Jadilah Elang….

Bald Eagle in Flight

Kalau lah ada nama binatang yang dijadikan nama manusia maka binatang itu adalah elang. Tidak percaya? Yuks kita coba…cacing, ular, buaya, cicak, bunglon, semut, kuda, sapi, kerbau, gajah…. hmmm…rasanya kok tega sekali kalau ada orang tua yang menamakan anaknya dengan nama binatang yang saya sebutkan tadi. Bagaimana dengan harimau atau macan atau singa? Tidak juga. Meski binatang yang saya sebutkan terakhir punya kharisma dibanding nama binatang lain tapi tetap saja saya belum pernah mendengar nama orang dengan nama binatang tersebut kecuali Sisinga Mangaraja dan Tiger Wood.

Berbeda dengan binatang-binatang yang saya sebutkan di atas, seseorang yang dinamakan elang tidak akan menyalahkan orang tuanya dengan nama yang diberikan. Bisa jadi ia merasa senang dan bangga dengan nama yang disematkan. Ya..elang adalah perlambang ketangguhan dan keperkasaan. Kalau anda ketikan kata filosofi elang di google maka yakinlah anda akan mendapatkan banyak referensi tentang kehidupan elang. Tak hanya itu, anda pun akan berdecak kagum dengan siklus hidup serta perangainya. Rupanya tulisan BB saya yang lalu memaksa saya untuk kembali membuka buku Cracking Zone Rhenald Kasali. Dari situ pula saya seolah dituntun untuk menjelajah kehidupan elang ketika Rhenald menggambarkan karakter-karakter SDM yang dimiliki perusahaan.

Sejak itulah saya mulai jatuh cinta dengan hewan pemangsa berdarah panas yang mempunyai mata sangat tajam ini. Dalam rantai makanan elang memangsa tikus, tupai, kadal, ikan, ayam dan beberapa jenis serangga. Kalau difikir-fikir hebat juga ya elang ini. Bayangkan bagaimana elang bisa memangsa ikan yang ada dalam laut ya. Elang pun mampu terbang dalam jarak yang sangat jauh dan sangat tinggi. Tak heran kalau kemudian ciri-ciri fisik ini sering disematkan pada beberapa pria yang mempunyai sorot mata yang tajam…sang mata elang. Tom Cruise adalah salah satu pemilik mata elang tersebut. Selain mata yang begitu menawan untuk diamati elang juga mempunyai paruh yang kuat hingga meski tidak punya gigi ia bisa mengoyak tikus, tupai dan ayam. Begitu juga dengan kaki dan kuku yang kuat dan tajam ia mampu mencengkeram mangsanya. Dan..taukah anda kalau elang bisa mencapai usia 70? Mempesona bukan…tapi untuk mampu mencapai angka 70 sang elang harus berjuang menahan derita saat usia menjelang 40 tahun. Hanya elang yang kuatlah yang mampu bertahan selainnya akan dijemput maut jika tak sanggup melewati masa kritis tersebut. Pada masa kritis itulah masa transformasi bagi elang untuk mengganti paruh, cakar dan bulu-bulu yang baru yang sudah tua dan menumbuhkannya kembali. Dalam proses transformasi tersebut sang elang harus mengasingkan diri ke puncak gunung dan tinggal di tepi jurang. Ia pun harus membentur-benturkan paruhnya agar terlepas hingga tumbuh paruh baru sebelum akhirnya mencabut satu per satu cakar dan bulu-bulunya untuk menumbuhkan yang baru.

Tak heran kalau kemudian Rhenald Kasali menyamakan karakter elang ini dengan para crackers. Ups..ini bukan crackers biskuit yang biasa anda nikmati bersama secangkir kopi lho…Crackers adalah para pencipta retakan-retakan yang mampu membuat gonjang-ganjing di dunia yang ia geluti. Yang pasti ia adalah pembuat perubahan yang efeknya mempunyai skala sangat luas. Dalam industri operator telfon seluler XL adalah salah satu contoh perusahaan, dipimpin oleh Hasnul Suhaimi, yang mampu memporakporandakan dunia perpulsaan. XL lah yang mulai menerobos tarif rendah dan merebut pangsa pasar operator lainnya. Dalam konteks organisasi ia tak hanya sekedar leader dalam sebuah perubahan tapi seorang crackers mampu merubah wajah industri sebagaimana yang telah dilakukan oleh XL. Menurut Rhenald Kasali seorang Crackers mempunyai mentalitas elang yang dengan kemampuannya ‘menjelajah’ ia siap ‘memangsa’ dan ‘mengoyak’ lawan. Rhenald pun menyandingkan elang ini dengan ayam. Hmmm anda bisa bayangkan jauhnya perbedaan keduannya. Masih mending kalau yang kita jadikan perbandingan adalah ayam jago…kalau ayam broiler…wah…njomplang sekali.

Chicken stays, Eagle flies…inilah yang menjadi inti dari perbedaan tersebut. Karyawan bermental eagle mempunyai karakter yang tidak menyukai comfort zone yang justru sangat dipegang oleh para chickens. Ketika seorang eagle berada di zona nyaman ia akan melakukan penjelajahan. Ia keluar dari organisasi dan mencari tantangan-tantangan baru. Mereka inilah yang dibutuhkan oleh perusahaan karena kemampuannya untuk melihat celah dan peluang-peluang bisnis yang semakin kompetitif. Kalau sebagian perusahaan hanya berisi para chickens..bisa dibayangkan ambang kematian sudah dihadapan. Mereka bukan lagi menjadi aset produktif yang bisa mencetakkan laba sebaliknya justru menanggung biaya.

Kalau di sektor privat saja karakter elang ini tidak banyak dimiliki oleh karyawan, apalagi di sektor publik ya. Jangankan seorang pegawai biasa para pimpinan pun sepertinya lebih suka tinggal di comfort zone dari pada mendobrak dan menjajal hal-hal baru. Kalaulah mereka menjajal hal baru pastilah ia sedang mencoba baju baru, sepatu baru, hape baru, mobil baru, rumah baru..ups…

Jadi?

 

3 thoughts on “Jadilah Elang….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s