Saat IT menjadi kebutuhan (BB Jilid 3)

Kali ini rasa minder itu sudah berada di titik nadir. Bisa jadi ini hanya perasaan saya saja. Tapi begitulah adanya. Rupanya prediksi yang saya dasarkan pada pengalaman beberapa tahun silam kali ini tidak berlaku lagi. Kalau saat itu saya tetap merasa PD dengan HP jadul, rupanya saat ini tidak begitu. Bahkan, untuk mengeluarkan dari saku untuk sekedar melihat berapa lama lagi saya akan turun dari tram pun terpaksa saya redam.

Layaknya seorang pengamat sosial amatiran setiap naik tram selalu saya layangkan pandangan ke seluruh penjuru, dari dalam tram hingga di luar jendela. Gayanya sih mencoba mengurai fenomena sosial yang saya amati disini. Padahal.. Kalau beberapa tahun lalu saat di Canberra saya sering menemukan banyak penumpang bis yang membaca buku dan memasang headset sambil menikmati pemadangan dari jendela kali ini sungguh jauh berbeda. Beberapa orang memang membaca buku, selainnya? Pasti bisa ditebak…ASRI (Asyik sendiri-sendiri sebagaiamana kata Rhenald Kasali) sambil memegang gedgetnya masing-masing. Makanya, saya begitu minder. Dengan teknologi informasi saat ini dari dalam tram pun kita bisa melakukan banyak hal.

Tapi ada satu hal yang menarik. Sebagaimana dinyatakan teman saya di sini pun sama dengan Amerika di mana BB tidak popular. Selama hampir empat minggu di sini belum pernah sekalipun saya temukan seseorang sedang menggunakan BB kecuali satu rekan saya dari Indonesia. Wajar saja baragkali. BB memang ditujukan menjembatani komunikasi intens suatu komunitas. Makanya ia laris manis di Indonesia yang secara ideologi menganut paham collectivism. Aha..sepertinya saya perlu mengkonfirmasi rekan-rekan saya dari negara berkembang lainnya soal ini. Di negara liberal dan individualis seperti di sini bisa jadi BB memang tidak relevan. Tak heran kalau mereka lebih memilih menggunakan gadget lain yang memungkinkan mereka menjelajah dan menikmati berbagai kemudahan dengan beragam aplikasi.

Sebaliknya, kalau di Indonesia saya merasa tetap baik-baik saja dengan HP jadul di sini saya sangat-sangat menderita (lebay.com). Penolakan saya terhadap BB sudah jelas sebagaimana dalam tulisan BB seri 1 lebih terkait dengan ideologi. Tentu rekans semua juga masih ingat di era-era awal BB diproduksi gadget tersebut bisa menjadi symbol atau menggambarkan status social seseorang. Ini lah inti dari ketidak sukaan saya dengan BB yaitu ketika sebuah produk diproduksi untuk mengangkat gengsi seseorang.
Kesadaran saya untuk menginginkan gadget yang cukup lumayanlah…tidak perlu bagus sekali, lebih didasari atas keinginan untuk narsis….ups..maksud saya untuk memenuhi kebutuhan kekinian.

Ketidakpunyaan saya akan gadget masa kini bisa menyebabkan saya menggigil kedinginan, tersesat, salah makan, bahkan hingga lupa sholat. Akibat yang pasti ketahuan adalah bengong di tram. Tidak percaya?
Di negeri di mana Islam menjadi minoritas jelas jarang sekali, bukan jarang tapi tidak pernah, mendengar adzan secara langsung. Waktu sholat pun berubah-ubah. Kalau pada bulan-bulan july maghrib bisa jam 5 an maka kalau bulan Januari sholat maghrib baru dimulai pukul 9an. Nah, bagi saya yang belum punya gedget dengan aplikasi adzan tentu bisa selalu terlambat atau terlalu cepat shalat.
Sama halnya dengan arah kiblat. Di Indonesia kita bisa menentukan arah kiblat dengan mendasarkan pada jatuhnya bayang-bayang karena letak negeri kita yang dilintasi garis khatulistiwa. Misalnya, ketika kita berada di suatu tempat yang tidak diketahui arah kiblatnya saat jam 1 siang maka kita cukup mengamati dimana jatuhnya bayangan pohon dari jendela. Karena sudah melewati jam 12 maka arah barat searah dengan jatuhnya bayangan. Nah, dari situ kita bisa menentukan arah kiblat. Mudah bukan. Lha kalau di sini?

Selama musim dingin ini pergeseran bayangan hanya sekitar empat puluh lima derajat dari pagi hingga sore. Matahari tidak pernah berada di atas ubun-ubun. Jadi penentuan waktu jam 12 siang pun tidak bisa ditentukan dengan menetapkan kapan terik sudah mencapai puncak.

Bagaimana dengan ketersesatan? Hahai…inilah alasan saya mengapa ngebet gedget baru. Sebagai orang baru saya perlu mengurus banyak hal. Dari mulai melapor ke konjen hingga orientasi siswa baru di kampus yang berbeda lokasi dengan biasanya. Lagi-lagi saya sangat berterima kasih pada Ita Dharma dan Kak Dharma Aryani yang selalu bersedia meluangkan waktu untuk menjadi tourist angel saya. Di Indonesia tanpa aplikasi map di HP saya merasa baik-baik saja. Apalagi Makassar. Hampir semua area sudah saya jelajahi. Ya.. karena sejak tahun 1996 sudah saya tapakkan kaki di kota ini. Kalau pun sempat tersasar akan banyak orang yang baik hati menunjukkan di mana tujuan kita. Lha kalau di sini…please deh..come back to your country saja klo begitu. Tidak mungkin saya bertanya pada orang-orang yang kalau berjalan saja cepatnya minta ampun karena ritme hidupnya memang dituntut untuk bisa melakukan banyak hal.

Ya..semua serba on-line. Dalam hal public transport, misalnya, kalau di Indonesia kita langsung membayar ongkos ke sopir di sini harus memakai kartu yang disebut Myki. Bisa saja beli di suatu waralaba. Tapi lagi-lagi teknologi diciptakan untuk memudahkan hidup manusia. Cukup klak-klik dari rumah kartu bisa di dapat dan ditambah saldonya sehingga terbebas dari inspeksi petugas saat naik train, tram atau bis. Sama halnya dengan pemesanan taksi. Semua serba online. Jadi untuk saya yang sok pede dengan HP jadul wajib mereka ulang cara berfikir saya. Ya..dunia baru yang saya tapaki ini membutuhkan satu tambahan kemampuan bagi setiap warga negara untuk melek teknologi jika ingin survive. Karena teknologi sudah bukan jamannya lagi menjadi sekedar untuk menaikkan gengsi ataupun alat untuk menawarkan ide konsumerisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s