Rat Park Experiment: membongkar mitos candu

rat-park-experiment
justplatform.com/stuart-mcmillen-cartoonist

Pernah mengunjungi taman tikus? Saya sendiri juga belum pernah. Ups…maaf maksud saya, pernah membaca tentang rat park experiment alias percobaan taman tikus?

Beberapa lalu saat mengikuti information session 3MT (three minutes thesis) competition, pembicara yang juga merupakan pemenang kompetisi presentasi thesis dalam waktu tiga menit tahun lalu bercerita tentang taman tersebut.

Saat itu ia, Gabi, mempresentasikan kembali thesisnya yang diinspirasi dari eksperimen rat park tersebut. Menarik, baik dari cara penyampaian maupun substansi. Dalam thesisnya, ia menggunakan logika eksperimen tersebut untuk membedah dampak judi. Ia mengambil topik tersebut karena dia juga ‘korban’ judi. Jeratan judi membuat hidupnya berantakan, kehilangan harta benda, nyaris bercerai, dan pernah mencoba bunuh diri. Kata bang Rhoma: Judi….meracuni kehidupan…

Pengalaman hidup itulah yang mendorongnya mendirikan yayasan freeyourself yang kegiatannya membantu para pecandu judi. Di negara bagian Victoria sendiri 200ribu orang telah menjadi korban judi. Menurut salah seorang supervisor saya yang juga suka berjudi, meski tidak sampai tahap ketagihan, para korban judi hidupnya sangat mengenaskan. Ia bisa mengenali dari sorot mata mereka yang kuyu seolah tak ada harapan.

Suatu ketika saya sempat sampaikan bahwa di Indonesia ada yang pernah mengusulkan dibangun kawasan perjudian. Tapi ditolak masyarakat. Lalu, kalau korbannya begitu banyak, mengapa Pemerintah Australia tidak melarang? It’s about money. Begitu katanya. Pemerintah mendapat banyak uang dari bisnis perjudian. Makanya judi tetap langgeng.

Gabi sendiri butuh waktu empat tahun keluar dari jeratan judi. Dari pengalaman pahitnnya menjadi korban judi, dia tergeraki membuat satu program yang membantu para pecandu untuk bebas. Nama programnya social connection program.

Program dan thesis Gabi diinspirasi oleh Bruce Alexander dengan risetnya yang sangat populer: Rat Experiment. Dalam eksperimennya dampak narkoba, tikus biasanya ditempatkan dalam sebuah ruangan sempit dan sendirian serta disediakan heroin dan air putih. Dari dua pilihan tersebut rupanya sang tikus memilih heroin. Tak berapa lama setelah mengkonsumsi heroin tikus pun mati akibat kelebihan dosis.

Sebagai alternatif, Bruce membangun rat park atau taman tikus untuk membuktikan bahwa heroin bukanlah candu. Luas rat park sekitar 200 kali sel yang biasa digunakan untuk percobaan sebelumnya. Di dalam taman tersebut ditempati 16-20 tikus, jantan dan betina. Taman tersebut juga dilengkapi dengan aneka permainan untuk tikus. Tak lupa, heroin dan air putih juga disediakan di taman tersebut.

Anda bisa menebak perubahan perilaku tikus yang terjadi? Tepat sekali. Ketika tikus ditempatkan di dalam taman yang dilengkapi aneka permainan dan ‘komunitas tikus’, ia lebih memilih air putih meski ada heroin disebelahnya. Tikus-tikus ini lebih suka bermain dengan teman-temannya. Berlarian, berkejaran, atau sekedar ‘bercengkrama’. Hingga akhirnya, tikus-tikus ini beranak pinak, damai tanpa kecanduan heroin. Tikus-tikus ini memang masih mengkonsumsi heroin, tapi sangat-sangat jarang mereka lakukan.

Bruce menyimpulkan bahwa kecanduan bukan disebabkan oleh heroin itu sendiri, tapi lebih kepada kondisi yang menyebabkan para tikus ini ‘terpaksa’ mengkonsumsi. Desain skinner box, kandang tikus, yang sempit, terisolasi, dan hanya ada dua pilihan ‘memaksa’ mereka menjadi pecandu. Sebaliknya kehidupan sosial dan keberagaman aktivitas yang ditawarkan oleh taman tikus dengan sendirinya menjauhkan mereka dari heroin (www.brucealexander.com).

Rat Park experiment ini tidak hanya digunakan untuk mengatasi kecanduan narkoba, tapi juga kecanduan judi, game, makanan, belanja, dan lain sebagainya. Kondisi psikologis seseorang lah yang, berdasarkan percobaan ini, menyebabkan seseorang kecanduan.

Terkait dengan judi, yang bisa dilakukan untuk mengatasi perjudian ini diantaranya dengan menjalankan program seperti yang dijalankan oleh Gabi, yaitu social connection program. Dalam program tersebut para pecandu judi diajak untuk bersosialisasi melakukan beraneka ragam kegiatan. Jika terisolasi akan mudah sekali bagi pecandu itu untuk terjerumus lebih dalam. Sebagaimana pernyataan Gabi, peran keluarga dan sahabat sangat penting dalam membebaskan para pecandu.

Bagaimana dalam dengan kecanduan gadget? Beberapa waktu lalu, saya sempat mendiskusikan soal ini dengan teman di salah satu grup. Kami mencoba mengkaitkan dengan jenis permainan yang digemari anak saat ini. Kebetulan saat itu ada salah satu teman yang memposting foto permainan anak era-90 an. Kami coba bandingkan dengan anak-anak sekarang yang lebih suka memegang gadget. Sepertinya generasi 70, 80, dan 90 adalah generasi yang beruntung karena bisa menikmati aneka permainan anak yang menyenangkan.

Mengambil pelajaran dari rat experiment ini, apakah memang gadget merupakan candu? Bisa jadi tidak. Alasan anak memilih gadget mungkin sama dengan tikus-tikus yang ditempatkan dalam skinner box yang sempit dengan hanya pilihan heroin dan air putih. Ketiadaan alternatif kegiatan dan teman-teman sebagaimana generasi yang lahir sebelum 90an mungkin penyebab utamanya. Bisa jadi….

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s