Ibuku dan Ketangguhan

Pintu itu selalu terbuka. Ya, selalu terbuka. Pintu itu hanya tertutup jika maghrib mulai menjelang hingga subuh menyapa. Pintu itu hanya tertutup saat tidak ada seorang pun di rumah.

Rumah kami selalu terbuka. Sehingga saya mempunyai kesempatan untuk berlarian lebih jauh mengelilingi seluruh isi rumah hingga teras. Tetangga kami juga tak perlu mengetuk pintu untuk masuk ke rumah kami. Biasanya, mereka langsung menuju dapur atau ke ruang tengah mencari ibu. Bercengkrama tentang banyak hal. Atau, sekedar meminta bawang putih, bawang merah, atau garam barang sedikit karena kebetulan stok sedang habis sementara bahan makanan sudah siap di masak. Sebaliknya, ibu pun demikian. Ia sering bertandang ke rumah tetangga. Sekedar berbincang atau menanyakan masak apa hari ini.

Kami, anak-anak, pun demikian. Sering bermain di rumah tetangga. Hubungan kami dengan para tetangga sangat dekat. Tahun lalu, saya sempatkan mengunjungi beberapa tetangga kami. Ah…selalu saja tidak kuasa menahan tetesan air mata begitu bertemu mereka. Demikian halnya mereka. Saya dipeluknya seperti mereka memeluk anak sendiri. Beberapa saat kami terdiam membiarkan airmata menetes. Sebelum akhirnya mereka menanyakan kabar kami.

Di lain waktu, adik saya sering bercerita beberapa kali anaknya dibelikan mainan saat ia kembali ke kota kami.  Sering pula ia mendapat bingkisan makanan untuk ia bawa pulang. Setiap saya pulang, mereka pun selalu menyempatkan untuk bertemu saya. Saya memang bukan orang yang mudah bergaul dengan orang dari berbagai usia. Kromo inggil saya yang sudah mulai tidak tertata dan rasa sungkan sering mencegah saya untuk bersilaturahim. Masih teringat sehari sebelum saya di tugaskan ke luar pulau, tetangga saya memberikan oleh-oleh sebagai bekal perjalanan saya.

Tetangga kami memang mempunyai hubungan emosional yang sangat kuat dengan ibu. Bagi mereka ibu bukan hanya sekedar tetangga, tapi juga sahabat, keluarga dan juga guru. Ibu memang suka memasak. Setiap kali mencoba kue baru ibu tak lupa membagikannya ke tetangga. Jadi lah ibu tempat berguru. Salah satu tetangga kami akhirnya menekuni dunia memasak setelah mendapat tips-tips dari ibu. Bertemu dengan saya atau adik saya tentulah menjadi obat rindu buat mereka.

Oya, meski orang tua kami hanya memiliki dua anak, rumah kami selalu ramai. Bahkan suatu ketika sempai mencapai 13 orang menghuni rumah kami. Mereka adalah para keponakan bapak dan ibu yang bersekolah di kota kami. Keluarga bapak dan ibu menitipkan anak-anaknya di tempat kami karena tingkat pendidikan di kota kami, katanya, lebih baik dibanding di kampung mereka. Tak hanya sanak keluarga, beberapa diantaranya malah tidak ada hubungan secara kekeluargaan. Sayang, saya tak sempat menanyakan bagaimana dulu ibu memikirkan masalah keuangan. Bagaimana ia bisa menyediakan makanan bagi kami semua. Meski kedua orang tua saya berprofesi sebagai guru, ibu guru SMP dan bapak guru SMEA, tapi kalau untuk memenuhi kebutuhan banyak orang tentu butuh biaya yang banyak pula.

Ibu tak hanya mengajarkan kepada saya bagaimana menjaga hubungan baik dengan tetangga. Namun ibu pun tak sering memberikan nasihat kepada saya kecuali tentang pendidikan, shalat, dan selalu rukun dengan adik saya. Dan biasanya karena ketiga hal itu pula saya mendapat omelan, cubitan atau jeweran kalau saya melanggarnya.

Mungkin karena profesinya seorang guru, ibu sangat memahami bahwa pendidikan sangat penting sebagai bekal anak di masa depan. Sejak kecil ia selalu menanamkan tanggungjawab untuk selalu belajar. Ibu selalu marah jika mendapati saya menonton TV saat jam belajar. Tapi, ibu juga memberi kebebasan untuk bermain. Sampai dengan usia 8 tahun, hampir seluruh hari-hari saya isi dengan bermain. Ibu tak pernah marah meski beberapa kali saya pulang dengan lutut berdarah karena tergores dahan pohon akibat seringnya memanjat atau terjatuh saat berkejaran bermain petak umpet. Ia pun tak marah ketika baju saya penuh dengan noktah getah pohon yang tidak bisa hilang jika dicuci. Tentu sangat berbeda dengan saya saat ini yang lebih banyak melarang anak-anak karena terlalu banyak khawatir.

Setelah menginjak kelas tiga SD saya mulai dibebani kewajiban untuk belajar setiap hari. Tapi, tetap saja ibu masih memberi saya kesempatan bermain. Biasanya selepas sekolah saya langsung bermain sepeda atau ke rumah teman bermain bersama. Sore hari saya diwajibkan untuk tidur siang. Katanya, saya pasti tidak bisa belajar karena mengantuk akibat tidak tidur siang. Begitulah, jam 7 hingga jam 9 malam adalah waktu-waktu dimana saya harus duduk di meja belajar. Kalau ada acara drama di TVRI tepat pada jam belajar saya tetap bisa menikmatinya. Dengan syarat saya harus belajar di siang harinya. Jika tidak saya harus siap dimarahi. Begitu juga dengan shalat. Ibu selalu memantau shalat kami setiap hari. Kami anak-anaknya akan dimarahi panjang lebar jika tidak shalat apalagi berbohong atas shalat kami.

Bagi ibu dan keluarga saya dianggap sebagai anak yang pendiam. Seandainya mereka tau kelakuan saya di sekolah pastilah image tentang saya akan berubah total. Meski begitu saya selalu menceritakan hari-hari saya kepada ibu. Apa saja. Tentang ibu guru, teman-teman dan pengalaman-pengalaman saya. Bagi saya ibu adalah buku diary saya. Baginya pula, saya dianggap anak yang patuh dan tidak membuat banyak masalah.

Namun, ada suatu saat dimana ia begitu kecewa. Teramat kecewa. Karena hal ini pula hubungan kami sempat memburuk. Sejak mengikuti pesantren kilat saat liburan di SMA saya memang banyak berubah. Bagi saya sendiri pesantren kilat adalah titik balik saya dalam memahami Islam. Namun, sepertinya saya tidak menyadari bahwa tingkah laku saya setelah mengikuti pesantren kilat dianggap ‘aneh’ oleh ibu saya. Bisa jadi bukan hanya ibu yang merasakan demikian, sanak saudara, tetangga dan juga teman-teman.

Tahun 1990-an adalah tahun dimana jilbab belum populer. Hanya beberapa orang yang mengenakannya. Mereka yang berlatar pendidikan agama bagus pun belum tentu mengenakan jilbab yang menutup rapi. Yang lebih populer dikenakan adalah kerudung, atau kain panjang yang ditutupkan di kepala dan diserempangkan ke kiri dan ke kanan. Kerudung ini biasanya hanya di kenakan saat menghadiri pengajian. Lebih menyedihkan lagi, muncul tuduhan-tuduhan negatif terhadap pemakainya. ‘Jilbab beracun’ begitu sering saya dengar. Isu yang berkembang saat itu beberapa kali ditemukan wanita berjilbab lebar yang meracuni beras pedagang di pasar. Konon, baju besar yang dikenakan dan jilbab besarnya ia jadikan penutup. Hmmm..sungguh tak masuk akal jika kita memakai logika hari ini. Tapi begitulah yang terjadi.

Ketika saya utarakan niat saya untuk mengenakan jilbab, ibu marah sekali. Beliau menyebutkan nama orang terpandang yang telah ke tanah suci dan mengatakan bahwa anak-anak mereka juga tidak memakai jilbab. Jujur saja, saya tidak pernah ingin berseberangan dengan ibu. Tapi, hasrat dan keinginan saya untuk berjilbab begitu besar. Berulangkali saya memohon. Namun, berulang kali pula ibu tetap tidak mengijinkan. Ibu sebenarnya tidak melarang sepenuhnya. Katanya, nanti kalau sudah kuliah saya bisa berjilbab. Akhirnya, saya pun mengalah meski niat itu tidak pernah padam. Dan, ibu juga mengijinkan saya memakai jilbab di luar sekolah.

Selesai SMA ibu pun mengijinkan saya untuk selalu memakai jilbab. Di saat yang sama saya tidak bisa memenuhi harapannya, tentu saja harapan saya pula, untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi yang saya cita-citakan sejak kelas satu SMA. Akhirnya, saya pun melanjutkan sekolah di salah satu pendidikan ahli madya di ibu kota provinsi saya. Saya pun pindah ke kota tersebut dan menjalani hidup sebagai anak kos.

Lagi-lagi, ibu tidak banyak menasihati saya. Tidak seperti saat di sekolah, ibu tak lagi meminta saya untuk rajin belajar. Setiap hari senin selepas subuh saat saya hendak kembali ke kos ibu hanya mengatakan ‘Jangan ikut-ikut aliran’. Saya pun hanya mengiyakan. Sepertinya ibu memang memahami dinamika di mana banyak mahasiswa mengalami pergulatan ideologi. Apalagi, era saat itu politik aliran sangat kuat. Saya sendiri saat itu tidak terlalu paham akan hal tersebut. Namun, nampaknya ibu melihat firasat lain.

Begitulah, sebulan dua bulan saya menjalani dunia mahasiswa masih berjalan seperti biasa. Masih mengenakan celana jins, kemeja kotak-kotak yang saat itu sedang trend dan jilbab sebahu. Hingga akhirnya ibu pun mendapati saya begitu berubah. Tak hanya penampilan. Saat pulang saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, membaca buku dan mengaji. Saya pun mulai menjauh dari pergaulan, baik dari saudara sepupu ataupun tetangga, khususnya laki-laki. Perubahan yang sangat drastis. Meski saya sendiri meyakini bahwa perubahan saya adalah perubahan ke arah yang baik. Uang saku selama seminggu lebih sering saya habiskan untuk membeli gamis dan jilbab panjang.

Ibu tak pernah membicarakan perubahan saya kecuali pesan yang sama yang selalu ia sampaikan setiap senin. Sampai suatu saat saya ditegur keras oleh salah seorang kerabat, ‘kamu tau nggak sih? Ibumu itu tiap malam selalu menangis gara-gara kamu’. Deg…bagaimana tidak. Selama ini ibu tak pernah menyinggung-nyinggung perubahan saya. Ia hanya mengatakan, ‘uangnya di hemat’. Itu saja. Saya sendiri seolah menemukan dunia baru. Seolah menemukan kebenaran yang selama ini tidak pernah saya dapatkan. Sehingga, saya pun begitu menggebu untuk menerapkan apa yang baru saja saya ketahui. Padahal, saya hanyalah anak kemarin sore yang baru mengenal Islam sepotong-potong. Bahkan untuk memahami perasaan ibu pun saya gagal.

Teguran kerabat tersebut setidaknya mengingatkan saya untuk kembali mendekat kepada ibu. Ah..ibu adalah orang yang sangat memahami saya. Bahkan, ia pun memahami bahwa saya tidak menikmati kuliah saya. Hingga akhirnya, saya sampaikan niat untuk keluar dan mengikuti bimbingan test di Jogja. Impian untuk melanjutkan di sekolah kedinasan atau di perguruan tinggi yang saya cita-citakan belum lah terkubur.

Di tahun kedua saya bisa mewujudkan harapan ibu, tentu dengan pertolongan Allah. Saat saya kabarkan berita itu ibu langsung bersujud syukur. Lega rasanya, setidaknya saya tidak harus membebankan biaya kuliah yang berat kepada ibu dan bapak.

Setengah tahun merantau di Jakarta, saya pulang untuk berlibur. Senang rasanya bisa melepas rindu bersama ibu, bapak dan adik saya satu-satunya. Setelah beberapa hari di rumah, saya di ajaknya duduk berdua di ruang tengah. Saya bisa menangkap kegalauannya di matanya. Ibu katakan ada benjolan di salah satu payudaranya.

Rasanya jiwa saya melayang mendengar kata-kata ibu. Sulit saya terima kenyataan ini. Ternyata, benjolan itu sudah diketahui sebulan sebelumnya. Ibu sudah mencari berbagai informasi, dan sedang berada dalam kebimbangan. Saran dokter, ibu harus dioperasi. Bagi kami sekeluarga yang, alhamdulillah, belum pernah mendapatkan perawatan rumah sakit, operasi menjadi kata yang sangat menyeramkan. Begitu juga dengan ibu. Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya ibu bersedia untuk dioperasi. Setelah operasi, ibu harus dikemo beberapa kali hingga berguguran seluruh rambutnya. Tidak tega rasanya menatap ibu yang terlihat lebih tua dibanding usianya.

Alhamdulillah, setelah kemo selesai ibu kembali sehat bahkan kembali mengajar. Akhir tahun 1995 saat saya menginjak tingkat III, ibu selalu batuk-batuk. Ibu pun lebih banyak di tempat tidur. Saat liburan tiba saya sempatkan waktu untuk selalu menemaninya hingga saya harus kembali kuliah. Tak berapa lama kemudian saya mendapat kabar ibu harus masuk rumah sakit. Hampir satu bulan di sana. Saya pun tiap hari menelfon setidaknya untuk memastikan kabarnya baik.

Untunglah, tak sampai dua bulan saya bisa pulang kembali untuk berlebaran sekaligus melihat kondisi ibu. Melihat kondisi ibu sungguh membuat air mata saya tak bisa dibendung. Ibu sudah tidak bisa berjalan sendiri, duduk sendiri pun tidak bisa. Bicaranya juga sulit dimengerti. Hanya tatapannya lah yang mengisyaratkan bahwa ibu masih mengenali saya, anaknya. Ah..saya masih bisa melihat air mata itu saat ia tatap saya dalam-dalam. Saya hanya bisa mencium dan memeluknya tanpa bisa berkata-kata.

Selama di rumah saya berusaha untuk selalu berada di samping ibu. Mengajaknya bicara, menyapu keringatnya, mempedengarkannya ayat suci Al Qur’an, atau mendekapnya berlama-lama hingga saya tertidur. Setelah dua minggu bersama, Allah pun memanggilnya. Sayangnya, saya tidak tahu tanda-tanda bahwa ibu akan pergi. Setiap saat saya selalu berdoa dan berharap akan mukjizat ibu akan sehat kembali. Sehari sebelumnya ibu tidak bicara sama sekali. Saat itu saya disarankan tetangga untuk berbicara dengan ibu tepat di telinganya. Saya tidak tau harus berbicara apa karena saya pun tetap belum memahami tanda-tandanya. Yang saya tahu saat itu ibu sudah mulai menolak makanan.

Tujuh belas tahun sudah ibu menghadap sang pencipta. Banyak hal yang telah ibu ajarkan hingga membentuk diri saya saat ini. Dialah yang telah mengajarkan melafalkan alfatihah. Dialah yang telah memperkenalkan saya dengan membaca. Dialah yang telah menanamkan ketekunan dan ketangguhan. Dialah yang telah meletakkan cinta kepada ilmu di dalam dada saya.

Lindungi ibu ya Allah….berikanlah ibu tempat yang baik di sisi-Mu…Pertemukan kami di surga-Mu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s