3MT: the show

Saya gagal. Ya, saya gagal maju ke babak final 3MT (Three minutes thesis) competition. Gagal maju ke babak final, tapi berhasil dalam banyak hal. Pertama, saya berhasil mempresentasikan thesis saya di hadapan lima puluhan audience dalam Bahasa Inggris. Saya berhasil menatap mata para audience. Saya berhasil menggerak-gerakkan tangan saya dan melangkahkan kaki beberapa kali saat presentasi. Saya juga berhasil memainkan suara dan ekspresi wajah saya. Saya berhasil menjalankan eksperimen presentasi yang saya pelajari dari para pemenang di ajang prestisius di kalangan mahasiswa doctoral. Yang utama, saya berhasil mengalahkan ke-grogian dan ketidak-PD-an saya. Kesemua itu bukan hal mudah bagi saya dengan Bahasa Inggrisnya masih pas-pas-an.

Kedua, saya mendapatkan doorprize yang lumayan, meski saya tidak tau akan saya apakan. Doorprise-nya berupa tiket 10 kali fitness. Dalam hidup saya sangat jarang mendapatkan keberuntungan semacam ini. Doorprize tertinggi yang pernah saya dapatkan adalah payung dan mangkuk melamin.

Ketiga, saya terharu melihat kedua supervisor saya puas melihat presentasi saya. Mereka berdua memberikan apresiasi yang luar biasa. Bisa jadi. Selama ini setiap saya ajukan draft thesis buanyak sekali coretannya. Saya juga pernah mengecewakan keduanya dua tahun lalu karena saya serahkan draft seadanya dan selalu lambat merespon saran-sarannya. Melihat kedatangan mereka berdua dengan memakai jas rapi sungguh membuat saya tersentuh. Sepertinya hanya saya yang supervisornya menyempatkan hadir. Sesampainya di rumah saya temukan email supervisor saya, well done for today, congratulation.

Keempat, saya berhasil mengenal banyak mahasiswa lain, tak hanya dari college saya. Karena merasa senasib sepenanggungan, maksudnya sama-sama nerveous menjelang presentasi, membuat saya lebih mudah membuka percakapan dengan mereka yang baru saya kenal.

Kelima, saya belajar teknik presentasi dari para competitor secara live. Dari cara mereka mengekspresikan gagasannya, menggerakkan tangan dan kaki, hingga mempelajari slide yang mereka buat. Saya juga menangkap ke-grogi-an yang sama. Bahkan, beberapa ada yang sempat lupa. Dia berhenti sejenak, sebelum ia lanjutkan kembali presentasinya. Native speaker pun juga sama-sama grogi saat presentasi semacam ini. Tidak masalah, selama bisa menghandle, tidak akan mempengaruhi kualitas presentasi secara keseluruhan.

Keenam, saya menikmati proses ‘improvement’ baik dalam diri saya maupun competitor lain. Khususnya competitor yang sama-sama hadir saat training. Sangat-sangat luar biasa. Salut untuk rekan saya dari Laos, yang sempat saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya. Saya tidak menyangka presentasinya kali ini sungguh memukau. Dari intonasi, jeda antar kalimat, serta bagaimana ia mengoptimalkan bahasa tubuh, semuanya meningkat pesat. Dia pun terpilih mewakili college saya. Sama halnya dengan kedua rekan native speaker, yang juga saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya. Manstap.

Ketujuh, beberapa tulisan terkait 3MT berhasil mengisi blog saya. Termasuk tulisan yang anda baca saat ini adalah tulisan yang keempat. Pasti akan berbeda cara penulisannya jika saya mengandalkan informasi dari pihak lain. Kurang joss.

Dan akhirnya saya berhasil menghentikan berfikir dan berlatih presentasi. Beberapa minggu ini waktu saya cukup tersita untuk persiapan presentasi, hingga menyulitkan konsentrasi menulis thesis. So, saatnya kembali ke aktivitas riil…menulis dan menulis dan menulis dan menulis dan menulis dan terus menulis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s