Multitasking: Memasak sambil Presentasi

Sempat terfikir, ah buat apa nilai bagus. Toh, nilai akhir ada di riset. Apalagi, nilai bagus pun tidak akan berpengaruh pada penghasilan sebagai PNS. Persis seperti beberapat tahun sebelumnya saat harus membuat karya tulis untuk lomba menulis. Buat apa juara. Saya tidak membutuhkan hadiah. Tapi, segera saya usir fikiran tersebut. Memang, saya tidak membutuhkan nilai. Seandainya orang tidak tau dari mana negara saya mungkin nilai tidak memberikan arti apa-apa. Sayangnya, rekan sekelas dan dosen terlanjur tau bahwa saya mahasiswa Indonesia. Untung mereka tidak tau kalau saya dibiayai dari pajak mereka.

Boleh jadi mereka akan melupakan saya begitu kelas usai. Tapi, lagi-lagi mereka pasti tidak akan lupa kalau ada satu orang Indonesia di kelas. Dosen pun akan selalu ingat. Jadi, kalau nilai saya jeblok yang diingat bukan saya, tapi ada orang Indonesia yang nilainya memprihatinkan itulah image yang tertanam di kepala. Duh…ini yang sangat tidak diharapkan. Kesadaran ini muncul sejak tujuh tahun lalu saat saya dinasihati seorang kawan ketika menjadi cleaner di satu apartemen. Ia katakan, ingat lho..kita ini duta bangsa. Rupanya, petuah kawan tersebut sangat manjur. Alhasil, kamar yang saya bersihkan tak pernah dikomplain.

Berbeda dengan tujuh tahun lalu saat mengambil master, kali ini rekan sekelas saya kebanyakan mahasiswa lokal. Di satu sisi saya bersyukur karena mendapat kesempatan ini, di sisi lain agak grogi juga karena bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Dulu saya agak santai. Rekan sesama international student membuat kami merasa senasib harus belajar dalam bahasa Inggris. Nah sekarang? Waduh… Tapi, sejak awal saya memang sudah bertekad kalau tidak bisa melebihi ya setidaknya bisa bersainglah dalam nilai dengan mahasiswa lokal. Di kelas pun sebenarnya kadang agak tertekan. Maksudnya, saya selalu memaksa diri untuk aktif meski terkadang gagal. Entahlah..selalu saja terngiang seolah saya sedang mewakili Indonesia saat berada diantara rekan-rekan. Ah…Lebay.

Syukurlah, rekan saya baik-baik dan mereka sangat menghargai para international student yang harus berjuang berbahasa Inggris. Dan kemarin adalah akhir dari salah satu course unit yang saya ambil. Ya, kami harus mempresentasikan riset proposal setelah sehari sebelumnya men-submit essay. Ternyata resep presentasi yang biasa saya terapkan di Indonesia tidaklah manjur. Biasanya saya cukup memvisualisasikan apa yang akan saya presentasikan dikepala dan selanjutnya bisa diimprovisasi.

Hmm…rupanya kali ini saya harus membuat script dan mengulangnya berkali-kali. Persis kala SMA dulu saat ditugaskan pidato dalam bahasa inggris. Tentu, faktor bahasa yang utama. Meski semua ada di kepala, kalau vocab terbatas dan tidak sering dipraktekan struktur kalimat yang keluar pasti tidak beraturan. Sering bahkan apa yang saya fikirkan berbeda dengan apa yang saya ucapkan. Alhasil strategi multitasking harus diterapkan. Latihan presentasi sambil memasak dan menidurkan aufa menjadi santapan setiap hari menjelang presentasi.

Deg-degan…telapak tangan saya pun bertambah dingin saat diminta moderator kedepan. Kalau biasanya saya mencoba membuat semacam ice-breaking untuk memikat audience, dalam 12 menit ini sepertinya tidak akan saya lakukan. Saya kuatir justru akan memecah konsentrasi audience. Alhamdulillah, setidaknya selama 12 menit itu saya bisa menyampaikan rencan riset. Cukup lancar meski sulit sekali bersikap rileks.

Oya, satu hal menarik yang saya pelajari di sini. Ternyata native speaker sekalipun, juga grogi dan nerveous juga kalau disuruh berbicara di depan. Jujur saya sangat heran. Apalagi profesi teman-teman saya ini dosen yang pastinya biasa mengajar dan presentasi. Kok bisa ya? Bahkan untuk teman saya yang tergolong cerewet bertanya sesukanya di kelas pun dia tak bisa menyembunyikan kegrogiannya. Satu lagi, kemampuan presentasi mereka juga menurut saya biasa saja, bahkan kalah dibanding teman internasional student lain yang jauh lebih memikat.  Bahkan, ada yang sibuk membaca ‘contekan’ atau kurang eye contact dengan audience karena dia bolak-balik menoleh slide. Beberapa minggu sebelumnya saat kami latihan di kelas, bahkan ada yang terlihat menghafal. Hmmm..bisa jadi karena faktor persiapan. Kami anak-anak international student terpaksa harus berlatih terus menerus hingga hafal diluar kepala dan tak perlu lagi melihat slide saat presentasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s