Swedia…tunggu aku

“Do you think it is interesting?”

Ups…jujur nggak ya? Belum sempat saya jawab ia pun melanjutkan “May be not. But it is good”. Sejak awal saya sendiri merasa topik saya kurang menarik, bahkan untuk diri saya sendiri. Kalaupun saya putuskan untuk mengambil topik itu maka lebih didasarkan pada kemudahan aksesibilitas data. Selain tentu saja hasrat-hasrat terselubung agar bisa menetap di sini. Kalau mau menuruti keinginan sebenarnya saat ini fokus pada akuntansi pemerintahan jauh lebih menantang dibanding masalah per-LAKIP-an. Lima tahun terjerumus dalam dunia akuntabilitas kinerja sesungguhnya cukup menorehkan kejenuhan. Apalagi melihat fakta ‘kegagalan ‘konsep pengukuran kinerja untuk diaplikasikan di negeri sendiri seolah semakin menguatkan bahwa riset saya tidak terlalu banyak membawa manfaat. Bagi saya jelas ada dan itu tak perlu diragukan. Kalau buat instansi pemerintah? Hmmmm apa ya?

Semua berjalan bagai air. Jalani sajalah sembari mencoba mencari-cari hal yang bisa memberi manfaat lebih sebagaimana niatan awal. Hingga akhirnya saya putuskan untuk berterus terang saja bahwa sejak awal saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dan apatis dengan manfaat riset pengukuran kinerja. Ditambah lagi setahun lalu proposal saya pernah ditolak oleh calon supervisor dengan alasan sudah banyak riset serupa. Plus konon kabarnya kalau tema sudah jadul akan sulit untuk berpartisipasi dalam konferensi. Padahal konferensi adalah salah satu target yang mungkin bisa memfasilitasi impian untuk menapakkan kaki di benua lain.

Rupanya pepatah witing tresno jalaran saka kulina terbukti. Bahkan sejak awal pertemuan dengan supervisor saya. Ya..bagaimana saya tidak begitu antusias saat dia katakan “you may go to Sweden to do comparative study if you like”. Wow… ke Swedia…Eropa gitu lho. Begitulah saya sendiri termasuk orang yang percaya kepada mimpi. Meski dan meski impian itu hanya saya simpan di hati dan tanpa upaya keras untuk menjemputnya alam semesta akan mengulurkan tangannya. Secara karakteristik tata pemerintahan Swedia mirip dengan Indonesia dimana otoritas pemerintah daerah cukup besar dibandingkan dengan municipalities di Australia. Saat ini supervisor saya sedang mengerjakan penelitian tentang pengukuran kinerja di Swedia. Kalaulah dulu sempat berkecil hati tidak bisa mendapat kesempatan untuk kuliah di world class university biarlah asal dari tempat ini bisa mendapatkan banyak hal. Akses bebas ke jurnal-jurnal internasional setidaknya membuat saya seperti terbang mengarungi langit yang begitu luas membentang untuk siap disinggahi dimanapun. Apalagi dengan supervisor yang baik dan fleksibilitas waktu serta setidaknya modal dasar lima tahun berkecimpung dengan akuntabilitas kinerja tak perlu membuat saya harus terus mengerutkan kening sembari bisa belajar tentang accrual accounting dan internal control system.

Aha…dan di pertemuan ketiga dengan supervisor ini pun akhirnya saya mulai menemukan kembali sisi-sisi gelap akuntabilitas kinerja yang harus saya terangi. Bisa jadi apatisme saya bermula dari rasa sok tau dengan apa yang terjadi. Padahal, dari sisi konsep pengetahuan saya masih nol. Ya…dari titik nol ini lah PR yang harus saya kerjakan adalah menyambungkannya dengan sisi praktis agar menjadi satu rangkaian kisah yang layak untuk dinikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s