Untuk Aufa…anakku

20150303_185538

Nak, hari ini aku mencoba memulai kembali aktivitasku seperti saat engkau ada di sini bersamaku. Dua puluh hari sudah engkau tak bersamaku. Berat rasanya. Bukan hanya rasa rindu untuk bisa kembali mendekapmu, tapi juga rasa sedih saat mengingat saat-saat terakhirmu. Saat itu engkau tengah merasakan sakit tak terkira yang aku sendiri tidak sanggup mengingatnya. Ya, kau tak banyak menangis. Rasa sakit itu kau tahan begitu rupa. Tapi aku bisa melihat bagaimana engkau menahannya lewat bibirmu.

Dan kini aku di sini duduk di depan layar mengetikan kata demi kata untukmu. Masih seperti dulu saat aku kembali mencoba terbangun untuk mengerjakan tugasku. Kala itu sesekali kau memanggilku dengan suara tangisanmu di tengah malam atau dini hari sekedar untuk meneguk segelas air putih. Lalu, kau pun tertidur pulas kembali hingga pagi menjelang.

Aku merindukan itu. Merindukan seluruh kesibukanku saat bersamamu. Saat aku harus memasak sembari memperhatikanmu bermain. Saat harus memikirkan tugasku sementara kau tak bisa tidur karena batuk. Saat harus menemani kakakmu belajar sementara kau memintaku menjagamu duduk di atas meja belajar. Atau, saat aku ingin istirahat sementara kau merengek mengajakku bermain di luar rumah bersama kaka-kakakmu.

Aku merindukan semua itu. Aku mengangankan kembali melakukan semua itu bersamamu.

Kini, kau berikan aku waktu yang sangat banyak. Bahkan teramat banyak. Hingga aku merasa asing dengan waktu yang saat ini aku miliki. Tentu saja. Karena waktu yang sangat banyak ini adalah waktu tanpa ada kau di sini.

Mau kah engkau tau apa yang aku lakukan dengan waktuku? Seperti biasa, aku tetap memasak, mencuci piring, menjemur, membersihkan kamar, membuang sampah, dan mengantar jemput kakak-kakakmu sekolah. Selebihnya, aku menari-nari bersama bayanganmu. Ya, setiap sudut di rumah ini dan setiap benda yang ada di rumah ini mengingatkanku padamu. Apa lagi setiap aku menatap baju dan sepatu yang kini tak lagi kau gunakan.

Aku juga sering mendapati diriku berlama-lama membuka foto dan video mu. Sungguh, sebenarnya aku tak sanggup. Hanya saja, saat rinduku tak tertahankan, kucoba lagi menatapmu meski tak sanggup kubendung air mataku.

Aufa, anakku. Hari ini, saat ini aku mencoba kembali menata hati agar aku bisa bangkit dan menjalani hidup tanpamu. Aku bertekad untuk melakukan segalanya lebih baik. Aku bertekad untuk mendidik dan menjaga kakak-kakakmu dengan sungguh-sungguh. Aku bertekad untuk kembali mendekatkan diri dengan Sang Penciptamu dan Rasulullah. Aku percaya, kematianmu bukan hanya cobaan buatku. Tapi juga teguran yang maha dahsyat agar aku memahami bahwa tiada daya dan kekuatan tanpa-Nya.

Ya, Aku bertekad untuk menggunakan seluruh waktuku sebaik-baiknya….agar suatu saat kelak aku bisa mendekapmu kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s