Jer basuki mawa bea

“As you know that you have already commenced late, to be running errands at the expense of IAP is not taken lightly”

Jujur saya tidak tau persis apa isi email tersebut. Kalimat awal pastinya merujuk pada keterlambatan saya selama 2 minggu di kampus ini. Untuk kalimat berikutnya saya tidak tau persis. Awalnya saya berniat untuk tidak mempedulikannya. Tapi entah kenapa ada rasa tidak enak. Feeling saya mengatakan bahwa nada email tersebut adalah teguran. Makanya, begitu rekan saya tiba saya coba pastikan. Hahai..ternyata benar itu surat teguran karena saya tidak hadir sesi pagi itu. Komplit sudah derita hari senin. Dari pada jadi derita mending diolah lagi saja biar tetap enak disantap.

Ya, awalnya saya tidak berniat untuk menterlambatkan diri. Namun, karena adanya info penting soal rencana angkutan kelengkapan barang-barang saya putuskan untuk off sesi pagi. Awalnya juga saya hanya berniat untuk terlambat beberapa menit. Tapi setelah difikir nanggung juga makanya sekalian siang baru hadir di kelas. Agenda hari itu cukup padat. Memastikan angkutan, membereskan asuransi, dan ambil paket.

Di langkah pertama rupanya saya harus kecewa karena ternyata tempat yang saya tuju tidak menyediakan jasa removal alias pindahan. Yah..sudahlah. Agenda kedua siap di jalankan. Tujuan utama adalah memastikan berapa yang harus saya bayar untuk asuransi dan bagaimana cara pembayarannya. Sebenarnya saya tidak perlu jauh-jauh pergi ke kantor perusahaan asuransi tersebut karena di kampus juga ada. Hanya saja hari senin tidak buka. Seperti biasa..untuk mendapatkan alamat salah satu hal yang paling krusial dipahami di kota ini adalah map alias peta alias street direction (untuk detilnya akan saya ceritakan di seri BB Jilid 3). Makanya minggu malam saya sudah geber google map untuk mencari alamat kantor perusahaan asuransi tersebut sekaligus tempat pengambilan paket. Tak hanya itu, saya pun juga harus tau transportasi apa yang akan digunakan dan jalur yang mana saya harus ‘nyetop’ dan turun men-stop. Hmmmm…mumet..met..met.. Kalau di Makassar angkutan kotanya hanya pete-pete maka disini ada tram, train dan bis. Ketiganya mempunyai tempat pemberhentian (atau stop-an..ya anggaplah halte gitu lah) yang berbeda-beda dan hanya berhenti di tempat-tempat yang telah ditentukan tersebut. Singkat kata malamnya sudah saya pelajari semua termasuk saya simpan petanya di HP.

Gagal di langkah pertama tak membuat surut di langkah kedua. Begitu tram berhenti langsung saya menuju gedung berlantai 50an. Aha…ternyata kator asuransi ada di lantai 5. Langsung saya, untung ditemani rekan saya yang baik kak Dharma (thanks kk), bergegas ke lift dan segera memencet tanda panah ke atas. Begitu masuk di lift ternyata angka lima yang saya cari tidak ada. Ternyata saya salah masuk lift segera sebelum pintu tertutup kami bergegas keluar dan kembali celingak-celinguk mencari lift yang ke lantai 5. Begitu sampai di lantai lima feeling saya kembali merasa tidak enak. Dalam benak saya kantor asuransi yang saya tuju tersebut seperti kantor bank dengan banyak counter terutama untuk customer service-nya. Terus terang saya ingin berkonsultasi secara face-to face karena kalau melalui telefon saya harus sering-sering mengatakan ‘sorry…’ karena listeningnya masih dibawah standard kodong. Ternyata saya hanya mendapati tiga wanita yang tengah sibuk membalas telefon dengan seperangkat headset yang dihadapannya masing-masing ada computer. Begitulah…ternyata kantor yang saya tuju adalah layanan calling center yang menyambungkan pertanyaan pelanggan kepada officer yang menangani. Yah…sami mawon kalau begitu. Merekapun menyarankan kami untuk ke salah satu universitas dimana saya bisa mendapatkan consultasi secara langsung. Tentu saja mereka juga memberikan alamat secara jelas dan dengan moda transportasi apa untuk mendapatkan lokasi tersebut.

Begitulah…karena alasan nanggung segera kami bergegas ke alamat yang dituju dengan berbekal selembar kertas yang menunjukkan alamat dan nomor tram. Saya sendiri sebenarnya cukup ‘menikmati’ perjalanan mengitari kota. Setidaknya saya bisa menentukan titik-titik dimana saya bisa bernarsis ria…hehehe…apalagi kalau para kekasih sudah di sini. Benarlah ternyata di building yang saya tuju menyempatkan saya untuk menikmati indahnya taman kota dengan daun-daun maple yang telah berguguran. Tepat beberapa langkah dari pintu masuk kembali saya buka kertas yang diberikan operator asuransi. Ups….ternyata konsultasi baru buka jam 12.00, artinya saya harus menunggu satu setengah jam lagi. hhhhhhh… (kekecewaan jilid 2).

Sudahlah…masih ada agenda lain. Lebih baik segera saya ke tempat pengambilan paket. Kalau harus menunggu bisa dipastikan saya tidak bisa mengikuti sesi sore. Untuk menuju pengambilan paket saya harus naik bis pada jalur yang ditentukan. Artinya, saya harus naik tram dulu plus jalan kaki untuk bisa mendapatkan bis yang saya kehendaki. Saat itu adalah kali pertama saya naik bis di sini. Saya hanya ingat pesan teman saya bahwa halte bis berwarna orange, sedangkan tram warna hijau. Tepat ditempat yang telah saya pelajari malam sebelumnya, saya pun berdiri menunggu bis. Waduh…jujur saya lupa bagaimana harus ‘nyetop’ bis. Sementara masih berfikir ternyata bis yang saya kehendaki lewat begitu saja. Hmmm..apa harus melambaikan tangan ya? Tapi masak sih. Kembali saya perhatikan tempat pemberhentian bis yang diatasnya terpasang nomor bis dan jadwal pemberangkatan dari titik tersebut. Tak ada tanda semacam tombol atau apa yang mungkin bisa menjadi cara untuk menyetop bis. Tidak juga. Kembali saya perhatikan papan yang tertempel di tiang halte untuk kembali melihat jam berapa lagi bis akan lewat. Aha…ternyata saya salah menempatkan diri bis yang seharusnya saya tumpangi bernomor 232 sedangkan yang stop di halte tersebut bis 252. Pantas saja bis yang saya tunggu tetap melaju meninggalkan saya. Hmmmm…itu juga rupanya mengapa beberapa orang eropa yang sempat menunggu di halte sama berjalan ke halte berikutnya. Sudah pasti, tanpa melambaikan tangan pun bis yang saya tunggu berhenti setelah saya berpindah halte.

Tak cukup 15 menit saya pun sampai di halte tempat pengambilan paket. Dekat. Hanya saja kembali saya harus njajah deso milangkori mengayunkan kaki. Mungkin karena ada harapan besar terhadap paket tersebut rasa lelah setelah kesasar-sasar tidak begitu saya rasakan. Done. Meski sebenarnya ingin sekali membuka paket tersebut sepertinya saya harus bersabar. Jangan sampai ada yang tercecer jika saya buka di jalan dan kok sepertinya tidak sabar sekali. Ya sudahlah…nanti saja setelah sampai di rumah. Tapi, kembali feeling saya mengatakan saya akan kecewa.

Meski beberapa agenda tidak berjalan sesuai harapan minimal semua sudah dijalankan. So…waktunya menampakkan diri di kelas. Ternyata harapan saya untuk sejenak duduk santai sambil mencerna pelajaran yang hampir usai pupus sudah. Session sore diisi dengan amazing race yang kembali mengharuskan saya menjajah deso menyusuri kota Melbourne ini. Huffff…mungkin kalau dihitung-hitung jarak yang saya tempuh berjalan kaki selama seharian mencapai lebih dari empat kilo meter. Tak heran kalau kaki terasa pegal-pegal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s