Menggenggam Masa Depan Bersama MAKES (Al Markaz for Khudi Enlightening Studies)

MAKES di tahun 1999

Kawan,
Kalau anda sempat ke Makassar, singgahlah ke Masjid Al-Markaz Al Islami. Masjid tersebut merupakan masjid terbesar di kawasan timur Indonesia dengan arsitektur yang sangat menawan dan ruang publik yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan aktivitas olah raga di sore hari. Bahkan setiap hari minggu di depan masjid tersebut diselenggarakan senam massal. Anda pun bebas untuk hadir. Setidaknya bisa membantu menyehatkan jantung dan sejenak releks menikmati suasana pagi yang menyegarkan.

Saya sendiri sangat menikmati suasana masjid tersebut. Boleh dibilang masjid tersebut adalah tempat terindah saya saat masih belum berkeluarga. Hingga saat ini nuansa masjid masih sangat terasa setiap kali saya mendengar atau mengingat masjid tersebut.

Jika kemudian saya mengajak kawans sekalian untuk ke Masjid Al Markaz sesungguhnya bukan hanya suasana masjid yang membuat kita selalu merindukannya. Masjid Al Markaz bagi banyak orang bukan sekedar masjid karena banyak sekali aktivitas yang ditawarkan bagi masyarakat. Diantaranya, perpustakaan masjid yang mempunyai banyak koleksi buku, TPA dan TK, koperasi dan lain sebagainya. Di Masjid tersebut saya mendapatkan sahabat-sahabat yang luar biasa. Saya merasa beruntung dilahirkan dan dibesarkan di saat yang tepat sehingga saya sempat mengenal sahabat-sahabat ini. Merekalah para pendiri Al Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES).

MAKES adalah sebuah komunitas yang dilahirkan oleh sekelompok anak muda yang mempunyai hasrat yang kuat untuk terus maju. Bukan hanya itu, justru hasrat yang paling kuat adalah hasrat untuk mencerahkan para generasi muda untuk peduli pada permasalahan negeri ini. Medianya adalah dengan melakukan meeting atau diskusi rutin dalam bahasa Inggris. Topiknya beragam, dari ekonomi, sosial, politik hingga seni. Semua topik diskusi diakomodasi dan ditinjau dari beragam sudut pandang. Harapannya adalah agar generasi muda, khususnya para partisipan, mampu terlibat dalam diskusi-diskusi atau kegiatan apapun di level internasional

MAKES menyatukan berbagai manusia dengan berbagai latar belakang yang membuat masing-masing saling menghormati madzab dan sudut pandang orang lain. Dari latar belakang pendidikan saja, kebetulan banyak anggota dari kalangan mahasiswa, bermacam-macam, dari fakultas kependidikan hingga teknik mesin. Pun demikan dengan latar belakang keagamaan mulai dari Syiah, Hisbut Tahrir, Salafi, NU, Muhammadiyah dan lain-lain. Semua dipersatukan dalam semangat untuk mengkaji dan terus mengkaji serta berbuat untuk negeri.

Aktivitas rutin MAKES adalah menyelenggarakan diskusi dalam bahasa Inggris setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu setiap ba’da ashar atau sekitar pukul 16.00. Untuk mengarahkan diskusi peserta dibagikan paper yang juga ditulis oleh peserta sendiri untuk kemudian didiskusikan dalam beberapa kelompok kecil sekitar 5 sampai 7 orang. Dalam setiap kelompok tersebut ditunjuk seorang moderator untuk memandu diskusi.

Terlibat dalam diskusi tentu tidak hanya meningkatkan kemampuan speaking, tetapi juga kemampuan writing atau menulis. Terlebih lagi peserta mendapatkan pemahaman lebih jauh tentang topik diskusi yang diselenggarakan. Hal yang terakhir ini lah yang membedakan MAKES dengan meeting atau club bahasa Inggris lainnya yang lebih mengedepankan aspek peningkatan bahasa Inggris. Di MAKES bahasa Inggris hanya sebatas media saja. Tujuan yang lebih utama adalah aspek pencerahan sebagaimana arti kata MAKES, Al Markaz for Khudi Enlightening Studies. Al Markaz berarti pusat studi untuk pencerahan.

Sesungguhnya diskusi tidak hanya diselenggarakan pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu saja. Namun, juga sering diselenggarakan diskusi eksklusif yang biasanya diselenggarakan tiap Sabtu malam. Diskusi eksklusif ini tentu saja bahasannya lebih dalam karena waktu penyelenggaraannya jauh lebih panjang bahkan terkadang hingga pagi menjelang. Tradisi ini telah diturunkan dari generasi awal MAKES yang merupakan para pembelajar sejati.

Manfaat bergabung dalam komunitas ini selain memperluas khazanah berfikir, menemukan semangat persaudaraan tentu saja juga meningkatkan kualitas kemampuan berbahasa Inggris. Tak heran kalau kemudian para anggota komunitas ini hampir semuanya mempunyai mimpi yang sama: bersekolah di negara maju.

Keberhasilan salah seorang pendiri mendapatkan beasiswa untuk belajar di Australia rupanya menjadi virus yang mampu menginveksi seluruh anggota komunitas bahkan hingga generasi MAKES terkini untuk bermimpi menjejakkan kaki di belahan dunia lain. Hingga saat ini sekitar sepuluh anggota MAKES telah mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Australia untuk melanjutkan belajar di negeri kangguru tersebut. Tahun 2012 adalah tahun keemasan di mana lima anggota berhasil mendapatkan beasiswa tersebut, empat orang melanjutkan S2 dan satu orang melanjutkan program doktoral. Tak hanya Australia, dua orang anggota juga telah berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan belajar ke Amerika yang disponsori oleh Ford Foundation, tiga orang telah berhasil mendapatkan beasiswa STUNED untuk melanjutkan belajar ke negeri Kincir Angin. Termasuk saat ini juga telah ada satu orang anggota yang telah berhasil menjejakkan kaki di Jepang untuk melanjutkan program doktoralnya. Beberapa anggota juga mendapatkan beasiswa untuk belajar di Iran dan Turki.

MAKES tidak hanya mengantarkan anggotanya untuk meraih mimpi belajar di luar negeri. Beberapa orang anggota sempat mendapat kesempatan untuk mengikuti short course di Jepang dan banyak lainnya yang bekerja di luar negeri. Keberhasilan generasi sebelumnya menjadi inspirasi generasi terkini untuk mempersiapkan diri baik dari sisi peningkatan bahasa Inggris ataupun keilmuan. Tahun ini lebih dari sepuluh anggota yang mendaftar beasiswa Ausaid. Ya..semangat untuk maju..semangat untuk memperbaiki masa depan diri sendiri..semangat untuk turut berkontribusi membangun negeri terlihat pada diri anggota komunitas ini.

Kalau kawans pernah membaca buku Outliers-nya Malcolm Gladwell maka mungkin tak terlalu berlebihan kalau saya pun mengatakan bahwa para anggota komunitas ini adalah para Outliers. Sebagaimana disebutkan dalam buku tersebut bahwa satu hal yang menarik dalam fenomena outliers adalah adanya sebuah kesempatan yang dinikmati oleh para outliers. Kalau pakar motivasi sering menyebut bakat, komitmen, ketangguhan, kerja keras serta seperangkat faktor internal para outliers yang paling berpengaruh terhadpa kesuksesan maka Gladwell memandangnya dari sisi lain. Sisi yang manakah itu? Aha…kesempatan. kesempatan yang di maksud di sini bukanlah sebuah peluang yang memungkinkan kita menemukan jalan-jalan tersebut. Tapi, kesempatan yang mempertemukan kita pada seseorang ataupun lingkungan yang membuat kita menemukan ‘sesuatu’.

Kalau kawans sekalian pernah membaca atau melihat Laskar Pelangi, maka kesempatan itu adalah kesempatan yang memungkinkan para Laskar tersebut bertemu dengan Ibu Mus. Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Yohanes Suryo bahwa ‘tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menemukan guru-guru yang hebat’.

Setali tiga uang dengan Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara juga bisa dijadikan sebagai contoh yang sempurna untuk menjelaskan ‘kesempatan’. Mungkinkah A. Fuadi bisa menjangkau kota-kota dunia seandainya sang ibu tidak bersikukuh memaksanya bersekolah di madrasah? Mungkinkah A. Fuadi bisa menulis novel best-seller tersebut seandainya dia tidak menjadi siswa PM? Bisa jadi tidak. Bisa jadi takdir akan menjadikan A. Fuadi sebagai sosok-sosok yang lain.

Kesempatan yang di maksud oleh Gladwell pada dasarnya sama dengan pengibaratan Andrea Hirata bahwa kisah-kisah masa lalu adalah mozaik-mozaik yang membentuk lukisan hidupnya hingga menjadi seperti saat ini. Kesempatan itu pula lah yang barangkali sama dengan berkah yang diberikan kepada sebatang pohon yang tumbuh dan berbuah. Akankah sang pohon tumbuh tanpa ada sinar matahari yang membantunya berfotosintesis? Tanpa angin yang membantu proses penyerbukan hingga tumbuh menjadi buah yang lezat? Atau, tanpa hujan dari langit yang membuat sang tanah tetap subur?

Sama halnya dengan MAKES. MAKES adalah sebuah komunitas yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan kesempatan sebagaimana yang disebut oleh Gladwell. Kesempatan yang dimaksud di sini adalah kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang mempunyai hasrat, semangat dan cita-cita untuk maju dan berbagi untuk sesama. Hingga kemudian atmosfer itu melingkupi siapa saja yang sempat mencicipi ‘pendidikan’ di ‘sekolah’ tersebut.

Bagi saya sendiri, dipertemukan dengan rekan-rekan yang luar biasa sungguh sebuah kesempatan yang tak ternilai harganya. Bagaimana tidak luar biasa karena dengan mereka saya menemukan dunia lain di luar akuntansi, di luar madzab keagamaan yang waktu itu saya anut, dan di luar jangkauan pergaulan yang saya miliki.

Kalau ditanya soal siapa yang paling berpengaruh dalam hidup saya? Dengan mudah saya akan menyebut MAKES. Sungguh bukan maksud saya untuk menegasikan arti orang tua, tapi MAKES begitu mengubah pola pikir saya secara fundamental. Mungkin bisa dibilang saya telah menjalani revolusi pemikiran karena sebelum bertemu dengan rekans pendiri MAKES, sekitar tahun 1998, hidup saya hanya sekedar melewati hari-hari tanpa tujuan yang jelas. Sebagai perantau saat itu yang terfikir hanyalah bagaimana membunuh sang waktu tanpa merasa kesepian karena tidak ada sanak saudara. Tak ada target yang begitu kuat menancap di dada saat itu untuk bahkan sekedar bermimpi bersekolah di negara empat musim.

Bertemu dengan para pendiri sungguh seperti yang saya katakan di atas adalah sebuah kesempatan untuk menapaki ‘dunia baru’, dunia petualangan pemikiran yang luar biasa menarik. Bahasa Inggris? Sungguh kemampuan bahasa hanya sekedar efek samping dari sebuah pertemuan yang luar biasa. Dunia baru itu ibarat sepercik api yang terus membakar semangat untuk mencari dan mencari jawaban akan segala hal yang kami diskusikan.

Interaksi yang lekat dengan para pendiri ini lah yang membangkitkan hasrat ingin tau dan hasrat untuk berbagi. Yang terjadi kemudian adalah membekali diri dengan berbagai bacaan baik dari koran maupun buku-buku.

Aktivitas diskusi yang begitu intens, bagaimana tidak kalau hampir setiap hari kami bertemu, seperti membentuk sebuah karakter komunitas yang begitu kuat. Karakter itu barangkali sama dengan karakter yang di bangun oleh PM dalam Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi, di mana hasrat belajar dan berfikir telah menjadi nadi kehidupan para pendiri MAKES. Karakter itu rupanya telah melekat begitu kuat hingga ketika melanjutkan DIV saya tidak pernah menemukan semangat ingin tau yang luar biasa sebelum bertemu dengan para pendiri MAKES. Masa kuliah 2 tahun di Jakarta benar-benar saya rasakan sebagai proses mencari ilmu, bukan sekedar mencari nilai. Entahlah..yang jelas saya ingin apa yang saya pelajari bisa dibagikan kepada MAKES. Saat itu kebetulan saya lah yang berlatar belakang akuntansi. Saya sendiri juga tidak tau mengapa kemudian seolah muncul rasa tanggungjawab moral untuk memahami masalah ekonomi. Setidaknya, kalau ada diskusi untuk merespon masalah kekinian tentang ekonomi ada kontribusi yang saya berikan. Akuntansi sebenarnya hanyalah bagian kecil dari ekonomi tapi kebanyakan rekan mengaggap bahwa saya memahami ekonomi. ‘Tuduhan’ itu pula barangkali yang mendorong saya untuk belajar ekonomi. Makanya, begitu saya selesai DIV dan kembali ke Makassar saya langsung di daulat untuk membedah buku Ekonomi Syariah.

MAKES sungguh tak hanya menawarkan petualangan pemikiran, tapi juga membentuk keterampilan jari jemari untuk menorehkan kata-kata yang pastinya sangat bermanfaat dalam menempuh pendidikan di negara empat musim. Itulah, modal dasar yang telah melekat dan menjadi hidup anak MAKES sehingga dalam menuangkan gagasan terasa lebih mudah. Ya, bagaimana tidak hampir seluruh penugasan mengharuskan menulis Essay ketika saya mengambil Master of Public Administration di ANU. Lagi-lagi, bekal adu argumen yang sering terjadi di MAKES sangat bermanfaat untuk menstimulasi fikiran dalam menyelesaikan tugas Critical Review. Tentu akan sangat sulit bagi seseorang untuk melakukan hal ini jika kemampuan mengkritisi tidak terasah setajam pisau. Apalagi tradisi pendidikan di negeri kita tidak begitu membiasakan mahasiswa untuk berfikir kritis. Klop lah sudah.

Kalau hingga saat ini saya masih sanggup menulis maka itu tak lain dan tak bukan karena tuah dipertemukan dengan rekans pendiri. Termasuk, kalau kemudia di lingkungan kerja saya masih terlihat begitu bersemangat meski berprofesi sebagai PNS maka sekali lagi tak lain dan tak bukan karena MAKES telah membentuk sebuah karakter….karakter petualangan pemikiran, karakter menggapai mimpi, karakter berbagi, dan karakter untuk melihat Indonesia menjadi lebih baik ….bukan sekedar bahasa Inggris…. Dan sekali lagi kalau lah hingga saat ini di usia saya yang telah hampir menginjak empat puluh, mempunyai dua anak serta dalam beberapa bulan lagi hendak melahirkan masih mempunyai semangat untuk belajar hingga saya mendapatkan beasiswa S3 ke Australia tentulah karena saya sempat mencicipi kesempatan bertemu dengan komunitas inspiratif MAKES.

Tulisan terkait:

https://anasejati.wordpress.com/2010/05/19/kebersamaan-yang-membebaskan-makes-al-markaz-for-khudi-enlightening-studies/

One thought on “Menggenggam Masa Depan Bersama MAKES (Al Markaz for Khudi Enlightening Studies)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s