Yaman…Apa Kabarmu Sobat?

Entah mengapa dada saya terasa terkoyak setiap kali mengingat wanita itu dengan ketiga anaknya. Masih teringat saat terakhir saya berjumpa dengannya. Kala itu dia hanya menatap saya dengan sesungging senyuman. Lalu, ia katakan: Allah akan selalu bersamamu. Ia pun memeluk saya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kedua gadis kecil kami yang kebetulan di duduk grade yang sama di Moreland Primary School (MPS).

Wanita tersebut adalah ibu dari sahabat Amira dan Ayla. Satu lagi anak lelakinya duduk di grade 2. Masih ingat kali pertama bertemu. Selang beberapa hari Amira mulai bersekolah, datanglah murid baru. Amira katakan, namanya Maryam. Merasa sebagai sesama anak baru, sesama muslim, dan non-english speaker jadilah mereka berteman akrab. Hampir setiap hari usai sekolah Amira menceritakan aktivitasnya di sekolah sembari tidak lupa menyebut nama Maryam. Boleh dibilang, Maryam adalah bagian hidupnya di sekolah.

Masih teringat celotehan Amira kala itu. Ia katakan: Bunda, enak itu Maryam. Saat saya tanyakan kenapa, ia pun menjawab: Iya, Maryam kan pintar bahasa arab. Jadi nanti kalau sudah meninggal bisa menjawab pertanyaannya Malaikat. Saat itu saya hanya tersenyum sambil menjelaskan bahwa dia juga bisa asal mau belajar. Malah, ia bisa belajar bahasa Arab langsung dari native speaker. Ya, wanita dan ketiga anaknya itu berasal dari Yaman.

Setengah tahun menapakkan kaki di Melbourne, Ayla pun mulai masuk di Kindergarten. Di sini lah ia menemukan sahabatnya, Batol, yang tak lain dan tak bukan adalah adik Maryam. Sebagaimana Amira, Ayla pun selalu menyebut Batol di rumah. Berbeda dengan Amira, persahabatan Ayla ada pasang surutnya. Ada suatu saat dimana mereka tidak saling bicara. Tapi, begitulah fitrah anak-anak. Tak berapa lama mereka pun kembai berteman karib.

Sering baik Amira maupun Ayla menyatakan keinginannya untuk bermain ke rumah sahabat mereka. Saya sendiri selalu mencari alasan untuk menolaknya. Bukan apanya, jarak rumah kami lumayan jauh, sekitar 1 km. Tak terlalu jauh sih sebenarnya. Hanya saja, rasanya saya cukup kerepotan kalau harus bolak balik berjalan kaki mengantar jemput mereka. Selain itu saya sendiri merasa tidak enak, takut mengganggu kalau kami datang ke rumah mereka.

Suatu ketika hati saya pun luluh melihat gadis kecil Yaman usia 5 tahun itu menangkupkan kedua telapak tangannya sembari menatap saya: please….. setelah berulang kali dalam beberapa kesempatan Ayla mengatakan bahwa sang sahabat memintanya datang kerumah. Kala itu saya hanya menjawab: Ok, but not today. Kepada Ayla saya menyanggupi untuk mengantarkannya kerumah sahabatnya. Syaratnya, saya harus bicara dengan ibunya terlebih dahulu.

Begitulah, saat hari yang dinantikan tiba Amira dan Ayla begitu bersemangat. Dimalam hari sebelum hari H mereka sangat sibuk merancang berbagai rencana apa saja yang akan mereka lakukan. Demikian halnya saat kami pulang kerumah, mereka berdua terlihat begitu bahagia. Bahkan, mereka pun sudah merengek menanyakan kapan main lagi ke rumah sahabatnya.

Sejak saat itu saya pun menjalin keakraban dengan sang ibu. Saya sendiri sangat antusias mengetahui bahwa ia berasal dari Yaman. Saat mengantar Amira saya sempatkan bertanya banyak hal. Bagaimana Yaman, apakah negaranya sesejatera Saudi? Bagaimana hak-hak perempuan di sana. Jujur, saya agak kaget saat ia katakan bahwa di negaranya banyak orang miskin. Dalam bayangan saya, kebanyakan negara dikawasa timur tengah memiliki sumber daya minyak. Ia katakan bahwa Yaman tidak memiliki minyak sebanyak Saudi. Kesejahteraan rakyat jauh berbeda dengan negara tetangganya itu.

Terkait dengan hak-hak perempuan, ia katakan bahwa wanita Yaman diperbolehkan mengemudi. Merekan juga wajib memakai Burqa sebagaimana di Saudi. Hanya saja saat saya tanyakan apakah wanita di sana boleh bersepeda, ia katakan tidak. Pantas saja, ketika ia mendapati saya menuntun sepeda saat menjemput Amira dan Ayla dari sekolah ia terlihat agak terkejut. Mungkin ia juga baru tau bahwa di Indonesia wanita diperbolehkan naik sepeda.

Banyak hal yang ingin saya tanyakan. Sayangnya ia mempunyai kendala bahasa. Ini pula yang kemudian menjawab rasa ingin tau saya kenapa jarang sekali ia berbincang dengan orang lain.

Dua hari lalu, saat saya dengar kabar penyerangan Saudi ke Yaman, sungguh saya merasa sangat khawatir. Ingin rasanya segera kembali ke Melbourne dan menanyakan kepadanya: Bagaimana rumahmu? Bagaimana keluargamu? Dan dengan sederet pertanyaan lain yng tak aka habis ditanyakan.

Dalam kasus Yaman, saya tidak tau pihak mana yang benar dan pihak mana yang salah. Sungguh karena begitu banyak berita yang masing-masing pihak mengklaim kebenaran. Di satu pihak, mendukung penyerangan Saudi dan sekutunya terhadap Syiah Houti. Di lain pihak, menyalahkan Saudi atas penyerangan tersebut.

Perang Yaman bagi saya sesungguhnya sama dengan perang di Suriah yang hanya menimbulkan keprihatinan mendalam. Terlebih lagi saat kedua kubu menyuarakan nama Allah ketika mereka saling menggempur. Fakta yang pasti terlihat adalah porak poranda-nya kota. Rakyat sipil, anak-anak dan wanita jelas menjadi korban.

Mungkin tak seharusnya kita membela pemerintah berkuasa atas nama mempertahankan kedaulatan dengan membombardir para pemberontak dalam kasus Yaman dan Suriah. Pun tak seharusnya kita membela para pemberontak. Bagi saya, kedua kasus ini justru menunjukkan kelemahan pemerintahan baik yang dipimpin oleh Sunni maupun Syiah. Di Suriah, pemerintah berdaulat memiliki faham Syiah. Sebaliknya, di Yaman pemerintah berkuasa berasal dari Sunni.

Logika sederhana saya mengatakan bahwa keduanya, pemerintah yang berfaham sunni atau syiah telah gagal menciptakan harmoni. Pemerintah Yaman dan Suriah telah gagal meredam ketidakpuasan di masyarakat hingga memunculkan radikalisme di level bawah, sunni maupun dari pihak syiah, di level bawah.

Mungkin kita bisa bersorak sorai mendukung salah satu pihak sebagaimana saat kita menonton pertandingan bola karena kita tidak merasakan dampak dari perang. Ya, karena saat ini kita hanya menyaksikannya dari layar TV. Ya karena saat ini kita hanya menyaksikan adegan pertumpahan darah dari jarak jauh. Ya karena saat ini kita hanya membaca teks berita pertikaian nun jauh dari medan laga tanpa merasakan kekhawatiran, tanpa merasakan suasana mencekam, hingga akhirnya kita harus memasrahkan ajal.

Barangkali, selayaknya kita bisa mengambil pelajaran untuk tidak terjebak pada fanatisme golongan. Bukankah tidak mungkin suatu saat kelak kita akan di-Yaman-kan, atau di-Suriah-kan jika kita terlalu asyik bertikai sendiri? Selayaknya pula rasanya kita harus mulai mengedepankan kesatuan dan menghargai perbedaan dalam segala hal. Karena masalah Indonesia begitu banyak. Tinggal, ada di level mana kita menjadi potongan puzzle yang membentuk potret indah Indonesia tercinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s