Membentuk Reading Habit: Belajar dari negeri sebelah

Aha….jadi begini rupanya cara membuat orang seantero negeri ini gemar membaca…

Pagi ini seperti pagi yang lain tak pernah lupa menyapukan pandangan keseluruh sisi tram. Tidak terlalu padat karena sudah hampir jam 9. Seperti biasa pula semua penumpang sibuk dengan aktivitas mmasing-masing. Yang pasti semua menundukkan pandangan. Beberapa bergumam melantunkan lagu menirukan suara dari headset. Saya coba melirik ke sebelah. Ah…sedang memegang sebuah gedget. Bukan tablet tapi ereader. Penasaran, meski mata agak capek melirik saya coba mencuri padang apa yang ia baca. Hmm…dari layout dan cara penulisan kata ganti sepertinya wanita muda tersebut sedang menikmati novel.

Belum selesai pengamatan pertama naiklah seorang wanita usianya sekitar 70an. Begitu duduk di bangku seberang ia langsung mmengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal dengan ketebalan sekitar 1.5cm. Beberapa menit kemudian seorang wanita muda berambut panjang dengan menjinjing dua tas berdiri di hadapan saya karena tram sudah mulai penuh. Langsung ia keluarkan tablet dan terus menatapnya hingga akhirnya saya ketahui bahwa ia sedang membaca novel setelah duduk disamping saya.

Masih teringat pula beberapa minggu lalu seorang anak perempuan usianya sekitar 10 tahun dikedua jemari telunjuknya terlilit benang rajutan sementara jari yang lainnya memegang sebuh buku. Sesekali ia mainkan telunjuknya sesekali berhenti dan melanjutkan kembali aktivitas membaca. Kali lain diseputaran kota saya dapati gelandangan negara maju. Sambil rebahan atau sekedar duduk bersama buntelan barang-barangnya ia sibuk menekuri sebuah buku.

Apa gerangan yang mampu membentuk sebuah kebiasaan kolektif negeri ini ya? Mau tau jawabannya?

Begini ceritanya, sejak Amira masuk sekolah saya mempunyai kebasaan baru. Ya…saya tidak bisa menahan rasa penasaran tentang apa yang dilakukan anak kecil itu di sekolah. Setiap sore bahkan begitu keluar gerbang sekolah sambil menyusuri jalanan pulang ia sudah saya interogasi berharap dengan senang hati ia ceritakan pengalamannya di sekolah. Hari pertama di sekolah ia sudah menjinjing tas biru yang berisi dua buah buku. Ia katakan satu buku merupakan buku bacaan dan buku yang lain buku monitoring yg harus saya isi. Malam harinya karena begitu antusias gadis itu langsung membuka buku cerita yang pastinya ia tidak memahami isinya. Saya hanya sarankan untuk membuka kamus….untung ada gedget baru he..he..he… Sayang, paginya saya lupa menulis komentar saya di buku. Biarlah, fikir saya, yang penting aktivitas membaca ditunaikan.

Ternyata apa yang saya lakukan sangat merugian amira. Pertama, ia kehilangan kesempatan mendapatkan buku lain karena setelah beberapa hari barulah saya ketahui bahwa buku akan ditukar jika ada indikasi anak telah menyelesaikan bacaan yang dilihat dari komen ortu. Kedua, kesempatan amira mendapat hadiah menjadi tertunda. Ya…buku kontrol tersebut memberikan hadiah berupa stiker yang sangat menarik jika jumlah hari membaca telah mencapai 25, 50,75,100 dst.

Bukan cuma itu, buku kontrol tersebut menharapkan peran aktif ortu untuk membangkitkan minat baca anak. Sejak saat itu pulalah saya berusaha menyempatkan waktu memerankan diri sebagai guru di rumah. Tugasnya memancing anak untuk menebak terlebih dahulu isi buku yang akan dibaca dengan melihat judul dan gambar (predict). Barulah kegiatan membaca dimulai dan setelah selesai buku didiskusikan bersama-sama. Jadi kalau selama ini saya berharap anak rajin membaca dengan menyuruh membaca sepertinya salah besar.

Oya, satu lagi tips lain adalah membiasakan membaca buku sebelum tidur. Padahal, dulu kita sering dinasehati jangan membaca sambil tiduran nanti matanya sakit. Makanya buku monitoring tersebut menyarankan ortu membelikan lampu baca di ruang tidur. Aha…pantas lima tahun lalu saat menjalani profesi sebagai house keeper di hotel/apartemen selalu saya temukan buku yang tergeletak di meja tepat disamping tempat tidur.

Bisakah tips ini diterapkan di negeri kita? Sulit…jika anak masih dibebani pelajaran yang begitu banyak seperti saat ini. Kebiasaan membaca haruslah diintegrasikan dengan kurikulum. Setiap saya tanyakan Amira tadi belajar apa? IPA? IPS? dia hanya katakan: Tidak ji, main-main di sekolah, main game, holahop, menulis, membaca, menyanyi pakai bahasa jepang. Hingga saat ini anak 8 tahun itu tidak pernah mendapat PR kecuali membaca buku cerita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s