TIPS PUBLIC SPEAKING 3MT COMPETITION

“At least, I can show my supervisor that I do something”

Beberapa hari ini saya ragu, ikut-tidak, berani-tidak. Semakin sering melihat tayangan presentasi via Youtube, semakin tidak percaya diri. Padahal, niatnya belajar teknik presentasi dari para pemenang.

Jum’at lalu, saya tidak begitu sukses saat latihan di kampus yang dipandu fasilitator yang juga pemenang 3MT 2015. Hanya 6 orang yang hadir saat itu. Masing-masing mempresentasikan. Ada dua orang yang menurut saya sudah siap.

Kebetulan, keduanya bule asli. Jadi tak ada kendala Bahasa. Tiga orang, termasuk saya, dari Asia. Saya dan rekan dari Laos mendapat komentar sama: improve your pronunciation. Kata komentator: dalam waktu tiga menit, audience tidak mungkin mendapat kesempatan untuk mencerna dengan baik jika aksen dan pronunciationnya bermasalah. Sedangkan untuk rekan dari India, komentarnya: intonasi. Orang India memang lancar dalam Bahasa Inggris, hanya saja aksen meraka masih begitu kental dan terdengar datar.

Kutipan di atas adalah pernyataan rekan saya yang berasal dari Laos. Saat ini ia sudah hampir menyelesaikan seluruh Chapter. Hanya saja, selama empat tahun ini belum pernah sekalipun dia presentasikan hasil kerjanya. Makanya, di akhir tahun keempat ini dia ingin menunjukkan presentasinya kepada sang supervisor. Termasuk, niatnya untuk mempresentasikannya dalam seminar di kampus yang diselenggarakan tiga hari sebelum 3MT competition di laksanakan. Saya sendiri ingin fokus saja ke 3MT.

Terlepas dari ke-grogian saya, banyak hal yang saya dapatan dari peer review hari itu. Pertama, setidaknya saya jadi tau bahwa apa yang menurut saya sudah jelas, belum tentu bisa dipahami oleh native speaker. Draft kedua yang saya pikir mudah dipahami, ternyata masih menyimpan banyak masalah.

Kata salah satu komentar yang juga peserta: di awal aku bisa nangkap, di akhir juga bisa. Tapi ditengah-tengah, I’m lost. Katanya lagi, di awal kamu cerita tentang kasus di pendidikan, kebetulan aku paham soal itu. Tapi ditengah kamu bicara soal kesehatan. Hubungannya apa? Di akhir, kamu kembali lagi bicara tentang pendidikan.

Dari information session yang sempat saya hadiri beberapa minggu sebelumnya, juga dari video yang saya perhatikan, hal penting yang sangat sangat perlu diperhatikan adalah intro. Kalau kata Joe Vitale, gimana menarik perhatian audience sejak kalimat pertama.

Jujur, bukan hal mudah menemukan intro yang pas kali ini. Untuk presentasi 20 menit saat conference lalu saya memakai Ahok sebagai hook. Untuk yang versi 3 menit terus terang saya sangat kesusahan. Hingga akhirnya saya putuskan untuk memulainya dengan kisah Siami, whiste blower ujian nasional tahun 2011 lalu. Hanya saja, saya agak bingung, ini kan khusus pendidikan. Sementara, thesis saya kan untuk instansi pemerintah secara umum.

Makanya, di tengah saya coba bawa ke performance measurement secara umum. Ternyata, justru membuat bingung audience. Parahnya lagi, karena saya masukkan findings bidang kesehatan di tengah-tengah.

Komentar dari pemenang tahun lalu: kamu masih banyak menggunakan term yang teralu teknis. Sempat saya katakan ‘performance management literature suggests’, katanya nggak perlulah. Begitu juga halnya dengan teknik pengumpulan data dan framework yang saya gunakan yang menurut saya umum, tapi dianggap tidak perlu. Alasan saya memasukkan method ini karena saat information session disampaikan bahwa salah satu aspek yang harus dipresentasikan adalah metode. Menurut komentator, iya, tapi tak perlu sedetil itu bahasanya juga perlu di’umum’ kan. Hmmm…

Satu hal yang selalu saya salut dari para komentator, mereka selalu bisa melihat sisi positif. Intro dan penutup saya dianggap good. Demikian juga suara dianggap “strong”. Jadi PR saya adalah pronunciation dan alur cerita yang harus saya reformasi habis-habisan.

Salah satu rekan native speaker sudah pernah mengikuti 3MT dua tahun lalu. Risetnya di bidang kedokteran, tentang salah satu sindrom yang saya lupa namanya. Penderita sindrom ini selalu merasa kelaparan. Apa saja dimakan, untuk memenuhi rasa laparnya, termasuk hal-hal yang mustahil dimakan oleh orang normal. Dari hasil peneitiannya, ia menemukan kaktus sebagai salah satu cara yang dapat digunakan untuk menenawar rasa lapar. Dalam presentasinya, ia mempu menjelaskan risetnya dengan baik. Kalimatnya mudah dipahami, komunikatif, dan gestur juga pas. Sempat terlintas, ini dia pemenangnya.

Native speaker satu lagi mengawali presentasinya dengan pertanyaan: True or false, math teacher should understand math deeply? Cukup membuat saya terpukau dari awal hingga akhir, meski saya tidak terlalu bisa menangkap dengan jelas, sejelas native speaker yang satu. Pikiran lugu saya mengatakan: Bahasa inggrisnya bagus sekali ya, lancar..selancar saya ngobrol dalam Bahasa Indonesia. Slidenya juga bagus, hingga memaksa saya mengatakan ‘I am not so confident with my slide ‘saat menayangkan slide saya yang ala kadarnya.

Saking kagum dengan Bahasa inggrisnya, saya tidak bisa menangkap bahwa sisi lemah native speaker kedua ini ada pada intonasi yang cenderung datar dan kurang ekspresif. Ia juga masih dianggap kurang komunikatif. Hal itu yang ditangkap oleh fasilitator.

Hal yang sangat penting yang seharusnya saya ketahui sejak awal adalah saat salah satu peserta mengatakan bahwa presentasi harus entertaining selayaknya entertainment. Benarlah dugaan saya, mirip-mirip stand up comedy. Peserta tersebut kebetulan mengikuti sesi training dua minggu sebelumnya. Saat itu saya harus jaga anak jadi hanya mendapatkan sidenya saja dari panitia. Karena entertaining itulah seharusnya tidak hanya suara yang bicara tapi juga seluruh tubuh juga dimaksimalkan untuk membantu menarik perhatian audience.

Katanya lagi, ibaratnya kita sedang berlomba menjual sesuatu kepada para sponsor. Mana dari sekian peserta yang layak mendapatkan funding. Jadi, ya harus habis-habisan.

Tips dari fasilitator sebenarnya biasa-biasa saja. Banyak yang mungkin sudah diketahui. Dari sisi penampilan, ya harus baguslah. Bagaimanapun juga tunjukan bahwa 3MT ini ajang yang serius. Jangan berpakaian seadanya. Kedua, karena hanya tiga menit, tak perlu memperkenalkan diri, tak perlu acknowledge supervisor atau sponsor. Slide jangan terlalu banyak gambar dan kata-kata. Lihat audience, jangan hanya menatap seseorang. Dan terakhir practice..practice..practice.

Dua hal yang saya lupakan dari latihan hari itu adalah: imagine you talk to them. Saking konsentrasinya, saya terlalu focus mengeluarkan apa yang ada di kepala. Maklum, takut lupa. Mungkin kalau dalam Bahasa Indonesia saya bisa lebih rileks. Lha ini.

Satu hal menarik adalah tentang practice…practice..practice. Selama ini saya biasanya latian sendiri dimana saja dan kapan saja. Nah, saran dari fasilitator ini sangat menarik. Latian dimana saja, tapi tidak sendiri. Di café, di kereta, di jalan, dimana saja…kalau bertemu teman atau orang yang tidak dikenal sekalipun, katanya, cobalah minta waktu barang 3 menit untuk berlatih presentasi. Tanyakan bagaimana komentar mereka.

Yang juga menarik adalah slide fasilitator: memberikan informasi sebanyak-banyaknya atau sedikit tapi kena? Intinya, buatlah wow effect.

Oya, nyaris lupa. Pernafasan adalah hal penting yang juga harus diperhatikan. Malah sangat sangat sangat penting. Mengambil nafas yang panjang dan mengeluarkannya seirama dengan kalimat-kalimat yang pas dan intonasi yang tepat. Kapan harus diam sejenak, dan kapan harus mulai berbicara.

Jika masih penasaran…silakan lihat tips dari para pemenang di sini:  http://threeminutethesis.org/3mt-showcase

Brunswick, July 2016

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s