PhD Journey

‘Namanya saja PhD..doctor of philosophy. Analisisnya ya harus filosofis. Harus sampai pada teori dasarnya’. Saya pun hanya manggut-manggut sambil mengiyakan, ‘iya…ya’.

Kesadaan saya akan menatangnya mengambil PhD baru muncul sejak enam bulan lalu. Khususnya sejak bertemu supervisor ke-dua saya yang selalu mempertanyakan setiap argumen saya. Ia pula yang selalu menanyakan hal-hal paling dasar atas proposal saya. Kesadaran itu semakin kuat setelah beberapa bulan belakangan saya mejadwalkan untuk berkonsultasi dengan team Research Ambassador (RAteam) di kampus. Dari mereklah saya mendapatkan pencerahan-pencerahan. Termasuk quote di atas.

Pada awalnya saya begitu percaya diri dengan modal pengalaman kerja bergelut dengan manajemen kinerja selama bertahun-tahun. Pikir saya, cukuplah itu untuk mengantarkan saya mendapatkan PhD. Hahai rupanya tidak demikian. Kerja PhD adalah kerja akademik. Kerja PhD adalah kerja yang membutuhkan banyak membaca, memahami, memikirkan, merenungkan, merumuskan hingga akhirnya menuliskan.

Alhasil saya pun memutuskan untuk bertapa agar lebih berkonsentrasi dan menarik dir dari dunia media sosial. Kesadaran yang terlambat ini akhirnya membuat saya agak kalangkabut karena ternyata banyak hal yang harus saya pelajari. Terutama sebagaimana yang dinyatakan team RA yang kebetulan juga berasal dari Indonesia. Belajar teori sampai akarnya.

Akhirnya saya pun me-list teori-teori yang terkait dengan topik riset saya. Topik saya sebenarnya tentang pemanfaatan informasi kinerja oleh pemerintah daerah. Hanya saja setelah ditelusur kok akarnya panjang sekali. Bahkan hingga saya sampai terbengong-bengong, haruskah semua ini saya pelajari. Menarik sebenarnya. Bahkan sangat menarik. Saya tidak bisa membayangkan kalau semua teori itu saya kuasai. Wow…pastilah banyak tulisan yang saya hasilkan.

Teori-teori tersebut diantaranya: agency theory, institutional theory, public choice theory, black box theory, planned behavour theory, dan banyak lagi. Atau setelah saya telusur pada akar teori manajemen malah mempertemukan saya pada Frederick Taylor, Henry Fayol, Weber, Mintzberg, Ivan Pavlov, DiMaggio, hingga Ibnu Khaldun dan para filusuf pendahulunya. Hffgftyyyuh

Tidak lain dan tidak bukan karena masalah kinerja instansi pemerintah bisa didekati dari beragam dasar ilmu, dari akuntansi, politik, sosial hingga psikologi.

Menarik sebenarnya. Membaca teori-teori tersebut, meski sering pusing karena banyaknya, setidaknya memberikan pemahaman kepada dasar filosofisnya.

3 thoughts on “PhD Journey

  1. Selamat belajar ya Mbak Anna… sukses selalu dan be the best.
    Semoga cepet balik ke Indonesia dan mengamalkan ilmunya bagi kemajuan BPKP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s