Upacara Membuat Anak Australia Kreatif dan Percaya Diri

Kawans,

Kalau  anda sempat berfikir untuk menghapus upacara bendera di sekolah setiap hari senin atau setiap bulan bagi PNS, please mungkin gagasan tersebut perlu dikaji ulang. Mungkin anda akan menganggap lebay kalau ada yang mengatakan bahwa upacara bisa meningkatkan kreativitas. Apalagi kalau ada yang percaya bahwa upacara bisa memangkas anggaran Pemda. Hmmm..tidak masuk akal. Tapi, mari kita coba nikmati dulu secangkir kopi hangat berikut.

Rupanya upacara di sekolah tidak hanya monopoli Indonesia. Setiap senin sekolah di Australia juga menggelar kegiatan yang sama. Setiap senin anak-anak dan guru berkumpul. Mereka pun bersama-sama mengumandangkan lagu kebangsaan. Tapi, mereka tidak perlu berpanas-panas dan kecapean berdiri hingga ada yang pingsan. Pun tidak ada komandan upacara yang harus bersuara lantang meneriakkan: siaaap grak. Juga, tidak ada pembina upacara yang harus memberikan ceramah minimal tiga puluh menit ataupun pembacaan pembukaan undang-undang dasar mereka.

Upacara, atau disebut asembly, di salah satu SD yang kami saksikan sangat berbeda dengan di negeri kita. Mungkin anda tidak percaya kalau anak-anak menunggu-nunggu hari senin untuk upacara. Ya, karena biasanya dalam tradisi kita image yang tertanam pada upacara adalah kepanasan dan membosankan. Makanya, tak heran kalau banyak yang beralasan sakit untuk menghindari kegiatan ini.

Aha…kenapa ditunggu-tunggu?

Setiap senin pagi, jam 9 waktu sekolah dimulai, anak-anak berkumpul di Hall. Tidak berdiri, tapi duduk bersila atau gaya bebas asal sopan. Dibuka sesaat oleh salah satu guru kemudian dilanjutkan oleh anak-anak yang bertugas sebagai host. Oya, orang tua juga boleh duduk-duduk di sisi samping atau belakang untuk menyaksikan jalannya upacara. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Kali ini semua harus berdiri. Tentu tidak nyaman kalau dilakukan dengan duduk.

Senin 18 November merupakan hari yang spesial di sekolah yang kebetulan kami datangi. Hari itu, sekolah menyelenggarakan salah satu kegiatan multiculture event yang merupakan bagian dari salah satu pembelajaran tema Asian Studies. Seluruh siswa dianjurkan untuk memakai pakaian nasional/tradisional Indonesia, kalau bukan batik ya sesuai dengan warna bendera negara. Term sebelumnya, bertema India dan China. Saat itu siswa dan guru juga memakai pakaian khas negara tersebut. Bangga rasanya melihat batik dikenakan oleh warga Australia. Semarak warna merah putih mewarnai hari itu.

Nah, setelah menyanyikan Australian National Antheme seluruh siswa dari prep (preparation atau setara dengan TK B) hingga grade 6 di minta maju ke depan sesuai dengan kelasnya masing-masing. Mereka pun di minta pendapatnya: What do you know about Indonesia? What do you dress up? Kami yang kebetulan memakai batik juga di minta maju bersama para guru dan ditanyakan pertanyaan yang sama. Proses pembelajaran budaya tak hanya sebatas menghafal. Tapi, sekaligus dengan mengenalkannya dengan contoh kongkrit. Bukan hanya itu, pada term 4 ini pun mereka di kenalkan dengan beberapa aspek tentang Indonesia di kelas. Senin ini, mereka pun mendapatkan special lunch berupa Tekwan, makanan khas Indonesia.

Sebagaimana senin yang lain, sajian project kembali digelar. Kali ini grade ¾ yang diserahi tugas. Seluruh siswa yang bertugas maju kedepan langsung mengambil tempat duduk. Satu-persatu, sesuai dengan job discription-nya mereka memulai aksinya. Tema yang di usung kali ini fit 4 school. Mereka mengawali project dengan menayangkan video hasil garapannya. Sungguh luar biasa. Selayaknya film indie, tokohnya pun mereka sendiri. Tema fit 4 school menayangkan aktivitas ‘olah raga’ di pagi hari yang sejak beberapa bulan lalu menjadi kegiatan rutin di sekolah. Selesai video satu persatu mereka mendapatkan tugas untuk menjelaskan apa itu fit 4 school.  Hingga, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan sekolah yang dilaksanakan selama seminggu sebelumnya. Termasuk, hasil kompetisi dengan sekolah lain.

Selesai project, tibalah acara yang dinanti-nanti. Pemberian awards. Jangan sangka awards ini untuk siswa yang berhasil menjuarai cerdas cermat. Jangan sangka awards ini untuk siswa yang berhasil mengharumkan nama sekolah. Awards ini diberikan atas usaha siswa selama mengikuti proses belajar. Mungkin anda akan mengatakan: Ah, masak yang begini di beri awards. Penekanannya lebih kepada pemberian penghargaan atas usaha siswa. Misal, rajin membaca, rajin menulis, berperilaku baik. Yang jelas, anak-anak sangat senang dan berharap mereka bisa maju kedepan diberi secarik kertas dan salam dari sang kepala sekolah.

Kalau demikian, masihkah anda berfikir untuk menghapus upacara? Tentu, kalau desain acara, yang konon dimaksudkan untuk menginternalisasi semangat juang, tidak berubah. Cita-cita luhur untuk menyematkan daya juang memang sangat mulia. Tapi, nampaknya perlu pembaharuan dalam kemasan mengingat bertahun kita melakukan upacara bendera tak kunjung terlihat hasilnya. Malah, ruh kepahlawanan sepertinya makin memudar.

Jadi?

Mendesain ulang kegiatan upacara sebagaimana yang dilakukan SD di Australia layak untuk difikirkan. Kesempatan untuk membuat project dan presentasi sejak dini akan membangkitkan kreativitas dan kepercayaan diri anak. Demikian halnya dengan pemberian Awards yang akan menyemangati anak dan mengajarkan mereka untuk menghargai proses pembelajaran, bukan pada hasil semata.

Lalu?

Desain upacara seperti ini pun, layak diadopsi oleh pemerintah baik pusat maupun di daerah. Upacara setiap tanggal 17 pun rasanya hanya sebatas rutinitas dan sekedar memenuhi absensi. Apalagi, apel yang menjadi kewajiban setiap hari di banyak pemerintah daerah rasanya tidak memberikan arti sama sekali. Mungkin saja, apel bisa membuat pegawai disiplin. Tapi, sebatas disiplin absen tepat waktu, bukan disiplin dan bersemangat kerja tinggi.

Adopsi upacara dilingkungan pemerintah bisa diwujudkan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi, atau transfer of knowledge yang dilakukan oleh dan dari pegawai. Tentu saja, tidak harus dengan format serius. Intinya, bagaimana upacara dikemas dengan cita rasa yang bisa membangkitkan kreativitas, inovasi, dan semangat untuk melayani. Kalau hal ini bisa diwujudkan, bukankah pada akhirnya bisa memangkas anggaran peningkatan kapasitas pegawai?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s