Hati-Hatilah dengan Robert T Kiyosaki (Welfare State 1)

Masih ingat Robert T Kiyosaki? Tahun 2000-an lalu pria Amerika keturunan Jepang ini sempat mengguncang dunia dengan bukunya Rich Dad Poor Dad dan Cash Flow Quadrant. Ups… ternyata setelah saya google rupanya buku tersebut masih banyak dibicarakan hingga saat ini. Bahkan, berita terakhir kabarnya Kiyosaki mengajukan pailit atas salah satu perusahaannya karena menolak membayar kewajiban pada salah satu perusahaan yang telah membesarkan namanya. New York Post menyatakan bahwa Kiyosaki menolak membayarkan persentase keuntungan dari seminar-seminar yang diselenggarakan oleh Learning Annex.

Rich Dad Poor Dad bercerita bagaimana dia mengisahkan ayahnya yang berpendidikan tinggi namun miskin dan ayah temannya, yang hanya tamatan SMA namun kaya raya. Ayah miskin selalu menasihati Kiyosaki untuk giat belajar, sekolah yang tinggi dan menjadi pegawai. Sebaliknya, ayah kaya mengajarkan agar anak-anaknya untuk mengambil risiko, membangun usaha dan menjadi investor setelah mereka lulus sekolahDalam Cash Flow Quadrant Kiyosaki membagi empat karakter orang dalam mendapatkan penghasilan. Di sisi kiri ada kuadran E (employee) dan S (self employee). Di sisi kanan atas B (business) dan bagian bawah I (investor). Intinya ia memberikan gambaran bagaimana kita bisa bergerak ke kuadran sebelah kanan.

Saat membaca buku tersebut sepuluh tahun lalu saya sempat tergoda. Profesi sebagai PNS tentu menempatkan saya di kuadran kiri atas, orang yang bekerja untuk orang lain. Saya sendiri mengenalKiyosaki setelah mendapat pinjaman dari rekan seangkatan saya yang juga terobsesi untuk berpindah dari E ke I. Konon saat kita berada di I maka saat itu kita bisa mencapai kebebasan finansial. Saat itu pula kita bisa pensiun dini dan menikmati hidup. Hmmmm siapa yang tak tergoda ya.

Kuadran B ditempati oleh orang-orang yang memiliki bisnis. Ia bisa mendapatkan penghasilan dari orang-orang yang bekerja kepadanya serta membangun sebuah sistem. Sehingga, meski ia sedang berlibur aliran uang tidak berhenti. Orang-orang yang berada di kuadran I adalah orang-orang yang berinvestasi sehingga uang diibaratkan bisa bekerja sendiri dan terus bertambah.

Karena buku itu pulalah saya pernah mencoba bisnis kecil-kecilan meski akhirnya gulung tikar. Secara mental saya memang belum siap. Selain karena mungkin niat yang masih setengah-setengah.

Entah dalam buku yang mana dari kedua buku tersebut, Kiyosaki menceritakan bagaimana ia jatuh-bangun untuk membangun bisnisnya. Katanya, pernah suatu ketika ia tidak memiliki uang sepeser pun. Bahkan sekedar untuk makan karena usahanya yang bangkrut.

Kabarnya, kedua buku ini sangat menginspirasi banyak orang di Indonesia untuk beralih kuadran ke B dan I. Banyak yang berhasil meski tak sedikit pula yang gagal. Jatuh miskin dan menjadi pengangguran. Mereka berani mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaannya yang sudah mapan dan menggunakan tabungannya untuk membangun bisnis. Bagi yang tidak siap mental, banyak yang akhirnya kembali ke kuadran E setelah jatuh. Mungkin karena salah perhitungan, pengalaman yang kurang, tidak memahami strategi bisnis atau menjadi korban penipuan.

Dari cerita pelayanan dinas sosial Australia yang lalu, ada benang merah yang menyambungkannya dengan cerita Kiyosaki ini. Keberanian Kiyosaki untuk jatuh-bangun atau bahkan berani tidak memiliki satu sen pun harus dilihat dari konteks Amerika. Ini tentu sangat berbeda dengan konteks ke-Indonesia-an. Hal inilah yang baru saya pahami setelah hidup di sini.

Amerika dan kebanyakan negara-negara maju adalah negara yang dibangun dengan konsep welfare state. Menurut mbah Wiki, welfare state adalah sebuah konsep di mana negara memiliki peran kunci dalam memberikan proteksi dan menumbuhkan sosial ekonomi masyarakatnya. Hal ini didasarkan pada prinsip kesetaraan kesempatan, pemerataan kekayaan, dan tanggung jawab publik bagi mereka yang tidak mampu memiliki kehidupan yang layak. Walfare state menjalankan pola transfer dana dari negara kepada penyelenggara layanan, misalnya pelayanan kesehatan dan pendidikan, ataupun langsung diberikan kepada individu. Tipikal dari walfare state ini adalah penerapan pajak progresif dan tentu saja tarif pajaknya sangat tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Nantinya, pajak individu inilah akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran seperti di atas. Pola ini diyakini dapat mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana untuk pendidikan dan kesehatan, tapi tidak untuk langsung diberikan ke Individu. Kecuali BLT yang katanya sebagai dampak kenaikan harga BBM. Sayangnya, meski alokasi untuk pendidikan dan kesehatan cukup besar, kualitas sekolah negeri kita masih jauh dari harapan. Belum lagi, beberapa pemerintah daerah belum menggratiskan pendidikan dasar dan menengah.

Artinya, tidak memiliki satu rupiah di Indonesia sangat berbeda konteksnya dengan tidak memiliki satu sen pun di Amerika. Tidak memiliki satu rupiah bisa berarti banyak. Tidak memiliki satu rupiah berarti tidak bisa menyekolahkan anak, apalagi sekolah di tempat yang bagus. Tidak memiliki satu rupiah berarti dilarang sakit. Tidak memiliki rupiah juga berarti tidak makan. Tidak memiliki rupiah juga berarti tidak bisa mengembangkan diri.

Tentu berbeda dengan negara-negara yang mengadopsi konsep welfare state. Sebagaimana dalam grafik yang saya paparkan dalam tulisan saya sebelumnya, Australia menganggarkan sekitar 35% untuk welfare security and welfare, 15% untuk kesehatan dan 7% untuk pendidikan. Artinya, tidak memiliki satu dolar di negara ini tetaplah bisa menyekolahkan anak di public school dengan fasilitas yang memadai karena pendidikan gratis hingga tingkat SMA. Tidak memiliki satu dolar di negara ini tetap bisa makan karena negara memberikan tunjangan bagi para pencari kerja. Tidak memiliki satu dolar di negara ini masih bisa menitipkan anak di child care yang baik karena negara memberikan subsidi pembayaran. Dan banyak tunjangan-tunjangan lainnya yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini tak jauh berbeda dengan Amerika. Berdasarkan data yang saya peroleh dari mbah wiki anggaran untuk sosial security mencapai 22%.

Jadi, menjadi Robert Kiyosaki di Amerika lebih mudah daripada di Indonesia. Kalaupun usaha bangkrut dan semua harta benda habis, kita masih bisa menyekolahkan anak. Kita masih bisa makan karena pemerintah siap membantu dengan tunjangan-tunjangan. Kita juga masih bisa mengembangkan diri karena negara menyediakan perpustakaan dengan kualitas bagus di banyak tempat.

Membaca buku Kiyosaki tanpa memperhatikan konteks ini tentu bisa memberikan pemahaman yang keliru dan berdampak banyak jika tidak siap. Anak-anak terlantar karena usaha orang tua bangkrut adalah salah satu akibat yang sangat mungkin muncul. Apalagi, kalau orang tua tidak tahan banting. Menerapkan ajaran Kiyosaki butuh perubahan mindset secara total. Termasuk mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi kondisi paling buruk. Karakter seorang E yang terbiasa mendapat gaji bulanan dan tidak terbiasa beresiko perlu komitmen yang kuat untuk berpindah kuadran. Tentu saja, harus juga diiringi dengan pemahaman dan pengetahuan bisnis yang baik untuk menjadi seorang pebisnis. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s