Mengapa perlu belajar bahasa Arab?

Pernah mengenal nama Al Walid Ibn Mughira? Beberapa bulan lalu saya sempat mendengar namanya. Tapi kemudian lupa. Nama itu kembali terngiang-ngiang usai menikmati kajian Nouman Ali Khan yang bertema the Miracle of Qur’an. Ada beberapa video dengam tema serupa, dengan intro yang berbeda. Yasir Qadhi sendiri sempat membahasnya dalam seri 13 Sirah Nabawiya: the opposition from the Quraisy.

Apa menariknya Al Walid ini ya? Apa hubungannya dengan the miracle atau mukjizat Alqur’an?

Nouman Ali Khan memang luar biasa. Ia mampu menjelaskan bagaimana ke-mu’jizatan AlQur’an dengan sangat-sangat baik. Sebagai expert Arabic Linguistic, Nouman mampu mengupas secara mendetail bagaimana buku yang selalu menghiasi rak buku disetiap keluarga muslim adalah mukjizat bagi siapa pun. Ya, siapa pun. Muslim dan non muslim.

Kajian tentang the miracle of the Quran oleh Nouman berfokus pada sisi linguistic-nya, bukan sisi ilmiah atau prediksi-prediksi di masa mendatang. Tapi, justru di sini lah sisi menariknya. Dan, belum banyak dikupas. Atau, saya saja yang kurang ng-google ya:)

Dari sisi penjagaan keasliannya saja sudab terlihat. Bagaimana mungkin AlQuran tetap terjaga keasliannya setelah 14 abad diturunkan. Biasanya buku-buku tua hanya menghiasi musium dan perpustakaan. Sementara, AlQur’an tetap hidup, dilantunkan, dan dipelajari hingga saat ini.

Belum lagi jika kita melihat bagamana AlQur’an, bersama Sang Pembawa Risalah, mampu mengubah tradisi masyarakat Quraisy begitu dahsyatnya. Bersama Al Qur’an, masyatakat jahiliyyah yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh kedua peradaban besar, Romawi dan Persia, menjelma menjadi ummat yang kuat hingga mampu menakhlukkan kedua peradaban besar tetangganya.  Islam bahkan  menyebar keseluruh dunia. Termasuk Indonesia.

Dalam rentang waktu 23 tahun, kabiasaan hidup masyarakat arab berubah total. Tak hanya dari sisi politik, tapi juga ekonomi, sosial, bahkan dari cara makan dan ke kamar mandi. Kok bisa?

Revolusi industri saja hanya mengubah proses produksi. Meski pada akhirnya juga merubah pola perkonomian dan sosial kehidupan masyarakat menjadi lebih kapitalis dan individualistik, tapi tidak sampai pada perubahan kebiasaan hidup individu sehari-hari.

Lalu, bagaimana mukjizat AlQur’an dilihat dari sisi linguistic-nya. Ini yang justru sangat menarik. Semenjak SD, saya juga sudah tau kalau Al Qur’an itu mukjizat yang diberikan Allah kepada Muhammad, selain mukjizat membelah bulan. Cuma,  ya gitu deh. Mukjizatnya lebih sering disimpan di rak.

Ke-mukjizat-an Alqur’an ini sebenarnya menyatu dalam kisah-kisah yang sering kita (saya) dengar. Sayangnya, saya tidak pernah mampu memikirkan lebih jauh selain mengikuti alur kisah tanpa memikirkan hikmah yang lebih dalam.

Masih ingat kisah masuk Islamnya Umar bin Khatab? Atau kisah trio Abu Jahal, Abu Sofyan, dan Al Akhnas bin Shuraiq yang selama tiga hari berturut-turut mengendap-endap saat dini hari yang dingin mendengarkan Rasulullah SAW yang sedang melantunkan ayat suci Al Quran. Kekuatan apa, jika lah bukan suatu mukjizat, yang mampu menarik perhatian para musuh sekalipun?

Bagaimana dengan kisah Al Walid ibn Mughirah?

Walid ibn Mughira adalah tokoh Quraisy dari Banu Makzhum. Ia salah satu orang terkaya di Makkah. Sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul, Walid selalu menyembelih sepuluh unta setiap harinya untuk diberikan kepada jamaah haji. Wikipidia menyebutkan pula bahwa ia membiayai seperempat dari keseluruhan biaya pembangunan kembali Ka’bah pada tahun 605. Jadi, bisa dibayangkan betapa kaya dan berpengaruhnya Al Walid Ibn Mughira.

Kisah Al Walid Ibn Mughira tercatat dalam Al Qur’an (QS AL Mudatsir 11). Dalam kajian seri 13 Sirah Nabawiyah, Dr. Yasir Qadhi menyebut Al Walid sebagai ‘the master of the Arabic language. The shakespear of Mecca. The best poet of Mecca. Ayah dari Khalid bin Walid.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwasanya Walid bin Mughirah datang ke tempat Rasulullah saw. Kala itu, beliau sedang melaksanakan shalat dan membaca Al Quran. Walid bin Mughirah mendengarkan dengan seksama kalimat-kalimat yang dibacakan oleh Rasulullah SAW.

Ketika kembali ke kaumnya dia berujar, “Demi Tuhan, aku baru saja mendengarkan perkataan-perkataan Muhammad. Menurutku itu bukan perkataan manusia biasa dan juga bukan dari jin. Demi Allah sungguh perataannya sangat manis, susunan katanya sangat indah, buahnya sangat lebat, dan akarnya sangat subur. Sungguh perkataan yang sangat agung dan tidak ada yang mampu menandingi keagungannya ”

Mendengar perkataan Al Walid, orang-orang pun mulai panik. Bagaimana tidak, sang penyair hebat saja sudah mengakui. Hingga akhirnya berita itu terdengar oleh Abu Jahal. Singkat cerita, Abu Jahal mengkonfirmasi berita tersebut kepadanya. Abu Jahal mengatakan bahwa orang-orang mulai kecewa dengan pengakuannya. Al Walid pun bertanya kepada Abu Jahal, Lalu apa yang harus aku katakan?  Abu Jahal mengatakan agar Al Walid mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang gila, tukang ramal, atau tukang sihir. Tapi kesemua itu dibantah oleh Al Walid, sifat-sifat Rasulullah tidak menunjukkan julukan yang diberikan oleh Abu Jahal. Ia akhirnya meminta waktu untuk berfikir menghadapi persoalan tersebut. Al Walid ibn Mughira pun berfikir dan terus berfikir hingga akhirnya ia mengatakan bahwa: Al Qur’an ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu, ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.

Di saat yang sama, turunlah Surat Al Mudatsir 11 dimana Allah berbicara langsung kepada AL Walid ibn Mughirah:

“Biarlah Aku yang akan menindak orang yang telah Aku ciptakan. Sesungguhnya Aku telah memberikan kecukupan baginya dengan harta yang berlimpah dan tak putus-putusnya, serta anak keturunan yang selalu menyertainya. Aku berikan ia kedudukan dan kekuasaan yang tinggi. Tetapi ia tak merasa puas dan memohon kepada-Ku untuk menambah lagi hartanya, keturunannya dan kedudukannya tanpa rasa syukur sedikit pun”.

Menelusur lebih jauh, tentu saja dengan ng-googling, ternyata kesusastraan masyarakat Arab kala itu sangat maju. Penyair memiliki kedudukan yang amat tinggi dan sangat dibanggakan. Event-event perlombaan syair antar suku pun lazim dilakukan. Syai-syair yang terbaik akan digantungkan di dinding Ka’bah.

Tentang hal ini Nouman Ali Khan dalam video the Brilliance of the book menjelaskan mengapa bangsa Arab begitu maju dalam hal sastra. Dari sisi geografis, jazirah Arab hanyalah padang pasir dan tidak memiliki bangunan-bangunan megah. Kondisi inilah yang membuat Romawi dan Persia tidak tertarik untuk melakukan ekspansi.

Karena keterisolasian ini lah yang justru membuat kebudayaan mereka tidak banyak dipengaruhi dari luar. Bahasa mereka terjaga kemurniannya karena mereka hanya berdialog dengan sesama bangsa Arab. Satu-satunya yang mereka banggakan adalah bahasa karena hanya itulah yang layak untuk dibanggakan. Tak heran kalau kemudian kesusastraan berkembang, diantaranya syair-syair. Kehidupan padang pasir mengasah imajinasi mereka karena tidak banyak yang bisa mereka lihat.

Wajar jika kemudian mereka bereaksi keras saat Al Qur’an diturunkan. QS Al Haqqah 40-41 menunjukkan bantahan atas reaksi penduduk Arab yang menyebut bahwa Rasulullah adalah penyair. Dikatakan bahwa “sesungguhnya AlQur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Ayat ini tentu menggambarkan konteks kejadian saat itu dimana Al Qur’an dianggap sebagai syair-syair”.

Keindahan bahasa Al Qur’an membuat jiwa para penyair terguncang, sebagaimana Al Walid ibn Mughirah.  Utbah bin Rabi’ah bahkan sampai menutup mulut Rasulullah saat dilantunkan surat Al Fussilat 1-5: Hâ mîm. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang .Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam Bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: ‘hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya.

Kala ‘Utbah mendengar bacaan Rasulullah SAW sampai pada ayat 13, “Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kamu akan bencana petir seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud” Utbah menutup mulut Rasulullah dengan tangannya sembari memohon supaya berhenti membaca karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut.

Dalam video Linguistic Miracles of Qur’an, Nouman Ali Khan mengambil beberapa contoh betapa memukaunya bahasa Al Qur’an (link: https://www.youtube.com/watch?v=j-ULa2JzPG0). Satu hal yang tak pernah saya bayangkan ada di surat Al Baqarah ayat 143 “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam); umat pertengahan (yang adil dan pilihan)…..”. Dalam surat tersebut terdapat kata wasathan yang berarti pertengahan. Jumlah ayat dalam surat Al Baqarah ada 286. Jika jumlah keseluruhan ayat dibagi dua akan mendapatkan 143. Jadi di pertengahan surat tersebut ada kata pertengahan atau wasathan.

Sekilas terlihat biasa. Bukannya mudah saja, jika kita menulis tinggal kita hitung dan letakkan kata tersebut di tengah-tengah. Tapi, mari kita lihat konteks bagaimana Qur’an diturunkan. Al Qur’an tidak diturunkan dalam bentuk tulisan, bukan dalam bentuk buku. Surat Al Baqarah pun tidak diturunkan langsung secara keseluruhan. Al Qur’an diturunkan dalam bahasa ‘spoken’ atau lisan. Mungkinah ada seorang orator hebat sekalipun yang mampu meletakkan kata ‘tengah’ tepat ditengah-tengah pidato tanpa teks-nya.

Video Mathematical Miracle of Qur’an (link https://www.youtube.com/watch?v=76PwAovAlEk) ini juga menakjubkan. Dari hasil perhitungan kata per kata, jumlah kata dunia dan akhirat masing-masing sebanyak 115 kali. Surga dan neraka masing-masing sebanyak 77 kali. Laki-laki dan perempuan masing-masing 23 kali. Matahari dan cahaya sebanyak 33 kali. Lagi-lagi, Al Qur’an tidak diturunkan dalam bentuk satu buku utuh, tapi berupa potongan ayat dan dalam bahasa lisan. Mungkinkah manusia membuatnya?

QS Al Baqarah disebutkan bahwa: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Dalam video Why and How to learn Arabic (Link: https://www.youtube.com/watch?v=yfflgF_H0kY), Nouman Ali Khan menggambarkan bagaimana para nabi sebelum Rasulullah pun diberikan Mukjizat untuk meyakinkan para umat bahwa mereka adalah utusan Allah. Berbeda dengan nabi lainnya, seperti nabi Musa dengan tongkat yang berubah menjadi ular, pesan yang dibawa Rasulullah adalah sekaligus mukjizat untuk menunjukkan kebenaran ajaran yang dibawanya. Jadi, pesan kenabian itu lah sekaligus sebagai mukjizat.

Dalam hal ini Nouman mengatakan bahwa ketika seseorang menerjemahkan Qur’an dalam bahasa lain, terjemahan bahasa Indonesia misalnya, ia akan dapat menangkap pesan tersebut. Tapi, sebagus apa pun terjemahannya, ia katakan: it is impossible to capture the miracle of Qur’an”.

Ia tambahkan lagi: the miracle of Qur’an is only in the words of Allah. His own choice of words what makes the miraculous. Jadi, ke-mu’jizat-an Al Qur’an hanya bisa dirasakan dalam bahasa sebagaimana ketika Qur’an diturunkan, bahasa Pemilik Pesan, yaitu Bahasa Allah SWT.

Kita tetap bisa menangkap pesan-pesan dalam Al Qur’an dengan membaca terjemahan. Tapi, sisi keindahan dan mukjizat Al Qur’at tidak dapat ditangkap dengan bahasa manusia.

Jadi? Mari mulai menancapkan niat untuk belajar bahasa Al Qur’an. Tentu, bukan agar dianggap ke-arab-araban, tapi agar mukjizat Qur’an bisa kita rasakan secara nyata.

Walllahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s