Menengok Privatisasi Listrik Victoria

Kalau bisa memilih ingin rasanya menyudahi pembicaraan via telfon saat itu. Kepala sudah mulai terasa nyut-nyutan, matapun berkunang-kunang dan telinga terasa panas ketika harus berkonsentrasi penuh mendengar penjelasannya. Meski pernah tinggal dua tahun di negeri ini berbicara via telforn dengan native speaker tetap saja serasa mengerjakan test listening. Sayang saya tidak punya kosa kata dan cara untuk segera mematikan hp meski pembicaraan telah berlangsung selama setengah jam. Bahkan saya pun menurut saja ketika di minta untuk menunggu sementara ia sedang mengkalkulasi angka-angka dan melakukan pengecekan kesana-kemari. Atau ketika saya disuruh mencari pulpen dan mencatat angka-angka saya hanya menurut. Hingga akhirnya saya putuskan untuk mengiyakan saja apa yang ia katakan sembari berharap bisa segera menyantap makan siang menjelang sore hari itu.

Sang penelfon tersebut adalah staff salah satu perusahaan listrik. Beberapa minggu lalu memang ada satu marketing perusahaan lain yang menawarkan billing yang konon katanya lebih murah dibandingkan dengan perusahaan sebelumnya yang saya gunakan. Saat itu kondisinya tak jauh berbeda. Hanya saja karena pembicaraan face to face jadi bisa segera di klarifikasi. Saya sendiri tidak pernah menyangka strategi marketing perusahaan-perusahan listrik akan seagresive itu. Beberapa teman memang pernah menceritakan hal tersebut tapi tidak pernah saya perhatikan dengan baik. Background dari masyarakat negara berkembang membuat saya sedikit curiga saat staf marketing tersebut menawarkan diskon-diskon. Ya…kasus penipuan terlalu sering terjadi di negeri kita bukan. Makanya sejak awal pembicaraan saya sudah mencoba menghindar. Tapi, lagi-lagi karena sama-sama dari negara berkembang sepertinya ia memahami kondisi saya. Ia pun mencoba menjelaskan lagi dan berusaha meyakinkan bahwa jika saya pindah provider maka tagihan listrik akan menurun. Akhirnya, saya tanda tangani juga kontrak untuk berganti provider setelah pembicaraan berlangsung hampir satu jam.

Begitulah..hari-hari berjalan seperti biasa. Tapi, hakikat persaingan tidak ada satu perusahaan pun yang rela jika pelanggannya dibajak. Yang terjadi ya seperti yang saya ceritakan di atas. Ia menanyakan alasan saya kenapa berpindah. Saya katakan pula bahwa perusahaan kedua menawarkan diskon yang lebih tinggi. Ups..ternyata jawaban saya malah memancing percakapan panjang lebar seperti yang saya ceritakan di atas. Hingga ia pun menawarkan diskon yang lebih tinggi lagi jika saya kembali alias 20% dari total billing. Bahkan ia coba mengkalkulasi tagihan saya dengan tarif baru dan membandingkannya dengan tarif yang dikenakan perusahaan kedua. Lagi-lagi saya pasrah…bingung. Ok..lah asal urusan segera selesai saya iyakan saja. Ternyata tak cukup disitu. Saya di minta kembali menelfon perusahaan kedua untuk membatalkan kontrak jika saya kembali ke perusahaan pertama. Hufff…yah sudahlah. Begitu saya telfon perusahaan kedua feeling saya tidak enak. Karena dorongan perut yang sudah mulai melilit dan kepala semakin berat saya berusaha keluarkan kosa kata yang tidak memungkinkan customer service membujuk saya membatalkan kontrak. Akhirnya beres semua meski saya sendiri belum sempat mengkonfirmasi teman perusahaan mana yang lebih rendah tarif listriknya.

Hahai…begitu rupanya efek privatisasi listrik. Masyarakat mendapat banyak pilihan dengan perusahaan mana ia akan mendapatkan aliran listrik. Namun demikian, kabarnya privatisasi di Australia dianggap gagal untuk menyediakan listrik dengan harga yang lebih rendah dibanding saat dikelola penuh oleh pemerintah. Di negara bagian Victoria pada saat listrik dikelola oleh State Electricity Commission (SEC) tarif listrik justru menurun dari tahun ke tahun. Sebaliknya, tarif listrik terus meningkat sejak diterapkannya privatisasi. Padahal, secara konsep dengan adanya kompetisi sebagaimana ide yang diusung oleh New Public Management (NPM) seharusnya dapat mendorong efisiensi biaya. Dalam kondisi pasar yang sempurna idealnya harga yang tercipta adalah harga yang paling efisien. Kenapa bisa begitu ya…

Untuk memudahkan penjelasan mungkin ada baiknya saya kutipkan istilah2 yang baru beberapa hari saya baca baik-baik. Jadi ternyata…ndeso tenan memang karena baru tahu mekanisme pengaliran listrik untuk sampai kerumah-rumah ada beberapa istilah dalam proses penyediaan listrik, generation, transmision, distribution, dan retail. Saya kutipkan saja ya dari buku tahunan penyedia listrik citicorp.com, Generation companies produce and compete to sell it in the Wholesale National Electricity Market, The transmition network tranports electricity from generators at high voltage to five Victorian distribution network, Distributors convert electricity from the transmision into low and high voltage and deliver it to homes and businesess, The retail sector of the electricity market sells electricity and manages customer accounts. Retail companies issue customers’ electricity bills, a portion of which includes regulated tariffs payable to transmission and distribution companies for transporting electricity along their respective networks.

Memang benar saat ini banyak electricity retailers atau perusahaan-perusahaan listrik yang bermain di pasar. Hanya saja mereka hanya bermain di sektor hilir. Mereka hanyalah perusahaan yang bertanggungjawab pada billing alias tagihan listrik. Klo di negeri kita biasanya pengelolaan tagihan, yang saya tahu di beberapa PDAM, juga di lakukan oleh swasta hanya saja dengan sistem outsourcing bukan sistem kompetisi seperti di sini. Nah, electricity retailers inilah yang memperebutkan pasar sektor hilir termasuk saya ini yang jadi rebutan. Sayangnya listrik bukanlah sejenis jeruk ataukah cabe yang bisa ditanam banyak petani dan dijual siapapun tanpa butuh modal besar. Memang, di sektor hilir kompetisi bisa dimunculkan dengan harapan masing-masing perusahaan akan dapat memproduksi dengan biaya yang paling efisien.

Tapi, lagi-lagi penyediaan tidak bisa diterapkan sistem kompetisi ya karena jaringan distribusinya hanya satu. Jadi meski telah diprivatisasi sejak pertengahan tahun 1990an tetap saja perfect competition seperti yang diharapkan oleh Adam Smith tidak berlaku. Untuk memperjelas gambar dibawah merupakan peta negara bagian Victoria. Area arsiran kuning yang digaris merah adalah area distribusi listrik yang dikelola oleh Powecor Australia. Area kuning dengan garis biru yang merupakan wilayah Melbourne berada dibawah kendali citipower. Jadi, meski di sisi electricity retailers sudah tercipta persaingan tapi di sisi distribusi yang berlaku tetaplah monopoli. Proses pengalihan dari pemerintah ke sektor swasta bisa jadi proses tenderingnya sudah memenuhi kriteria persaingan yang sehat sehingga pengelolaan listrik dimenangkan oleh perusahaan yang menawarkan harga paling tinggi.

listrik vic

Dengan munculnya retailers ini juga semakin menambah biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat. Lagi-lagi kok bisa ya padahal sudah kompetitif. Justru di sini lah permasalahannya. Pada saat listrik dikelola oleh pemerintah tidak dibutuhkan pemasar-pemasar. Ketika pasar dibuka, untuk retailers, perusahaan-perusahaan terpaksa membayar para sales termasuk yang datang kerumah saya. Jumlah tenaga pemasar berlipat sementara investasi untuk tenaga teknis semakin berkurang. Alhasil total biaya yang harus dibayar masyarakat meningkat sementara kualitas menurun. Semenjak di sini tiga bulan saya sudah mengalami mati lampu dua kali, tidak dalam hitungan menit tapi beberapa jam. Kalau di negeri kita barangkali wajar. Lha kalau di sini aneh mati lampu. Konon kabarnya privatisasi listrik khususnya di Victoria didorong kebutuhan penganggaran untuk membayar hutang. Sayang memang, ketika pemerintah mampu berproduksi secara efisien tak seharusnya privatisasi dilakukan…atau lebih tepatnya ketika persaingan sempurna tidak mungkin diciptakan tak seharusnya dilakukan privatisasi…

Yang pasti kalau masih dikelola pemerintah pastilah saya tidak perlu kliyeng-kliyeng seperti ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s