Mengembaralah…..

Saya begitu tercekat saat ia katakan, I am from Chile. Hampir setengah berteriak, saya pastikan, “Chile? Really?” Salah satu negara di Amerika Latin itu begitu memikat saya sejak beberapa hari belakangan ini. Negara yang terletak di sebelah timur Argentina itu saya sebut-sebut dalam tulisan saya yang merespon hasil survey Islamicity index. Tahun 2013 lalu Chile dimasukkan oleh Bank Dunia dalam kategori high income countries. (Link tulisan https://anasejati.wordpress.com/2014/11/17/995/)

Lalu, saya katakan padanya lagi, you know, I really want to know many things about Chile. Bagaimana Chile bisa unggul dibanding negara Amerika Latin lainnyanya? bagaimana Chile bisa sejajar dengan negara-negara maju? Apa rahasianya? Sungguh pertanyaan yang begitu bertubi.

Sebaliknya, ia dengan semangat menceritakan satu momen penting yang menjadi tonggak perubahan Chile. Saya bisa menangkap sorot kebanggaannya ketikan dia menceritakan bagaimana negerinya berubah sedemikian rupa meninggalkan Peru, Bolivia, Columbia, Argentina, Brazil, Ekuador dan negara Amerika Latin lainnya.

Bayangkan saja diantara warna-warni merah kecoklatan yang melingkupi bagian selatan Amerika pada pata Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang disusun oleh transparansi internasional, Chile memperlihatkan warna kuning terang. Warna warni yang juga merepresentasikan martabat bangsa karena menunjukkan ranking IPK. Merah hingga coklat menunjukkan rendahnya skor IPK. Yang juga mengindikasikan tingginya tingkat korupsi. Sementara warna kuning, kebanyakan menjadi milik negara yang tergabung dalam OECD, melambangkan tingkat korupsi yang rendah.

Chile tidak hanya dikenal sebagai negara dengan Indeks Persepsi Korupsi yang tinggi, ranking 22 di atas Perancis (23), Austria (26), Spanyol (40) dan Italia (69). Negara bekas jajahan Spanyol dan merdeka sejak tahun 1818 ini mempunyai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tinggi dan menempati ranking 41 dunia. Masih menurut Wikipidia, Chile adalah negara yang paling stabil dan sejahtera di Amerika Latin selain Uruguay.

Sebuah pertemuan tidak saya sengaja yang mengantarkan saya pada serangkaian pertanyaan panjang di kepala untuk terus ditelusur. Senin lalu computer kampus yang biasa saya gunakan untuk menggarap tugas-tugas terpaksa diinstall ulang oleh staff IT Service di Kampus. Cukup lama sebenarnya saya bermasalah dengan computer tersebut. Karena jarang ke kampus dan masih bisa menggunakan computer di library masalah tersebut saya abaikan. Hanya saja hari itu semua computer di library digunakan. Mau tidak mau saya terpaksa ke bagian IT Service.

Hari ini, rabu, saya bisa melanjutkan pekerjaan dengan tenang. Hanya saja, ada masalah baru. Saya tidak bisa mencetak melalui priter di ruangan. Kalau harus mencetak lewat library, wah saya harus membayar per lembar 11 cent. Terpaksalah saya kembali menemui staf IT Service.

Lagi-lagi saya beruntung karena staf tersebut langsung merespon permintaan saya. Setelah ia tuntaskan masalah printer, ia tanyakan kalau ada hal lain yang bisa dibantu. Agak ragu sebenarnya untuk menanyakan. Hanya saja, kalau tidak ditanyakan saya tidak akan mendapatkan kejelasan. Toh tidak ada larangan bertanya. Paling resikonya dijawab: Kami tidak bisa membantu. Saya tanyakan apakah mungkin mereka memberikan solusi atas laptop saya yang hanya punya drive C.

Pada intinya ia katakan itu bukan tanggung jawab IT Service. Mereka hanya bertanggungjawab terhadap penanganan komputer universitas. Hanya saja mereka bisa memberi advice langkah-langkah apa yang bisa saya lakukan untuk membuat partisi hardisk. Akhirnya saya pun membuat appointment kapan bisa konsultasi sembari ia mencatat nama dan waktu yang ditentukan. Terakhir, ia menerka: kamu orang Indonesia ya? Begitulah hingga akhirnya saya pun menanyakan kembali dari mana ia berasal.

Ia sempat mengatakan bahwa tonggak perubahan negaranya adalah ketika Augusto Pinochet, komandan Angkatan Laut Chile, melakukan kudeta terhadap presiden terpilih secara sah yang berasal dari Partai Sosialis pada tahun 1973. Setelah saya telusur di google, Chile mempunyai hubungan dekat dengan Indonesia. Operasi kudeta Pinochet dinamakan Operasi Jakarta yang kabarnya mirip dengan kisah G 30 S PKI dan didukung oleh CIA. Kebijakan ekonomi yang diambil oleh Pinochet pun persis sebagaimana Suharto mendesain arsitektur ekonomi Indonesia. Kalau di Indonesia ada Mafia Barkeley maka di Chile pun ada Chicago Boys. Mereka adalah para ekonom Chile yang mendapatkan beasiswa di Universitas Chicago yang didanai oleh Ford Foundation. Merekalah yang mendesain kebijakan-kebijakan ekonomi, seperti liberalisasi ekonomi, privatisasi BUMN dan stabilisasi inflasi.

Hanya saja terlepas dari segala hal yang membuat saya takjub, ada fakta lain yang tak bisa di sembunyikan. Chile menghadapi masalah ketimpangan pendapatan yang akut. Secara nasional tingkat pertumbuhan ekonomi memang tinggi. Hanya saja menurut Andres Zahler, cendikiawan dari Harvard Center for International Development dan professor di Diego Portales University di Chile ini kabarnya 20% dari penduduk Chile mempunyai penghasilan sebagaimana penduduk di negara maju. Sisanya, berpenghasilan tak lebih dari penduduk negara middle dan low income countries. Hmmmm…menarik untuk ditelusur lebih jauh. Kebetulan lagi, setelah menelusur library kampus saya baru saja mendapatkan satu buku yang menjawab secara lebih lengkap strategi pembangunan Chile. Judulnya: Achieving Development Success: Strategies and Lessons from the Developing World. But that’s another story.

Kita lanjutkan saja dulu petualangan saya hari itu. Pagi di hari yang sama saya duduk bersebelahan dengan seorang wanita dari Eritrea di tram. Usai mengklarifikasi invoice dari Royal Children Hospital (RCH) atas perawatan Aufa, anak bungsu saya, sebulan yang lalu saya bergegas menuju kampus. Seperti biasa, pagi hari tram penuh. Saya terpaksa berdiri. Tak lama kemudian ada bangku kosong. Saya tidak berniat duduk karena jarak tempuh dari hospital ke kampus tidak terlalu jauh. Hanya saja, wanita disebelah bangku kosong tersebut menjawil dan mempersilakan saya duduk di sebelahnya.

Seperti sapaan yang biasa di sini, dia menanyakan: where are you from? How long have you been here? Are you student? Hingga akhirnya ia mengatakan Eritrea saat saya balik bertanya. Sayangnya wanita ramah itu segera turun dari tram disaat saya begitu antusias ingin bertanya banyak hal. Eritrea sempat menjadi perhatian saya karena negara tersebut juga masuk dalam survey Islamicity index. Eritrea juga disebut oleh Reza Aslan dalam wawancara spektakulernya dengan CNN. Siapakah Reza Aslan? Atau bisa jadi anda sudah mengenalnya karena wawancara tersebut sangat menghebohkan publik di Amerika awal Oktober 2014 lalu. Lagi-lagi, that’s another story.

Kembali ke laptop. Beberapa hari lalu, Aufa memulai hari-harinya di day care yang kebetulan letaknya tepat di sebelah unit yang saya tinggali. Tahukah anda siapa sang pengelola day care tersebut? Ya, pengasuh Aufa adalah wanita dari Irlandia. Dan tahukah anda apa hubungan Irlandia dengan saya? Tak lain dan tak bukan, Irlandia juga saya sebut-sebut dalam tulisan saya yang merespon hasil survey yang dilakukan oleh Scheherazade S. Rehman and Hossein Askari. Irlandia adalah negara yang menempati posisi pertama dalam survey how Islamic is Islamic countries. Negara tersebut oleh beberapa media nasional diberitakan sebagai negara paling Islami.

Hari pertama menjemput Aufa, tak sabar saya nyatakan penasaran saya tentang Irlandia. Jawaban pertamanya cukup membuat saya bertanya-tanya. Katanya, hidup di Australia jauh lebih enak dibandingkan di Irlandia. Katanya lagi, di sini penghasilan jauh lebih tinggi. Lagi-lagi saya hanya bisa menjawab: Really? Ya bagaimana tidak, indeks komparatif seperti yang dikeluarkan oleh transparansi internasional, world bank ataupun OECD selalu menempatkan Irlandia di ranking atas, tentu saja di atas Australia. Tapi, Begitulah. Konon beberapa tahun lalu Irlandia sempat terkena dampak krisis ekonomi global yang meningkatkan jumlah angka pengangguran. Hingga akhirnya ia pun mencoba mengadu nasib di Australia karena lama tidak mendapatkan pekerjaan. Katanya, kualitas pendidikan di Irlandia memang bagus. Gratis hingga perguruan tinggi, khusus untuk S1. Terlepas dari segala hal positif yang diketahui dunia, negara dengan jumlah penduduk sekitar 4,5 juta menurut versi data OECD ini rupanya menghadapi masalah akut lalu lintas. Kok bisa? Lagi-lagi, yet another story. Tambah satu lagi PR saya.

Seminggu yang lalu saya bertemu dengan seorang mahasiswi satu kampus yang berasal dari negara yang beribukota di Kathmandu dengan gunung tertinggi di dunia, Mount Everest. Saya bertemu dengannya saat mengikuti research poster exhibition yang diselenggarakan kampus saya. Jujur saat saya mencermati posternya saya tidak paham sama sekali. Maklum, sebagai mahasiswa dengan background social science, sulit rasanya memahami reaksi-reaksi kimia sebagaimana yang menjadi topik penelitian mahasiswi tersebut. Hanya saja, saya coba untuk membuka percakapan dengannya. Saya katakan sejujurnya, saya tidak paham apa yang dia teliti. Dengan riang ia pun menyatakan bahwa itu hal biasa. Memang topik risetnya sangat spesifik. Dan terakhir, saya tanyakan dari negara mana ia berasal. Dan taukah anda bahwa Nepal, negara mahasiswi tersebut, adalah negara yang pernah saya sebut dalam video singkt yang saya buat di tahun 2012. (Link video https://www.youtube.com/watch?v=8Ww8FIVNK1A)

Chile, Eritrea, Irlandia, Nepal….adakah semua ini sebuah kebetulan? Di kota ini saya ‘secara tidak sengaja’ dipertemukan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Mereka adalah orang-orang yang mengantarkan saya pada serangkaian petualangan pemikiran. Mereka pula yang megantarkan saya untuk menjawab: mengapa saya terdampar di kota ini?

Keberadaan saya di negeri dengan penduduk yang berasal dari dua ratusan negara ini tentu bukanlah sebuah kebetulan. Juga bukan tanpa kesengajaan kalau suatu ketika saya dapati diri saya berada di tengah-tengah kerumunan orang dari berbagai ras tengah menunggu lampu merah di depan Flinders Station di kota Melbourne ini.

Ya…apalah lagi kalau bukan sebuah pertanggung jawaban untuk menjelajah, menggali, mengejar, dan memunguti ilmu dan hikmah yang terserak untuk kemudian membagikannya demi Indonesia tercinta.

Di sini pula saya mencoba belajar melihat Indonesia dengan lebih arif. Indonesia bukanlah Denmark, New Zealand, Finlandia, Swedia, Singapura, Swiss, Belanda, Canada, ataupun Australia yang jumlah penduduknya hanya satu juta, lima juta, sepuluh juta, atau tiga puluh juga. Indonesia juga bukan Amerika yang telah membangun demokrasi sejak beberapa abad lamanya. Indonesia juga bukan Inggris yang pada saat mereka sibuk menjelajah, kita tengah menjadi bangsa yang terjajah. Pun Indonesia bukanlah Yunani ataupun Mesir dengan para filusufnya yang memberikan sumbangan besar terhadap lahirnya peradaban dan menjadi pusat ilmu pengetahuan di dunia. Indonesia juga bukan Jepang yang telah memperkenalkan pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi sejak 1872 sebagai hasil Restorasi Meiji.

Indonesia adalah Indonesia dengan jumlah penduduk 237 juta orang yang menempati urutan ke-empat dunia dan tersebar di 17.508 pulau. Indonesia adalah Indonesia yang baru memiliki kemerdekaan pada tahun 1945 setelah tiga setengah abad lamanya dijajah. Indonesia adalah Indonesia yang memiliki 300 kelompok etnis yang masing-masing memiliki warisa budaya yang berkembang selama berabad-abad. Indonesia adalah Indonesia yang baru saja memulai proses demokrasi yang sebenarnya setelah tahun 1998. Indonesia adalah Indonesia yang masyarakatnya baru menikmati kebebasan mengeluarkan pendapat kurang dari dua puluh tahun yang lalu. Indonesia adalah Indonesia, dengan masyarakatnya yang terdiri dari berbagai suku bangsa, Bahasa, dan agama. Indonesia adalah Indonesia yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Indonesia adalah Indonesia yang sekitar tahun 770 masehi dibawah Wangsa Syailendra telah membangun mahakarya seni rupa Candi yang terbesar di dunia dengan 2.760 panel relief mengiasi di dindingnya. Indonesia adalah Indonesia yang pada masa 9-10 masehi dengan Kerajaan Sriwijaya-nya mampu menguasai jalur perdagangan di Asia tenggara. Bahkan, Sriwijaya pernah menguasai Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Filipina. Indonesia adalah Indonesia yang pernah memiliki presiden, BJ Habibie, sebagai pemegang 46 paten di bidang aeronautika dunia. Indonesia adalah Indonesia yang dengan segenap kekuatan seluruh masyarakat mampu menumbangkan sebuah rezim.

Indonesia adalah Indonesia yang harus kita cintai sebagaimana adanya. Indonesia adalah Indonesia yang harus kita pelihara bersama. Kalau lah saat ini Indonesia sering bertengger di ranking terakhir dalam berbagai survey lembaga internasional barangkali memang ada yang salah dengan tata kelola negara kita. Kalau lah saat ini kita banyak mendapati para petinggi yang korup, barangkali ada yang salah karena kita membiarkannya menjadi pemimpin. Kalau lah saat ini kita belum menemukan sosok pemimpin harapan, mungkin justru kita yang harus tampil memberi contoh bagi mereka dan dunia: bahwa ditengah segala keterpurukan, Indonesia memiliki masyarakat yang hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s