Mengenal Amateur celebrity dan Dental Tourism

Dari presentasi rekan-rekan yang saya ikuti, ada dua topik yang sangat menarik, dan ada dua cukup menarik. Kedua topik yang sangat menarik adalah, amateur celebrity dan dental tourism. Sedangkan kedua yang cukup menarik adalah corporate environmental disclosure dan Foreign Direct Investment (FDI) di Uganda.

Amateur Celebrity dan dental tourism dipresentasikan dengan sangat menarik. Dalam hal ini saya tidak hanya belajar tentang suatu hal yang baru, tapi juga teknik presentasi. Baik dari sisi alur maupun gesture dan suara. Sebagaimana tulisan saya tentang pronunciation, salah satu presenter asli native, yang satu lagi keturunan filipina yang besar di Australia. Jadi, secara bahasa tidak ada masalah.

Amateur celebrity menjadi begitu menarik buat saya karena kebetulan ada kaitannya dengan marketing. Ketertarikan saya dengan dunia marketing muncul setelah saya berdiskusi dengan rekan dari Dinas Pariwisata. Plus karena saat ini saya sedang dalam tahap menulis salah satu studi kasus yang tidak lain dan tidak bukan juga terkait Dinas tersebut.

Amateur celebrity menurut definisi presenter adalah selebriti yang tidak profesional, lha iya lah ya, sebagaimana layaknya selebriti yag sering muncul di media mainstream. Tapi mereka yang populer lewat media sosial. Kadang mereka tidak memiliki keahlian yang membuatnya layak untuk menjadi selebriti. Tapi, mereka memiliki follower yang cukup banyak di beberapa media sosial. Dalam hal ini kolega saya ini ingin melihat bagaimana para selebriti amatir ini menggunakan media sosial seperti facebook, instagram dan twitter untuk menarik para fans.

Katanya, literatur terkait masalah ini masih sangat kurang. Jadi salah satu tujuan risetnya adalah mengisi celah literatur yang masih menganga.

Dental tourism buat saya lebih menarik. Saya baru ngeh bahwa urusan pergigian pun bisa jadi penyumbang devisa negara. Perlu diketahui bahwa dental service di Australia suuangaat muahal. Pernah ada seorang kawan yang menkonsultasikan gigi anaknya dikenakan 200 dollar. Makanya, saya selalu berdoa smoga selama disini gigi saya bisa diajak bersahabat.

Di saat yang sama, saya sangat beruntung bertemu dengan seorang kawan dari Indonesia, sekaligus orang tua sahabat Amira, yang kebetulan area of research-nya juga marketing. Banyak hal menarik ternyata setelah saya tanyakan tentang dental marketing ini. Pada prinsipnya, dental tourism ini salah satu cabang dari health tourism. Kalau selama ini kita sering mendengar begitu banyak masyarakat Indonesia yang memilih ke Singapura untuk berobatat, maka itu adalah bagian dari yang dinamakan health tourism. Singapura, katanya, memang berinvestasi dalam bidang kesehatan sebagai bagian dari upaya menarik devisa.

Beberapa rumah sakit di Indonesia juga sudah mulai mengembangkan. Dalam hal ini, saya teringat cita-cita Kabupaten Bantaeng yang sedang membangun rumah sakit besar sebagai salah satu strategi pembangunan daerah. Rumah sakit Bantaeng tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan dari daerah sekitar. Atau malah menjangkau daerah-daerah lain dalam skala yang luas. Bantaeng sendiri cukup berhasil membranding dirinya sebagai Kabupaten penghasil benih unggul. Pengembangan benih unggulan yang saat ini sudah dieksport keluar Bantaeng sesungguhnya tak lepas dari keterbatasannya area pertanian dan kelautan yang dimiliki. Di sisi lain, hal ini oleh sang bupati justru menjadi ‘blessing in disguise’. Tidak berhasil menigkatkan produksi pertanian akibat keterbatasan lahan, justru memacu Bantaeng menjadi Kabupaten penghasil benih. Wah…bukankah ini bisa menjadi topik penelitian lain ya..agro tourism? Atau governance tourism? Menarik untuk ditindaklanjuti. Tapi, nanti sajalah ceritanya…

.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s