‘I just want to challenge my self’

very brave

Begitu ucapnya sembari menatap jauh ke yarra river melalui kaca jendelanya. Saya sendiri agak bingung menanggapi komentarnya. Dari caranya berkomentar saya bisa menangkap keraguan atas rencana saya. Saya bisa memahami. Sekenanya saya jawab saja: I just want to challenge myself. At least once in my PhD.

Setengah jam sebelumnya saya berpapasan dengannya saat saya menyerahkan power point yang akan saya presentasikan tiga jam lagi ke panitia penyelenggara. Saat itu saya benar-benar grogi dan panik karena ternyata saya salah baca jadwal. Saya pikir jadwal presentasi hari jumat jam 4.00. Makanya, kamis pagi saya sempatkan berdiskusi dan ngobrol dengan ibu-ibu pelajar tentang perkembangan riset kami masing-masing hingga pukul 11.30.

Sudah saya niati hari itu saya akan ke kampus dan berlatih. Kebetulan jam 1 saya memang ada jadwal untuk mendiskusikan feedback atas perbaikan draf yang saya serahkan dua minggu sebelumnya.

Sampai di meja kerja saya coba cek kembali jadwal presentasi. Memang benar jam 4pm. Tapi kok….Thursday. Saya baca kembali. Thursday. Tetap tidak berubah jadi Friday 4pm. Langsung lemes, panas dingin, grogi, bingung mau apa. Yang jelas, satu-satunya yang harus saya lakukan adalah menuju ruang conference dan menyerahkan slide yang untungnya sudah saya persiapkan.

Di ruang itu lah saya bertemu supervisor saya. Saking paniknya saya ceritakan keteledoran saya ini. Ia tanyakan kembali “jadi, kita ketemu jam satu?” Agak ragu, saya jawab, “can we discuss for just an hour?”  Saya sampaikan alasan bahwa saya harus latian presentasi meski slide dan transcript sudah saya buat. Untunglah dia jawab bahwa paling hanya butuh dua puluh menit membahas revisian.

Begitulah..sembari menunggu setengah jam saya coba berkomat-kamit berlatih presentasi. Andai saja dalam bahasa Indonesia, saya tidak akan sepanik itu. Matari jelas sudah saya kuasai karena ya memang itulah yang saya kerjakan selama tiga tahun ini. Masalahnya, buat saya bicara dengan baik dalam bahasa Inggris butuh latian yang matang.

Tiba di ruangannya kami pun langsung mendiskusikan draft saya. Usai memberikan feedback, ia tanya: Jam berapa kamu presentasi? Hingga akhirnya diskusi selesai, ia tanyakan kembali jam berapa jadwal saya presentasi. Ia juga mengatakan bahwa itu kesempatan yang bagus. Tak lupa ia menyampaikan pula bahwa ‘the people is friendly’. Hmmm…spertinya untuk menenangkan keresahan saya.

Tentang pernyataan ‘very brave’ sesungguhnya menyimpan tanya. Bisa saja itu salah satu ekspresi keraguannya atas progress saya selama ini. Mungkin hingga 10 kali saya bolak-balik merevisi salah satu Chapter hingga berbulan-bulan. Yang jelas, coretannya selalu menghiasi draft yang saya ajukan. Jadi, kalau saya katakan bahwa saya akan presentasi di conference itu, bisa jadi ia menyangsikan kemampuan saya. Tak mengapa. Saya sendiri juga grogi. Hanya saja, sebagaimana saya sampaikan, I just want to challenge myself.

…dan, Alhamdulillah..akhirnya presentasi bisa ditunaikan dengan baik.

April 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s