Mengapa masyarakat jahiliyah menyembah berhala?

Setiap kali membaca buku Sirah Nabawiyah, biasanya saya mulai sejak kelahiran Rasulullah SAW. Masa pra kelahiran, termasuk latar belakang dan tradisi bangsa Arab dan silsilah beliau biasanya saya lewati. Sempat dibaca. Hanya saja saya selalu gagal paham karena sepertinya rumit dipahami. Plus, saya menganggap bagian tersebut tidaklah terlalu penting untuk diketahui.

Baru setelah mengikuti kajian DR Yasir Qadhi, mulailah sadar bahwa justru pengetahuan akan masa itu begitu penting. Bahkan, harus ditarik mundur lagi ke belakang hingga masa Nabi Ibrahim. Dan ternyata kesimpulannya hanya satu…sangat menarik untuk diketahui.

Kali ini saya mencoba menyarikan kajian seri Sirah Nabawiyah DR Yasir Qadhi yang keempat yang berjudul Religious Status of The World before Islam. Silakan lihat link-nya langsung disini: https://www.youtube.com/watch?v=ey7UAi_Emgs.

Cukup panjang jika di tulis semua, namun juga sayang jika harus dilewatkan. Sepertinya saya harus membaginya dalam beberapa tulisan. Khusus tulisan ini lebih berfokus pada sejarah penyembahan berhala oleh masyarakat Arab. Bukankah dulu Nabi Ibrahim yang mengajarkan Tauhid hidup di sana? Bagaimana mereka menjadi penyembah berhala? Siapa yang membawa ajaran penyembahan berhala tersebut ke tanah Arab? Terakhir, pelajaran apa yang bisa kita ambil dalam konteks masa kini.

Kita mulai saja ya..

Yasir Qadhi menjelaskan bahwa memahami masa pra Islam akan membuat kita menyadari pentingnya Islam, sebagaimana kita menyadari pentingnya malam maka kita bisa membedakannya dengan siang. Memahami masa jahiliah, akan membuat kita mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah yang disampaikan melalui Rasulullah SAW. Yasir Qadhi mengutip QS An Nahl (16): 36 disebutkan bahwa:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu, maka diantara umat itu ada orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya…”

Setiap ummat telah diutus seorang nabi. Demikian pula dengan bangsa Arab. Nabi mereka adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Itulah mengapa dalam Al Qur’an Allah SWT sering menyebutkan bahwa agama ini adalah agama Ibrahim.

Ajaran-ajaran nabi Ibrahim ini tetap dilakukan oleh para pemeluknya hingga kedatangan Rasulullah SAW. Ajaran-ajaran tersebut terlihat dari adanya kepercayaan bahwa Makkah adalah kota yang disucikan. Makkah diangga sebagai tanah Haram. Disebut sebagai tanah Haram karena segala hal yang diperbolehkan atau di halalkan di luar Makkah, di haramkan didalam tanah Haram. Misalnya, tidak boleh berburu, tidak boleh memetik dedaunan.

Allah juga mengatakan bahwa siapapun yang memasuki tanah Haram ia aman. Kepercayaan seperti ini hingga saat ini masih tetap berlaku. Masyarakat jahiliah juga memegang kuat kepercayaan ini. Ibn ‘Abbas mengatakan bahwa kita bisa melihat, pada masa jahiliah, seorang pembunuh yang sedang melakukan tawaf, dia tidak akan tersentuh sehelai rambut pun di kepalanya.  Mengapa, karena tanah Haram.

Kedua, masyarakat jahiliah menghormati bulan-bulan yang disucikan. Ada empat bulan suci menurut syariah. Pada bulan ini tidak boleh ada peperangan apapun. Setiap orang harus mengutamakan keamanan. Pada empat bulan ini keamanan harus benar-benar dijaga, tanpa mengenal alasan apa pun.

Yang ketiga adalah Haji. Dengan ritual tawaf, sa’i antara safa dan marwah, kurban, dan menandai hewan kurban yang akan diberikan kepada fakir miskin di tanah Haram.

Dari mana semua hal ini berakar? Dari Nabi Ibrahim AS.

Atas hal-hal di atas banyak peneliti non-muslim yang menyatakan bahwa ritual ini berasal dari budaya pagan (penyembah berhala). Para peneliti ini tidak melihat fakta bahwa ritual-ritual tersebut berasal dari Nabi Ibrahim. Mereka menganggap, Nabi Muhammad mengambil ajaran di atas dari tradisi kaum pagan dengan memberikan beberapa tambahan. Bagi kita, Nabi Muhammad justru mengembalikan kembali ajaran asli Nabi Ibrahim, dan membersihkannya dari penyembahan berhala.

Jadi, kalau bangsa Arab memiliki nabi, dan nabi itu adalah Nabi Ibrahim, sang pembawa Tauhid, dari manakah tradisi penyembahan berhala muncul? Bukankah Nabi Ibrahim bertauhid? Menyembah hanya kepada Allah, Tuhan  Yang Esa. Sama halnya dengan nabi Ismail, One God.

Lalu, dari mana paganism berasal?

Yasir Qadhi menjelaskan bahwa dalam hadist Sahih Muslim, Rasulullah SAW mengatakan Amr ibn Luhay Al-Khuza’I adalah orang pertama yang membawa berhala pada bangsa Arab. Ia juga lah yang memperkenalkan takhayul.

Bagaimana ceritanya sehingga berhala tersebut dibawa oleh Amr ibn Luhay?

Dinarasikan bahwa Amr ibn Luhay bepergian ke Syria. Di sana dia melihat masyarakat Syiria Amalek melakukan penyembahan berhala. Dia melihat masyarakat tersebut memiliki peradaban yang kuat. Ia pun bertanya : Siapakah berhala-berhala itu? Mereka menjawab: mereka adala sumber kekuatan kami. Ketika kami sedang kelaparan, saat kemarau, saat musuh menyerang, kami menyembah berhala ini. Keajaiban pun datang.

Mengetahui hal tersebut Amr ibn Luhay pun bermaksud meminta salah satu berhala. Diberikanlah berhala yang bernama Hubal itu kepadanya dan dibawa pulang kembali untuk suku Quraish. Kemudian, Amr ibn Luhay meletakkan Hubal didepan ka’bah. Sejak saat itu lah penyembahan berhala di mulai.

Dikatakan pula bahwa Amr ibn Luhay merubah kalimat talbiyah untuk haji. Beberapa generasi berikutnya mengatakan adanya tambahan kalimat talbiyahnya yang seharusnya hanya “Labbaik Allahumma labbaik”, “Labbaika la syarika laka labbaik”. Labbaik yang artinya aku memenuhi panggilanmu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Tiada sekutu bagi-Mu dan aku Allah memenuhi panggilan-Mu. Dengan adanya Hubbal, Amr bin Luhay menambahkan kata “illaa”. Yang artinya ada “pengecualian”. Seharusnya cukup “tiada sekutu” kemudian ditambahkan “kecuali”. Kecuali atas “Illaa sharikan huwa lak tamlikuhu wa maa malak”. Kecuali untuk sekutu milikMu, dan Engkau yang menguasai sekutuMu. Menurut mereka, “Engkau memiliki sekutu, tapi You’re the big boss”. Sama halnya dengan Yunani kuno dan Romawi kuno. The big boss is Zeus tapi ada juga tuhan-tuhan kecil.

Kapan Amr ibn Luhay hidup?

Tanggal persisnya sulit untuk diketahui. Tradisi Arab sebagaimana China kuno, mereka tidak memiliki penanggalan sebagaimana tradisi Romawi. Mereka menandai sesuatu berdasarkan peristiwa. Aamal fiil, misalnya, tahun ketika gajah menyerang. Begitulah mereka menandai waktu berdasarkan terjadinya suatu peristiwa. Mereka tidak mengadopsi kalender Romawi ataupun Persia hingga Umar ibn Khattab memulai kalender Islam.

Jika tidak ada kalender, bagaimana menentukan kapan Amr ibn Luhay hidup? Yasir Qadhi mencoba menelusur berdasarkan generasi mana Amr ibn Luhay hidup. Ia hidup pada masa generasi Fihir yang merupakan ‘original founder’ dari suku Quraish. Dengan mengasumsikan bahwa setiap generasi memiliki masa empat puluh hingga lima puluh tahun, Amr ibn Luhay hidup pada abad pertama menurut kalender masehi. Sementara, Rasulullah lahir pada abad keenam. Jadi, ada rentang waktu sekitar 500 tahun sebelum datangnya Rasulullah, Amr ibn Luhay memperkenalkan berhala Hubal. Dengan kata lain, butuh waktu sekitar lima abad hngga akhirnya penyembahan berhala menyebar di seluruh dunia Arab.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana mungkin satu orang, Amr ibn Luhay, bisa mengubah agama yang dibawa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail? Sehebat apakah dia? Yasir Qadhi menyatakan:  Allahu a’lam…ada dua faktor yang mungkin menjadi penyebabnya.

Pertama, inferiority complex yang dimiliki Amr ibn Luhay terhadap penduduk Syiria Amalek. Penduduk ini memiliki peradaban yang hebat. Mereka memiliki sejarah, tulisan, arsitektur, bangunan tinggi, dan terkenal tak terkalahkan. Kehebatan ini lah yang membuat mereka ini ditakuti; dikatakan ‘this is the nation that is indestructible”. Mereka juga digambarkan memiliki postur tubuh yang besar sekitar enam setengah hingga tujuh kaki tinggi rata-rata masyarakat Amalek. Mereka adalah generasi yang terpadang pada masanya. Hal ini lah yang menyebabkan Amr ibn Luhay merasa rendah diri atas segala kebesaran Amalek. Menurutnya, bangsa Arabs harus mengambil pelajaran dalam segala hal dari mereka, karena mereka sangat kuat. Pastilah mereka benar dalam segala hal.

Yasir Qadhi mengatakan bahwa ada hal ini sangat penting yang dapat diambil pelajaran untuk masa kini: Jangan hanya karena suatu negara dianggap kuat, maka mereka juga memiliki moralitas yang benar, etika yang benar, dan teologi yang benar. Jangan hanya karena suatu negara memiliki teknologi, peradaban, atau arsitektur, tidak berarti mereka benar dalam segala hal. Memang benar, lebih baik dalam beberapa hal, tapi tidak semuanya. Amr ibn Luhay begitu takjub dengan kemajuan Amalek hingga ia berfikir bahwa, masyarakat Amalek tidak terkalahkan, mereka memiliki segala hal, hingga membuat Amr ibn Luhay menganggap bahwa rahasia kemajuan mereka adalah penyembahan berhala.

Lalu, siapakah Amr ibn Luhay hingga membuat masyarakat Arab mengikutinya?

Ini lah yang menjadi faktor kedua. Amr ibn Luhay bukan orang biasa. Dia adalah kepala suku Khuza’a. Siapa kah suku Khuza’a ini? Suku Khuza’a ini adalah pemimpin Makkah, pada saat itu buka suku Quraish. Amr ibn Luhay adalah kepala suku. Dia juga dianggap sebagai kepala suku yang paling dihormati di masyarakat Arab. Dikatakan pula bahwa Amr ibn Luhai memilik banyak kekuasaan, dia juga berhasil mempertahankan Makkah dari invasi-invasi asing. Dia juga dikenal sebagai orang yang dermawan sehingga orang-orang sangat mencintainya. Al hasil, ketika dia membawa berhala, orang-orang pun mengikutinya.

Alasan ketiga ignorance atau pengabaian. Masyarakat Arab saat itu tidak mengetahui agamanya secara mendalam. Ketika seseorang datang dan menawarkan sesuatu yang dianggap menarik, mereka begitu terpesona. Rentang masa antara nabi Ibrahim dan Amr ibn Luhay sekitar dua ribu tahun. Cukup lama rentang waktu hingga akhirnya Rasulullah datang untuk meluruskan kembali akidah mereka. Pada masa ketiadaan nabi itulah, ajaran Nabi Ibrahim diabaikan dan dilupakan.

Jadi, ada tiga hal yang membuat mengikuti ajaran penyembahan berhala yang dibawa oleh Amr ibn Luhay: Inferiority complex, kredibilitas sang pembawa, dan pengabaian terhadap ajaran Nabi Ibrahim.

Kalau kita kaitkan dengan konteks saat ini, kita (saya) pun mengalami hal yang sama. Kita (saya) sering dibuat terkagum-kagum oleh kemajuan barat, tak hanya dari sisi teknologi dan tata kelola pemerintahan, tapi dari perilaku masyarakat terlihat lebih beretika dari masyarakat kita. Sehingga tak jarang ada yang menganggap bahwa kemajuan barat disebabkan karena ke-atheisme-an mereka yang membuatnya melintasi batas-batas berfikir. Sebaliknya, ada yang menganggap bahwa kemunduran kita disebabkan karena kita terlalu kaku dalam ber-Islam.

Padahal, ada banyak hal yang bisa kita pertanyakan. Pertanyaan pertama tentunya, benarkah mereka lebih superior dibanding kita? Ataukah sengaja dikonstruksikan sehingga mereka terlihat hebat? Jika memang superior, apakah memang kepercayaan menjadi factor utama kemajuan?

Kalau ditelusur lebih jauh, barat pun tak seindah yang kita sangka. Tulisan terkait indeks persepsi korupsi yang lalu setidaknya cukup membuat saya pribadi mulai mempertanyakan kehebatan barat. Negara-negara yang memiliki indeks persepsi korupsi di atas Indonesia, ternyata mereka juga menyimpan masalah lain (silakan lihat link:  http://www.warungkopipemda.com/hati-hati-membaca-hasil-survey-indeks-persepsi-korupsi/). Irlandia, misalnya, memiliki hutang hingga 138,9% dari GDP. Yunani lebih tinggi lagi, 177,10 dari GDP. Bahkan negara yang melahirkan para filosof itu tahun lalu mengalami colaps hingga memaksa pemerintah menutup semua bank hingga enam hari kerja. Atau Jepang yang memiliki hutang hingga mencapai 229,20% GDP dan menjadi ranking pertama dalam hal hutang. Atau Amerika yang system ekonominya telah menyebabkan krisis berkepanjangan baik di masa great depression atau tahun 2008?

Belum lagi, kasus-kasus korupsi di sektor privat di negara-negara barat, termasuk Australia, sangat tinggi. Greg Medcraft, ketua Komisi Sekuritas dan Investasi Australia (ASIC) mengatakan pula bahwa “Australia as a ‘paradise’ for white-collar criminals due to lax penalites” (link berita http://www.news.com.au/finance/business/asic-whitecollar-crime-data-tip-of-the-iceberg-in-australia/news-story/8be0680fa30f1aba4b8d982db22e2a96).

Menelusur lebih jauh tentang kejahatan kerah putih ini, saya menemukan grafik “countries with largest tax evasion amount” yang bersumber dari Richard Murphy Tax Justice Network yang menempatkan Amerika Serikat sebagai ranking pertama kasus penggelapan pajak dengan jumlah 337M dollar diikuti Brazil, Itali, Rusia, Jerman, Prancis, Jepang, Cina, Inggris, dan Spanyol. Untuk lengkapnya silakan langsung ke link http://www.taxresearch.org.uk/Blog/2013/09/28/how-gig-is-tax-evasion-the-guardians-visualisations-based-on-my-work/) . Sayangnya, indeks persepsi korupsi tidak mensurvey korupsi di sektor privat. Jadi, mereka terlihat bersih karena yang dinilai hanya pemerintah (ulasan lengkap silakan lihat di http://www.warungkopipemda.com/hati-hati-membaca-hasil-survey-indeks-persepsi-korupsi-bagian-2/).

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s