Kapan Beli BB?

Jadi, kapan beli BB?

Entah kenapa pertanyaan tersebut begitu sulit saya jawab. Yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah tersenyum-senyum menatap sang penanya sembari berharap sebuah pengertian. Saat ini BB adalah satu alat komunikasi yang sangat penting bagi kami yang kebetulan bersama-sama menggarap blog warungkopipemda. Pertemuan secara fisik bagi kami berlima teramat sulit dilakukan meski kami masih dalam satu tempat kerja. Pola penugasan kantor yang sering mengharuskan kami ke luar kota membuat interaksi via gedget menjadi sangat dibutuhkan. Apalagi, saat-saat kami harus membuat keputusan penting terkait dengan penerbitan buku.

Diantara kami berlima hanya saya lah yang belum punya BB. Saat ini pun saya sedang tersenyum-senyum sendirian membayangkan kekonyolan saya yang tidak segera membeli BB. Bagi saya membeli BB bukan sekedar sebuah keputusan untuk merogoh kocek yang lebih dalam. Entahlah…mungkin saya saja yang terlalu lebay. Hahaha…padahal ujung-ujungnya karena belum tersedia anggaran. Kalau anda penikmat Para Pencari Tuhan mungkin masih teringat ucapan Loly asisten Pak Jalal ketika diminta untuk memilih busana muslim ia selalu menjawab berputar-putar. Ia katakan, tidak sesuai karakter. Tapi begitu Pak Jalal memilihkan salah satu busana muslim langsung ia katakan bahwa busana tersebut sesuai dengan karakternya. Bisa jadi alasan saya tidak membeli BB juga hampir sama, tidak sesuai dengan karakter saya.

Kalau beberapa bulan yang lalu saya tidak terlalu galau dengan ketidakpunyaan BB, kali ini seolah terjadi perang pemikiran di kepala. Sejak awal sebenarnya saya sudah berprinsip bahwa saya tidak akan membeli BB. Entahlah mengapa saya mempunyai pemikiran seperti itu. Barangkali ini hasil interaksi saya dengan teman-teman dahulu ketika mendiskusikan masalah pop-culture hegemoni budaya dan budaya tanding. Wuihhhh..lagi-lagi saya berlebay ria. Tanpa mendiskreditkan BB itu sendiri, ada pemikiran bahwa BB adalah bagian dari pop-culture atau budaya pop atau budaya instan yang sengaja diciptakan untuk menjadi tren dan seolah memaksa hampir seluruh masyarakat untuk mengadopsi budaya tersebut.

Dari hasil googlingan ke wiki dan situs lainnya pop culture adalah seperangkat ide, cara pandang, sikap, ataupun fenomena yang dianut oleh mayoritas masyarakat khususnya budaya barat pada awal hingga pertengahan abad 20 hingga kini menjadi fenomena global. John Storey mengatakan bahwa “This is seen as a commercial culture, mass-produced for mass consumption by mass media“. Artinya, pop culture adalah sebuah budaya komersial yang diproduksi secara masal untuk dikonsumsi secara masal dan dipasarkan melalui media masa. Budaya pop ini juga selalu ditandingkan dengan high culture atau budaya luhur. Dalam konteks kemasyarakatan kita hal ini sangat mudah ditemukan. High culture atau budaya luhur adalah budaya milik masyarakat yang telah lama ada dan keberadaannya akan terus dilestarikan. Tari-tarian daerah dan gamelan adalah contoh budaya luhur tersebut. Sebaliknya, pop culture juga akan sangat mudah ditemukan bentuknya saat ini. Menjamurnya boy band saat ini adalah salah satu bentuk pop culture. Tak hanya seni produk pop culture juga merambah banyak hal, dari produk makanan hingga teknologi. Fast food adalah contoh lain dari budaya pop yang saat ini lebih disukai anak-anak daripada kuliner negeri ini yang lebih banyak kandungan vitaminnya. Bagaimana dengan teknologi? Dalam hal ini saya menganggap BB pun bagian dari pop culture. Rhenald Kasali dalam Cracking Zone juga membahas hal ini dan menyebut para pengguna gedget ini sebagai Gen-C.

Bagaimana dengan kosa kata kedua yang menjadi alasan saya belum membeli BB?
Hegemoni budaya. Hegemoni sendiri jika ditelusur di google berasal dari kata yunani yang diartikan sebagai dominasi satu negara kota yunani terhadap negara-nagara kota yang lain yang kemudian berkembang menjadi dominasi satu negara terhadap negara lain. Dalam konteks budaya, saat ini kita bisa lihat bagaimana budaya barat begitu mendominasi budaya negara lain. Sebagaimana pembahasan pop culture di atas, musik, makanan, life style, produk negara barat telah merasuk menjadi sebuah budaya baru di negeri ini. Hingga akhirnya budaya sendiri lambat laun mulai dilupakan. Makanya, tak hanya pemerintah para penggiat budaya daerah begitu berjuang gigih mencoba menghidupkan high culture atau budaya luhur tersebut sebagai sebuah budaya tanding atau counter culture.

Lalu apa hubungannya dengan keputusan sesaat saya untuk tidak memiliki BB?

Saya tidak bisa memungkiri diri sendiri bahwa saat ini, lagi-lagi mungkin karena ke-lebay-an, saya sedang membangun budaya tanding dengan tidak membeli BB. Secara personal keputusan ini adalah salah satu bentuk ideologi perlawanan terhadap dominasi BB meski dalam banyak hal tidak bisa saya pungkiri manfaatnya. Lebih dari pada itu penyebab lainnya barangkali adalah phobia saya yang tidak bisa mengendalikan diri. Saat ini saja saya sering tidak bisa menahan diri untuk membuka fb apalagi kalau punya BB. Ah…pasti akan merepotkan diri saya sendiri.

Hmmmm…keputusan itu memang belum final. Mungkin ketika sudah terdesak mau tidak mau saya harus membeli BB…atau jangan-jangan hanya masalah ketersediaan anggaran he..he..he..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s