Kisah empat PNS mengejar beasiswa ADS

Kawans,

Sebagai seorang PNS, apa yang selalu anda rasakan dengan menyaksikan kondisi instansi tempat kita bekerja?

Saya percaya kita mempunyai rasa yang sama karena kita lahir dan dibesarkan oleh sistem yang sama. Ya..sistem yang tidak mendukung karir, sistem yang tidak mendorong inovasi, sistem yang tidak mampu memunculkan pemimpin yang transformatif melingkupi kehidupan sehari-hari kita. Satu hal yang pasti, ketiadaan sistem reward dan punishment yang pas membuat kita terkadang apatis dan enggan untuk memberikan yang terbaik dari yang kita miliki.

Saya pun seringkali merasakan yang sama. Rasa tidak adil ketika kita berusaha bekerja sebaik mungkin sementara rekan kerja malas-malasan namun penghasilan sama sering membuat kecewa. Tapi biarlah, sayang kalau akhirnya yang kita lakukan hanya tenggelam dalam rasa sakit hati dan kekecewaan karena tetap berada di instansi adalah sebuah keputusan yang sudah diambil. Jadi..ya harus dilakoni dan berusaha agar selalu bahagia. Cuma gimana caranya ya..

Pertama mungkin yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri alias mencoba menerima status sebagai PNS sebagai suratan jika itu memang sudah menjadi keputusan. Jika masih punya peluang untuk keluar…barangkali itu pilihan yang layak dipertimbangkan.

Kali ini, saya hanya ingin sekedar berbagi bagaimana mengelola ‘perdamaian’ dengan diri sendiri dengan cara menciptakan ‘kebahagiaan sendiri’. Untunglah saya bertemu dengan teman seangkatan yang kebetulan mempunyai ‘jalan kebahagiaan’ yang sama. Kami mencoba bermimpi yang bisa kami raih dengan tangan kami sendiri dan tentunya dengan berharap pada pertolongan Sang Pencipta. Yang pasti, mimpi yang kami bangun tersebut tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, atasan, aturan instansi, dan segala hal yang bisa membelenggu jalan kami. Yang bisa membelenggu mimpi itu hanyalah keengganan dan kemalasan kami sendiri.

Mimpi kami jauh dari mimpi-mimpi untuk meniti karir di tempat kami bekerja. Sedetik pun tak pernah terfikir bahwa kami ingin mengejar sebuah jabatan tertentu. Tak heran, kami berempat termasuk lambat dalam hal kenaikan pangkat bahkan nyaris bermasalah. Saya sendiri setelah 7 tahun di IIIa baru naik ke golongan IIIb. dua orang kawan saya yang lain malah lebih lama lagi. Selain karena malas mengumpulkan angka kredit, kami juga tidak terlalu peduli pada aturan-aturan kepegawaian. Ya..karena kami berfikir insentif yang didapat dari kenaikan pangkat sangat kecil. Jadi buat apa difikirkan?

Mimpi kami adalah mimpi rakyat jelata yang ingin menginjak negara maju. Tak ada jalan lain kecuali dengan mengejar beasiswa karena kami tidak punya kemampuan finansial untuk bertamasya ke kota-kota dunia. Begitulah… bergelut dengan bahasa Inggris dan proses isi mengisi formulir sudah menjadi kehidupan kami sejak tahun 2002. Alhamdulillah tepat akhir September 2012 akhirnya genap kami berempat mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah di negara maju meski dalam waktu yang berbeda-beda. Video berikut adalah kisah perjalanan kami yang mungkin bisa bermanfaat buat kawans sekalian.

Kalau kemudian dalam beberapa kesempatan banyak kawan sering berkomentar ketika mendapati saya masih di instansi yang sama dengan posisi yang sama seperti: “ngapain kamu masih di sini?”, “Sayang, ilmumu tidak termanfaatkan”..atau dalam komentar lain: “kita sudah sekolah susah-susah tapi penghasilannya sama dengan yang begitu-begitu saja”, atau “buat apa bersekolah karena tidak ada pengaruhnya ke karir” maka sebenarnya komentar itu kuranglah relevan buat kami. Buat kami sekolah di negara maju dengan karir adalah hal yang berbeda. Ya karena hidup di negara maju adalah mimpi itu sendiri.

Kalaupun di tanya “apakah kamu menyesal sekolah di negara maju karena karir tidak naik?”….”Wow..jelas tidak karena kami telah meraih mimpi untuk hidup dan sekolah di negara maju. Sungguh karena pengalaman itu tidak akan tergantikan oleh sebuah jabatan”.  

Jadi, buat kawans yang berprofesi sebagai PNS saran saya cuma satu…kejarlah beasiswa jika ada kesempatan. Tinggalkan sejenak dan nikmatilah hidup dengan cara yang berbeda…dan nikmatilah sensasinya…

Tulisan terkait:

https://anasejati.wordpress.com/2011/07/13/legenda-laskar-akuntan01/

14 thoughts on “Kisah empat PNS mengejar beasiswa ADS

  1. Aku senang melihat adik2ku bersemangat menggapai mimpinya.Kantormu memang lain dr yg lain.Penghuninya nyaris punya ilmu yg sama.Jabatan sdh given jadi faktor luck lah yg bisa membuat Ilmu ;kerja keras;attitude paralel dengan peningkatan karir.Kalau kita bandingkan dg temans diluar sana di Instansi lain baik pemerintah maupun swasta sangat menghargai faktor2 tsb diatas.Hal ini sangat terasa ketika acara reuni temans se almamater

    1. begitulah mbak makanya kita mencoba menciptakan mimpi untuk diri sendiri untuk mengantisipasi segala yang diluar kendali kita.

  2. Bagus tulisannya. Memotivasi yg pengen jadi mahasiswa penerima beasiswa ADS, bukan hanya jd pasangan penerima beasiswa ADS.

    1. saya dukung mbak ana…karena kita benar2 bisa merasakan tradisi akademik di negara lain dibanding negara kita

  3. dari 10 paragrafnya, saya kok agak terganggu dengan satu paragraf.. eh, satu kalimatnya mbak ana “Jika masih punya peluang untuk keluar…barangkali itu pilihan yang layak dipertimbangkan.”
    cuma (ga nyampe) 1/10-nya barti masih 9/10 yang saya sukaa tapi moga2 beneran yang tadi cuma untuk.. layak dipertimbangkan, saja:)
    ijin belajar pengalamannya ya mbak…

    1. hahaha…saya sendiri tidak pernah terfikir untuk keluar karena kebetulan saya sangat mencintai pekerjaan saya..cuma dalam beberapa hal ketika melihat teman2 yang sudah menetapkan pilihan menjadi PNS sering mengeluh rasanya gerah juga jadi mending keluar saja kalau memang masih ada pilihan. klo gak da pilihan ya mau tidak mau harus dinikmati dan disyukuri…ok, silakan..

      1. apa dan bagaimana pun kondisi organisasi kita.. eh ini, adalah tidak fair ketika kita hanya bersamanya di saat senang saja, di saat kita mendapatkan kemudahan2 dengannya..
        saya udah (maaf) ga respek lagi pada 4 senior saya yang malah di-awal2nya mereka termasuk panutan saya dalam berkarya…. jangan jadi yang ke-5-nya mbak ya…. ihihihi#

      2. bisa berlanjut diskusi panjang nih..he..he..meski hingga saat ini saya tidak pernah ada niat untuk berpaling tapi sejujurnya buat saya sah-sah saja jika seseorang memilih untuk keluar dari organisasi ketika organisasi sudah ‘tidak membutuhkan’. selain baik juga untuk organisasi guna perampingan buat individu barangkali juga lebih bisa menerima dan mengembangkan diri karena hasrat untuk mengembangkan diri dalam organisasi kadang tidak bisa disalurkan saking banyaknya bintang2 yang ada di organisasi. Secara nasional sebenarnya tidak ada yang dirugikan karena walaupun seseorang tersebut berpindah ke sektor swasta ketika ia dapat berkinerja baik secara otomatis akan berdampak pada peningkatan profit perusahaan yang pada akhirnya juga berdampak pada penerimaan pajak dan perekonomian. Saya sendiri lebih menyayangkan sikap organisasi yang merasa biasa2 ketika ditinggalkan para highperformernya…he..he..mungkin klo mau mendalam diskusinya dilanjut ke japri sj krn kebetulan saya dan grup seangkatan jg barusaja mendiskusikan hal ini

  4. Terimakasih buat Mbak Ana yang udah posting cerita, terima kasih laskar akuntan, inspirasi buat saya, smoga bisa ikut jejak Mbak Ana dan teman2 ….amin, salam kenal mbak, sukses selalu

    1. salam kenal kembali mbak rosyariani. Alhamdulillah klo ceritanya bermanfaat…ayuk..klo perlu info saya siap membantu

  5. mbak, kl peluang beasiswa S3 ADS buat guru gmn? krn sy lihat syrtnya hny buat pembuat kebijakan n dosen. sebenarnya sy prnh apply utk program master th 2010, namun blm rezeki. keburu dpt beasiswa Pemda di awal 2011 jd g cb lg. skrg alhmdllh dah kelar S2nya. tp mimpi ke Adelaide Flinders msh trs terjaga ^^. ada saran?

    1. Mbak nee ana, makasih sudah berkunjung ke blog saya. dulu juga saya pernah berfikir begitu karena saya sendiri bukan dosen dan juga bukan peneliti apalagi pembuat kebijakan. saya sendiri fungsional auditor, beberapa teman juga bekerja di beberapa departemen. cuma saya sendiri blum pernah ketemu dengan rekan guru yang mendapatkan S3. Cuma klo menurut saya yang terpenting untuk S3 adalah bagaimana proposal riset kita sehingga kita bisa mendapatkan supervisor. saya pikir seorang guru kan bisa juga memberikan rekomendasi kebijakan kepada kepala daerah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya karena gurulah yang terjun langsung dalam proses pendidikan. jadi tetap ada hubungannya dengan proses pembuatan kebijakan. nah dalam pengisian form coba dikaitkan antara manfaat riset yang akan dilaksanakan dengan proses pembuatan kebijakan di pemda. saya kira jika itu bisa dilakukan akan menarik sekali mbak ana

  6. owh gt y mbak, trmksh byk saran n idenya akan dicoba. Soal proposal riset juga terpikir utk ngelanjuti tesis kmrin, spy lbh mudah (saya baca tulisan mbak tg ADS yg lain jg ^^). mhn do’anya mbak, ni sedang memperbaki bahasa inggris n mempersiapkan sgl sesuatunya. Ntar tanya-tanya lagi y mbak. Jzkllh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s