Sehari sebelum hari raya..

Kau tau nak, hari ini dua tahun lalu adalah hari yang selalu kuingat. Saat itu kita baru beberapa minggu tiba di kota ini. Dan kau, ya usiamu baru jalan tujuh bulan. Sama dengan hari ini, sehari menjelang hari raya. Aku ingat saat itu aku sibuk di dapur mempersiapkan menu istimewa untuk keesokan harinya. Tentu saja kau sedang bermain dengam ayahmu dan kedua kakakmu.

Tiba-tiba hpku berbunyi nyaring. Sembari memasak kuterima telfon. Rupanya liason officerku yang menelfon. Awal pembicaaan yang ramah karena dia menanyakan persiapanku menjelang lebaran. Tentu dengan suka cita pula kuceritakan aku masak ini itu. Sayang, tak sampai dua menit kemudian dia menyampaikan sesuatu yang membuatku terdiam. Kabar yang dia bawa sungguh membuatku tak berniat lagi melanjutkan masak-memasak.

Ya, bukan berita kesedihan. Hanya kabar itu membuat kepalaku pening. Ia katakan uang dua mingguanku dipotong karena aku pulang ke Indonesia untuk menjemputmu selama beberapa hari. Bukan perkara mudah bagi kami orang tuamu karena saat itu kami sangat mengandalkan penghasilan itu. Kalaupun diterima utuh pun saat itu aku masih harus menutupi pengeluaran kita dengan penghasilan di Indonesia.

Sejak itu aku baru merasakan hidup sebagai orang yang hidup ‘miskin’ dalam arti yang sebenarnya. Ya, sejak saat itu aku baru memahami apa definisi miskin yang bukan sekedar masalah uang, tapi juga tercerabutnya berbagai kesempatan. Ah, lupakanlah soal definisi itu.

Yang jelas sejak saat itu kepalaku sering dibuat pening karena mengatur keuangan yang benar pas-pasan. Kami orang tuamu memang telah bersepakat untuk menghabiskan waktu menungguimu tumbuh sebelum kami cukup ‘tega’ menitipkanmu di day care. Ya, meski kita hidup dalam keprihatinan. Ah, mungkin aku yang terlalu lebai.

Kau tau nak, kejadiam itu membuatku mengerti arti kebahagiaan saat datang tanggal 1. Yaitu, tanggal dimana aku menerima gajiku. Aku masih teringat betapa leganya aku saat tanggal itu tiba. Dan, aku juga baru meresakan betapa bingungnya aku saat gajiku tertunda hanya dalam beberapa hari saja. Selisih beberapa hari ternyata cukup mengganggu pikiranku.

Sebaliknya, setiap akhir bulan aku sering was-was kalau-kalau uang yamg aku miliki tak bisa menutup pengeluaran kita.

Tapi, ditengah kebingunganku aku sering mentertawakan diriku sendiri. Ya, aku bersyukur karena diberi kesempatan menikmati dan memaknai hidup menjadi orang miskin. Tentu saja, termasuk kesempatan untuk mensyukuri setiap sen yang aku miliki. Beberapa kali aku menunda niatku ke kampus untuk menghemat pengeluaranku. Atau, entah berapa kali harus kukatakan tidak kepada kakak-kakakmu saat mereka merengek meminta camilan ini dan itu.

Di saat-saat aku mengingat itu anganku kembali melayang ke masa itu. Saat kau baru belajar merangkak hingga kau berhasil melangkahkan kaki-kaki kecilmu. Aku juga teringat, saat-saat kau tertidur dipundakku dan pada saat itulah aku selalu menatap cermin sembari mperhatikanmu tertidur pulas. Sungguh satu pemandangan yang selalu membuatku damai. Ya meski berbagai tantangan hidup harus kuhadapi aku masih tetap bias tersenyum.

Nak, kalau dulu aku bisa menata semua kesulitanku menjadi sesuatu yang aku syukuri, tidak demikian dengan saat ini. Bahkan, aku masih terus berusaha keras mengubah kesedihanku menjadi sebuah kesyukuran karena diberi kesempatan membesarkanmu meski hanya sesaat. Ya, aku masih belum bisa menatapmu tanpa tetesan air mata. Aku belum sanggup mengubah kelucuanmu menjadi sebuah kenangan indah yang membuatku tersenyum.

Aku belum sanggup, Nak.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s