Mengapa Perlu Mempelajari Tajwid?

Ternyata belajar bahasa Inggris itu tak jauh beda denganbelajar bahasa Arab. Setelah belajar bahasa Inggris sekian tahun baru tersadar beberapa hari ini. Tepatnya setelah saya mendapat kritik lugas dari fasilitator training 3MT competition (Penjelasan tentang  3MT silakan lihat di https://anasejati.wordpress.com/2016/06/16/yuk-berlatih-3-mt/). Saat itu dia katakan kamu harus perbaiki pronunciationmu. Dalam waktu 3 menit orang tidak punya waktu yang cukup untuk menangkap maksudmu.

Segeralah saya menemui academic skill advisor kampus yang biasa mengoreksi grammar draft thesis saya. Karena berharap bisa maksimal dalam presentasi, saya memintanya mengoreksi kata perkata yang saya ucapkan. Beberapa kata masuk dalam daftar hitamnya: distribution, unequality, determine, national, tremendous, tarnish, region, emphasis, whilst, dan infrastructure. Sepuluh kata ini lah yang wajib saya ulang-ulang agar maknyanya dapat ditangkap dengan jelas.

Distribution, penekanan saya ada pada ‘tri’, seharusnya ‘bu’ yang juga harus dibaca ‘byu’. Determine, harusnya ditekankan pada ‘te’ bukan ‘de’. Atau national, karena ingin menimbulkan efek, saya memberikan penekanan pada ‘na’ dan saya ucapkan ‘neeei’. Padahal cukup ‘nesyenel’. Langsung, tidak ada yang ditekan. Sama halnya dengan tremendous, penekanan saya di ‘tre’, seharusnya ‘men’.

Heran juga, apa bedanya ketika saya mengucapkan dis’tri’bution dengan distri’byu’tion. Atau apa bedanya ‘de’termine dengan de’ter’mine? Toh sama saja. Dalam Bahasa Indonesia keduanya tidak ada bedanya. Kalau saya katakan ‘ba’ hasa, saya tetap bisa menangkap maknanya ketika ada yang mengatakan ba’ha’sa atau baha’sa’ atau ‘ba’ha’sa sekalipun.

Dalam Bahasa Inggris rupanya tidak begitu. Karena penasaran saya tanyakan pada advisor saya. Beda, katanya. Orang akan sulit menangkap artinya ketika kita salah meletakkan tekanan.

Bisa jadi.

Bahasa inggris orang India dan Pakistan rata-rata bagus. Rata-rata mereka lancar dalam berbahasa Inggris. Tapi, bagi saya, lebih mudah menangkap pembicaraan native speaker dari pada mereka. Mengapa? Karena orang india tidak terlalu menaruh perhatian pada tekanan dalam tiap kata, datar. Mungkin karena dipengaruhi aksen asli mereka.

Sama halnya dengan teman dari China, lebih sulit lagi menangkap perkataannya. Sepertinya dalam bahasa China banyak kata yang berakhiran ‘ng’. Sehingga, ketika mereka berbicara Bahasa inggris pun, aksen mereka terbawa. Terlalu banyak vitamin ‘ng’ hingga terasa sulit untuk saya pahami.

Soal pronunciation ini sebenarnya saya juga sering di’tegur’ keras oleh Amira dan Ayla. Tepatnya sih diledek. Sering mereka meminta saya mengulang kata yang saya ucapkan, setelah itu tertawa bersama-sama karena mendapati pronunciation saya yang salah.

Lalu, dimana letak persamaan pronunciation antara Bahasa Inggris dan Bahasa Arab?

Jadi begini. Beberapa bulan lalu saya mulai belajar Tahsin. Tergolong terlambat sebenarnya. Di usia empat puluhan baru belajar tahsin. Sebelumnya saya memiliki persepsi yang salah tentang tahsin. Saya mengidentikkan tahsin dengan tahfiz. Jadi kalau ikut tahsin, nanti harus banyak menghafal. Urusan menghafal saya memang tergolong susah. Rupanya saya salah. Tahsin lebih berfokus pada memperbagus bacaan.

Selain itu, saya juga berfikir bahwa mengaji itu bakat-bakatan. Ada orang yang diberikan kemampuan untuk bisa mengaji dengan suara indah dan ada yang biasa-biasa, ada juga yang tidak bagus. Dan, saya ditakdirkan menjadi yang biasa-biasa, atau malah tidak bagus? Puluhan tahun mengaji, tetap saja terasa tidak pas di telinga. Nafas juga sering tidak kuat. Saya sendiri tidak begitu menikmati cara saya mengaji.

Setelah mengikuti tahsin, agak lumayan. Saya mendapatkan ilmu yang sangat berharga. Mulai memperhatikan tajwid, makhraj huruf, panjang pendek dan bunyi dengung. Dulu sewaktu SD pernah belajar, tapi ya gitu deh. Sedikit demi sedikit saya mulai bisa menikmati. Nafas juga sepertinya ikut menyesuaikan. Di saat bisa menikmati seperti itu, terkadang tidak terasa sudah beberapa halaman terbaca.

Kalau dalam Bahasa Inggris salah penekanan akan menyulitkan dalam pemaknaan, dalam Bahasa Arab kesalahan panjang pendek bisa mempengaruhi arti. Contoh yang umum adalah Malikinnas dalam surat annaas dan Maalikiyaumiddiin dalam alfatihah. Malik dan Maalik memiliki arti yang berbeda.

Efek perbedaan membaca ‘de’termine dengan de’ter’mine dalam suara juga berbeda. Ketika saya mencoba mengubah kebiasaan menjadi de’ter’mine, seolah ucapan saya sudah mirip native (nggaya….). Benar, ketika kaidah penekanan ini diterapkan, efeknya cukup dahsyat. Enak didengar.

Sama halnya dengan Bahasa Arab, ketika dalam mengaji saya coba menerapkan tajwid dengan baik, efeknya juga sama. Lebih bisa menikmati bacaan.

Rupanya saya lupa bahwa dalam mengaji pun juga berlaku kaidah 10.000 jam dengan syarat. Kalau dihitung-hitung mengkin 10.000 jam mengaji saya sudah terpenuhi.  Dengan rata-rata 10-15 menit sehari dalam kurun waktu 30 tahun pastilah mencapai 10.000. Tapi, mengapa suaranya tetap pas-pasan? Dalam kaidah 10.000 jam, untuk menjadi ahli di bidang tertentu tidak cukup hanya practice dan practice. Kaidah 10.000 jam wajib dibarengi dengan proses pembelajaran. Harus ada satu proses yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas latihan. Jika tidak, ya tidak akan ada pengaruhnya. Terampil, tapi tidak ada peningkatan kualitas.

Jadi, kalau ada qari’ yang mampu melantunkan ayat-ayat suci hingga mampu menyentuh hati, sesungguhnya mereka juga telah mengikuti kaida 10.000 jam. Berlatih dan terus meningkatkan kualitas bacaan. Bukan karena bakat-bakatan seperti ‘tuduhan’ saya.

Dalam hal memperbaguskan bacaan ini saya teringat pendapat Tariq Ramadan dalam salah satu kuliahnya. Sayang saya lupa dalam video yang mana. Dalam video tersebut Tariq membahas masalah Jihad dan mengaitkannya dengan art atau seni. Menurutnya, dalam banyak hal umat Islam sering melupakan tentang ‘beauty’ atau keindahan. Tariq mengambil contoh mengaji. Ketika Alqur’an dilafalkan dengan indah, perasaan kita akan terbawa. Terhanyut, kerena kita sangat menikmati. Sebaliknya, ketika cara mengajinya tidak bagus. Kita juga malas untuk mendengarkan.

Video social experiment berikut memperlihatkan juga bagaimana efek AlQur’an jika dilantunkan dengan nada yang indah. Dalam video ini sang Host meminta orang-orang di jalan untuk mendengarkan AlQur’an dalam beberapa detik. Mereka ini belum pernah sekalipun mendengarkan lantunan ayat suci AlQur’an. Silakan lihat Link:  https://www.youtube.com/watch?v=nbOLQ71HhPQ. Mereka terlihat begitu menikmati. Komentar mereka diantaranya: it’s relaxing, little bit sad and comforting, it is peaceful, so happy, peaceful.

Dahsyatnya Alqur’an ini juga dapat dilihat dalam sirah nabawiyah ketika Abu Jahal, Abu Sofyan, dan Al AKhnas bin Syuraiq begitu takjub dan dengan sembunyi-sembunyi mendengar Rasululllah membaca Alqur’an. Kisah selengkapnya bisa anda nikmati dalam kajian sirah nabawiyah Yasir Qadhi seri 13 Opposition from the Quraysh, atau anda bisa menggoogle.

Dikisahkan bahwa suatu ketika ketiganya datang ke rumah Rasulullah untuk mendengarkan AlQur’an yang dilafalkan Rasulullah saat shalat tahajjud. Ketiganya tidak saling mengetahui bahwa masing-masing sedang menikmati bacaan AlQur’an Rasulullah. Mereka begitu terpesona dan terus mendengarkan hingga pagi menjelang. Ketika hendak pulang, mereka saling bertemu dan mengatakan untuk tidak kembali lagi. Malam kedua, ternyata mereka kembali lagi tanpa sepengetahuan yang lain. Saat hendak pulang mereka berpapasan ketiganya dan berjanji tidak akan kembali lagi malam berikutnya. Ternyata hingga malam ketiga mereka kembali menikmati lantunan ayat-ayat yang dilafalkan oleh Rasulullah.

Begitu dahsyatnya Alqur’an hingga mampu meluluhkan hati saat ia diperdengarkan dengan begitu indah,  hingga para musuh sekalipun. Kalau banyak diantara kita (saya) yang tidak terlalu tertarik dengan Alqur’an, bisa jadi karena kita (saya) melafalkannya dengan sangat minimalis.

Wallahu A’lam….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s