Sesuaikah system pendidikan Austalia untuk anak Indonesia? (2)

Kali ini saya akan coba lanjutkan pembahasanan tentang system pendidikan Australia untuk anak Indonesia. Gagasan Ibnu Khaldun terkait siklus sepertinya pas untuk menjawab: generasi seperti apa yang seharusnya kita bentuk.

Langsung saja, mari kita lihat siklus Negara versi Ibnu Khaldun. Untuk ringkasnya saya kutipkan dari mbah wiki ya soalnya buku saya ketinggalan di Makassar je. Yang jelas Ibnu Khaldun mengaitkan siklus Negara ini dengan teori ‘ashabiyyah’ (untuk penjelasan terkait ashabiyyah silakan lihat link http://www.warungkopipemda.com/?p=3008 atau anda bisa menggoogle sendiri). Ibnu Khaldun membuat teori tentang tahapan timbul tenggelamnya suatu negara atau sebuah peradaban menjadi lima tahap. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tahap pertama adalah tahap sukses atau tahap konsolidasi, dimana otoritas negara didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah) yang berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya.
  2. Tahap tirani, tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Pada tahap ini, orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang ingin turut serta dalam pemerintahannya. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya.
  3. Tahap sejahtera, ketika kedaulatan telah dinikmati. Segala perhatian penguasa tercurah pada usaha membangun negara.
  4. Tahap kepuasan hati, tentram dan damai. Pada tahap ini, penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya.
  5. Tahap hidup boros dan berlebihan. Pada tahap ini, penguasa menjadi perusak warisan pendahulunya, pemuas hawa nafsu dan kesenangan. Pada tahap ini, negara tinggal menunggu kehancurannya.

Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu:

  1. Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya.
  2. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara.
  3. Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa memedulikan nasib negara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu, dan menurut Ibnu Khaldun proses ini berlangsung sekitar satu abad.

Ibn Khaldun juga menuturkan bahwa sebuah peradaban besar dimulai dari masyarakat yang telah ditempa dengan kehidupan keras, kemiskinan dan penuh perjuangan. Keinginan hidup dengan makmur dan terbebas dari kesusahan hidup ditambah dengan ‘Ashabiyyah di antara mereka membuat mereka berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mereka dengan perjuangan yang keras. Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lain (Muqaddimah: 172). Tahapan-tahapan di atas kemudian terulang lagi, dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan Teori Siklus.

Dalam beberapa hal banyak orang, termasuk saya, sering terpukau ketika melihat keberhasilan negara maju. Sehingga, dalam banyak hal sering menganggap perlu untuk mengadopsi apa yang dirasa baik dari Negara maju. Di sisi lain, saya sering melupakan konteks kejadian yang menyebabkannya bias jadi tidak cocok dengan kondisi di negara sendiri.

Beberapa bulan lalu saya sempat menulis tentang banyaknya orang yang ingin menjadi Robert Kiyosaki setelah membaca buku Cash Flow Quadrant dan Rich Dad Poor Dad. Termasuk saya. Mereka meninggalkan karir dan memulai bisnis dengan harapan bisa berpindah quadrant dari E (Employee) atau S (Self-Employee) ke B (Business owner) atau ke I (Investor). Banyak yang berhasil, namun tak sedikit pula yang jatuh karena tidak siap mental. Hingga akhirnya mereka pun kembali ke kuadran sebelumnya.

Dalam tulisan tersebut saya menggarisbawahi pentingnya memahami konteks. Menjadi Kiyosaki di Indonesia jauh lebih sulit daripada menjadi Kiyosaki di Amerika. Menjadi miskin di Amerika masih bisa mencerdaskan anak karena akses dan fasilitas pendidikan yang tersedia untuk seluruh kalangan. Menjadi miskin di Amerika, masih bisa makan karena pemerintah mengalokasikan anggaran jaminan sosial yang tinggi. Berbeda dengan di Indonesia. Miskin ya miskin. Jadinya, orang miskin dilarang sekolah, orang miskin dilarang sakit karena biaya pendidikan dan kesehatan yang tidak terjangkau oleh si miskin.

Kaitannya dengan pilihan model pendidikan anak pun rasanya penting untuk melihat konteks demografi, nilai, serta kebijakan pemerintah yang ditempuh Indonesia maupun Australia. Sebelumnya, mari kita petakan pada tahapan siklus Khaldun mana kah Indonesia dan Australia berada. Mungkinkah keduanya berada dalam tahapan yang sama. Mari kita lihat.

Untuk Australia, sepertinya negeri ini berada pada tahap tahap kepuasan hati, tentram dan damai. Menurut Khaldun pada tahap ini, penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya. Kita bisa lihat dari infrastruktur kota dengan segala fasilitas yang tertata rapi.  Generasinya pun termasuk dalam kategori generasi penikmat, yakni mereka yang diuntungkan karena sang pendahulu telah membangun fondasi dan sistem yang kuat dan mapan. Generasi yang hidup pada masa kini, khususnya generasi muda dan anak-anak, adalah generasi yang tidak merasakan kerja keras pendahulu dalam membangun Australia.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Entahlah, saya sulit memetakan. Menurut anda tahap pertama pertama atau kedua? Peralihan kepemimpinan ke Jokowi sebenarnya bisa saja menempatkan Indonesia pada tahap pertama. Sayangnya, tidak seluruh masyarakat mendukung penguasa baru. Atau, malah tahap dua, yaitu tahap tirani, dimana pada tahap ini penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Bisa jadi tidak juga kalau hanya melihat profil Jokowi cukup sederhana. Hanya saja kalau kita lihat para elit, karakter mereka mirip dengan gambaran Ibnu Khaldun: segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya.

Bagimana dengan generasi apa yang ada saat ini? Pembangun, penikmat, ataukah yang tidak memiliki hubungan dengan Negara?

Saya yakin, anda pun sepakat kalau saya katakan bahwa idealnya generasi yang kita miliki adalah generasi pembangun. Kalaupun para penguasa termasuk dalam kategori tahap kedua, Indonesia akan mampu bangkit jika memiliki generasi dengan karakter pembangun. Lagi-lagi sayangnya, kok sepertinya generasi yang kita miliki adalah generasi jenis ketiga alias generasi alay?

Nah, berdasarkan teori siklus Ibnu Khaldun Indonesia dan Australia berada pada tahapan yang berbeda. Kita berada pada tahapan Tirani, sementara Australia berada pada tahapan ketiga Kepuasan hati. Generasi yang seharusnya ada pun idealnya juga berbeda.

Australia dinilai memiliki system dan fasilitas pendidikan yang lebih baik. Berbagai angka ukuran keberhasilan pembangunan sepertinya membenarkan bahwa tingkat pendidikan yang baik adalah salah satu factor pendongkraknya. Namun demikian, bisakah pendidikan Australia melahirkan generasi yang dibutuhkan oleh Indonesia? Ataukah, pendidikan di Australia memang hanya ditujukan untuk generasi Australia yang karakter dan tantangan yang dihadapi jauh berbeda?

Indonesia membutuhkan generasi yang super luar biasa untuk bangkit menjadi negara yang bermartabat. Indonesia membutuhkan generasi yang tangguh, cerdas dan berani agar mereka mampu menjadi agent of change di lingkungan masing-masing. Jika demikian, bisakah pendidikan yang diterima anak-anak Indonesia di Australia menjadikan mereka sebagai generasi harapan.

Saya pribadi, merasa beruntung anak-anak saya mendapat kesempatan untuk bersekolah di negara maju. Banyak hal baik yang bisa kita petik dan nantinya kita terapkan di negeri sendiri. Hanya saja, sepertinya saya harus mulai bergegas mempersiapkan segala perbekalan agar anak-anak tidak hanya menjadi generasi penikmat, tapi menjadi generasi pembangun. Saya harus mulai mengoreksi pemikiran saya yang selama ini terlalu banyak berharap sekolah akan bisa membentuk karakter sebagaimana yan saya harapkan. Mereka adalah anak-anak yang nantinya akan hidup di dan untuk Indonesia, bukan Australia. Tantangan yang mereka hadapi jelas berbeda. Maka, sudah seharusnya hal ini menjadi PR terbesar saya. Yaitu, mendidik mereka sesuai dengan tantangan yang akan mereka hadapi. Smoga bisa…..

Link: http://birokrasi.kompasiana.com/2014/02/10/hati-hatilah-dengan-robert-kiyosaki-630711.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s