Australia Larang Anak Sekolah Tanpa Imunisasi

Hampir saja hari itu Amira tidak bisa sekolah. Hari sebelumnya, saya mendapat surat dari sekolah. Katanya, kalau Jum’at 20 Desember 2013 saya tidak bisa menunjukkan immunisation certificate dari kator pemerintah yang ditunjuk Amira tidak boleh sekolah. Ya, surat itu juga menyatakan bahwa saat ini ada seorang siswa yang terkena whooping cough. Batuk jenis ini kabarnya mudah menular. Jadi wajar kalau sekolah mengambil langkah antisipasi seperti itu. Seingat saya, sebelum mulai masuk sekolah saya sudah menyerahkan surat keterangan dokter. Hanya saja waktu itu sekolah tetap minta surat resmi dari instansi yang berwenang menerbitkan.

Image

Ya, imunisasi adalah prasyarat wajib yang harus dipenuhi oleh calon siswa di Australia. Standar imunisasinya pun haris mengikuti kebijakan pemerintah di sini. Amira, misalnya, meski telah mendapatkan imunisasi di Indonesia plus di sini saat ia berusia 2 tahun, imunisasinya harus di update. Artinya, ia harus mendapat imunisasi lagi karena imunisasi wajib di sini hinga anak usia 4 tahun.Alhasil, lengan kiri kanannya harus direlakan untuk diinjeksi lagi meski ia sudah berusia 8 tahun.

Berbeda lagi dengan Ayla. Di Indonesia anak 4 tahun itu hanya mendapat imunisasi wajib hingga usia 9 bulan. Hingga saat ini ia sudah diinjeksi lengannya empat kali untuk meng-catch up imminisasi 1 tahun, 18 bulan, 2 tahun dan 4 tahun sebagaimana yang diwajibkan. Januari nanti masih ada satu kali lagi vaksin yang harus diberikan. Hmmm..entah bujukan apa lagi yang harus saya katakan untuk membawanya ke health centre. Untung saya tak perlu mengeluarkan biaya untuk vaksin. Hanya konsultasi dokter yang perlu saya tanggung. Saya tidak bisa membayangkan kalau anak-anak tidak diimunisasi di Indonesia. Berapa kali suntikan harus ia terima dalam waktu yang saling berdekatan.

Ya, tanpa imunisasi anak tak bisa sekolah. Imunisasi di Australia dilaksanakan dibawah program Immunise Australia Program yang bertujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi secara nasional dengan memberikan program vaksin gratis. Begitu pentingnya iminisasi ini di Australia, seluruh database imunisasi anak dikelola oleh  department of human services divisi Australian Childhood Immunisation Register (ACIR). ACIR inilah yang mengeluarkan immunisation certificate yang menjadi prasyarat mendaftarkan sekolah anak. Informasi lengkap terkait dengan program ini dapat dilihat di website http://www.immunise.health.gov.au/.

Tak hanya itu. Tanpa immunisation certificate anak juga tidak berhak mendapatkan child care benefit (CCB). CCB adalah subsidi pemerintah yang diberikan guna meringankan pembayaran child care atau tempat penitipan anak. Tanpa CCB untuk menitipkan anak per hari bisa mencapai AUD 70. Hhhh…jelas untuk kalangan mahasiswa seperti saya tidak akan kuat membayarnya. Dengan CCB biaya penitipan bisa dicover hingga 90% atau seluruhnya. Dan, lagi-lagi untuk mendapatkan CCB ini imunisasi adalah syarat wajibnya. Saya sendiri bulan lalu mendapatkan peringatan bahwa CCB ayla akan di cabut jika saya tidak bisa memperlihatkan immunisation certificate. Saat pengajuan memang saya belum melakukan updating imunisasi Ayla. Untunglah, setelah imunisasi Ayla di-update tidak ada lagi surat peringatan.

Image

Di Indonesia, imunisasi pada dasarnya juga telah menjadi bagian dari agenda pemerintah. Salah satu regulasi yang mengamanatkan pemerintah untuk memberikan imunisasi adalah Petunjuk teknis Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan nomor 828/menkes/SK/IX/2008 tahun 2008. SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diterima warga negara secara minimal. Dalam juknis tersebut ditargetkan cakupan desa/kelurahan UCI (universal child immunisation) sebesar 100%. Target ini harus sudah dicapai pada tahun 2010. Cakupan desa UCI yang dimaksukan adalah desa/kelurahan dimana ≥80% dari jumlah bayi yang ada di desa/kelurahan tersebut telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Sedangkan yang dimaksud imunisasi lengkap pada bayi meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, 1 dosis campak.

Target SPM ini juga sejalan dengan sasaran strategis yang akan dicapai oleh kementerian kesehatan dalam dokumen pedokcanaan strategis 2010-2014. Yaitu, meningkatnya cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi 0-11 bulan dari 80% menjadi 90%. Dan, seluruh kabupaten/kota menerapkan SPM. Pencapaian target ini seharusnya dapat dilihat dalam dokumen laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) setiap tahunnya. Sayangnya, LAKIP tahun 2012 yang diupload di website KEMENKES tidak memuat informasi berapa capaian desa UCI.

Berbeda dengan Australia, imunisasi di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aman tidaknya vaksin bagi tubuh. Tapi juga masalah kehalalan vaksin. Rendahnya cakupan bayi yang mendapat imunisasi bisa jadi salah satunya diakibatkan keraguan masyarakat atas halal atau tidaknya vaksin. Jika demikian, agar target SPM dan sasaran strategis dalam rencana strategis dapat di capai menuntaskan masalah ‘kehalalan vaksin’ sudah selayaknya menjadi agenda menteri kesehatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s