Fiqh Media Sosial

“Coba deh, sekaliiii saja shalat selama 30 menit. Sekaliiii saja dalam shalat kita baca 1 juz amma”

Berani mencoba? Hmmm…sama saya juga sedang berfikir. Cuma masalahnya 1 juz amma pun belum hafal semua. Baiklah, kata mbak Nivi yang memberikan materi pengajian kemarin menurunkan tantangan: Ok kalau begitu baca semua yang kita hafal saat shalat. Bagaimana? berani mencoba?

Pengajian PAisyah kemarin bertemakan: introduction to fiqh social media. Mbak Nivi ini bukan hanya pemateri favorit saya, tapi juga ibu-ibu lain. Selama tiga tahun tinggal di sini tingkat kehadiran saya di pengajian masih bisa dihitung dengan jari. Alasan klasik. Karena kemarin pembicaranya mbak Nivi, saya usahakan hadir. Yang jelas saya sudah jatuh cinta dengan cara beliau menyampaikan materi sejak pertama kali saya hadir di Pengajian. Sayang, kemarin saya tak bisa hadir tepat waktu. Jadi, beberapa materi terlewatkan. Kutipan di atas adalah salah satu kalimat yang hingga kini terus terngiang-ngiang.

Tulisan ini sekedar menyarikan apa yang saya sempat saya dapatkan beberapa hari yang lalu. Sebagaimana judulnya, materi yang dibahas adalah tentang fiqih berinteraksi melalui media social. Termasuk bagaimana prinsip membuat status, berkomentar, posting di grup, dan unfriend-unfollow. Materi yang digunakan sebagai rujukan adalah fiqh social media (link: http://fiqhofsocial.media/40hadith/).

Kutipan di atas adalah salah satu bahasan dari sisi pemanfaatan waktu. Mengapa kita bisa betah berlama-lama dengan media social?  Bagi saya sendiri lebih sering waktu terasa begitu cepat. Padahal rasanya baru sebentar. Nah, sekarang coba dibandingkan. Mengapa membaca Al Qur’an setengah jam sudah terasa lama? Mengapa shalat sepuluh menit saja sudah terasa begitu lama? Padahal, banyak sekali hal-hal menarik tentang Islam yang belum di ketahui. Misal, ayat pertama yang diturunkan adalah ‘Iqra’, tapi mengapa dalam urutan surat justru ditempatkan di Juz 30? Apa dasar penyusunan surat-surat dalam AlQur’an. Yang lebih sederhana lagi, siapa istri-istri Rasulullah? Siapa nama-nama mereka? Bagaimana kehidupan mereka? Padahal mereka adalah para ummahatul mu’minin, ibu-ibu kita. Siapa saja nama anak Rasulullah? Siapa nama cucu-cucu Rasulullah? Bagaimana kehidupan mereka? Hmmm….untuk pertanyaan itu saja jujur saya juga belum tau. Soal nama paling hanya beberapa yang hafal.

Belum lagi berderet-deret pertanyaan yang lain seperti, mengapa ayat pertama yang turun adalah iqra’ (al alaq), kemudian Al Qalam (pena) , kemudian Al Muzzammil (orang yang berselimut), kemudian Al Muddatsir (orang yang berkemul – apa bedanya dengan berselimut ya?). Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari urutan-urutan tersebut? Termasuk dalam surat Al Baqarah (226-242) berisi tentang perceraian dari ayat 226-237, di ayat 238 dan 239 Allah memerintahkan untuk memelihara shalat, ayat berikutnya 240-241 tentang perceraian lagi, baru ditutup “demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mengetahui”. Mengapa urutannya: cerai…cerai…cerai..cerai..shalat.. cerai..cerai. Mengapa ditengah-tengah ayat yang mengatur perceraian Allah memerintahkan manusia untuk shalat?

Hal lain dalam berinteraksi di media social yang sangat penting juga diperhatikan dalam memahami diri sendiri. Kita yang paling tau diri kita sendiri. Kalau tau bahwa kita baper-an, ya tidak perlu memaksakan diri membaca status orang-orang yang membuat kita baper. Unfollow status bisa menjadi cara yang terbaik untuk kestabilan emosi. Dalam hal ini saya teringat kejadian di beberapa grup WA di mana beberapa anggota memutuskan untuk ‘left’. Mengambil pelajaran dari ‘pemahaman atas diri sendiri’ ini mungkin ‘left’ adalah keputusan terbaik bagi yang bersangkutan. Bisa jadi menghindari ‘baper’ yang berpengaruh terhadap kestabilan emosi. Sebaliknya, bagi yang ditinggalkan perlu juga untuk menghormati keputusan untuk ‘left’ para anggota.

Prinsip akuntabilitas rupanya juga berlaku dalam bermedia social. Artinya, apa yang kita tulis kelak akan dimintakan pertanggungjawaban. Jadi perhatikan efeknya terhadap diri sendiri, perhatikan efeknya terhadap orang lain. Link di atas tentang fiqh media social, menyebutkan bahwa If you don’t have anyting good to say…mending tidak usah membuat status atau berkomentar. Hadits yang menjadi rujukan adalah dari riwayat Bukhari Muslim: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. Dalam beberapa hadits lain juga disebutkan bahwa: Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Bagaimana dengan debat? Tak hanya debat rasanya, bahkan saling caci maki sudah menjadi pemandangan yang mudah ditemui. Mengapa orang menjadi mudah tersinggung di media social? Jawabannya ternyata sederhana. Karena komunikasi dilakukan di ruang public di mana tidak hanya sepasang mata yang membaca, tapi beratus. Dalam memberikan nasehat pun secara etika yang kita pahami, nasehat sebaiknya disampaikan secara personal. Tidak diruang public dimana banyak orang menyaksikan. Sama halnya kita memarahi anak. Jangan dilakukan dihadapan teman-temannya. Di ruang public dengan banyaknya orang yang membaca komentar akan sangat mudah memancing ketersinggungan. Dalam fiqh media social disebutkan “This is one reason that people tend to get more easily offended and upset online, and become less forgiving of those that they perceive have wronged them.” Jadi, kalau ada postingan atau komentar yang membuat kita terganggu, apakah kita diamkan? Menurut pemateri, mbak nivi, sebaiknya di japri saja.

Terkait dengan pemanfaatan waktu, saya sempat ngeyel, karena sering membuat pembenaran bahwa apa yang kita lakukan adalah bagian dari upaya untuk sharing hal baik. Menarik ternyata jawaban pemateri. Sama halnya dengan prinsip sebelumnya, japri via email. Apa yang menjadi bahasan alangkah baiknya jika disusun dalam satu tulisan yang baik dilengkapi dengan argumentasi sehingga pesan yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik. Berbeda dengan diskusi atau debat melalui WA secara langsung, lebih sering yang muncul adalah reaksi sesaat, belum lagi pesan yang terpotong-potong. Melalui email, kita memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan kepala dan merangkai argumentasi yang lebih terstruktur.

Terakhir yang menjadi catatan diantara 40 hadits dalam fiqh media social adalah alasan pertama: Why? Mengapa menulis status? Mengapa memberikan komentar? Pertanyaan ini terkait dengan niat. “actions are judged by their intentions” amalan itu tergantung pada niatnya. Jadi, ketika kita hendak mengetikkan sesuatu perlu kita periksa terlebih dahulu: apa niat kita yang seungguhnya? Semoga benar-benar hanya karena mencari keridlo-an Allah.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s