Belajar dari kisah pertemuan Nabi Musa dengan Allah SWT

Ternyata kisah Nabi Musa itu sangat sangat sangat menarik. Garis besarnya sama seperti apa yang pernah saya dapatkan saat masih duduk di bangku SD. Sewaktu bayi dihanyutkan di sungai nil dan kemudian ditemukan oleh istri Firaun. Setelah dewasa menjadi penentang Firaun. Dengan mukjizat tongkat ia diperkenankan Allah untuk membelah lautan. Terakhir, Firaun tenggelam saat berusaha mengejar Nabi Musa.

Detil kisah yang sangat menarik baru beberapa bulan lalu saya dapatkan dari khutbahnya Nouman Ali Khan (NAK). Kisah Nabi Musa terasa begitu hidup saat disampaikan oleh Nouman Ali Khan. Kisah tersebut bisa kita baca dalam surat Taha dan Al Qashas. Beberapa kali pernah saya baca. Tapi ya gitu deh. Merasa sudah tau alurnya, malah sering dilewati. Gayanya sih mencari hal-hal yang baru yang belum saya ketahui. Nyatanya, justru hikmah yang sangat dahsyat terewatkan.

Sebagai ahli bahasa, Nouman Ali Khan bisa menyajikan kisah tersebut secara menarik. Bahkan dalam mengkaji satu ayat pun bisa dibahas secara panjang lebar membuat kita (saya) semakin meyakini bahwa Al Quran itu adalah mu’jizat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Nouman mampu menggambarkan setting kejadian kala itu dengan baik. Ditambah lagi telaah konstruksi serta penempatan setiap kata ternyata juga menarik untuk diketahui. Termasuk, penggunaan ‘Wahai Musa’ di depan atau didepan kalimat ternyata memiliki makna yang berbeda. Mari kita ikuti kisahnya.

Cerita yang belum saya ketahui dengan baik adalah dialog Nabi Musa dengan Allah di lembah Thuwa. Tulisan berikut merupakan rangkuman khutbah Nouman Ali Khan yang berjudul Lesson from story of Musa (AS) yang didasarkan pada QS Taha, dengan menambah referensi dari tafsir Ibnu Katsir sebagai pelengkap.

Kala itu Nabi Musa dalam perjalanan menuju Mesir.  Bersama istri ia menempuh perjalanan di malam yang gelap lagi hujan deras dan cuaca yang dingin. Di tengah jalan Nabi Musa berada di suatu tempat dan setiap kali ia nyalakan pemantik api, tak juga api menyala.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba ia melihat api di lereng gunung. Nabi Musa pun mengatakan kepada istrinya, “Tunggulah di sini, aku akan ke bukit itu. Aku melihat ada sebuah cahaya”

Nabi musa pun menuju ke sebuah bukit. Hingga tiba di pinggir lembah sebelah kanan dari sebatang pohon kayu, Nabi Musa mendengar suara “Wahai Musa” (Taha: 11).

Nouman Ali Khan menggambarkan kondisi saat itu: di malam yang gelap, sendirian, tak ada seorang pun. Tiba-tiba ada yang memanggil namanya, “Wahai Musa”.

Kalaupun ada seseorang, dan seandainya ia tau ada yang datang, seharusnya pertanyaannya: siapa kamu? Atau, kamu siapa?

Tapi ini?

‘Wahai Musa’.

Secara psikologis, Nabi Musa mungkin juga berfikir dari mana orang tersebut tahu namanya. Faktanya, Sang Pemilik suara jelas sekali memanggil namanya. Jadi, bisa dibayangkan betapa terkejutnya Nabi Musa. Dalam hal ini Nouman mengatakan: If somebody knows your name, you are already like, “ya….” (in shock). Bisa dibayangkan..

Hingga akhirnya terdengar lagi suara: Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci Tuwa. (Taha:12).

Allah kemudian meyakinkannya dengan mengatakan “wa ana khtartuka” di ayat selanjutnya (dan Aku telah memilih kamu). Dalam Bahasa Arab, Menurut Nouman, ‘(i)khtartuka’ berarti ‘Aku telah memilihmu’ dalam hal ini Allah mengatakan “Ana khtartuka”. Lalu, apa bedanya antara ‘(i)khtartuka’ dan ‘Ana khtartuka’? Mengapa Allah SWT menambahkan Anna, yang juga berarti aku, sementara ‘(i)khtartuka’ sudah memiliki unsur ‘aku’?

Menurut Nouman, dalam ayat ini, kata “aku” disebutkan dua kali. Penyebutan dua kali ini merupakan sesuatu yang khusus. Kalau dalam Bahasa inggris diterjemahkan “it is I who have selected you”. Artinya, pertemuan tersebut bukan kehendak Nabi Musa, tapi Allah “Aku”. Nabi Musa sampai di lembah tersebut bukan karena kehendaknya sendiri, Allah lah yang menghendakinya datang. Kata Nouman Ali Khan, “completely by plan”.

Termasuk ketika Nabi Musa melihat cahaya. Dalam kondisi yang gelap gulita, ketika ada nyala api, seharusnya siapapun bisa melihat cahaya tersebut, termasuk istri Nabi Musa. Tapi, ternyata Allah hanya menghendaki Nabi Musa saja yang melihat cahaya.

Setelah itu, Allah berfirman: Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku[21] dan laksanakanlah shalat[22] untuk mengingat Aku[23]. 15. Sungguh, hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya)[24] agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang dia usahakan. 16. Maka janganlah engkau dipalingkan dari (kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti keinginannya[25], yang menyebabkan engkau binasa[26].”

Dialog selanjutnya sangat menarik. Untuk memahami dialog ini Nouman mencoba mengajak membayangkan seandainya suatu ketika kita bertemu dengan seorang tokoh atau artis yang sangat kita idolakan. Apa yang kira-kira akan kita lakukan? Pertama pastilah berselfie, dan dalam hitungan detik foto bersama sang idola pun sudah beredar di media social. Usai bertemu pun pasti kita akan menceritakan kisah pertemuan tersebut dengan rekan-rekan. Tau nggak, aku tadi habis ketemu ini lho.

Bagaimana dengan Nabi Musa yang bertemu dengan Allah? Nouman mengatakan: This is a conversation that is of epic proportions in human history. A conversation between Allah and a human being and the conversation was initiated by Allah and the human was called by his name directly!! Muuusa!!!

Dalam pertemuan tersebut, Allah lah yang menghendaki pertemuan tersebut. Bayangkan jika kita, atau saya tiba-tiba mendapat undangan dari pak Presiden atau idola kita. Pasti tidak tergambarkan. Maunya pertemuan tersebut berlangsung lama.

Begitu halnya dengan Nabi Musa. Dalam ayat berikutnya, Allah menanyakan: Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? (QS Taha 17).

Nabi Musa pun menawab: Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya (QS Taha 18)

Dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan bahwa tongkat itu dijadikan sebagai pegangan saat ia berjalan dan digunakan untuk menggoyangkan tangkai pohon agar dedaunannya rontok untuk makanan kambingnya.

Dalam dialog ini, menurut Nouman, Allah hanya menanyakan: apakah yang ada di tangan kananmu? Tapi, mari kita lihat jawaban Nabi Musa. Pertanyaanya ‘apa’, seharusnya jawaban ‘tongkat’ sudah cukup. Dalam hal ini, Nabi Musa berusaha menjelaskan panjang lebar tentang tongkatnya. Padahal, Allah hanya bertanya tentang ‘apa’.

Sama dengan analogi pertemuan dengan selebritis, orang-orang penting, atau orang-orang yang kita kagumi, pasti kita berharap bisa bercakap-cakap lebih lama. Begitu halnya dengan penggambaran dialog tersebut. Allah hanya bertanya ‘apa’ , tapi Nabi Musa menjawabnya dengan panjang lebar.

Kemudian, Allah berkata: “Lemparkanlah ia, hai Musa” (QS Taha 19).

Mari kita perhatikan penempatan kata ‘hai Musa’ dari ketiga ayat tersebut. Coba di ‘read aloud’ atau dibaca keras-keras ayat-ayat yang ada kata ‘hai musa’. Bisakah anda raakan bedanya saat ‘hai musa’ ditempatkan di awal kalimat dan di akhir kalimat?

Tentang hal ini, Nouman mencontohkan ketika kita memanggil nama anak. Kapan kita tempatkan nama anak di awal kalimat, dan kapan kita gunakan di akhir? Kata Nouman, when you start a conversation with the name first, it is a form of harshness. But when you mean the name at the end, it is a form of love.

Sama persis dengan kata-kata yang saya ucapkan setiap pukul 8.45 di pagi hari: Amira!! Ayla!! Cepat..cepat..berangkat…nanti terlambat. Sebaliknya sepulang sekolah atau di malam hari: Makan dulu yuk, Amira. Kalau diletakkan di belakang, lebih terasa kelembutannya, sebaliknya di depan terasa ketegasannya.

Kembali ke ayat 19: “Lemparkanlah ia, hai Musa. Dalam hal ini Allah menggunakan kata-kata yang sangat lembut, bukan sebaliknya, “Wahai Musa, lemparkanlan ia”.

Alur pertemuan sejak Nabi Musa tiba di bukit menunjukkan bagaimana komunikasi yang dibangun dan bagaimana Allah sangat memahami kondisi Nabi Musa. Keterkejutannya dengan panggilan “Wahai Musa”, dilanjutkan dengan kalimat-kalimat yang menenangkan yang terlihat dari struktur penempatan kata, “wahai Musa”.

Bagaimana kisah kelanjutannya?

Tongkat itu berubah menjadi ular yang besar dengan gerakan yang sangat cepat. Lagi-lagi, tentu ini membuat Nabi musa terkejut. Mari kita perhatikan apa perintah Allah berikutnya:

“Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”.

Dalam kondisi ketakutan dan keterkejutan yang luar biasa Allah mengatakan “Peganglah ia dan jangan takut”. Kalau hal ini kita terapkan dalam dunia nyata, seperti misalnya tiba-tiba ada laba-laba besar yang masuk ke kamar dan anak-anak berteriak berlarian, kalimat yang muncul strukturnya terbalik: Jangan takut, peganglah. Tapi Allah mengatakan sebaliknya, “peganglah ia dan jangan takut”. Apa artinya?

Allah mengharapkan ketaatan terlebih dahulu, baru keberanian. Menurut Nouman: so obedience is the first part of the ayah and courage in the second part. Dan di bagian terakhir adalah ending dari episode, “kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula”.

Begitulah, kisah Nabi Musa tidak hanya sekedar sebuah alur cerita dongeng pengantar tidur. Bahkan setiap ayat mengandung satu cerita yang luar biasa sebagaimana yang dikatakan oleh Nouman Ali Khan: Allah tells the narrative in an amazing way. You must read it on your own. Every little detail takes you in a different world.

Link terkait:

Silakan di simak tulisan lain terkait bagaimana keindahan Al Quran sebagai sebuah mukjizat yang mampu meluluhkan musuh sekalipun:

https://anasejati.wordpress.com/?s=bahasa+arab

Atau terkait bagaimana pesona Al Quran

https://anasejati.wordpress.com/2016/07/18/mengapa-perlu-mempelajari-tajwid/r tajwid:

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s