The Power of ngGedabrus (Discourse)

Seminggu yang lalu, teman saya mengungkapkan kekecewaannya atas pernyataan-pernyataan sang menteri dimana direktorat jenderal-nya bernaung. Dari raut muka, saya bisa menangkap rasa jengkel kepada sang Menteri. Kawan saya memang sudah cukup lama bekerja di dirjen tersebut. Makanya ia bisa membandingkan kinerja menteri tersebut dengan menteri sebelumnya.

Katanya, “Masak, dia (menteri) bilang, selama ini dirjen ini kerjanya ngapain saja?”. “Apa yang dia ungkapkan di media itu sudah kami lakukan juga sejak dulu”. Hmmm…menarik nih, pikir saya. Sebagai konsumen media, selama ini saya juga dibuat silau dengan kinerja sang menteri. Lanjutnya lagi, “Bedanya, sekarang memang semua sepak terjang menteri selalu mendapat liputan media.

Saya semakin penasaran saja dengan komentar kawan tersebut. Saya bilang,”trus, apa perubahan yang sudah di buat?”. Ia jawab singkat “nggak ada”. Ia lanjutkan lagi, “kalau kinerja kami kurang maksimal itu karena secara internal memang kami ada kendala, diantaranya anggaran”. Saya tanya lagi, “trus, dengan adanya menteri baru tersebut anggarannya bertambah?”. Ia jawab singkat lagi,”enggak”. Saya pun terdiam…hingga akhirnya pembicaraan terputus karena kami berbeda arah perjalanan.

Percakapan di atas mengingatkan saya dengan pernyataan sinis teman saya di salah satu grup. Katanya, “masak orang yang kerja kalah dengan orang yang suka nggedabrusan”.

Saya tau persis latar belakang teman tersebut hingga ia mengatakan hal itu. Beberapa kali ia ditugaskan untuk menyusun pedoman yang idealnya dilakukan oleh rekan-rekan kerjanya yang jauh lebih kompeten, baik dari sisi pengetahuan dan pengalaman kerja. Hanya saja, rekan-rekan tersebut cenderung menghindar dari penugasan dan memilih penugasan lain yang mungkin lebih menawarkan insentif financial lebih dibandingkan menyusun pedoman. Akhirnya, terpaksalah teman saya yang mengerjakan.

Dari pengalamannya itulah dalam beberapa kali diskusi di grup sering ia sering melontarkan kata “nggedabrus” dan terlihat apatis saat kami mendiskusikan tentang perubahan. Beberapa kali ia mengalihkan “ngopi aja yuk”.

Di saat yang sama, saya mendapatkan sharing-an dari grup lain sebuah video sesi kuliah oleh Teun Van Dick dengan judul discourse and knowledge. Terus terang, saya masih sangat awam dengan hal tersebut. Terjemahannya sih tau, wacana dan pengetahuan. Tapi, tentang apa, bagaimana, dan efeknya apa saya belum begitu paham.

Jadilah ke Youtube mencari pemahaman dasar tentang discourse. Ketemulah video Debra Marshall yang berjudul discourse (Link: https://www.youtube.com/watch?v=Na4Nlb-WbV4). Penjelasan Debra sangat mudah dipahami karena dia mampu menyajikan topik yang bagi saya sangat susah dicerna ini dengan bahasa yang sederhana.

Di awal video, Debra memberikan penjelasan singkat tentang definisi discourse. Meski singkat tetap saja bagi saya butuh waktu untuk mencernanya. Ia memulai dengan cara yang kita lakukan saat ini untuk menggambarkan suatu realitas. Katanya, salah satu cara yang digunakan oleh para penganut post-modernist adalah dengan menggunakan suatu proses yang dinamakan discursive way. Menurut kamus Merriam-Webster, salah satu terjemahan discursive adalah “marked by analytical reasoning” yaitu dengan penggunaan penalaran analitik. Dalam hal ini Debra menjelaskan bahwa discursive way adalah:

“the discursive process to helped understand how human beings conceptually make sense….help you to reason out social reality”.

Atau, suatu proses yang digunakan manusia untuk memahami suatu realitas sosial.

Debra mengilustrasikannya dengan memperlihatkan sebuah foto seorang dokter yang sedang tersenyum dan disebelahnya seorang narapidana tanpa senyum dengan rambut bercat merah. Kita bisa menebak bahwa foto sebelah kiri menggambarkan seorang dokter dengan melihat caranya berpakaian. Wajahnya yang ramah dengan seulas senyum membuat kita mudah menaruh kepercayaan lebih kepadanya dibandingkan denga pria di sebelahnya

Pria disebelah dokter tersebut adalah tersangka dalam sebuah penembakan di gedung bioskop Colorado dalam acara opening film Batman “Dark Knight”. Sebagaimana sang dokter, kita bisa mengidentifikasi statusnya dari pakaian yang dia kenakan. Dari kedua foto tersebut, mana yang lebih kita percayai? Pastilah sang dokter. Dengan ilmu yang dia miliki, kita cenderung akan percaya atas kata-katanya dan menuruti saran-saran yang ia berikan. Sebaliknya, narapidana tersebut tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang lain. Jangankan mempengaruhi, mendekat saja orang sudah ketakutan.

Di sini, Debra hendak menyatakan bahwa status satu orang dianggap lebih penting dan “powerful” dibandingkan dengan yang lain. Dengan discourse, ia lanjutkan lagi, orang-orang yang “powerful” tersebut memiliki kemampuan untuk membentuk cara pandang kita akan sesuatu.

Debra memberikan contoh lebih jelas lagi. Apa warna langit? Kita pasti akan menjawab dengan cepat: biru. Kita menjawab biru karena kita semua memiliki konsep yang sama atas kata ‘biru’ tersebut. Semenjak kecil kita sudah diajarkan oleh guru tentang warna-warna primer, termasuk warna biru ini. Sehingga, ketika ditanya tentang langit, semua anak bisa menjawab dengan mudah, biru. Jika kemudian ada seseorang yang mengatakan bahwa langit itu ungu, adakah yang akan mempercayainya? Meski orang tersebut expert dalam hal warna, kita tidak akan mempercayai pernyataanya bahwa warna langit adalah ungu.

Menurut Debra, kita menganggap langit itu berwarna biru karena kita menyetujui bahwa langit itu biru, makanya langit itu pasti biru. Lalu, jika kemudian si expert warna tersebut terus menerus memberikan berbagai penjelasan dan publikasi yang meyakinkan untuk membenarkan bahwa selama ini kita salah, bahwa warna langit adalah ungu dan bukan biru, lama kelamaan kita mulai mempercayainya. Dalam hal ini, dengan kemampuannya, expert tersebut memiliki “power” atau kekuasaan untuk mempengaruhi cara pandang kita terhadap warna langit.

Contoh di atas sangat riil dan mudah dipahami. Dalam hal ini debra mengatakan bahwa discourse adalah “…means written or verbal exchanges conversations that she might have with another person or discussions about things that help you to reason out social reality that help you to understand: not only where you fit ini, but also how reality is constructed and it includes relationships that we have with other people. It includes relationships that we have with the the structure and power”.

Perlu diingat kembali bahwa definisi yang diberikan oleh Debra ini didasarkan pada pandangan post-modernists. Discourse diartikan oleh Debra sebagai percakapan baik lisan ataupun tulisan tentang sesuatu hal untuk memahami suatu realitas social, termasuk kaitannya dengan struktur kemasyarakatan dan ‘power’ yang ada di dalamnya. Seperti contoh di atas, ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh sang expert memberikan suatu “power” kepadanya untuk mempengaruhi bagaimana cara pandang kita terhadap warna langit. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan melakukan berbagai publikasi yang luas untuk membenarkan pernyataan bahwa warna langit adalah ungu.

Tulisan tentang hasil survey indeks persepse korupsi yang saya posting sebelumnya adalah salah satu contoh bagaimana proses konstruksi ‘kebenaran’ versi Transparansi Internasional sebagai bagian dari discourse yang digunakan untuk meng-konstruksi dan melegitimasi bahwa satu negara lebih korup dibanding negara lain. Link tulisan http://www.warungkopipemda.com/hati-hati-membaca-hasil-survey-indeks-persepsi-korupsi/. Publikasi yang begitu massif di media baik nasional maupun internasional setidaknya mampu membuat kita sendiri dan orang lain untuk mempercayai bahwa Indonesia memang korup dan jauh tertinggal dalam penanganan korupsi dibanding negara lain. Faktanya, negara-negara dengan posisi index yang lebih tinggi, seperti Botswana, Rwanda, Chile, Yunani, dan Irlandia, juga menyimpan masalah yang tidak kalah besar dibanding Indonesia.

Bagaimana kaitannya dengan cerita sang menteri? Atau kisah rekan saya yang ‘dikalahkan’ oleh para peng-gedabrus?

Jabatan yang dimiliki memungkinkan menteri tersebut untuk mengkonstruksi suatu kebenaran versinya. Dukungan media yang begitu kuat sejak pertama kali menjabat, dimanfaatkannya dengan sangat baik untuk membentuk sebuah discourse “Ini lho kerjaku…”. Image yang saat ini terbentuk di masyarakatpun seolah membenarkan pernyataan sang menteri. Kinerja-kinerja yang ‘menyilaukan’ seakan hanya dilakukan di masa ia menjabat. Padahal, dari dulu juga sudah diprogramkan. Bukankah, sistem perencanaan yang dipakai juga tetap sama, harus tetap mengacu pada rencana pembangunan nasional jangka panjang.

Untuk mencari kebenaran pernyataan sang menteri, saya mencoba menelusuri data statistic yang dikeluarkan oleh dirjen ini.

Hasilnya?

Begitulah…. Ya, sebagaimana pernyataan teman saya di atas: dari dulu itu kami sudah lakukan. Data statistik tersebut menunjukkan tren yang dapat digunakan untuk menilai kinerja dirjen tersebut selama rentang waktu 2008-2014. Kesimpulannya? Apa yang selama ini di tunjukkan sebagai kinerja sang menteri pada dasarnya juga sudah dilaksanakan oleh menteri sebelumnya. Perbedaannya, menteri yang sebelumnya tidak mampu membuat masyarakat ‘silau’ akan kinerjanya karena kurang mendapat dukungan media.

Cukup menarik mengamati website dirjen tersebut. Dari beberapa slide yang diunggah di halaman utama, ada beberapa yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Slide-slide tersebut hanya memaparkan data kinerja 2014 dan 2015. Tidak ada yang salah sebenarnya. Dari sisi kepatuhan terhadap aturan penyusunan laporan kinerja, instansi pemerintah memang hanya diharapkan dapat membandingkan target dan realisasi, dan antara realisasi selama periode pembangunan jangka menengah. Hanya saja untuk mengetahui apakah kinerja kementerian saat ini lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, tentu perlu ada perbandingan dengan periode-periode sebelumnya

Jadi?

Jangan mudah percaya dengan media!! Pemahaman akan pengaruh serta bagaimana discourse ini bekerja pada dasarnya dapat digunakan untuk mencari “sisi lain” ”kebenaran” versi media. Dalam konteks pembuatan sebuah kebijakan, pemerintah sebenarnya dapat memanfaatkannya pola ini untuk mengubah pola pikir masyarakat agar program-program yang digulirkan dapat bekerja lebih efektif.

(Bersambung. Tulisan berikutnya terkait peran media dan hubungannya dengan gagasan Teun van Dijk, serta bagaimana menjembatani kerja dan “gedabrusan”. Insya Allah..jika tidak ada ide lain yang jauh lebih menarik)

April 2016 (Late post)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s