Dunia sudah berubah, Bung! (BB Jilid2)

Belum pernah saya merasa minder seminder-mindernya seperti saat itu. Apalagi hanya masalah ketiadaan gedget yang terbaru. Bahkan ketika delapan tahun lalu rekan-rekan saya hampir tiap hari meledek hp saya yang hanya bisa sms dan menelfon pun saya masih tetap pede sekali. Ya..saat itu hampir seluruh teman saya sudah memiliki hape dengan berbagai fasilitas khususnya kamera. Atau, ketika kebanyakan rekan seangkatan dan adik kelas sudah memiliki mobil saya masih tetap bisa menikmati suasana pete-pete (angkot-red). Bagi saya sepanjang kebutuhan saya masih bisa dipenuhi dengan apa yang saya miliki itu sudah lebih dari cukup.

Namun, ada suatu saat dimana saya merasa begitu jadul dan sangat membenci ketidakpunyaan saya. Hingga akhirnya mondorong saya untuk bertanya berapa harga gedget tersebut kepada seorang rekan yang kemana-mana selalu membawa tablet. Saat itu adalah saat dimana keangkuhan saya sebagai seorang digital immigrant dipertaruhkan. Keangkuhan tersebut sebenarnya terbangun dan menguat ketika saya membaca sebuah artikal dari salah seorang peserta lomba menulis Internet Cerdas Indonesia yang mengatakan bahwa para digital native sebenarnya lebih banyak menggunakan teknologi sebagai alat untuk having fun saja. Dalam banyak hal mereka justru kalah dengan para digital immigrant yang bisa menggunakan produk-produk teknologi secara efektif.

Istilah digital immigrant versus digital native sendiri diperkenalkan oleh Marck Prensky. Kalau dalam pembelajaran bahasa inggris dikenal native speaker sebagai seseorang yang dari sononya sudah bisa bahasa inggris maka begitu halnya istilah digital native. Generasi digital native adalah generasi yang ketika lahir ia telah dikelilingi oleh produk-produk digital yang menjadikannya begitu fasih menggunakan jari jemari dan fikirannya untuk menggunakan teknologi. Sebaliknya digital immigrant hanyalah pendatang yang harus berjuang untuk bisa hidup dan bertahan di tempat yang baru. Ya…Digital immigrant adalah generasi-generasi yang harus mengadaptasi hasil kemajuan teknologi karena ia dilahirkan pada zaman ketika produk-produk digital tersebut belum ditemukan. Lihat saja, saat ini anak-anak usia tiga tahun pun sudah pandai memainkan hp, Ipad, laptop dan produk digital lainnya. Rhenald kasali menyebut generasi ini dengan generasi yang ketika lahir sudah membawa mouse. Tentu, generasi ini berbeda dengan generasi yang lahir di tahun 1960an atau 1970an yang harus belajar mengadaptasi produk-produk teknologi tersebut. Termasuk saya yang baru mengenal computer ketika sudah menginjak 17 tahun.
Fakta yang ada, khususnya di Indonesia, para digital native ini lebih banyak menggunakan produk digital tersebut sebagai sarana untuk having fun, dari nge-game hingga bersosial media. Kalau anda membaca buku Cracking Zone Rhenald Kasali memberikan gambaran yang begitu gamblang tentang perubahan perilaku masyarakat, tak hanya para digital native tapi juga digital immigrant yang sudah mulai berhasil beradaptasi. Kemajuan teknologi digital inilah yang kemudian melahirkan Gen-C yang tidak dibatasi usia namun dibentuk oleh teknologi digital. Jadi, tidak hanya para ABG tapi bisa saja kita dan orang-orang dewasa yang memiliki sifat-sifat sebagai Gen-C. C menurut penelitinya Dan Pankraz bisa berarti content, connected, digital creative, concreation, customize, curiousity, dan cyborg. C juga bisa berarti cyber, cracker dan chameleon. Karakteristik Gen-C ini mudah berubah-ubah sebagaimana chameleon atau bunglon. Kalau seseorang mengecat mengecat rambut dengan warna coklat maka ia pun berbaju coklat, sepatu coklat, tas coklat dan seterusnya.

Karakteristik lainnya dari Gen-C adalah apa yang disebut sebagai ASRI atau asyik sendiri-sendiri. untuk mengidentifikasi karakteristik ini sekali-sekali cobalah perhatikan perilaku sekelompok remaja atau bahkan orang dewasa ketika menunggu makan siang di sebuah restoran. Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka terlibat dalam canda tawa ataupun cerita seru yang menyedot perhatian rekan-rekannya? Ataukah mereka semua diam tertunduk sambil memainkan jari jemari dan menatap benda kecil yang ada di tangannya? Jika ya…merekalah para generasi ASRI. Gedget telah membuat perubahan interaksi dunia nyata menjadi seolah kurang penting. Para digital native ini mampu melakukan beberapa hal dalam waktu bersamaan, mengerjakan PR sambil ber-fesbuk dan mendengarkan musik pada saat bersamaan. Pola interaksi sosial semacam ini membuat yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi dekat.

Saya sendiri sangat mengkhawatirkan kalau suatu saat kelak anak-anak saya lebih asyik menatap produk-produk digital ini dari pada bercerita dengan antusias pengalaman hari itu saat menyantap makan malam bersama. Atau mereka tetap menyantap malam bersama, bercerita namun tetap diselingi dengan aktivitas senam jari. Ah…sebagai seorang digital immigrant jujur saya tidak mengharapkan hal itu terjadi. Makanya, keputusan untuk tidak membeli BB pun juga salah satunya agar saya bisa memberikan contoh bagaimana menghormati kehadiran orang-orang yang kita cintai. Jadi..kalau anda menelfon ataupun sms saya diluar jam kantor..mohon maaf selalu mendapatkan jawaban terlambat.

Ups..ternyata saya belum menceritakan peristiwa yang membuat saya minder seminder-mindernya. Delapan bulan yang lalu saya mengikuti program English for Academic Purpose (EAP) di Denpasar. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa setidaknya selama dua bulan saya bisa menjadi bos bagi diri sendiri karena tidak ada atasan yang menyuruh. Tidak hanya kesempatan belajar berbahasa Inggris dengan native speaker yang pasti saya memungkinkan saya untuk mendapatkan teknik-teknik presentasi dan mengajar secara tidak langsung. Tidak hanya dari teacher saya pelajari teknik tersebut tapi juga rekan seperjuangan karena rata-rata mereka adalah dosen di berbagai universitas. Hahai…kesempatan seperti inilah yang sangat saya syukuri karena sebagai PNS kita lebih sering bergaul dengan orang-orang yang homogen, sama background pendidikan dan pekerjaan. Di sini lah titik balik saya dalam memandang produk digital terbaru mulai berubah. Yang jelas hampir seluruh rekan saya memiliki gedget yang memungkinkan mereka bisa mengakses internet di dalam kelas. Bahkan ada satu rekan yang kami juluki sebagai Mr Tablet karena sedikit-sedikit ia membuka tablet untuk mendapatkan informasi tentang kata-kata asing. Bahkan beberapa kali ia mempertanyakan jawaban teacher kami yang memang native speaker ketika ia mempunyai pendapat berbeda. Jelas ini menjadi tantangan tersendiri bagi teacher saya. Rekan saya yang lain juga demikian. Jujur saya sangat mengagumi atas pengetahuan umumnya yang sangaaaat luas hingga teacher saya pun tertegun dan menanyakan ‘how do you know that’. Sambil tersenyum ia pun menjawab ‘from the internet’. Sama halnya dengan rekan yang saya tanyakan berapa harga gedgetnya tadi, ia pun bisa mengerjakan tugas-tugas dikelas secara lebih efektif karena bisa langsung diketik sekaligus mencari informasi dari internet. Di sini lah sepertinya saya diberikan teguran. Persepsi saya selama ini tentang pengguna gedget yang lebih cenderung digunakan hanya untuk menaikkan gengsi dan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat berubah drastis. Ya…selama gedget tersebut bisa memberikan manfaat yang siginifikan kepada pemakai tentu hal ini layak untuk dipertimbangkan. Bukan sebaliknya sebagaimana kata seorang guru olahraga saya waktu SMP saat melihat kami bermain bola voly: dipermainkan bola atau dalam konteks ini dipermainkan gedget.

Tak heran kalau dalam bab-bab pendahuluan Cracking Zone Rhenald Kasali membuka buku tersebut dengan memaparkan perilaku pengguna teknologi. Tujuannya adalah untuk memetakan perubahan di Abad 21 dan keluar dari perangkap comfort zone. Rhenald sendiri pada prinsipnya juga menyatakan bahwa perilaku para Gen-C ini sebagai suatu masalah. Tapi ketika kita menempatkan diri sebagai seorang enterpreneur mau tidak mau harus bisa memahami perubahan yang terjadi khususnya selama dasawarsa terakhir ini. Namun, di akhir bab Rhenald juga menuturkan bahwa meskipun

One thought on “Dunia sudah berubah, Bung! (BB Jilid2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s