Sapi-sapi Metropolis dan Teori Jendela Pecah

DSC01373
Seperti kemarin, sapi-sapi itu masih menikmati segarnya rerumputan di pagi hari tanpa peduli lalu lalang mobil sekitar. Terkadang mereka berpencar meski tak jauh jarak antara satu dengan yang lain. Di saat yang lain mereka bergerombol seperti sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang berjalan beriringan tanpa ada sang pemilik. Ya…tanpa seorang gembala yang mengarahkan ataupun menjaga agar mereka berjalan di jalur yang tepat atau agar tak seorang pencuri pun membawanya lari. Ketika mereka sudah terlihat kekenyangan sapi-sapi itu terlihat merebahkan badannya sambil kepalanya menoleh kekanan dan kekiri. Mungkin, ia cukup kelelahan setelah berjalan memburu hijau rumput di tengah kompleks perumahan kelas menengah itu.

Sapi-sapi itu selalu saya jumpai di pagi hari sekitar jam 07.00 setiap mengantar anak saya ke sekolah. Kebetulan lokasi sekolah anak saya ada di sebuah kompleks perumahan yang padat penduduk dan hampir semua rumah yang dibuat oleh pengembang telah terjual. Kebetulan juga di sisi depan sebelah kiri sekolah tersebut terdapat fasum yang sedianya dimanfaatkan untuk taman. Sayang, kondisinya saat ini tidak terawat. Dulu, sebelum taman tersebut di pagari sapi-sapi itu selalu merumput di sana. Karena adanya pagar betis yang melingkupi taman mereka berpindah ke sisi sebelah kanan dan kiri sekolah yang kebetulan masih berupa tanah kosong yang ditumbuhi rumput ilalang. Tak jarang saya sering menemukan sapi-sapi itu merumput di jalur pembatas jalan menuju sekolah. Di sore hari, bahkan, beberapa kali saya dapati mereka sedang menikmati udara sore sambil rebahan di round about depan kantor saya yang jalurnya jauh lebih ramai dibanding sekolah anak saya.

Sapi-sapi metropolis..begitu saya juluki mereka. Bagaimana tidak..mereka hadir ditengah-tengah masyarakat perkotaan seolah hendak menikmati hiruk pikuknya kota yang setiap pagi dan sore sudah mulai macet di mana-mana. Tapi, bukan itu permasalahan sesungguhnya. Sapi-sapi itu juga menjadi berbagai simbol. Ya..siapa yang bertanggungjawab dengan kehadiran sapi-sapi metropolis ini?

Jelas, sapi-sapi ini sangat mengganggu terutama masalah ranjaunya. Tak hanya buat pejalan kaki yang harus ekstra hati-hati agar tidak menginjak ranjaunya tapi juga buat pemilik kendaraan yang pastinya tidak berharap roda mobil kesayangan terkena kotorannya. Apalagi buat pemilik pekarangan kosong yang setiap hari sapi-sapi itu nongkrong sambil sarapan rerumputan hijau di pagi hari. Namun, jika memang mengganggu, mengapa sapi-sapi ini masih selalu ada setiap harinya? Atau jangan sampai hanya saya saja yang merasa terganggu. Entahlah.. yang pasti menurut informasi yang pernah saya peroleh kota yang saya tempati ini sudah mengharapkan kehadiran peternak. Artinya, sapi-sapi itu adalah milik peternak liar dan seharusnya sudah ditindak oleh aparat karena telah melanggar aturan.

Tapi, sebelum mendiskusikan soal peran pemerintah ada hal lain yang lebih menarik untuk dicermati. Ya..itu tadi rasa ketergangguan oleh penghuni kompleks setempat. Apa memang benar mereka benar-benar tidak terganggu oleh kehadiran sapi-sapi tersebut sehingga sang sapi pun bebas melenggang ke sana ke mari? Persoalan ini, menurut saya, sebenarnya sangat mudah pemecahannya. Masyarakat sekitar sebenarnya tinggal mengadukan saja permasalahan ini kepada RT/RW setempat dan kalau hal itu sudah menjadi tekad warga seharusnya si peternak bisa diperingatkan. Sisi lain yang mengherankan juga adalah masalah etika, rasa malu dan keberanian peternak untuk membiarkan ternaknya berkeliaran mengganggu masyarakat. Itulah mengapa saya menyebutkan bahwa sapi-sapi ini adalah lambang dari berbagai simbol..simbol hilangnya rasa malu dan bertanggungjawab dari si peternak dan simbol ketidak pedulian dari masyarakat (atau apatisme?).

Sapi-sapi ini pun mengingatkan sebuah teori yang sempat saya baca di buku The Tipping Pointnya Malcolm Gladwell. Teori yang diperkenalkan oleh James Q Wilson dan George Keilling ini dinamakan teori broken window atau teori jendela pecah. Teori ini lah yang dipraktekkan oleh George Keilling untuk menurunkan angka kriminalitas New York yang sangat tinggi pada era 60 an hingga 70an. Kasus pencurian, pembunuhan, pemakaian obat-obatan terlarang hingga aksi vandalisme yang mengakibatkan kota menjadi terlihat sangat kumuh tercatat sangat tinggi. Saat itu yang disarankan oleh Keilling sebagai konsultan kepolisian New York adalah hal yang sangat sederhana sekali, yaitu menghapus setiap grafiti di sepanjang jalur kereta bawah tanah dan taman-taman kota. Konon dibutuhkan waktu tiga hari untuk membuat grafiti tersebut menjadi sempurna. Begitu terlihat tanda-tanda ada grafiti yang dibuat langsung dihapus. Begitu seterusnya sehingga pelaku merasa pekerjaannya sia-sia dan merekapun ditangkap. Atau dalam cerita lain dimana kasus kejahatan kereta bawah tanah mulai menurun drastis saat dilakukan operasi penjagaan ketat di gerbang tiket untuk menangkap penumpang yang tidak memiliki karcis.Ternyata, dari operasi itu banyak ditangkap para penumpang yang membawa senjata tajam. Inti dari teori broken window pada dasarnya adalah zero tolerance. Artinya, kejahatan yang besar muncul karena adanya pembiaran kejahatan-kejahatan kecil sebagaimana sebuah rumah yang dibiarkan pecah jendelanya. Masyarakat yang melihat rumah tersebut akan berfikir bahwa rumah tersebut tidak ada penghuninya sehingga mereka tidak perlu merasa takut lagi untuk membuat kerusakan atau bahkan melakukan pencurian di rumah tersebut.

Kalau kita kaitkan dengan sapi-sapi metropolis tadi rasanya teori ini juga berlaku. Jendela yang pecah itu bisa jadi adalah ‘jendela masyarakat sekitar’ atau ‘jendela pemerintahan’. Pembiaran masyarakat itu membuat sang peternak merasa bebas dan tidak berdosa membiarkan ternaknya membuang ranjau sembarangan. Begitu juga pembiaran dari pemerintah yang tidak menindak peternak liar itu sangat mungkin untuk membuka peluang kejahatan-kejahatan yang lebih besar.

Teori jendela pecah tak hanya bisa diterapkan dalam masalah sapi-sapi di atas tapi dalam banyak hal. Contoh lainnya adalah masalah penanganan PKL yang terlihat sangat sulit. Contoh ini begitu menarik perhatian karena adanya beberapa kepala daerah yang mengusung konsep membangun tanpa menggusur. Dalam beberapa hal penggusuran memang terlihat kejam namun jika ditilik dari sebab musababnya penggusuran berawal dari sebuah proses pembiaran yang berlangsung lama. Dalam beberapa diskusi dengan rekan-rekan dari kecamatan mencegah tumbuhnya PKL atau pedagang kaki lima sangat sulit meski bukan tidak mungkin. PKL menurut saya adalah bagian dari konsekwensi tumbuhnya. Jika tidak dilakukan penataan secara serius ia akan tumbuh di mana-mana dan mengganggu keindahan ruang kota. PKL tidak muncul begitu saja dan tidak langsung menetap di suatu tempat. Artinya, awalnya mereka hanya menempati ruang publik untuk berjualan sementara. Satu hari dua hari tidak ada yang menindak mereka akan mulai membangun lapak-lapak. Sebulan tidak ada tindakan mereka akan membuat tempatnya menjadi lebih nyaman dan mulai menjadikan ruang publik tersebut sebagai tempat tinggal. Jika kondisi sudah seperti ini yang dihadapi pemerintah tidak hanya pedagang itu sendiri. Relokasi atau penataan ataukah penggusuran akan menjadi lebih sulit karena dalam proses tersebut pasti akan menarik perhatian pers dan LSM yang mempunyai kepentingan berbeda. Hal ini tentu akan berbeda jika penanganan PKL dimulai sejak pertama kali seseorang mulai melanggar pemanfaatan ruang publik meski konsekwensi yang harus di tempuh adalah dengan melakukan patroli setiap saat atas kondisi wilayah kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s