Belajar dari kisah hafiz yang su’ul hatimah

Beberapa bulan lalu saya mendapat postingan di group pengajian di sini. Isinya setidaknya memaksa untuk kembali merenung. Saya yakin banyak diantara teman-teman yang pernah membacanya. Postingan itu berupa kisah yang menceritakan seorang pemuda hafiz qur’an, pernah menjadi mujahid dalam suatu peperangan, namun di akhir hayatnya ia menemui su’ul khatimah. Hanya dua ayat yang tersisa kala ajal menjemputnya.

Sungguh suatu kisah yang tragis. Pemuda tersebut rupanya tergoda kecantikan seorang wanita romawi. Nafsu untuk mendapatkan wanita tersebut telah menjauhkannya dari nilai-nilai agama hingga membuanya murtad. Kisah selengkapnya bisa anda baca di link berikut.

Sudah seharusnya kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa kita (saya) tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kelak. Bahkan seseorang yang hafiz qur’an pun hatinya bisa terbolak-balik.

Lepas dari kisah tersebut, ada beberapa pertanyaan yang terselip. Yang pasti: kok bisa? Bukankah seharusnya Allah selalu menjaganya karena amal-amal shalih yang diperbuatnya? Pertanyaan selanjutnya: bagaimana proses hilangnya hafalan-hafalan tersebut? Apakah ujug-ujug seperti penderita amnesia? Atau terdegradasi sedikit demi sedikit?

Atas pertanyaan tersebut, ada yang mengomentari bahwa masuk surga atau neraka itu hak prerogatif Allah. Terserah Allah. Siapa yang dikehendaki masuk surga maka masuk surgalah dia. Sebaliknya, jika Allah menghendaki neraka meka neraka lah tempat kembalinya.

Memang benar. Beberapa hari sebelumnya saya juga mendengar hal yang sama. Bahwa Rahmat Allah lah yang akan mengantarkan kita ke surga atau neraka.

Cuma, jujur saja saya tidak bisa menafikkan pertanyaan di kepala. Kalau begitu Allah nggak adil dong. Kita sudah berusaha beramal shalih kenapa ujung-ujungnya masuk neraka? Katanya, janji Allah itu pasti.

Rasa penasaran itu memaksa diri untuk menggogling. Ya, barangkali ada ulasan lebih lengkap kisah pemuda tersebut. Sayangnya tidak ada. Baiklah, akhirnya saya mencoba mencari definisi apa itu amal shalih……

Di saat yang sama terlintas kisah yang disampaikan salah satu ustadz yang pernah saya dengar lewat youtube. Kala itu sang ustadz bercerita tentang seorang pelacur yang oleh Allah diampuni dosa-dosanya karena memberi makan seekor anjing. Sudah sering saya dengar kisah tersebut. Saya yakin anda pun sering mendengarnya. Makanya, terlihat kontras saat mencoba menyandingkannya dengan kisah sang pemuda.

Sang pemuda hafiz qur’an sekaligus mujahid, tapi hidupnya berakhir dengan su’ul khatimah. Di sisi lain, sang pelacur bisa jadi sudah banyak melakukan dosa. Namun, Allah memberikan ampunan padanya ‘hanya’ karena memberi pertolongan seekor anjing.

Lagi-lagi, karena penasaran saya coba googling kisah pelacur tersebut. Saya mendapatkan cerita yang cukup detil kisah tersebut, termasuk bagaimana konteks kejadiannya hingga akhirmya terucap: pantas kalau Allah mengampuni dosanya. Hanya saja, terus terang saya juga masih penasaran tingkat kesahihan cerita detilnya karena saya tidak membaca langsung dari buku hadist. Lepas dari itu ada pelajaran yang layak diambil.

Apa yang membuat sang pelacur begitu istimewa dibandingkan sang pemuda?

Jujur saja, kupasan lengkap tentang sang pelacur baru akhir-akhir ini saya dapatkan. Meski pernyataan bahwa ada pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing sering masuk di kepala.

Ternyata pelacur itu sungguh istimewa. Kisahnya memberi minum seekor anjing adalah simbol cinta, keikhlasan mendalam untuk mendapatkan ridha Sang Pencipta. Ustadz yang saya ceritakan di atas juga menyampaikan bahwa kisah pelacur tersebut adalah satu pelajaran tentang keikhlasan. Bayangkan saja, kata beliau, di saat yang sangat sepi tidak ada seorangpun, pelacur tersebut memberi minum seekor anjing, kurapan lagi..nggak keren sama sekali. Nggak bisa diajak selfie.

Kalau hanya mendengar sekilas, kita (saya) mungkin juga akan berkomentar, apa susahnya memberi minum seekor anjing. Hingga akhirnya berakhir pada kesimpulan: gampang sekali mencari ampunan atas dosa-dosa besarnya.

Mari kita konteks kejadiannya. Rupanya saat itu wanita tersebut sedang mencari makanan. Ia mencoba menawarkan diri kesana kemari hingga karena letihnya membuatnya hingga terseok-seok. Ia tidak memiliki keluarga, kerabat, ataupun saudara. Orang-orang sekelilingnya mengejek, mencaci, dan menjauhinya karena jijik melihatnya. Wanita tersebut terus berjalan hingga membuatnya haus dan lapar. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah sumur di sebuah desa yang sepi. Pelacur itu berhenti di pinggirnya sambil menyandarkan tubuhnya yang sangat letih.

Perempuan tersebut mencoba mengambil air sumur dengan mengikat sepatu dengan selendangnya. Di saat ia hendak meminumnya, ia merasakan bajunya ditarik seekor anjing dengan lidah yang terjulur. Perempuan tersebut tertegun melihat anjing yang sangat kehausan tersebut sementara tenggorokannya juga serasa terbakar karena dahaga yang sangat.

Pelacur itupun mengurungkan niatnya untuk mereguk air itu. Dielusnya kepala hewan itu dengan penuh kasih. Si Anjing memandangi air yang berada di dalam sepatu, lalu perempuan itu meregukan air hanya sedikit ke dalam mulut sang anjing, dan perempuan itu pun seketika terkulai roboh sambil tangannya memegang sepatu (link cerita lengkap di: http://kisahtauladan354.blogspot.com.au/2013/12/kisah-pelacur-diampuni-dosanya-karena_13.html#sthash.M2OCmwf3.dpbs).

Memahami konteks kisah pelacur tentang kapan dan dalam kondisi bagaimana dia memberikan minuman kepada sang anjing sangatlah penting untuk melihat pelajaran apa yang bisa dipetik. Tentu memberi minum susu dan sekerat daging kepada anjing disaat kita dalam keadaan lapang berbeda konteksnya dengan kondisi sang pelacur saat itu. Air minum dalam konteks kejadian pelacur tersebut adalah sebuah pertaruhan antara hidup dan mati

Lalu, apa yang menghubungkan kisah antara sang pemuda dan sang pelacur, serta kaitannya dengan rahmat Allah?

Di sini lah saya mulai memahami letak keadilan Allah. Surat Al Kahfi 110 menyebutkan bahwa: Sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.

Jadi, point terpenting bahwa syarat diterimanya amal adalah ikhlas, tidak mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Allah. Dalam hal ini Allah lah yang Maha Mengetahui seberapa ikhlas kita dalam beramal. Ya, bahkan kita sendiri tidak bisa mengukur tingkat keikhlasan atas amal-amal yang kita lakukan. Dan, pengetahuan Allah atas ikhlas itu menyeluruh terhadap seluruh aktivitas yang kita lakukan setiap waktu hingga hitungan detik. Sebaliknya, kemampuan manusia hanya mampu menghitung sebatas amalan-amalan yang menjadi prioritas yang bersangkutan, seperti shalat, puasa, zakat, infaq, haji, dll.

Maka benarlah kalau kemudian dikatakan bahwa masuk surga atau neraka itu hak prerogatif Allah. Terserah Allah. Siapa yang dikehendaki masuk surga maka masuk surgalah dia. Sebaliknya, jika Allah menghendaki neraka meka neraka lah tempat kembalinya. Di satu sisi, benar pula bahwa Allah maha adil. Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap amalan yang kita lakukan. Selama amalan itu memenuhi kriteria ikhlas. Sebagaimana penjelasan di atas, Allah lah yang lebih mengetahui tingkat keikhlasan kita.

Pada titik ini lah doa menjadi satu-satunya kekuatan agar Allah mengampuni segala ketidak-ikhlasan-atas amal yang kita lakukan. Dalam konteks sang hafiz di atas, pelajaran yang bisa diambil adalah bagaimana menjaga niat agar seluruh aktivitas yang kita lakukan semata-mata hanya karena Allah, bukan karena yang lain.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s