Ternyata saya (tidak) sendiri

Bisa dibilang baru kali ini saya berbicara dengan gadis itu. Sejak kali pertama saya datang hanya beberapa kali saya duduk bersebelahan. Kalaupun duduk bersebelahan senyumlah yang sempat menjadi media komunikasi kami. Usianya sekitar dua puluh limaan. Ekuador…ya ia berasal dari negeri nun jauh di sana di Amerika Selatan yang tiap harinya menggunakan bahasa spanyol sebagai bahasa nasional. Aha..ternyata menurut mbah Wiki ekuador atau ecuador itu berarti khatulistiwa dalam bahasanya. Postur tubuh yang ramping, dan hanya selisih beberapa centimeter dibanding saya, berambut panjang, kacamata dan senyum manis yang selalu tersungging membuat mahasiswa berusia sekitar dua puluh lima tahun itu sering dianggap masih ‘anak-anak’ oleh teman dan teacher kami. Apalagi, kebiasaannya yang sering hadir terlambat membuat saya ‘bersuudzon’ bahwa dia adalah tipikal remaja yang mudah bergaul.

Sore itu, tak terlalu sore sebenarnya, karena satu kesalahan persepsi ruangan mana kami akan berlajar ia pun datang terlambat meski teman lainnya juga belum terlihat. Hanya sekitar lima orang sekedar duduk dan mengobrol tentang latar belakang kami masing-masing. Dari situ pula saya baru mengetahui bahwa Timor Leste, Filipina dan Ekuador mempunyai bahasa yang hampir sama. Kamustaka…begitu kata pertema yang diucap seorang rekan saya yang berbahasa tagalog saat menelfon sang anak. Beberapa detik kemudian rekan lainnya sudah mulai menimpali dan sepertinya paham apa yang menjadi pembicaraan ayah dan anak tersebut. Sekedar informasi kamustaka dalam bahasa tagalog berarti apa kabar. Filipina dan Ekuador mempunyai latar belakang sejarah yang sama di mana kedua negara tersebut pernah menjadi jajahan Spanyol. Timor Leste sendiri dijajah oleh Portugis yang letak negaranya bersebelahan dengan spanyol. Kalau tidak percaya silakan coba cek di google map. Jadi wajar kalau mereka mempunyai banyak kemiripan dalam berbahasa.

Begitulah….hingga akhirnya mahasiswa dari ekuador yang sempat menetap di Amerika tadi menceritakan hari-hari atau bulan-bulan pertamanya di sini. Sungguh…saya tidak menyangka kalau ia yang saya anggap sebagai mahasiswa gaul itu di di bulan-bulan pertamanya sering berlinang air mata. Bahkan ketika ditanya oleh ALO yang kami anggap sebagai ortu kami disini saat pertama kali bertemu ia hanya mampu menjawabnya dengan tangisan. Melbourne baginya adalah kota dimana ia merasakan kesendirian yang teramat sangat. Bisa dibayangkan dari sisi jarak tempuh Ekuador ke Australia ibarat melangkah dari ujung dunia yang satu ke ujung yang lain. Kalau kita ‘geber’ peta dunia dan kita tarik garis khatulistiwa maka untuk mencapai australia ia harus melintasi samudra atlantik dan samudra hindia. Tak heran, kalau kemudian rasa sendiri itu selalu menjadi teman karena jangankan rekan senegara, orang-orang-orang yang memakai bahasa yang sama pun jarang ia temukan. Baginya kota ini adalah kota yang aneh. Beragam orang dari banyak negara ada disini dan dalam banyak hal mereka menggunakan bahasa nasional sendiri-sendiri saat berada di tempat-tempat publik. Sayangnya, tak satupun dari orang-orang ini yang ia temukan berasal dari negaranya. Belum lagi soal makanan yang tentu menjadi tantangan tersendiri. Memang terlihat sepele namun ketika lidah tidak berkompromi dengan aroma dan cita rasa maka perut pun akan melakukan pemberontakan. Beruntunglah saya karena di kota ini ada beberapa rumah makan Indonesia atau kalaupun tidak saya tetap bisa merasakan masakan indonesia karena banyak asian store yang menjual bahan makanan kampung sendiri.

Wajar kalau kemudian ia mengatakan bahwa di Amerika ia tidak merasakan hal seperti ini. Ya karena di negeri obama tersebut banyak orang-orang dari Amerika Latin yang tidak hanya dari sisi bahasa tapi juga budaya tidak jauh berbeda karakternya. Sama dengan Indonesia, ekuador dan hampir kebanyakan negara berkembang menganut collectivism dimana ikatan satu orang dengan yang lain teramat kuat. Sehingga ketika ia masuk di negeri yang berfaham individualism ia harus berjuang untuk berdamai dengan diri sendiri dan segera membuat adjustment. Hingga akhirnya rekan saya ini pun mengatakan ‘saya harus belajar hidup sendiri dan mencintai kesendirian’ setelah beberapa kali mencoba dan berharap untuk berteman akrab dengan kawan-kawan baru di sini. Dan saya…lagi-lagi hanya bisa berucap…beruntunglah saya meski selalu meredam rindu dengan para kekasih saya masih mempunyai Ita Darma dan kak Dharma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s