Bertanyalah dengan cerdas: Belajar dari kisah Pemuda Kahfi

Sebagaimana judulnya, QS Al Kahfi itu ibarat sebuah goa. Dari luar terihat kecil. Namun, ketika kita masuk kedalamnya, ternyata sangat-sangat luas. Begitu kata DR Mokhammad Yahya dalam salah satu seri kajian tafsir surat Al Kahfi. Tulisan ini hanyalah sepotong dari keluasan kandungan yang ada dalam surat tersebut yang didasarkan pada Video Nouman Ali Khan yang berjudul story of people of the cave.

Kekuatan Nouman Ali Khan dalam kajian tafsir terletak pada kemampuamnya menangkap cerita secara detail dalam setiap ayat.  Nouman juga mampu membuat cerita menjadi hidup. Seolah kita dibawa ke masa itu. Masa di mana para pemuda tertidur dan dibangunkan setelah lebih dari tiga ratus tahun.

Lagi-lagi, video Nouman Ali Khan menyadarkan saya bahwa pemahaman saya terhadap pemuda Kahfi hanyalah garis besarnya saja. Ada tujuh pemuda bersama seekor anjingnya yang tertidur selama kurang lebih tiga ratus tahun. That’s it.

Saya gagal menangkap makna dan pesan dalam kisah tersebut.

Salah satu ayat yang sangat menarik untuk ditelaah adalah ayat ke 22. Sudah beberapa kali sebenarnya saya membaca terjemahan ayat ke-22. Biasanya dibaca selintas tanpa meninggalkan satu jejak pelajaran pun dari proses membaca. Sekilas intinya tentang jumlah  mereka diperdebatkan, ada yang mengatakan tiga ada yang mengatakan empat.Berikut terjemahannya:

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. (QS. 18:22)”

Ada yang sangat menarik dari ayat tersebut yang luput dari perhatian saya. Dalam hal ini beberapa kali Nouman sering mengatakan bahwa Al Quran itu sempurna. Pas, tidak kelebihan kata, tidak ada kata yang kurang. Semua memberikan makna. Tidak mungkin ada satu kata atau kalimat pun yang sia-sia atau tidak ada manfaatnya.

Demikian halnya dengan ayat di atas. Mengapa Allah perlu menceritakan proses perdebatan tersebut?

Sama halnya dengan ayat sebelumnya Al Kahfi 19. Ayat tersebut menceritakan saat para pemuda tersebut sedang memperdebatkan berapa lama mereka tidur.

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya diantara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang diantara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.” (QS. 18:19)

Struktur kalimatnya sama dengan ayat ke 22. Ada perdebatan diantara pemuda tersebut tentang berapa lama mereka tertidur. Ada yang menanyakan berapa lama mereka tidur, lalu di jawab pemuda lain, sehari atau setengah hari. Hingga kemudian disudahi dengan jawaban pemuda lain yang mengatakan bahwa Allah lah yang mengetahui berapa lama mereka ada di dalam gua.

Mari kita perhatikan juga di awal kalimat pertama: Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya diantara mereka sendiri. Menarik bukan.

Mengapa Allah harus mengatakan hal ini? Mengapa Allah harus mengatakan “agar mereka bertanya diantara mereka sendiri”? Mengapa percakapan seperti ini perlu deceritakan kepada kita? Lagi-lagi, dalam ayat ini proses bertanya diabadikan didalam Al Qur’an.

Menurut Nouman, pertanyaan tentang jumlah pemuda tersebut (ayat 22) dan berapa lama mereka tidur (ayat 19) bukanlah pertanyaan yang terlalu penting untuk di bahas. Ada hal lain yang lebih penting yang justru harus diperhatikan. Hal ini terlihat dari potongan ayat setelahnya: Rab kamu lebih mengetahui. Makna implisitnya, sudahlah jangan berdebat, Rab kamu yang lebih mengetahui.

Dalam memberikan penjelasan tentang ayat ke-19 ini, Nouman Ali Khan membawa kita ke masa itu dan membayangkan kondisi para pemuda tersebut. Ada beberapa pemuda dengan seekor anjingnya. Karena keimanan mereka kepada Allah mereka dikejar-kejar oleh penguasa dan penduduk yang menganggap kepercayaan pemuda tersebut menyalahi budaya masa itu. Dalam kondisi teraniaya tersebut mereka tetap percaya kepada Allah. Lalu, Allah pun melindungi mereka di dalam gua. Hingga kemudian Allah membangunkan mereka setelah tiga ratus tahun lebih.

Ayat ke-19 tersebut menggambarkan saat mereka baru saja terbangun. Saat terbangun salah satu dari mereka bertanya sudah berapa lama mereka tertidur. Kemudian dijawab sehari atau setengah hari. Lalu, satu pemuda lainnya, langsung menjawab: Rabb-kamu lebih mengetahui. Lalu, langsung disambung dengan usulan agar seorang dari mereka untuk ke kota untuk mencari makanan.

Dalam kondisi seperti mereka, dikejar dan sedang bersembunyi di dalam gua, pertanyaan tentang berapa lama tertidur sangat lah tidak penting untuk diperdebatkan. Jawabannya pun tidak akan membantu mengatasi permasalahan mereka yang sebenarnya. Jawaban pemuda ketiga menutup pembicaraan tentang berapa lama mereka tertidur: Rab-kamu lebih mengetahui. Sudah, tak perlu dipertanyakan lagi. Saat ini kita lapar dan perlu makanan. Ayo salah seorang dari kita kekota. Kemudian dilanjutkan dengan pesan-pesan bagaimana sikap yang harus ditunjukkan jika mereka kekota.

Mari kita lihat ayat berikutnya yang menjelaskan apa yang akan terjadi jika ada mengetahui keberadaan mereka:

“Sesungguhnya, jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (QS 18:20)

Ayat berikutnya menunjukkan kegentingan kondisi mereka. Jika ada yang tau, mereka akan dilempari batu. Jadi, mempertanyakan berapa lama mereka sendiri tertidur sangatlah tidak penting dibandingkan dengan mengatur strategi agar mereka tetap hidup dan selamat.

Untuk memperjelas pesan ayat-ayat tentang kisah pemuda Kahfi, Nouman mengambil analogi seorang guru yang sedang mengajarkan tentang strategi bisnis kepada murid. Guru tersebut mengajarkannya melalui sebuah cerita. Dengan bercerita, pesan akan lebih mudah ditangkap dan terus diingat. Guru pun menceritakan kisah seseorang pengusaha, dari bagaimana ia memulai bisnis, dari strateginya memilih produk, memilih supplier, memilih tempat, menentukan harga, menjalin hubungan dengan customer agar tetap setia dengan produk yang ditawarkan, dan lain sebagainya.

Usai bercerita, salah seorang murid mengangkat tangan dan bertanya: Apa warnya jaket yang dipakai pengusaha tersebut? Atau, cash registernya manual atau digital? Apa warna tali sepatunya? Merk jam-nya apa? Jika anda gurunya, apa reaksi atas pertanyaan murid tersebut?

Dalam hal ini Nouman mengatakan: you don’t understand the point. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat tidak relevan. Pertanyaan mahasiswa tersebut sama dengan pertanyaan berapa lama mereka tertidur dan berapa jumlah mereka. Ada pelajaran penting dari kisah para pemuda Kahfi yang justru harus diketahui. Sayangnya, pertanyaan mereka justru tidak mengena.

Nouman Ali Khan juga memberikan penjelasan untuk kisah-kisah lainnya. Sebagaimana yang selalu ia tekankan bahwa Al Quran berisi hal-hal yang penting saja. Segala hal yang tidak penting tidak akan diabadikan oleh Allah SWT dalam Al Quran. Dalam banyak kisah, Allah menjelaskannya secara singkat.

Nama, waktu dan lokasi kejadian lebih sering tidak tercatat dalam Al Qur’an. Kisah Nabi Yusuf yang begitu panjang pun juga tidak menyebutkan kapan kejadiannya secara persis, serta siapa nama-nama secara mendetail. Hanya beberapa nama yang disebutkan. Kita tidak diberikan penjelasan secara rinci siapa nama keseluruhan saudara-saudara Nabi Yusuf. Bahkan, kisah ibunda Nabi Yusuf pun juga tidak di sebutkan.

Tentu hal ini tidak mengindikasikan kekuranglengkapan isi Al Qur’an, sebaliknya Allah SWT ingin menekankan tidak perlunya kita untuk mencari tau tentang nama-nama tersebut. Menurut Nouman, kalau tau namanya, so what? Adakah manfaat yang bisa dipetik dibandingkan dengan memahami pelajaran dari keseluruhan kisah yang sudah diabadikan dalam Al Qur’an?

Pada prinsipnya, dalam Kajian the sory of people of the cave, Nouman Ali Khan ingin menggaris bawahi pentingnya mengetahui mana yang penting dan mana yang tidak, mana yang prioritas mana yang tidak.

Dalam kisah pemuda Kahfi, Allah ingin menjelaskan bagaimana para pemuda ini menghadapi tekanan luar biasa dari masyarakat sekitar karena menjaga keimanan mereka kepada Allah. Pemuda ini hidup di zaman fitnah dimana para pemuda lain mungkin bisa melakukan sesuatu hal semau-maunya. Namun, para pemuda ini justru membuktikan sebaliknya. Dengan kepercayaan yang kuat kepada Allah, pertolongan pun datang kepada mereka yang mengantarkan mereka tertidur di gua selama ratusan tahun. Bukankah ini yang justru sangat relevan untuk menjadi pelajaran di masa kini?

Kalau kita cermati kisah ini, dari ayat 9, maka sungguh kisah pemudah Kahfi ini ibarat kisah cinta yang mengharu-biru. Yaitu kisah pembuktian cinta sang makhluk kepada Sang Khaliq, dan bagaimana akhirnya cinta merekapun terbalaskan dengan begitu indah. Kisah ini akan terasa semakin terasa syahdu sembari mendengarkan lantunan Murattal surat Al Kahfi Muzammil Hasbalah dengan menyelami arti kata per kata.

“(Ingatlah), tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: Wahai Rabb-kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (Q18: 10)

“dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata: Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS 18: 14)

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s