Mengapa belajar Sirah Nabawiyah?

Mungkin sudah menjadi takdir kalau pada akhirnya pencarian saya justru berujung pada membuka kembali sirah nabawiyah. Niat datang kesini selain menyelesaikan tugas sebagai mahasiswa, juga untuk menelusuri dan ‘mencuri’ ilmu dan kebijakan-kebijakan negara maju. Niat tinggal niat, meski tak sepenuhnya lenyap. Justru, dari niat itulah yang sepertinya menuntun hingga akhirnya saya harus menerima ‘tugas’ lain belajar tentang the best of the best of the best, begitu istilah dr. Yasir Qadhi tentang sirah nabawiyah.

Bukan suatu kebetulan juga sebenarnya. Awal tiba di sini semangat untuk mempelajari dan menulis tentang praktek-praktek tata kelola pemerintahan di sini begitu menggebu. Ada saja yang bisa ditulis. Termasuk, menelusuri kebijakan sosial nordic cointries. Setahun kemudian, saya disadarkan bahwa saya harus mendalami teori-teori dasar topik riset yang saya lakukan. Mulailah menelusuri jejak perkembangan manajemen dari jaman scientific management-nya Frederic Taylor.

Hingga beberapa bulan selanjutnya, saya bertemu dengan ibu-ibu pelajar yang luar biasa. Dari mereka lah saya mengenal istilah positivist, constructivism, post-modernism, post-colonialism. Post-structuralism, dan Critical theory. Termasuk mulai akrab dengan Foucault, Anthony Giddens, Habermas, Gramsci, Bourdieu, Strause. Meski demikian, sampai saat ini saya belum benar menguasai pemikiran mereka.

Seperti biasa, andalan saya Youtube dan wikipidia. Keduanya sangat membantu bagi saya yang masih sangat baru dengan teori-teori dalam ilmu social. Dari pencarian itu saya justru mendapatkan hal-hal yang menarik. Terutama sejarah eropa. Ibarat mesin waktu, saya seperti dibawa kembali ke masa SMA saat belajar tentang revolusi industry, revolusi Perancis, Napoleon Bonaparte, Martin Luther, dll. Jujur, tidak mudah memahaminya. Hingga akhirnya saya mencari film-film berlatar belakang Eropa. Dipertemukanlah saya dengan Charles Dickens. Sering mendengar namanya, hanya belum pernah ‘kenalan’ dengan baik. Taunya hanya sebatas novel Oliver Twist. Isinya apa juga tidak paham.

Entah bagaimana ceritanya, saya menemukan video tentang the House of Wisdom. Akhirnya menjelajah lah dan mencoba memahami peristiwa beberapa abad sebelumnya masa kebangkitan barat, yaitu masa the golden age of Islam pada abad ke 7-12. Dari sini lah mulai ada benang merah yang menjadi penghubung antara peradaban Islam dan barat.

Beberapa bulan lalu, saat mencari film sejarah Eropa, saya menemukan “Arranged Married (2007)” yang kemudian mengantarkan untuk mengikuti kajian-kajian Dr Yasir Qadhi melalui Youtube. Saat itu saya lebih tertarik dengan bahasan terorisme dan kaitannya dengan sejarah Islam. Sebagaimana diketahui, Yasir Qadhi adalah ulama Amerika keturunan Pakistan yang saat ini menjadi dekan pada Al-Maghrib Institute di Amerika dan telah menulis banyak buku. Beliau lahir di Houston Texas. Lulus bachelor degree Chemical Engineering dari University of Houston dan dari Colege of Hadith and Islamic Science dari Islamic University of Madinah di Madinah Saudi Arabia. Ia mendapatkan gelar M.A. dalam bidang Islamic Theology dari College of Dawah dan doctor di bidang Theology dari Yale University, Connecticut.

Di salah satu video tersebut, Yasir Qadhi satu forum dengan Tariq Ramadan yang merupakan salah satu dari 100 pemikir yang paling berpengaruh menurut Foreign Policy Magazine. Sekelumit biografi beliau menurut mbah wiki: a Swiss academic, philosopher and writer. He is the professor of Contemporary Islamic Studies in the Faculty of Oriental Studies at the University of Oxford (Oriental Institute, St Antony’s College) and also teaches at the Oxford Faculty of Theology. He is a visiting professor at the Faculty of Islamic Studies (Qatar), the Université Mundiapolis (Morocco) and several other universities around world. Tariq Ramadan juga dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh religious innovators of the 21st century.

Sebagaimana Yasir Qadhi, video-video Tariq Ramadan juga banyak dijumpai di Youtube. Sama, sangat menarik. Jadilah kuliah gratis dari professor kelas dunia. Salah satu gagasan utama Tariq Ramadan adalah tentang Islamic Reform. Dalam hal ini Tariq selalu menegaskan bahwa: there is no way for me to reform Islam, there is a way, and a necessity, for me to reform the Muslim mind. Jadi, bukan Islam yang harus direform, tapi muslim mind-nya yang harus direformasi. Lengkap tentang hal silakan langsung ke TKP via Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=nJ6Zh9jKWKE&nohtml5=False. Atau, tunggu tulisan edisi depan. Tapi entah kapan J ya?

Menurut Tariq Ramadan, istilah reform ini berakar dari kata Islah yang menurut Tariq Ramadan diartikan sebagai “betterment and purification, and messengers are al-muṣliḥūn, people who approach the world to improve it. With this perception, anything in our lives—our hearts, knowledge, and minds—should be used to transform the world to make it a better place for human beings, animals, and nature, and therefore, our scientific knowledge also should be used toward the same goal”. Intinya: to transform the world. Selanjutnya, ia katakan:

To change the world, one needs knowledge of the rules, the scriptural sources, and the context (i.e the social and natural sciences of the world). This is necessary because only when one masters the context can one develop a vision of transformation for the future. Otherwise, one will be relegated to simple adaptation.

Di sini lah titik terang mulai terlihat, untuk memahami teks-teks dalam Alqur’an , pemahaman atas konteks kejadian suatu peristiwa sangat dibutuhkan. Dalam beberapa video, Tariq Ramadan sangat menekankan hal ini dengan maksud untuk mengetahui pesan atau tujuan yang sebenarnya dari ayat-ayat Al Qur’an, tidak sekedar hukum halal atau haramnya saja. Artinya, untuk memahami ayat-ayat tersebut, memahami asal usul, kondisi, dan penyebab-penyebab turunnya ayat wajib dipahami. Pemahaman atas maksud dan tujuan ini lah yang kemudian dapat ditarik ke masa kini, bagaimana sih seharusnya?

Dari sini lah akhirnya saya putuskan untuk menekuri video seri sirah nabawiyah Yasir Qadhi. Total seri hingga 101. Banyak ya? Tapi, syukurlah karena dengan video-video tersebut memahami sirah nabawiyah menjadi lebih mudah karena tidak harus membaca dengan serius. Kelebihan Yasir Qadhi adalah bahwa beliau seorang akademisi ahli hadist. Jadi, kajiannya tidak sekedar membahas kronologis kejadian, tapi juga mengkritisi kesahihan hadist, mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, dan tentu saja menghubungkannya dengan konteks saat ini.

Lalu,

Apa sebenarnya tujuan mempelajari sirah nabawiyah. Mari kita tanyakan pada Yasir Qadhi. Jawabannya dapat ditemukan dalam seri ke tiga Why study seerah.

Pertama, Allah memerintahkan kita untuk mempelajari Sirah Nabawiyah. Dalam Al Qur’an terdapat lebih dari 50 ayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan kita (uswatun khasanah), dan wajib untuk kita ikuti. Rasulullah SAW adalah role model yang sempurna. Sehingga, mempelajari kisah hidup Nabi Muhammad adalah mempelajari kisah seseorang yang akan kita jadikan sebagai panutan. Tentang hal ini, saya yakin kita semua sudah banyak yang tau.

Kedua, mempelajari Sirah Nabawiyah adalah bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW. Ibarat seseorang yang jatuh cinta, ia selalu memiliki keinginan untuk mengetahui apa saja tentang sang kekasih. Demikian halnya dengan mencintai Rasulullah. Nah, bisakah dikatakan cinta, jika rasa ingin tau pun tidak ada? Contohnya saja, cinta kita terhadap anak, kita akan selalu ingin tau apa saja yang dilakukan anak saat kita jauh dari mereka. Dalam hal ini Yasir Qadhi mengatakan:

If you claim you love this man, and yet you don’t care to study him, you don’t care to read his biography, or you don’t care to find out facts about him, what type of love is that? This is not the love that we understand as human beings; so to study the sīrah is a sign of love and through studying the sīrah, it increases our love, so it is a circle. The more we love, the more we study. The more we study, the more we love.

Jadi, jika kita mengatakan mencintai Rasulullah SAW, tapi kita tidak mau belajar, tidak mau membaca biografinya, tidak mau menemukan hal-hal menarik tentangnya, bisa kah ini disebut cinta? Lanjutnya, Mempelajari sirah adalah bukti sebuah cinta, semakin kita mencintai semakin kita senang mempelajari, dan semakin kita belajar tentangnya semakin dalam cinta kita.

Ketiga, memahami sirah membantu kita dalam memahami Al Qur’an. Alasan ini senada dengan pendapat Tariq Ramadan bahwa untuk memahami Al Qur’an kita perlu memahami konteks kejadian saat turunnya ayat. Dalam hal ini Yasir Qadhi mengatakan : You will not understand this verse, until you understand the sīrah. When was it revealed? Why was it revealed? The context of the revelation was. Untuk memahami Alqur’an, setidaknya harus dipahami juga: kapan diturunkan? Mengapa diturunkan? Bagaimana konteks kejadian saat turunnya ayat tersebut?

Keempat, sebagai upaya untuk terus meningkatkan keimanan dalam kondisi sulit. Memahami sirah nabawiyah setidaknya mempu menimbulkan semangat dan harapan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat pun juga mengalami hal sama. Bahkan lebih berat lagi cobaan dan tantangan yang mereka hadapi. Hingga pada akhirnya dapat memunculkan rasa optimism bahwa Allah akan menolong kita untuk mampu menghadapi segala ujian. Jadi, kalua kita diberikan suatu cobaan atau ujian oleh Allah, dengan mengetahui bahwa ah…dulu Rasullullah dan sahabat jauh lebih berat, akan membuat semua terasa lebih ringan untuk dijalani.

Kelima, sirah itu sendiri adalah suatu mukjizat. Yang kita pahami selama ini, mukjizat yang diterima oleh Nabi Muhammad diantaranya adalah membelah bulan, bicara dengan pohon, dan Al Qur’an. Namun, tidak terfikir bahwa seluruh hidup nabi Muhammad dari awal hingga akhir adalah sebuah mukjizat. Bagaimana mungkin beliau mengetahui ilmu-ilmu yang tertuang dalam Al Qur’an sementara dari latar belakang ia hanyalah seorang penggembala dan tidak memiliki kemampuan baca tulis? Juga, bagaimana mungkin ia mampu mengubah tradisi arab kuno yang tidak berpendidikan dan terbelakang menjadi sebuah peradaban yang diperhitungkan dan ajarannya tersebar di seluruh penjuru dunia?

Keenam, mempelajari sirah sama halnya dengan mempelajari metodologi membangun ummat. Dengan mempelajari sirah, kita belajar tentang generasi terbaik yang pernah ada. Dari sini lah dapat dijadikan referensi untuk saat ini. Alasan keenam inilah yang pas untuk saya. Terkait dengan bidang saya geluti saat ini, mempelajari sirah adalah bagian dari penelusuran untuk mencari jawaban atas bagaimana seharusnya konsep tata kelola pemerintahan yang baik dengan melihat kronologi, kejadian dan alasan-alasan yang menjadi dasar turunya ayat AlQur’an. Dengan melihat kondisi Indonesia saat ini, membandingkannya dengan Australia dan negara barat lainnya, untuk kemudian menyandingkannya dengan praktik di masa Rasulullah SAW harapannya dapat memberikan dasar yang lebih kuat untuk melakukan pembenahan.

Ketujuh, ini yang menurut saya sangat menarik. Mempelajari sirah adalah bagian dari upaya kita untuk memuliakan Nabi Muhammad. Memahami sirah memberikan dasar bagi kita untuk menjawab tuduhan-tuduhan yang di tujukan oleh para penganut islamophobia. Dalam skala internasional, jika anda sempat mengamati diskusi-diskusi di media social komentar terhadap Islam sangat keras. Bahkan kalau sempat menyaksikan diskusi di BBC topiknya sungguh ngeri-ngeri sedap, seperti do we need a British Islam, does evidence undermine religion, can all religions be right? Is it time or all religons to accept evolution?is Islam the cause or solution to extremism?

Atau, bagaimana kita menjawab bahwa tuduhan bahwa Rasullah bukanlah penyihir, bukanlah penyair, bukanlah penyuka wanita, dan juga bukan teroris jika kita tidak memahami beliau. Jika kita memahami konteks peristiwa dengan mempelajari sirah nabawiyah, kita akan mampu menjawab tudingan-tudingan tersebut.

Wallahu a’lam

Link video:

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s