The House of Wisdom: Kontribusi Islam dalam Kebangkitan Peradaban Barat

Kalau sebelumnya saya begitu tertarik dengan model welfare state negara-negara nordic ― Finlandia Swedia, Norwegia, Denmark, dan Iceland ―, sepertinya saya harus menunda perburuan informasi tentang hal hal itu. House of wisdom yang pernah saya ulas beberapa bulan lalu justru seolah menarik saya lebih dalam untuk mendalami era the Golden Age of Islam. Hingga akhirnya saya pun menemukan banyak literatur dan video yang makin maknyus. Salah satunya video hasil wawancara radio BBC oleh Melvyn Bragg dengan tiga akademisi: Peter Adamson, Amira Bennison, dan Peter Pormann. Wawancara tersebut mengupas buku yang ditulis oleh Dimitri Gutas yang berjudul Greek thought, Arabic culture: the Graeco-Arabic translation movement in Baghdad and early ʻAbbāsid society (2nd-4th8th-10th centuries). Alhamdulilah, setelah saya cek di library kampus buku tersebut tersedia.

Sebelum masuk ke wawancara tersebut, sepertinya saya perlu memperkenalkan ketiga panelis yang menarik untuk diketahui. Peter Adamson, adalah Profesor filsafat pada the LMU di Munich dan di King’s College London. Kedua, Dr Amira K. Bennison, a.k.a. Kate Bennison, adalah sejarawan Timur Tengah. Saat ini ia menjadi dosen senior di Middle Eastern and Islamic Studies di University of Cambridge. Amira sering muncul pada program Radio 4 BBC dan serial TV: Rageh Omaar’s An Islamic History of Europe and The Life of Muhammad, Jim al-Khalili’s Science and Islam and The Thirties in Colour. Amira K. Bennison juga penulis buku The Great Caliphs: the golden age of the ‘Abbasid empire dan The pre-Modern Islamic World: the urban impact of religion, state and society. Hmmm…buku kedua sepertinya memberi titik terang pencarian saya selama ini. Yaitu tentang bagaimana tata kelola pemerintahan Islam di masa lalu.

Terakhir, Peter Poremonn. Informasi menarik tentang Peter ini saya dapatkan dari http://www.manchester.ac.uk/research/Peter.pormann. Dia adalah Director of the John Rylands Research Institute dan Professor of Classics and Graeco-Arabic Studies University of Manchester. Setelah menyelesaikan Classics, French, and Islamic Studies di Paris (Sorbonne), Hamburg, and Tübingen, ia mengambil MA di Islamic Studies pada University of Leiden, M.Phil. and D.Phil di Classics pada the University of Oxford (Corpus Christi College).

Ia katakan dalam website tersebut alasan mengapa memilih Classics. Katanya, “to understand ‘our’ Western culture, for surely its two main roots were Graeco-Roman Antiquity and the Judaeo-Christian tradition. Little did I know that a third ‘root’, Islamic culture, is intrinsically linked to our own tradition, a fact conveniently forgotten by ideologues of different persuasions. My teaching and research therefore tries to rectify this misconception by investigating the many contacts between Muslims, Jews, and Christians writing in Greek, Latin, Hebrew, and Arabic, be it in the tenth or the twentieth century”.

Point di tengah sangat menarik untuk diketahui, bagaimana ia menyadari bahwa pada dasarnya akar kebudayaan Islam memiliki kaitan dengan his ‘own tradition’. Yang dimaksud dengan tentulah tradisi kebudayaan barat. Dalam hal ini, buku Jim Khalili sangat pas untuk menerjemahkan pernyataan Peter tersebut. Judul buku Jim Al Khalili adalah The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance.

Dimitri Gutas sendiri, sang penulis buku translation movement, adalah Professor of Arabic Language and Literature Yale University. Ia juga penulis: The Greek Wisdom Literature in Arabic Translation, Avicenna and the Aristotelian Tradition, dan A Greek and Arabic Lexicon.

Melihat latar belakang para panelis dan penulis buku, terlihat bagaimana antusiasme mereka dalam mempelajari sejarah peradaban Islam. Latarbelakang pendidikan dan institusi, juga menunjukkan bagaimana kajian Islam menjadi salah satu bidang kajian di perguruan tinggi barat. Banyaknya hasil karya terkait dengan kontribusi islam dalam mentransformasikan peradaban barat terus terang membuat saya kagum dan iri.

Tapi, baiklah, kita lanjutkan saja pada hasil interview tentang gerakan penerjemahan filsafat yunani kedalam bahasa Arab. Prolog diskusi dalam radio BBC tersebut memberikan titik cerah bagaimana hubungan Islam dan Barat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Saya terjemahkan saja ya. Untuk lengkapnya silakan lihat videonya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=KUJeHWi-W14.

Khalifah Al Ma’mun dan Aristoteles

Suatu malam di Baghdad, pada abad ke sembilan Khalifah Al Makmun bermimpi. Dalam mimpi itu Aristoteles mendatanginya dan mengatakan bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat Yunani dan risalah Islam. Seketika sang Khalifah terbangun, Ia menginginkan karya-karya Aristoteles diterjemahkan dalam bahasa Arab.

Hasilnya?

Tidak hanya karya Aristoteles yang diterjemahkan. Dua ratuhs tahun kemudian, filsafat, ilmu kedokteran dan teknik yunani telah menjelma menjadi teks Arab. Berpusat di Baghdad, gerakan penerjemahan dimulai. Lebih dari enam ratus tahun sebelum Renaissance di Eropa, warisan ilmu pengetahuan Yunani tersimpan dalam bahasa Arab. Dan, dari teks Arab tersebut kemudian dikembangkan oleh para Ilmuan – seperti Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rushd, Al Farabi – hingga melahirkan berbagai inovasi. Dari situlah kemudian teks-teks Arab tersebut kembali diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Termasuk kembali ke bahasa asal, yaitu Yunani.

Mimpi khalifah tersebut menjadi pembuka diskusi dalam program In Our Time yang disiarkan oleh radio BBC. Tentang tradisi keilmuan yang berjalan kala itu, Amira Bennisom mengatakan:

“I think one of the very important aspect of intellectual culture in bagdad at that time was salon culture which is called majlis in Arabic and it seems quite clear from the sources that all kinds of different people gathered in the home and the courtyard with the caliphs themselves ….and it was understood that the majlis that you have it was a fairly free and open discussion of all kinds of different issues religious, issues philosophical issues and and people from different religious backgrounds were welcomed”.

Menurut Amira Bennison, salah satu tradisi keilmuan terpenting pada masa itu adalah adanya ‘salon culture’ atau dalam bahasa arab disebut majlis-majlis ilmu dimana setiap yang hadir diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat dihadapan khalifah. Oya, tentang salon culture sendiri, saya juga baru tau, kalau menurut mbah wiki, bahwa salon adalah “a gathering of people under the roof of an inspiring host, held partly to amuse one another and partly to refine the taste and increase the knowledge of the participants through conversation”. Selama ini saya taunya salon ya..salon rambut.

Sebagaimana disinggung dalam acara tersebut, Jim Al Khalili dalam bukunya House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance juga menyebutkan bahwa Khalifah al Ma’mun ‘was inspired enough to initiate regular discussion and seminars among expert’. Dia sering mengundang para ahli agama dan para ilmuan di istananya. Mereka diminta untuk mengemukan pemikiran dan ide-ide. Pokok bahasannya tak hanya tetang teologi, tapi berbagai disiplin ilmu termasuk astronomi, fisika dan matematika.

Dalam tulisan tentang manuskrip yang ditemukan di University of Birmingham lalu saya sempat menyinggung tentang ‘treasure’. Rupanya lebih dari sepuluh abad yang lalu Khalifah Al Ma’mun sudah menyadari hal itu. Masih dalam buku Jim Al Khalili, disebutkan bahwa ‘he was well aware of the treasure to be found in the ancient text of the Greek philosopher’. Ya, penerjemahan karya-karya yunani telah melahirkan banyak penemuan dan akhirnya menjadi ‘treasure’ hingga mencapai the golden age of Islam.

Gerakan penerjemahan

Tradisi keilmuan yang dibangun oleh Al Ma’mun dengan memberikan dukungan yang luar biasa terhadap pengembangan ilmu telah berhasil menarik para intelektual dari berbagai penjuru. Ditambah lagi Sang Khalifah tidak hanya memberikan kesempatan bagi kaum muslimin, tapi juga dari kalangan yahudi dan nasrani. Termasuk dari berbagai budaya yang berbeda, yunani, india, dan cina. Dalam hal ini, Amira Bennison mengatakan:

“…..and people from different religious backgrounds were welcomed Christians, and Jews, and Zoroaster. There’s no objection to anyone, many faith or any sect attending at the majlis. The criteria for participation really is to be able to argue a point well in elegant Arabic rather than into have a particular standpoint”

Mereka berasa dari berbagai latar belakang agama, Islam, Christian, Jews, dan Zoroaster. Baghdad kala itu memang menjadi magnet yang sangat kuat bagi para pemburu ilmu. Komitment khalifah untuk menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan terlihat dari tingginya gaji yang ditawarkan bagi para penerjemah manuskrip-manuskrip yunani, india, dan persia ke dalam bahasa Arab.Wilayah kekhalifahan dinasti Abbasiah memang sangat luas dan tidak hanya mencakup wilayah yang dihuni oleh bangsa Arab. Berbagai suku dan bahasa berada dalam wilayah kekhalifahan. Atas hal tersebut, dijadikanlah bahasa Arab sebagai lingua franca yang mempersatukan orang dari berbagai latar belakang suku. Itulah mengapa penerjemahan karya para filosof yunani  dilakukan dalam bahasa Arab.

Menurut Amira Bennison para penerjemah tersebut bisa mendapatkan 500 dinnar, atau setara dengan 24 ribu dollar per bulan untuk ukuran saat ini. Tentu, tingginya pendapatan tersebut juga mencerminkan kualitas hasil terjemahan. Iklim toleransi yang memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk terlibat dalam gerakan penerjemahan telah menarik minat para ilmuan dari segala penjuru untuk datang ke Baghdad. Dalam video Empire of the Faith 2 (link https://www.youtube.com/results?search_query=empire+of+faith+part+2) yang dipublikan oleh PBS Baghdad diilustrasikan sebagai “the jewel of the world”.

Disebutkan dalam video tersebut, abad ke delapan, Baghdad adalah pusat study di dunia Islam dan penemuan-penemuan kala itu muncul karena orang-orang terbaik, pemikir, filosof, dan seniman terbaik dari seluruh penjuru datang ke Baghdad. Dikatakan,  “the best people came to Baghdad, the best thinkers, the best philosophers, the best artists came in search of answers, It was a magnet for scholars and intellectuals who came and worked in scholars came from all over the empire”.

Dalam buku 1001 Invention and Awesome Facts from Muslim Civilizations digambarkan bagaimana komitmen Khalifah Al Makmun dalam gerakan penerjemahan. Khalifah Al Makmun menggunakan unta untuk mengangkut manuskrips dari belahan penjuru dunia untuk dibawa ke baitul hikmah atau the house of wisdom. Disebutkan juga bahwa di pusat kota Baghdad kala itu berdiri 36 perpustakaan, dan lebih dari ratusan toko buku.

Cendikiawan Islam

Dari hause of wisdom ini kita mengenal Al Kindi, the first philosopher of Islam. Menurut mbah Wiki, Al Kindi ini adalah “a Muslim Arab philosopher, polymath, mathematician, physician and musician”. Dalam filsafatnya, Al Kindi mengadaptasi filsafat yunani berdasarkan ajaran Islam. Masih menurut mbah Wiki yang dikutip dari buku Peter Adamson (2006) yang berjudul “Al-Kindı and the reception of Greek philosophy”, aktivitas penerjemahan dan pengkajian atas filsafat merupakan bagian dari perjalanannya untuk mencapai kematangan intelektual hingga membuatnya mampu melahirkan berbagai karya original. Mulai dari metafisik, etik, logika, psikologi, hingga kedokteran, farmasi, matematika, astronomi, astrologi, dan optik. Bahkan, ia juga menuliskan berbagai hal tentang parfum, pedang, perhiasan, gelas, pewarna, zoologi, cermin, meteorologi, dan gempa bumi. Menurut Ibn al-Nadim, Al-Kindi telah menulis setidaknya 260 buku, kontribusi utamanya dalah geometry (22 buku), medicine and philosophy (masing-masing 22 buku), logika (9 buku), and fisika (12 buku). Woooow…

Al Kindi hanyalah salah satunya, ada Al Khawarizmi, Ibnu Sina, Al Biruni, Al Farabi, dan lain sebagainya. Ibnu Sina, atau Avicenna adalah Imuan yang hingga kini bukunya masih menjadi rujukan di Barat. Sebagaimana Al Kindi Ibnu Sina juga menulis ratusan karya, 450 karya, yang masih ada 240, 150 tentang filsafat, dan 40 tentang dunia kedokteran. Karya spektakulernya adalah the canon of medicine.

Menelusur ilmuan pada masa the golden age of Islam memang sangat menarik. Ada banyak hal yang bisa terus digali, dikaji, dan diambil pelajaran. Jika anda tertarik, anda bisa menelusuri dengan google atau youtube, termasuk para ilmuan dan hasil temuan-temuannya. Dalam tulisan ini saya hanya ingin menekankan pada dua hal, yaitu bagaimana ilmu pengetahuan dipergulirkan dari masa yunani kuno hingga saat ini dan buku sebagai warisan peradaban.

Perguliran Ilmu antar peradaban

Golden Age of Islam salah satunya ditandai dengan gerakan penerjemahan pengkajian karya filosof Yunani, seperti Plato dan Aristoteles. Sebagaimana judul buku yang ditulis para ilmuan barat ―Jim Al Khalili yang berjudul House o Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance; atau John Freely dengan bukunya Light from the East: How the Science of Medieval Islam Helped to Shape the Western World; atau kah lagi karya Jonathan Lyon yang berjudul The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization; dan masih banyak lagi ― era the golden age of Islam memegang peranan penting bagi pengembangan Ilmu pengetahuan di dunia Islam. Di kemudian hari, karya terjemahan dan manuskrip Arab tersebut diterjemahkan kedalam bahasa lain. Bahasa Yunani pun menerjemahkan kembali karya Aristoteles ke dalam bahasa mereka. Perlu diketahui bahwa pada masa kejayaan Islam, dunia barat telah mengalami kemunduran. Makanya, pada saat Islam mengalami the golden age, barat tengah mengalami the dark age dimana banyak manuskrip para filsafat yunani kuno dibakar dan para ilmuan tidak mendapat tempat karena, dianggap bertentangan dengan agama yang dianut penguasa pada saat itu.

Menilik aktivitas di Baitul Hikmah atau the house of wisdom pada masa itu, tentu juga tidak bisa menafikkan peran para filosof Yunani. Penerjemahan filsafat Yunani, seperti Aristoteles, Plato, dan Galen, memberikan landasan lahirnya penemuan-penemuan di masa kejayaan Islam. Sebaliknya, hasil temuan-temuan para cendikiawan Islam serta karya tulis yang dihasilkan oleh, sebut saja, Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Haytham, Al Khawarizmi, dan lainnya juga telah menjembatani kebangkitan peradaban barat. Sehingga, atas hal ini beberapa buku terkait dengan the golden age of islam menyebutnya sebagai: the arabs transformed western civilization.

Bukankah ini berarti bahwa baik Islam maupun Barat memiliki peran yang besar terhadap kemajuan yang dicapai hingga abad ini?

Buku sebagai warisan peradaban yang abadi

Dinasti Abbasiyah berakhir ketika tentara mongol berhasil menakhlukkan kota Baghdad. Menurut mbah Wiki, pada tahun 1258 tentara Mongol berkekuatan sekitar 200.000 orang dibawah kepemimpinan Hulagu Khan kota Baghdad dihancurkan rata dengan tanah. Sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan ikut pula dibumihanguskan oleh pasukan mongol tersebut. Bisa dibayangkan seandainya pada masa kejayaan Islam sang khalifah hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur kota. Bisa dibayangkan seandainya sang khalifa tidak menganggap gerakan penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai sebuah “treasure”. Akankah, jejak sejarah kejayaan peradaban Islam bisa ditelusur? Bayangkan seandainya Ibnu Sinna, Al Kindi, Al Khawarizmi tidak pernah menuliskan ilmu yang dimilikinya. Akankah fakta sejarah tersebut terungkap manakala infrastrukur fisik kota telah dihancurleburkan?

Mattew E Falagas, Effie A. Zarkadoulia, dan George Samonis dalam paper berjudul Arab Science in The Golden Age (750-1258CE) mengutip salah satu hadist “”the ink of the scholar is more sacred than the blood of the martyr” atau “Midaadul ‘Ulama Khoirun min Dimaa’i asy-Syuhada“ atau “Tinta Ulama lebih utama dari darah para suhada“. Mereka menekankan bahwa hadist tersebut menjadi salah satu sumber energi pengembangan ilmu pengetahuan baik oleh sang khalifah maupun para ulama pada masa the golden age of Islam.

Penerjemahan secara masif karya-karya yunani, penerbitan buku, tradisi pengkajian dan penyebaran ilmu adalah manifestasi dari salah dari sekian banyak pesan-pesan Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui tradisi literasi. Bukankah Al Qur’an adalah juga berupa kalimat Ilahi yang sampai kepada kita melalui proses penulisan? Dan, dari sekian banyak mukjizat yang diturunkan kepada seluruh nabi dan rasul, Al Qur’an adalah mukjizat yang abadi dan teragung? Lagi-lagi, bayangkan seandainya Rasulullah tidak pernah memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya…..

Wallahu A’lam

Link Video:

  1. Empire of state:
  2. Translation movement
  3. https://www.youtube.com/watch?v=k5cl-hVH1YA

2 thoughts on “The House of Wisdom: Kontribusi Islam dalam Kebangkitan Peradaban Barat

  1. Mbak Ana….dan namaku Failasufah.. tapi bukan seorang filosof wanita…🙂🙂 filosof itu pinter banget ya mbak? menguasai berbagai disiplin ilmu.. jadi pada masa itu nggak ada spesialisasi ya mbak?
    Mbak saya jd bertanya-tanya adakah pada masa aristoteles, socrates dan plato…adakah seorang filosof wanita?
    ayo dong mbak kapan2 nulis tentang itu…
    Ngomong2…asal kata filsafat katanya dari bahasa yunani philos dan sophia ya mbak? philos artinya cinta dan sophia artinya kebijaksanaan / ilmu pengetahuan? jadi failasufah adalah orang yang cinta ilmu pengetahuan? kalo gitu cocoklah kalau saya jadi guru🙂🙂
    kalo baca2 tentang kejayaan islam di masa silam….ingin rasanya pergi ke spanyol…. doakan ini bukan hanya mimpi ya mbak….. Amin….

    1. makasih dah mampir mbak failasufah, iya..ya…harus ditelusur itu…jadi penasaran. Benar artinya cinta kebenaran. trus terang sy juga penasaran gimana caranya para ilmuan tersebut bisa menguasai berbagai ilmu..cuma nampaknya memang setelah saya baca2 antara ilmu satu dengan yang lain sepertinya saling terkait. sayangnya masih blur di kepala saya. smoga nanti semakin lama semakin jelas gimana para filosof tersebut bisa menguasai banyak ilmu sehingga generasi masa kini bisa mengikuti jejaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s