarnya adalah teori yang beberapa bulan lalu sempat saya coba dalami tapi masih gagal paham juga, yaitu critical theory. Prinsip dari reader respond theory ini sederhana: setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda atas sesuatu hal karena masing-masing memiliki nilai, belief, dan latar belakang yang berbeda. Dalam hal ini satu buku yang sama bisa menimbulkan respond yang berbeda-beda.

Pengemuka teori ini, menurut Tricia Smith dalam salah satu papernya yang berjudul Reader Respond Methods, adalah Louise Rosenblatt, Stanley Fish dan Wolfgang Iser. Menurut Smith, Reading Respond Theory ini menggunakan pendekatan reader-oriented dalam memahami text. Makna dari teks yang dibaca sangat dipengaruhi oleh pembacanya. Satu pembaca dengan yang lain dapat memberikan makna yang berbeda terhadap teks yang sama.

Yang menarik lagi, Rosenblatt juga mengatakan bahwa manfaat reader-response ini tidak hanya sebatas pada aktivitas di kelas, tapi juga “enhancing the open-mindedness that is the foundation of a democratic society”. Yaitu bahwa reader response ini memiliki peran penting dalam membangun fondasi masyarakat yang berdemokrasi. Wow….

Jika anda cermati, melihat aktivitas dan pertanyaan-pertanyaan dalam reading response ini memang cukup menantang. Tentu saja, tidak semudah menjawab soal pilihan ganda. Dan tentu saja, tidak seringan membaca novel. Meski, tentu saja justru menjadi aktivitas yang menyenangkan jika dikemas secara menarik.

Beberapa pertanyaan dalam aktivitas reading-response di kelas yang menurut saya cukup menalik adalah tentang connection. Yaitu, bagaimana sang pembaca mampu mengaitkan buku yang dibaca dengam pengalaman hidupnya. Hal lain yang tak kalah menarik adalah bagaimana pembaca didorong untuk mencoba mereka-reka sendiri versi cerita mereka dengan pertanyaan, seperti dalam pertanyaan di atas: What would you have done if you were in the story? If you are the author of the book, how do you end the story?

Dari hasil penelusuran di Youtube, saya baru tau bahwa aktivitas reading alias membaca menjadi perhatian yang sangat besar dalam kurikulum pendidikan di negara-negara maju. Sama halnya dengan menulis. Keduanya mendapatkan porsi waktu yang cukup besar dalam seminggu. Di grade 5/6 di sekolah Amira tiga hari, masing-masing selama 1 jam, dalam seminggu siswa mendapatkan pelajaran reading (silakan lihat di foto): senin, selasa (reading-book clubs), dan jum’at (singing/reading). Demikian juga dengan teknik-teknik pembelajaran reading juga banyak dikembangkan. Beraneka aktivitas dan game untuk menarik minat anak membaca dan mengasah daya kritis dapat ditemukan dengan mudah via google.

Kalau kita fikir-fikir, ah apa susahnya membaca. Bukankah anak SD kelas 1 juga bisa membaca ya?

Bagi anda yang pernah belajar IELTS atau TOEFL, meski dalam banyak kasus nilai reading kebanyakan diatas listening dan speaking, tetap untuk mendapatkan skor yang tinggi perlu latihan. Saya sendiri meski sudah masuk camp di IALF selama 9 bulan di tahun 2004-2005 dan 2 bulan di tahun 2012,  kalau disuruh membaca jurnal masih payah.

Jadi?

Sekedar membaca rupanya tidaklah cukup untuk mengasah daya kritis anak, mungkin termasuk kita yang sudah mahir membaca. Kalau selama ini kita sering mendapati banyaknya orang yang menyebar informasi (smoga kita tidak termasuk didalamnya) tanpa mengkritisi isinya, bisa jadi ada masalah dalam pendidikan membaca kita.

LINK: http://www.warungkopipemda.com/bagaimana-australia-mengasah-daya-kritis-anak/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s