Rezeki: Tak kan lari walau dikejar

‘Hi, I know you. It should be $2.5. But for you $2.”

Saya pun dengan senang hati mengatakan ‘Thank You’. Saya tidak pernah menyengaja masuk toko perempuan tersebut. Setiap kali membutuhkan barang keperluan rumah, selalu yang tertanam adalah mencari ke toko sebelahnya. Sudah otomatis. Faktor keluasaan area dan kelengkapan sepertinya yang menjadi alasan saya, mungkin juga bagi banyak orang.

Kali itu adalah kali keempat saya memasuki toko perempuan tersebut. Pertama kali saya melangkahkan kaki ke sana setehun lalu. Tak sengaja. Ya, saya baru sadar kalau salah masuk toko setelah bertemu wanita tersebut. Maklum, saat itu baru beberapa hari tiba di kota ini. Niat saya ke toko sebelahnya. Ya sudah lah. Toh barang yang saya cari ada juga. Harganya pun sama saja.

Kali ke dua, tiga dan empat skenarionnya sama. Saya kesana setelah saya tidak mendapatkan apa yang saya cari di toko sebelahnya. Lagi-lagi, apa yang saya cari saya temukan. Kali kedua saya mencari kaus tangan plastik untuk cuci piring. Di toko sebelah ukuran M katanya habis. Segera saya bergegas ke toko wanita tersebut. Ada.

Kali ketiga saya mencari headset homephone. Lagi-lagi saya langsung ke toko sebelah yang ukuran tokonya dua kali lebih luas. Ditoko cina yang lengkap pun sebenarnya saya agak ragu apakah barang tersebut tersedia. Eh, ternyata ada dengan pilihan beberapa harga. 10, 19, dan 24 dollar.

Terus terang, saya sebenarnya tidak begitu membutuhkan headset. Hanya saja, keberadaan headset saat itu sangat urgen. Saat itu saya diminta internet provider mengecek jaringan telfon dalam rumah karena lampu tanda koneksi internet dI modem tak menyala juga. Padahal koneksi internet sudah diaktivasi. Saya coba meminjam ke tetangga sesama orang Asia yang kebetulan cukup akrab, sayang saya hanya bertemu sang anak dan ia hanya mengatakan ‘I can’t do it. I am using the internet now’. Yah…sudahlah. Akhirnya saya coba hunting barangkali ada barang second dengan harga murah.

Baiklah kembali ke toko cina. Akhirnya saya memilih pesawat telfon dengan harga terendah, 10 dollar. Sayang seribu sayang kabel penghubung pesawat dan gagangnya tidak ditemukan. Kebetulan lagi, barang tersebut tinggal satu-satunya.

Saya pun berjalan gontai keluar sambil berfikir kemana lagi harus saya dapatkan pesawat telfon secepatnya. Lewatlah di toko sebelahnya. Lagi-lagi dengan penuh ketidakyakinan saya tanyakan juga. Alhamdulillah, ada. Hanya, katanya second. Tidak masalah yang penting bisa saya pakai. Wanita tua itu pum bergegas masuk ke bagian dalam tokonya mencari pesawat telfon. Agak lama. Sekitar tiga menit dia keluar lagi sembari mengatakan, Sorry, I can’t find it. Katanya, ia sudah agak lama menyimpannya hanya saja lupa diletakkan di mana.

Begitulah, saya pun kembali berfikir sembari berjalan menyusuri Sydney Road mencari toko-toko yang mungkin menjual pesawat telfon. Ketika saya memutuskan berbalik arah ke toko lain, dari jarak 100 meter wanita pemilik toko tadi melambai-lambaikan tangannya. Segeralah saya bergegas menghampiri dengan penuh harap. I got it, katanya. Saat tanyakan harga ia jawab 10 dollar. Saya coba tawar 7 tapi ditolaknya. Terus terang uang dI kantong saya hanya 9 dollar 50 cent dan kartu ATM. Kalau harus mengambil uang tentu lama. Saya keluarkan semua isi kantong sembari mengatakan, I just have this. Ia pun menjawab, that’s all right dan mengatakan kalau pesawatnya tidak bisa dipakai kembalikan saja besok pagi. Ok lah.

Sejak kali ketiga itu saya sebenarnya sudah berkeinginan untuk berbelanja ke toko-nya dari pada di sebelah. Hanya saja setelah itu saya lupa. Saat amira memesan Bandage atau plaster penutup luka fikiran saya tertuju ke toko cina yang luas. Dan lagi-lagi saya mendapatkan barang yang saya cari di toko wanita tersebut setelah mendapati di toko sebelah stock habis. 

Beberap kali sering terfikir bagaimana ia bisa mendapatkan untung kalau sepi pengunjung. Setiap kali melewati tokonya jarang saya lihat ada pembeli. Tapi, lagi-lagi masalah rizki memang mempunyai logika yang berbeda. Ia datang bahkan dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Wallahu a’lam

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s