Jangan Percaya GDP: Belajar dari Chile

Saya begitu ingin menyapa sejak pertama menatapnya. Wajahnya sangat mirip dengan kawan akrab Amira yang berasal dari Italia. Hari itu hari pertama orientasi di Moreland Primary School untuk Ayla. Sembari menunggu anak-anak diperkenalkan dengan ruangan kelas, sekolah mengajak orang tua sekedar rehat menikmati teh atau kopi serta berbagai camilan setelah diberikan penjelasan tentang program fit 4 school.

Acara semacam itu, selain untuk memperkenalkan program sekolah juga menjadi sarana untuk membangun networking baik sesama orang tua ataupun antara orang tua dengan sekolah. Sambil membawa secangkir kopi saya dekati wanita berambut sebahu yang sedang menggendong batitanya. Setelah say hi dengan percaya diri langsung saya tanyakan apakah ada anaknya yang di grade 3. To the point sekali. Tapi rasanya cukup pas untuk membuka percakapan dengannya.

Saya katakan pula bahwa dia sangat mirip dengan teman sekelas Amira. Hingga saya begitu yakin bahwa dia adalah ibunya. Hahai..rupanya dugaan saya meleset. Ia katakan, mungkin ada orang Amerika Latin juga yang mirip dengannya. Tanpa menunggu panjang saya tanyakan kembali dari negara mana ia berasal. Tahukah anda apa jawabannya, C H I L E.

Entah nikmat apa lagi yang saya terima hari itu. Saya dipertemukan lagi dengan seseorang dari negara yang kebetulan sedang menjadi perhatian saya. Sepertinya, Sang Pencipta hendak memberitahukan jawaban pertanyaan yang selama ini bersarang di kepala melalui orang tua siswa teman Ayla. Begitu antusias saya nyatakan bahwa saya sangat tertarik mencermati Chile. Kisah pertemuan ini ibarat episode ke dua setelah kisah pertemuan sebelumnya dengan IT staff kampus yang juga dari Chile.

Kalau dalam episode lalu saya belum mempunyai informasi sisi lain Chile, di episode kedua ini pertanyaan saya langsung ke sasaran. Apalagi kalau bukan masalah inequality atau kesenjangan sosial. Kalau staff IT sempat merasa bangga dengan prestasi negaranya, wanita dihadapan saya itu justru menatap saya, terdiam sejenak sambil menggeleng-gelengkan kepala saat saya sampaikan angka-angka statistic yang menunjukkan kemajuan Chile.

Ia katakan, kalau kamu mau tau tentang Chile, kamu harus masuk kedalam dan menyelami semua masalah. Jangan mengandalkan angka-angka statistik. Sebelum betemu kedua orang Chile tersebut saya memang pernah mencoba melihat ranking index ginie yang menggambarkan tingkat kesenjangan social masyarakat. Agak ragu saat saya dapati Chile memiliki tingkat kesenjangan yang tinggi hingga saya pun cenderung mengabaikannya.

Ia juga bercerita tentang Pinochet, regim authoritarian yang berkuasa selama 17 tahun dengan para Chicago Boys-nya. Selama masa pemerintahan Pinochet ribuan orang hilang. Kebijakan ekonomi mengadopsi paham neoliberalisme. Untung saya sudah banyak membaca soal Chile dari internet. Sehingga, selain bisa menjadi bahan obrolan juga untuk mengkonfirmasi informasi yang saya dapat.

Memang benar bahwa secara total ekonomi Chile masuk ke dalam high income countries. Hanya saja kekayaan tersebut hanya dinikmati segelintir masyarakat. Kalau anda ingat tentang trickle down effect yang dulu juga menjadi harapan di era Suharto, rupanya tingginya tingkat pertumbuhan tidak menetes kebawah.

Dalam bayangan saya yang namanya high income country apalagi masuk dalam OECD, setidaknya Chile memiliki infrastruktur kota serta berbagai fasilitas pendidikan dan kesehatan yang baik. Ya setidaknya seperti Australia lah. Minimal beda-beda tipis. Apalagi dengan index persepsi korupsi yang menempati ranking atas. Sayang seribu sayang bayangan saya salah.

Di Santiago, ibu kota Chile, memang menjulang bangunan-bangunan menjulang sebagai salah satu hasil kebijakan ekonomi liberalisasi. Namun jika anda melihat sisi lain kota, anda akan dikejutkan dengan pandangan pemukiman kumuh. Demikian halnya dengan pendidikan. Wanita tersebut mengatakan, kalau kamu mau pendidikan yang sangat bagus, kamu bisa menemukannya di Chile. Tapi, kamu harus bayar mahal. Rupanya pemerintah Chile belum memberikan pendidikan yang berkualitas untuk masyarakatnya. Jika begitu, kok indeks pembagunan manusianya termasuk tinggi ya. Hahai…satu PR lagi buat ditelusuri.

Saat saya tanyakan kenapa Chile dianggap sebagai negara yang paling stabil di Amerika Latin, ia menjawab: Iya, kalau dibadingkan dengan Bolivia.

Setelah saya coba usut lagi lewat youtube dan google, Chile memang benar-benar memiliki masalah ketimpangan sosial yang akut. Diantara negara OECD, dikatakan bahwa:

‘In the survey, Chile was rated the country with the largest income inequality. Furthermore, Chile was rated the fourth poorest country of the 34 member states with 18% of the population, that gains less than 50% of the average income. The only countries poorer than Chile are Israel (20.9%), Mexico (20.4%) and Turkey (19.3%). Meanwhile the countries with the lowest level of poverty are the Czech Republic (5.8%), Denmark (6%) and Iceland (6.8%)’.

Tak heran kalau saat saya buka youtube, aksi demo oleh para mahasiswa marak terjadi. Oya dari buku achieving development success: strategies and lesson from the developing world, yang kebetulan sedang ada di tangan saya, dikatakan bahwa selama rentang waktu 1990 hingga 2005 tingkat kriminalitas Chile meningkat secara signifikan. Kasus kekerasan, perampokan dan pencurian meningkat sebesar 124%. Apa lagi penyebabnya selain kesenjanga yang diiringi dengan tingginya angka pengangguran.

Wanita Chile itu juga saya tanya tentang bagaimana dengan pemerintahan saat ini? Adakah kebijakan yang diambil pemerintah saat ini lebih baik dari Pinochet? Sama saja katanya. Memang dalam hal otoriternya Pinochet banyak memakan korban jiwa. Tapi, secara kebijakan ekonomi sama saja. Ia sempat menyebutkan platform partai yang berkuasa saat setelah Pinochet kabarnya saat ini dari left wing. Saya tanyakan kembali, adakah masing-masing partai di negaranya mempunyai platform jelas yang tergambar dari kebijakan yang diambil. Lagi-lagi jawabannya, tidak ada perbedaannya.

Ia juga sempat menyinggung demokratisasi di Indonesia. Sepanjang pengetahuannya sekarang pemerintahan indonesia dari left wings alias sosialis juga. Jujur saya agak bingung menjawab. Apakah PDIP termasuk golongan left wing? Entahlah, saya tidak tau karena semua partai sama saja. Hanya saja, di titik ini lah saya baru menyadari bahwa saya perlu belajar tentang Indonesia secara umum termasuk sejarah. Setidaknya kalau ditanya bisa memberikan penjelasan dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s