Hati-hatilah memilih tempat tinggal di Australia

Bagi Kate, bisa jadi saya diibaratkan hantu. Ah…mungkin saya saja yang terlalu lebay. Saya memang sengaja menjelmakan diri menjadi hantu bagi Kate. Hantu yang selalu siap membayang-bayanginya setiap hari hingga semua masalah saya dituntaskan. Sejak awal, sebenarnya sudah mulai ada keraguan untuk menandatangani kontrak di unit baru. Hanya saja, kala itu saya sudah tidak mempunyai pilihan lain. Hingga akhirnya saya pun berurusan dengan serentetan masalah panjang yang terlihat sepele namun sangat menyita pikiran.

Kate adalah property manajer pada realestate agent untuk unit yang saya tempati saat ini. Setiap ada masalah terkait unit dia lah yang bertanggungjawab menindaklanjuti. Sayangnya, unit yang saya tempati banyak sekali masalahnya. Sayangnya lagi, ia juga satu-satunya property manager di realestate agent tersebut. Jadilah masalah saya yang terlihat sepele menjadi terlihat banyak di matanya karena hanya dia yang menangani.

Saya akui, saya kurang teliti mencermati unit tersebut saat inspeksi beberapa minggu sebelumnya. Waktu 15 menit saat inspeksi seharusnya saya gunakan untuk memeriksa secara detil unit tersebut. Dari blind, toilet, kompor, halaman belakang, garasi, termasuk kran-kran. Sayangnya saya gagal di urusan pertama. Saya hanya mengedarkan pandangan di setiap ruangan. Saat itu semua terlihat baik-baik saja. Ya, sudahlah apply saja. Apalagi saya sudah di tolak pada dua unit yang saya minati.

Begitu kunci di tangan, setelah membayar bond dan sewa bulan pertama, segera saya cek semua meski belum secara detil sekaigus mengisi conditional report. Saat itu saya memang disibukkan beres-beres unit yang lama. Di saat yang sama saya harus bertemu supervisor saya karena beliau akan off campus selama beberapa minggu. Begitu masuk dapur, duh, kompor tidak menyala. Kompor tidak menyala berarti ancaman terhadap rencana pindah. Segera saya, kembali ke kantor agent dan melaporkan. Katanya, Kate, property manager yang bertanggungjawab jika ada masalah, tidak ada di tempat. Customer service hanya mengatakan akan menyampaikan komplain saya ke Kate.

Kala itu hari sabtu. Hingga Senin sore saya tidak mendapat kabar kapan kompor diperbaiki. Kembali saya harus ke agent. Lagi, lagi Kate tidak ada di tempat dan saya pun sempat berbicara dengannya via phone. Katanya, akan segera diperbaiki sebelum saya pindahan hari rabunya.

Perlengkapan para 'tukang

Lagi-lagi, hari selasa pun lewat. Kepala saya makin pening karena rabu siang barang-barang sudah akan di angkut. Terpaksalah rabu pagi saya ke sana. Kate masih tidak ada di tempat. Akhirnya, customer service mengkontak electrician. Katanya, sejam lagi mereka akan datang. Dengan harap-harap cemas saya pun bergegas pulang karena masih banyak barang yang perlu di pack. Syukurlah akhirnya datang juga electrician-nya dan kompor pun beres dua jam sebelum pindahan.

Pindahan pun berjalan sukses. Alhamdilillah, berkat bantuan teman-teman yang turut membantu mengangkat barang. Sore hari, saat teman sekamar mencoba menyalakan TV., kami harus kecewa. Tidak ada gambar kecuali titik-titik putih hitam hingga lama kelamaan semua layar berubah gelap. Semua kabel sudah diperiksa dan di kutak-katik. Hasilnya sama. Duh..apalagi ini. Internet belum terconnect, TV juga tidak bisa.Jangan sampai ada masalah dengan antena yang memang sudah di pasang mati di unit. Jadilah selama beberapa hari bingung mau apa. Saya coba browsing TV di beberapa Toko. Melihat harganya semakin membuat ludah saya semakin susah ditelan. Pertolongan memang selalu datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Untunglah, melalui grup pengajian ibu-ibu di wa saya akhirnya mendapat hibahan TV. Lumayan, untuk hiburan karena internet belum juga ada tanda-tanda.

Di saat yang sama, Aufa sakit. Flu, hampir tiap malam selama lima hari tidak bisa tidur dengan tenang. Jadilah saya dan teman sekamar begadang terus. Belum sampai seminggu saya tinggal di unit baru, garasi tidak bisa di buka. Tidak terlalu urgen sebenarnya karena kami tidak memiliki mobil. Hanya saja, pram atau stroller Aufa ada di sana. Belum lagi sepeda ayla dan amira. Lagi-lagi saya harus berurusan dengan Kate. Sementara, untuk urusan internet saya pun terus menagih ‘pertanggungjawabannya’.

Di saat yang sama saya baru menyadari bahwa toilet pun ‘oglak-aglik”. Sebenarnya saya masih tahan dengan kondisi toilet. Hanya saja, kalau tidak segera diperbaiki saya khawatir akan semakin rusak. Takutnya lagi, justru nanti saya yang disalahkan plus harus mengganti kalau benar-benar rusak, Hhhh…berapa yang harus saya bayar.

Jadi semakin panjang lah urusan saya dengan Kate. Sayangnya, agent saya kali ini berbeda dengan sebelumnya. Pun dengan dua landlord saat saya tinggal di Canberra. Dengan realestate agent sebelumnya, seluruh keluhan saya ditindaklanjuti di hari yang sama. Bahkan, dulu saya sendiri yang diminta landlord mencari electrician dan biayanya tinggal dikurangkan dari uang sewa.

Lha sekarang? Saya sendiri pun tidak yakin kalau hanya dengan email atau telfon mereka akan menanggapi. Untuk garasi dan perbaikan pintu lemari saja saya harus menunggu satu minggu. Toilet? satu bulan. Telfon? Entah berapa minggu. Yang jelas saya baru bisa menikmati internet setelah 1, 5 bulan tinggal di sini.

Atas semua masalah ini saya pun sering berfikir, apakah ini hukuman? cobaan? teguran? ataukah ujian? Entahlah.

Yang jelas dari semua permasalahan yang saya hadapi mau tidak mau saya harus bicara bahasa Inggris. Dengan Kate, electrician, lock smith, telephon technician, internet provider dan para tetangga unit saya. Apapun, harus tetap disyukuri karena sebagai mahasiswa full research saya jarang sekali bercakap dalam bahasa Inggris.

Hal lainnya, tentu saja berhubungan dengan para ‘tukang’ membuat saya berfikir tentang pekerjaan dan penghasilan mereka. Rata-rata mereka datang dengan mobil lengkap dengan peralatan. Saat saya tanya namanya, salah satu dari mereka menunjukkan namanya yang di cap dalam kaos yang mereka pakai. Atau, saat itu ia katakan, I am very busy karena baru beberapa hari bisa merespon permintaan saya. Saya pun hanya bisa membalas, I know, but that’s good for you. Ya, maksudnya sibuk berarti banyak uang karena banyak order yang mereka tangani.

Artinya, pekerjaan ‘pertukangan’ di sini dikemas sebagai sebuah bisnis pribadi yang dikelola secara profesional. Tentu saja, penghasilannya pun, setidaknya menurut perkiraan saya, mencukupi. Tetangga unit saya berprofesi sebagai plumber atau tukang pipa. Unit yang disewa lebih bagus dari unit saya. Mungkin harga sewanya lebih tinggi dibandingkan tempat saya. Dari kalkulasi kasar saya setidaknya pastilah dalam sebulan ia bisa mendapatkan minimal $2000. Kalau dibagi empat berarti $500 per week atau setara dengan penghasilan para student dan spouse yang nyambi di victoria market. Hehehe….bukannya turut campur rumah tangga orang, saya hanya sekedar menengok tingkat kesejahteraan para tukang di sini.

Dengan bertemu tukang-tukang tersebut setidaknya saya melihat salah satu penyumbang ekonomi nasional, yaitu sektor jasa maintenance. Tentu saja, ini tidak lepas dari kebijakan yang mengikat antara tenant dan landlord dimana kedua belah pihak harus menjaga dan memelihara properti yang disewa atau disewakan. Belum lagi, rupanya para tukang tersebut juga ada sertifikasinya alias register. Makanya, tak heran kalau untuk cleaner pun ada istilah profesional cleaner. Atau, tetangga building saya sempat menyematkan ‘registered painter’ di depan pagar rumahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s